Showing posts with label Philosophy. Show all posts
Showing posts with label Philosophy. Show all posts

Monday, September 08, 2008

Persatuan; Moralitas atau Totalitas?

Setiap zaman akan melahirkan masalah dan aktornya tersendiri. Setiap jaman akan melahirkan semangatnya sendiri, dan akan melahirkan pahlawan-pahlawan tersendiri, yakni mereka yang akan menjadi kekuatan pelopor dalam memecahkan masalah zamannya. Di dalam hidup ada problematika yang terus membanjiri manusia dengan pertanyaan penuh teka-teki. Siapakah mereka yang dapat memecahkan masalah jaman ini? Hanya orang yang punya semangat pelopor rela berdialektika dengan zamannya dan keluar dari krisis. Pertanyaan yang muncul adalah apakah itu cukup?.


Pada awal abad XX, Indonesia (Hindia Belanda) diperlakukan sebagai pengemis di tanah air sendiri karena bangsa Eropa merebut kekayaan yang seharusnya dinikmati oleh Hindia Belanda. Spirit pengemis yang semestinya tidak melekat pada diri Hindia Belanda. Justru penjajahan dan penindasan yang diterima oleh Hindia Belanda. Kenapa Eropa merebut kekayaan Hindia Belanda? Sejarah memberikan informasi bahwa Eropa mengalami krisis kekurangan bekal hidup dalam tanah airnya sendiri sehingga rakyat Eropa mencari rejeki di negeri lain sampai Hindia Belanda miskin.


Sebuah buku dari Soekarno berjudul “Islam Nasionalisme Marxisme” memberikan konklusi betapa gandrungnya Soekarno terhadap satu kosa kata yang diimpikan yaitu persatuan. Menurut Soekarno, gelombang nasionalistis, islamistis dan marxistis dapat bekerjasama menjadi satu gelombang yang maha besar dan maha kuat, seperti satu ombak taufan yang tak dapat ditahan terjangnya. Dari mana pemahaman ini? Wahyu? Tidak. Soekarno hanya meyakini diatas penilaian dirinya sehingga hasil yang diperoleh bersifat relatif.


1. Nasionalisme
menekankan satu golongan/ satu bangsa (close system). Problemnya: gampang menjadi kesombongan bangsa (sosiologis) dan ras (biologis). Keinginan hidup menjadi satu. Jadi menurut Soekarno, golongan membuka kesempatan untuk perselisihan satu sama lain. Realitanya, sampai hari ini belum pernah ada persahabatan yang kokoh. Tapi apakah tidak dapat dicapai? Soekarno percaya persahabatan dapat dicapai dengan teladan spirit of down to earth. Soekarno mengutip Gandhi, cinta pada tanah air, cinta pada semua manusia (tidak peduli golongan apapun). Cinta harus menjadi wahyu dan melaksanakan wahyu tersebut sebagai bakti. Adakah teladan spriit down to earth hari ini? Nasionalisme yang dianggap sejati oleh Soekarno bukan Barat tapi Timur. Bagi Soekarno, nasionalisme barat itu bersifat serang mnenyerang, mengejar keperluan sendiri dan peduli untung rugi. Maksudnya buang waktu banyak hanya untuk berspekulatif ria dalam apologetika mereka.Sedangkan nasionalisme timur, Soekarno angkat topi, menurutnya jikalau islam sakit, roh kemerdekaan timur sakit juga.hal ini. Sama-sama merasakan sakit, seperti satu tubuh, satu keluarga … konsep yang penuh kekeluargaan. Kenapa persatuan ini tidak dapat dinikmati nasionalisme barat? Jawabannya karena kebimbangan mereka atas kekalnya persatuan.


2. Islamisme
Kaum Islam harus menanam benih keislaman kemana-mana. Kaum Islam harus mengambil teknik kemajuan Barat dan mempelajari rahasia kekuasaan Barat. Dari Turki, Mesir, Maroko, Kongo, Persia, Afganistan, India, Indonesia … gelombang tersebut masih terus menanam benih ke seluruh dunia. Islam adalah internasional. Problem dari islamisme adalah fanatic. Orang nasionalis dan marxis menuduh agam islam begitu rusak, rendah derajatnya dan hampir semuanya dibawah pemerintahan negeri Barat. Soekarno membela, itu bukan problem islamnya. Problem terletak pada budi pekerti pemeluknya yang rusak. Islamisme harus dapat mengerti aliran jaman. Persatuan dapat diperoleh dengan menjalankan perintah-perintah agamanya.


3. Marxisme
Karl Marx menjadi maha guru yang berkuasa menyatukan buruh dari seluruh negeri. Konsep dialek materialisme bahwa harga barang ditentukan oleh banyak kerja untuk bikin barang tersebut sehingga hasil pekerjaan kaum buruh lebih berharga daripada upah yang mereka terima. Komunis di Rusia ada orang-orang di distrik Samara makan daging anak-anaknya sendiri oleh karena laparnya. Dulu anti agama, anti kaum kebangsaan sekarang berubah justru ada persahabatan, contoh Tiongkok. Soekarno mengatakan bahwa teori Marx dan Engels harus dirubah kalau zaman itu berubah. Musuh marxisme adalah gereja. Memakai agama buat cari duit, membela keperluan atasan, menjalankan politik. Marxisme lebih dekat pada islam daripada Kristen. Islam dianggap agama tidak merdeka, kaum yang dibawah, sedangkan orang Kristen agama bebas dan agama kaum yang diatas.tapi kelemahan marxis yang kolot teori dan kuno taktiknya dapat menyebabkan diri mereka ingkar akan persatuan maka mereka dapat menjadi racun masyarakat.


Bagaimana respon kita sebagai orang kristen?
a. Soekarno mengajak kita harus dapat menerima tetapi harus bisa memberi. Persatuan tidak dapat terjadi kalau tidak mau memberi diri tuk bersatu. Menurut saya, Soekarno memiliki konsep moralitas yang cukup mendarat bagi bangsa Indonesia tetapi konsep menerima dan memberi tidak bisa hanya dianggap sebuah aktivitas tanpa dasar. Jika dasar memberi maupun menerima hanya diatas dasar kefanaan maka semuaya hanyalah aktivitas humanis yang dapat kembali menghancurkan masa depan manusia. Soekarno mengerti poin ini hanya dapat didasarkan melalui keinsyafan kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi bukan pertobatan melalui karya penebusan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Allah yang rela turun ke dalam dunia menebus dosa kaum-Nya. Dalam hal ini Soekarno tidak menekankan konsep Allah sejati didalam persatuan humanis maupun kekal. Persatuan hanya dapat diperoleh oleh mereka yang mengasihi Allah yang benar dan mengasihi sesamanya dengan benar.


b. Teologi Reformed justru mendasarkan semuanya diatas dasar Allah sebagai Sumber Kedaulatan Sejati yang Mutlak. Tidak ada satupun observasi manusia yang dapat melarikan diri dari Kebenaran Mutlak Allah. Soekarno seorang religius tetapi ia tidak mendasari seluruh prinsip-prinsipnya di atas dasar yang sejati. Soekarno hanya mendasarkan seluruh pemikirannya dari observasi dirinya terhadap gelombang-gelombang besar yang mempengaruhi peradaban hidup manusia. Dalam hal ini, hal praktis yang dapat kita pelajari bahwa tidak semua orang religius adalah orang berhikmat sejati/ orang benar. Banyak orang memakai topeng agama untuk bertahan hidup padahal mereka telah menghanyutkan kebenaran ke dalam dasar laut kebenaran relatif. Akibatnya manusia tidak dapat melihat kebenaran mutlak karena mereka telah dibutakan oleh dirinya sendiri yang telah jatuh ke dalam dosa.


c. Konsep persatuan Soekarno apakah alkitabiah atau tidak? Ketiga gelombang di atas bukanlah kebenaran mutlak. Semuanya hanyalah produksi manusia yang akarnya berbeda dan semuanya hanyalah dasar-dasar yang diperoleh melalui analisa kritis manusia berdosa yang lemah dan cenderung tidak akurat. Konsep persatuan tidak dapat dibicarakan oleh manusia karena manusia bertentangan satu dengan lainnya. Konsep persatuan harus dibicarakan di dalam satu-satunya konteks yang paling hakiki yaitu Persatuan di dalam Allah. Hanya Allah yang dapat menyatukan manusia dan memberikan definisi paling jelas dan akurat mengenai persatuan itu sendiri. Persatuan hanya dapat dilakukan oleh Allah, menurut standard Allah dan sesuai dengan rencana kekal Allah. Pertanyaannya siapakah yang dapat menyatukan manusia dengan Allah? Allah sendiri. Allah yang mana? Hanya Allah yang rela inkarnasi menjadi manusia yaitu Yesus Kristus. Konsep Inkarnasi hanya ada di dalam kekristenan. Jadi segala sesuatu harus dilihat dari perspektif Kristus sebagai Allah yang rela inkarnasi turun ke dalam dunia untuk menyatukan hubungan Allah-manusia di dalam ketetapan-Nya yang kekal.Kalau demikian, konsep persatuan Soekarno akankah terjadi? Menurut hemat saya, tanpa konsep Kristologis sebagai dasar mutlak, maka tidak mungkin ada apa yang namanya persatuan dan kesatuan yang kekal maupun humanis sejati.


Dalam Kasih-Nya

Daniel Santoso

Jakarta, Indonesia

Wednesday, April 09, 2008

On Forgiveness

Tema Forgiveness kurang popular di dalam dunia philosophy karena banyak asumsi-asumsi akademik yang mengatakan bahwa tema tersebut lebih bersifat theological. Akan tetapi beberapa filsuf postmodern memilih tema “ theological “ ini di dalam pergulatan pemikiran mereka. Dalam era postmodern ini, kita banyak mendengar nama Jacques Derrida, Emmanuel Levinas maupun Paul Ricouer, akan tetapi kita jarang mendengar nama Vladimir Jankelevitch. Saya percaya Vladimir Jankelevitch adalah orang besar yang mempengaruhi konsep Forgiveness dari Derrida. Vladimir Jankelevitch mengatakan “ forgiveness is not an attitude, mindset, ideology but is just event. It happen once and then it is gone “. Hanya dua kondisi manusia bisa mengampuni : pertama, miracle dan extra juridical nature of forgiveness. Menurut Vladimir Janekelevitch, forgiveness forgives that which cannot be excused or forgotten. Luar biasa ! tentu saja Vladimir memahami hal ini di dalam temporality dan process becoming dimana guilty person gak berubah tetapi relasi saya dengan guilty person berubah. Relasi yang berubah ini merupakan transfigures hatred into love. Disini Vladimir mempercayai forgiveness itu spontan, supernatural dan gracious acts. There’s no suck things as an unforgiveable.

Jacques Derrida menyatakan isi hati Vladimir Jankelevitch di dalam konsep forgivenessnya – Pertama, to forgive is to welcome offence and to absorb a violation from another. Forgiveness forgive only the unforgiveable. Derrida mengatakan jika kita hanya memberikan forgiveness kepada mereka yang forgiveable maka kita adalah orang Farisi yang hanya mengasihi teman-teman mereka sendiri di dalam Matius pasal 5. Oh gosh ! orang Farisi melayani Tuhan dan relasi dengan orang lain kotor. Ingatlah … we are called to love our enemies, to forgive the unforgiveable ! saya betul-betul terkesima dengan orang-orang ini ! Kedua, Forgiveness itu bersifat unconditional. Biasanya forgiveness diberikan kalau ada “ economic logic – ada balas jasa / profit maka menerima pengampunan “ atau “ logic of exchange – barter keperluan orang yang diampuni dengan yang memberikan pengampunan “. Itu namanya bukan unconditional ! luar biasa ! Derrida bahkan menegaskan konsep forgiveness yang unconditional juga berlaku untuk mengampuni setan ! benar gak ?

Jika saudara mengatakan benar maka saudara telah menjadi musuh Allah. Karena pengampunan yang diberikan Tuhan adalah terbatas. Bagi siapakah Kristus mati ? Kristus mati bagi semua orang ( arminian ) atau Kristus mati bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya ( calvinis ). Arminian mendasarkan pengampunan Tuhan secara universal ( 1 Yohanes 2:2 dan II Korintus 5:14 ) dan Calvinis mendasaran pengampunan Tuhan secara terbatas ( Matius 1:21, Yohanes 10:15, Yohanes 10:26, Yohanes 15:13, Kisah Para Rasul 20:28 dan Efesus 5:25 ). Sebagai Calvinis, saya mempercayai pengampunan Tuhan hanya didasarkan pada penebusan Kristus yang tiada terbatas dalam kemampuan-Nya, sempurna di dalam rencana-Nya dan tidak terbatas nilai-Nya tetapi secara jangkauannya terbatas karena Kristus menghapuskan dosa orang-orang yang dikasihi Allah dengan kasih khusus sejak kekekalan. Mungkin kita iseng memikirkan kenapa ya setan kok gak diampuni ? kalo diampuni nanti kamu gak punya penghargaan terhadap pengampunan yang Tuhan berikan kepada kamu. Karena manusia adalah makhluk yang paling suka membandingkan satu dengan lainnya. Oleh karena itu di dalam kekristenan, pengampunan Tuhan diberikan secara “ universal “ kepada semua anak-anak Tuhan yang mempercayai Yesus Kristus sebagai satu-satunya juruselamat dunia yang lahir, mati, bangkit dari kematian, naik surga dan akan datang kedua kali-Nya “ limited “.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Causewaybay, Hongkong

Tuesday, May 22, 2007

Penghayatan Hidup

Bagaimana kita dapat menjadi manusia yang “ hidup “ ? Jika kita melihat tema-tema seperti ini maka banyak orang lebih mempercayai teori dari “ Chinese Philosophy “ khususnya Ajaran Konfusius. Mengapa demikian ? Etika Konfusius lebih dari sekadar tentang apa yang dilarang ( the don’t ) maupun dianjurkan ( the does ) yaitu sikap dasar bagaimana sebaiknya seorang susilawan ( Kuncu ) menghayati hidup dan kehidupannya. Konfusius mempercayai bahwa untuk memperbaiki dunia dan memperbaiki diri perlu proses seperti sebuah gerak pendulum yang berosilasi seumur hidup tanpa henti dalam rangka belajar menjadi orang yang sempurna. Oleh karena itu tidaklah heran jika Filsafat Konfusius banyak dijadikan dasar bagi masyarakat ( civil society ) karena mengajarkan setiap orang untuk melakukan kewajibannya dalam belajar menjadi manusia yangh bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri, bukan semata-mata untuk diri pribadinya sendiri yang terpisah melainkan sebagai kesatuan dengan memperbaiki lingkungannya. Kalo zaman dulu jika kita melakukan perkara yang tercela maka kita akan ditanya oleh orang “ siapa dosenmu “, “ siapa ortumu “, “ siapa pendetamu “. Tetapi zaman sekarang semuanya sudah “ bodo amat “ alias “ emangnya gua pikirin “. Maka Filsafat Konfusius memiliki jalan untuk menjembatani ini yaitu JALAN TENGAH SEMPURNA.

JALAN TENGAH SEMPURNA memiliki pengertian yang tidak menyeleweng itu adalah TENGAH. Pengertian yang tidak berubah adalah SEMPURNA. Kedua ini merupakan hukum tetap bagi dunia.

Konfusius juga mengatakan bahwa Jalan Suci ada 4 yaitu :
Apa yang kuharapkan dari anakku, belum dapat kulakukan kepada orang tuaku.
Apa yang kuharapkan dari menteriku, belum dapat kulakukan kepada rajaku.
Apa yang kuharapkan dari adikku, belum dapat kulakukan kepada kakakku.
Apa yang kuharapkan dari temanku, belum dapat kulakukan lebih dulu.

Di dalam menjalankan kebajikan sempurna, hati-hati ! Aku tidak berani tidak sekuat tenaga untuk berusaha. Kalau berlebihan, aku tidak berani hambur-hamburkan, dalam perbuatan ada kata-kata dan dalam kata-kata ada perbuatan. Inilah ketulusan seorang KUNCU. Dari sini kita dapat melihat goal dari Filsafat Konfusius mengajak manusia berkarya hingga dunia dapat menjadi tempat yang layak dan nyaman untuk dihuni. Apakah karya manusia dapat menjadikan dunia ini lebih nyaman ?

Dalam Filsafat Konfusius, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengamati dunia bukan hanya sekadar sebagai kenyataan belaka tetapi kenyataan yang memperkenalkan adanya berbagai kemungkinan, yah kemungkinan yang mampu mengoncangkan sesuatu yang awalnya “ stabil “. Oleh karena itu Fuad Hassan, filsuf Indonesia mengatakan manusia jika masuk ke dalam area kemungkinan maka ia sedang merancang keberadaannya sebagai kesejarahan ( historicity ) tetapi tidak semua kemungkinan dibenarkan untuk diwujudkan karena ada dikotomi antara good and bad, virtue and evil. Oleh karena itu manusia perlu “ Integrity “. Konfusius membaca konsep “ Integrity “ hanya dalam batas tingkah laku, tindakan maupun perilaku manusianya. IS THAT ENOUGH ?

Konsep integrity manusia tidak bisa dilepaskan dari elemen atau natur dari manusia itu sendiri. Iman Kristen menegaskan manusia diciptakan menurut IMAGO DEI ( gambar dan rupa Allah ) yang harus dibaca di dalam 3 elemen atau natur yaitu SPIRITUAL, INTELLECTUAL AND MORAL.

1. SPIRITUAL – Allah adalah Creator dan Manusia adalah Created. Allah Bijaksana yang merancang semuanya dengan harmonis dengan segala kebenaran-Nya. Manusia tidak mungkin dapat menemukan Kebenaran-Nya jika bukan Allah yang membukakan jalan tuk menemukan-Nya. Maka Manusia hanyalah penemu kebenaran tetapi bukan pencipta kebenaran – semua harus kembali kepada Allah. Oleh karena itu St. Augustine dan Calvin mempercayai “ All Truth is God’s Truth “. Biblical Theology juga memaparkan hal yang sama yaitu pikiran-Ku bukanlah pikiranmu ( Yesaya 55:8 ). Berarti kita hanyalah memancarkan sumber kebenaran-Nya sahaja.

2. INTELLECTUAL – Seringkali kita menempatkan diri sebagai seorang akademis yang masuk ke dalam laboratorium yang “ menyeramkan “ untuk mengadakan eksperimen-eksperimen untuk mendapatkan formula yang beraplikasi. Maka hasil dari laboratorium tersebut yaitu kumpulan poin-poin akademis nan teoritis hasil analisa dalam pengetahuan kita yang “ limited “ ini.

3. MORAL – Secara umum, moralitas berbicara mengenai kesusilaan yaitu tatanan yang harus menjadi pedoman perilaku manusia dalam pergaulan manusia dengan sesamanya. Pertanyaannya adalah standar mana yang “ qualified “ ? Jika tiada satu standard yang satu-satunya berarti tidak ada standard yang obyektif alias subyektif dan akhirnya liar.

Oleh karena itu, manusia harus kembali kepada originalitas manusia itu sendiri yang terletak pada Tangan Allah sendiri yaitu IMAGO DEI di dalam COMMON GRACE dan SPECIAL GRACE yaitu Penciptaan dan Kelahiran Baru, untuk menemukan kehidupan manusia yang abadi. Amen.

Solideo Gloria
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Monday, February 05, 2007

Piety and Perspective

Melihat secara philosophical dan basis doktrinal dari Confucianism, Sebenarnya Confusius tidak menghubungkan ajaran dengan aspek spiritual dalam kehidupan manusia karena Confusius dikenal sebagai tokoh humanis yang menekankan “ capacity “ dan “ ability “ dalam pribadi manusia yang pada naturnya baik. Oleh karena itu Confusianism lebih menekankan “ Philosophy of Life “. Pendapat diatas dibangun bukan dari interpretasi-interpretasi kosong dari para scholar yang menolak pengajaran Confucianism tetapi pendapat tersebut dibangun dari perspektif Confusius sendiri “ If we know not life, why worry about death – if one could not even deal with the earthly life, one should not bother about the heavenly “. Menurut Daniel Tong, penulis buku “ A Biblical Aproach To Chinese Traditions and Beliefs “ bahwa perspektif di atas bukan berarti Confusius tidak percaya kepada supernatural tetapi memfokuskan diri pada “ here and now of the human life “. Pertanyaannya adalah bagaimana Confusius mengaktualisasikan fokus “ here and now of the human life “ dalam konteks keseharian manusia ?
Confucianism menegakkan sebuah keharusan ( necessity ) untuk memegang erat pentingnya “ The 4 Cardinal Virtues “ dan “ The 5 Cardinal Relationships “.

The 4 Cardinal Virtues
To Be Loyal to the ruler or state
To Be Filial to one’s parents
To Be Kind to people
To Be Faithful to ones friends

The 5 Cardinal Relationships
between ruler ( state ) and subject
between father and son
between husband and wife
between older and youngest
between friends

Jika manusia bisa melakukan poin “ virtues “ dan “ relationships “ dengan baik maka lahirlah sebuah masyarakat manusia yang patuh kepada pemerintah, hormat kepada orang tua, baik terhadap teman maupun orang lain. Sangat menarik, Dari semua pengajaran Confusius, salah satu kontribusi terpenting yaitu konsep “ filial piety “ dalam “ ancestral worship “.

Confucian Concept of Filial Piety
1. The Family unit is more important than the individual
2. The will of our ancestors is equated to the Mandate of Heaven that must be obeyed without question.
3. Five duties to perform
a. venerate parents in daily life
b. ensure their happiness
c. take extra care of them when they fall sick
d. show great sorrows at their death
e. offer sacrifieces to the deceased parents
4. provide an heir to continue the family name
5. resist when wrongly commanded

Maka Bagaimana kekristenan menanggapi budaya serta moral dari Confucianism tersebut ? Di dalam Alkitab, setiap manusia harus mengalami pembaharuan ( renewed and transformed ) dalam pemikirannya ( Roma 12:2 ) mulai dari natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa ( bukan karena lingkungan yang mempengaruhi natur manusia tetapi manusia sendiri yang mempengaruhi naturnya sendiri yaitu SELF – Kejadian 3, Roma 5:12-14, I Korintus 15:22 ). Confusius benar dalam mempercayai kebutuhan untuk mentransformasi pemikiran tetapi kesalahan fatalnya yaitu kepercayaan bahwa “ All are born with this pure sinless nature “, padahal sebelum kita mengajari anak kecil mengenai kejahatan, anak kecil sudah tahu bagaimana marah, bohong, iri hati maupun menutupi semua kesalahannya. Jika benar apa yang dikemukakan oleh Confusius maka bagaimana mungkin pengaruh buruk itu bisa ada tanpa pengaruh dari luar ?

Reformed Theology kembali menekankan “ All are born with a sinful nature – Genesis 3 “ dan satu-satunya solusi dosa hanyalah melalui Yesus Kristus ( Yohanes 3:16, Roma 5:17 ) dan hanya Yesus menjadikan kita “ new creation – II Korintus 5:17 “ untuk memperbaharui pikiran kita ( renewing our minds – Roma 12:2 ) berdasarkan pimpinan Roh Kudus ( under the guidance of holy spirit – Yohanes 15:26-27)

Mengenai Filial Piety, Alkitab juga mengajarkan setiap manusia untuk menghormati orang tua :
menjaga orang tua ( Markus 7:9-13 )
menaati orang tua ( Efesus 6:1,4 )
jangan mengkerasi orang tua ( I Timotius 5:1,2 )
tidak boleh mengutuk orang tua ( Markus 7:10b )

Reformed Theology menegaskan bahwa “ filial piety “ hanya diberikan pada saat orang tua masih hidup bukan setelah mereka mati ( Ibrani 9:27 ) dan penyembahan ( worship ) hanya difokuskan kepada Tuhan dan Juruselamat yaitu Yesus Kristus. Kita harus mengingat bahwa kita harus menghormati orang tua dengan menaati mereka tetapi “ ultimate authority “ adalah Firman Tuhan ( II Timotius 3:16 ). Sebuah pertanyaan muncul yaitu Mengapa Allah menyoroti tugas untuk mengasihi dan menghormati orang tua ? J.I Packer memaparkan karena :
1. Keluarga = unit sosial yang dasar dimana kekuatan satu bangsa sangat ditentukan dari kehidupan keluarga.
2. Keluarga = basis unit spiritual dimana Allah menjadikan orang tua sebagai pendeta dan guru bagi mereka.
3. Anak-anak berhutang budi banyak untuk pemeliharaan mereka
4. Anak-anak butuh lebih banyak bimbingan dari orang tua.

Dari semua pemaparan di atas kita diajak bersama untuk menggumuli kehidupan sehari-hari kita yang akan bertemu dengan begitu banyak “ pemikiran-pemikiran moral “ yang kelihatannya baik tetapi bukan yang terbaik. Oleh karena perspektif manusia pasti gagal dalam menemukan secara “ perfectly “ konsep moral maupun piety sesungguhnya karena “ fallen into sin “ sehingga manusia perlu “ pertobatan perspektif “ di dalam Kristus untuk menemukan perspektif yang sesungguhnya dalam menilai konsep moral yang baik maupun yang terbaik yaitu “ Godly Perspective “.Inilah tantangan Apologetika Kristen terhadap Tantangan " Cultures " dan Agama dalam “ Piety “ dan “ Perspective “. Selamat Berjuang Menantang Zaman !

Dalam Anugerah-Nya
Daniel Santoso
Baru Tiba di Beijing


Beijing, China

Peran Gereja dalam Dunia  Yoh 8:21-29, 30-32 Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan ...