Showing posts with label ev. daniel santoso. Show all posts
Showing posts with label ev. daniel santoso. Show all posts

Wednesday, April 27, 2011

VERITAS DEI

Harvard University, sebuah universitas terkemuka di Amerika Serikat yang menjadi dambaan setiap mahasiswa-mahasiswi seluruh dunia yang merindukan masa depan cerah dalam karier mereka (hopefully). Logo “VERITAS” terpampang di setiap sudut kampus bergengsi tersebut, Mark D. Roberts mengungkapkan nuansa “VERITAS” berada dimana-mana seperti “the eye of God”. Apa sih “VERITAS” itu? Tidak lain, “VERITAS” adalah kosa kata bahasa Latin untuk “Kebenaran”.

Manusia tidak dapat lepas dari sebuah kenyataan bahwa manusia adalah sosok ciptaan dari Sang Pencipta. Hubungan creator – creatures adalah kebenaran yang tidak dapat ditolak karena itulah natur setiap manusia. Manusia tidak dapat lepas dari “searching for THE TRUTH” karena setiap manusia memiliki “sense of divinity” dalam dirinya. Namun problem terbesar manusia adalah manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Sang Pencipta. Manusia telah “Fall into sin” namun manusia tetap bersikeras hendak berkuasa dan melampiaskan nafsu mereka dalam menentukan kebenaran.

Mengapa manusia membutuhkan Kebenaran? Frederich Nietzche, seorang filsuf modern yang mempopulerkan dirinya dengan “Death of God Theology”, ia mengatakan bahwa kebenaran ada di dalam diri setiap manusia yang berhasil menjadi “Ubermench” alias “Super Man”. Konsep “Ubermench” Nietzche tercipta dari hasil “blenderan” dua semangat mitologi Yunani yaitu Apollonian (dewa kuasa, dewa ambisius) dan Dionysian (dewa mabuk, dewa nafsu). Gabungan tesis-anti tesis diatas diharapkan oleh Nietzche dapat menciptakan sebuah formula bagi kehidupan manusia yaitu sukses. Bagi dunia, sukses adalah segala-galanya. Jika kita tidak berada di puncak gunung maka kita bukanlah siapa-siapa! Rupanya, Harvard University di masa kini sedang menghidupi semangat kesuksesan ini. Banyak orang-orang pintar dicetak oleh kampus bergengsi ini tapi dimanakah orang-orang benar? Ingat, Matius 16:26 ada tertulis ‘What profit is it to a man if he gains the whole world, and loses his own soul”. Harvard bukan lagi menghasilkan orang-orang benar, mereka hanya memproduksi orang-orang pintar bagi dirinya sendiri. Kebenaran Allah telah diusir dari area publik, bahkan area privat. Makna “VERITAS” telah hilang dari Harvard University. Bagaimana kita dapat menemukannya kembali?

Back to the Scripture. Injil Yohanes 8:31-32 – Jikalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan. Kebenaran adalah Allah sendiri. Teladan Kebenaran hanya terletak di dalam Inkarnasi Yesus Kristus yang menjalani hidup-Nya sesuai dengan Kitab Suci. Hanya di dalam Yesus Kristus, kita dapat mengenal Kebenaran Allah dan hidup di dalam Kehendak Allah yaitu hidup kudus dan merdeka dari dosa. Bagaimana merdeka dari dosa? Bukan hanya mengenal secara “episteme” maupun “theoria”, namun kita harus bertindak tuk “terlibat” di dalam Allah dan Kebenaran-Nya yaitu “ginosko/ epiginosko”. Tanpa “keterlibatan”, tiada seorangpun orang yang sudah punya “label” kristen mengenal Allah dan Kebenaran sejati. Sekali lagi, hari ini terlalu banyak orang yang memiliki label kristen tapi mereka hanyalah kristen tipe “episteme” dan “theoria” tetapi mereka belum “ginosko”. Bagaimana mau “ginosko”? Lakukan dulu Kebenaran, sesuai Kitab suci. Kuncinya adalah “Jadilah Murid Kristus”. Namun menjadi “Murid Kristus” bukan hanya bicara tentang hubungan pribadi dengan Dia, melainkan harus terkait dengan hubungan terhadap sesama. Mereka harus punya tanggungjawab untuk tidak boleh menyesatkan orang lain, justru mereka harus membawa Kebenaran Allah untuk diajarkan kepada orang lain. Itulah tanggung jawab “Murid Kristus”

Originalitas “VERITAS” Harvard University mula-mula adalah tertulis “VERITAS CHRISTO ET ECCLESIAE – TRUTH FOR CHRIST AND CHURCH”. Dimana Kebenaran yang memerdekakan pasti berelasi dengan Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Yesus Kristus menjadi “the only foundation of all sound knowledge and learning.” Gereja menjadi representatif Allah di dalam dunia untuk memberitakan Kebenaran Allah baik dalam mandat Injil maupun mandat budaya. Namun, Harvard University telah menukarnya dengan “TOLERANCE” dan membuang keberadaan Allah, Kebenaran Kristus dan Peranan Gereja dalam Pendidikan. Harvard University, bukan lagi “Bible Proclaiming School”. Mereka hanya peduli terhadap program humanisme untuk memproduksi “ man of success”, bukan “man of significance, man of honor, man of integrity”.

Tahun 1970 an, Di Vietnam, Ada seorang anak muda bernama Hien Pham, dia seorang penganut agama Budha, namun ia meninggalkan agama Budha karena ia merasa kosong seperti orang yang tidak beragama. Akhirnya ia mendatangi sebuah gereja dan ia berbicara dengan pendeta setempat untuk menemukan kebenaran. Akhirnya, ia menyerahkan dirinya menjadi seorang kristen. Ia sangat fasih di dalam bahasa Inggris. Akhirnya dia menjadi seorang translator bagi tentara Amerika maupun tamu-tamu internasional. Singkat cerita, Vietnam jatuh ke tangan komunis. Hien ditangkap oleh komunis dan dijebloskan ke dalam penjara karena dituduh telah membantu tentara Amerika. Hien tidak diperbolehkan berbicara di dalam bahasa Inggris dan Hien didoktrinasi dengan propaganda komunis baik dari Engels, Marx, Lenin dan Ho Chi Minh. Rupanya, “Communist Manifesto” membawa Hien untuk membaca ulang iman kepercayaannya terhadap Kristus. Akhirnya, ia berencana hendak meninggalkan iman kristennya. Tibalah di sebuah pagi hari, ketika Hien ditugaskan untuk membersihkan toilet “kotor”, dirinya melihat “toilet paper” bekas yang kotor dan bau. Rupanya, “toilet paper” yang bekas dipakai adalah sobekan Alkitab dalam bahasa Inggris. Ia bersihkan dan akhirnya ia menemukan iman kristennya kembali melalui “toilet paper” - (Roma 8:28, 38,39). Bagaimana mungkin? Semua hanya karena Kebenaran Allah yang memerdekakan Hien dan Hien menemukan hidupnya kembali menjadi “MURID KRISTUS”. “Life is not about getting the destination, but life is about walking with God and His Truth on the journey to the destination.”

Tercatat di dalam Injil Lukas 23, Ketika Yesus berseru dengan nyaring “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, Ia memuliakan Allah, katanya “Sungguh orang ini adalah orang benar!”. Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun disitu untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Dari bagian ini kita dapat mengetahui sebuah kebenaran bahwa kematian Yesus bukan karena Diri-Nya dibunuh, tetapi Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah. Justru, Yesus bukan kalah, justru Ia telah menang karena Ia telah melakukan kehendak Allah, sesuai Kitab Suci. Setelah melihat semuanya itu, kepala pasukan “kafir” memuliakan Tuhan? Penonton-penonton memukul-mukul diri? Bagaimana mungkin? Mereka pelaku “order” sistem pemerintahan maupun sistem religius yang rusak, mereka penonton yang telah membayar karcis “The Passion of the Christ” dengan “darah mereka”. Namun, Yesus telah mengampuni mereka dan Ia mati untuk menebus dosa setiap orang percaya. Ia bangkit atas kematian untuk mengenapi rencana Allah untuk memberikan pengharapan kepada setiap orang percaya untuk menemukan kepastian hidup kekal. Itulah Kebenaran yang memberikan keselamatan. Keselamatan hanya diperoleh melalui apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan. Tidak ada kata terlambat untuk berbalik dan percaya kepada Allah. Bagaimana dengan kamu hari ini? Sudahkah “VERITAS DEI” memerdekakan hidupmu? Maukah engkau menerimanya hari ini?

In Christ
Daniel Santoso
Tianjin, China

Tuesday, March 29, 2011

Reason for the season 2

Kedua, Yesus Kristus adalah Allah yang rela turun ke dalam dunia yang berdosa, mengambil rupa seorang manusia untuk menggenapi rencana kekal Allah di dalam keselamatan. Manusia tidak dapat memiliki kehidupan yang sempurna karena semua telah jatuh ke dalam dosa. Akibatnya, banyak perintah Tuhan dan ketetapan Allah dilanggar karena mereka mengexcuse diri mereka tidak mampu menjalani perintah dan ketetapan Allah. Yesus Kristus menjadi satu-satunya manusia yang dapat menjadi teladan bagi manusia untuk mentransformasi manusia untuk bagaimana mereka belajar menghidupi hidup yang diperkenan oleh Allah. Dalam hal ini, Yesus Kristus menjadi satu-satunya teladan manusia hidup menurut kehendak Allah. Namun, banyak orang meneladani Yesus di dalam cara yang salah. Mereka bukan mau hidup seturut kehendak Tuhan, melainkan mau menjadi Tuhan menurut kehendak sendiri. Semangat “equality like God” masih panas membara di dalam kosa kata hidup manusia berdosa yang berjubah “religius”. Dalam Alkitab, kita dapat menemukan bahwa Lucifer, pemimpin malaikat Kerubim, pemimpin pujian Surga dan pemimpin malaikat tidak puas dengan semua kepemimpinan yang diberikan Allah kepadanya. Dalam kitab Yesaya 14, kita melihat seruan Lucifer “ I will be like most high. I will be the most high”. Apa yang Lucifer mau? Equality like God. Ini permohonan yang telah keluar jalur “positioning” yang benar! Tuhan menghukum Lucifer dengan membuangnya ke neraka. Siapakah Kristus? Ia adalah Allah yang rela mengosongkan dirinya menjadi manusia, mengambil rupa seorang budak “doulos” dengan “total submission” untuk melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki (Thy will be done).

Ketiga, Yesus Kristus rela mengambil posisi sebagai “the suffering servant” untuk rela mati diatas kayu salib, meneteskan darah-Nya untuk menebus dosa manusia yang berdosa dan memberikan pengharapan baru di dalam hidup kekal melalui apa yang Yesus kerjakan di dalam dunia. Yesus melakukan semuanya untuk menebus dosamu dan dosaku. Ia rela menderita demi menanggung dosa-dosa kita yang sebenarnya tidak Ia lakukan. Ia mengasihi kita dan Ia menyelamatkan kita agar setiap kita dapat kembali kepada Allah Maha Pengasih.

Keempat, Yesus Kristus mati diatas kayu salib, dikubur di kuburan pinjaman. Namun kubur itu kosong dan Yesus menampakkan diri di hadapan murid-murid-Nya. Disini menyatakan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan setiap kita dapat melihat pengharapan di dalam Kristus bahwa ada kehidupan baru setelah kita mati. Dalam hal ini, satu-satunya pendiri agama yang bangkit dari kematian hanya di dalam Yesus Kristus. Jadi, inilah keunikan iman kristen di dalam Kristus dan biarlah semua lidah mengakui bahwa Yesus bukan manusia biasa, Yesus adalah Tuhan dan Hanya di dalam nama Yesus Kristus kita dapat beroleh hidup kekal.
Inilah the real reason for the season. Natal bukan foya-foya! Natal bukan liburan! Natal adalah Pengharapan keselamatan Ilahi, hanya di dalam Yesus Kristus. Sudahkah engkau mengenal-Nya?

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Tianjin

Wednesday, November 17, 2010

God is better than Sex

Skandal Seksualitas di kalangan Selebritis telah menjadi nilai merah bagi masyarakat untuk menilai kehidupan selebritis secara positif, dalam hal ini selebritis identik dengan kehidupan yang negatif. Betapa tidak, Selebriti seharusnya dapat menempatkan diri sebagai teladan masyarakat yang turut mengembangkan kehidupan moralitas yang baik dan benar bagi generasi penerus bangsa. Di Indonesia, Skandal Seks Ariel Peter Pan begitu gempar hingga sampai mancanegara, sampai hari ini, Ariel masih berada di dalam tahanan di Bandung.

Di Hongkong, Skandal Seks Edison Chen juga mengemparkan Hongkong dan dunia entertaiment sampai hollywood. Melalui jumpa pers, Edison Chen menyampaikan permintaan maaf kepada setiap perempuan yang telah menjadi korban dalam video-video tersebut dan memohon maaf kepada keluarga korban, keluarga Edison dan seluruh rakyat hongkong. Dirinya begitu kepukul dan ia meninggalkan Hongkong menuju Canada untuk memulihkan dirinya. Tidak sedikit, Selebritis-selebritis yang memiliki moralitas yang rendah dan tidak punya kesadaran untuk menjadi teladan masyarakat. Mereka hanya mau hidup glamour dan diperlakukan seperti King & Queen. Seharusnya, mereka sadar bahwa sebagai public figure harus memiliki hati untuk mendidik masyarakat dan mengarahkan masyarakat untuk hidup di dalam kebaikan dan kebenaran termasuk etika seksualitas. Bagaimana kita seharusnya mendidik generasi muda terhadap free sex?

Saya sangat kecewa terhadap sebagian gereja yang telah kehilangan suara kenabian untuk mendidik generasi-generasi muda untuk setia hidup dalam kebenaran dan hidup dalam kesucian. Maksud saya, ada gereja yang sengaja tidak memerangi free sex malah mendukung free sex dengan “safe sex” alias menggunakan kondom. Inikah panggilan gereja? Sungguh amat memalukan! Gereja seharusnya mengajak jemaat dan masyarakat dunia untuk menghormati seks dan pernikahan, mengendalikan diri dan menjauhi semua tindakan najis dan menjaga kesucian hidup (1Tes 4:4) karena orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah (Ibrani 13:4). Free Sex jelas bertentangan dengan Firman Tuhan, enggak peduli safe sex or not, tetap melanggar etika dan norma di hadapan Allah dan manusia. Jika demikian, bagaimana kita seharusnya hidup dalam kebenaran dan kesucian? Seks itu indah bagi mereka yang “menikah”. Jangan lancang! Jika lancang, kita telah memilih jalan hidup sendiri untuk tidak kembali kepada jalan Tuhan dan cari liang kubur sendiri. Ingatlah, Allah melarang dengan tegas “free sex” yang telah menodai kesakralan arti seksualitas. Jadi, siapapun kita yang telah jatuh ke dalam dosa, kita harus belajar bertobat dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab menjaga kesakralan hidup dan cinta kasih yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia ciptaan-Nya untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan natur cinta kasih-Nya.

Akhirnya, Edison Chen kembali ke Hongkong. Yup! Artis muda Hongkong yang terjun dalam blantika musik hip hop, dunia akting hongkong maupun hollywood, model dari Levi’s dan model MV kembali mengadakan jumpa pers di CNN Talk Asia dan memaparkan pertanggungjawaban Edison. Rupanya, perubahan hidup baik iman, pemikiran, emosi dan aksi menjadikan setiap kita kembali melihat krusialnya etika seksualitas yang setia kepada Firman Tuhan dalam hidup anak-anak Tuhan.Semoga Edison sungguh-sungguh menekuni apa yang Tuhan kehendaki dan menghidupi sebuah kehidupan yang suci dan bertanggungjawab di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Semoga mereka bukan bertobat hanya "panas-panas tahi ayam". Be Strong in The Lord!

In Christ
Daniel Santoso
Beijing, China

Wednesday, February 17, 2010

Silmido

Silmido, inilah pertama kali aku mendengar nama sebuah pulau bersejarah di wilayah Korea Selatan. Sebuah pulau tempat training tentara khusus South Korea divisi 684 di tahun 1968 yang menjadi saksi bisu atas sejarah 30 pasukan khusus divisi 684 yang tanpa sepengetahuan pihak bersangkutan, data pribadi mereka dilenyapkan dari data base South Korea dan mereka dilatih untuk melaksanakan satu misi besar yaitu membunuh Presiden Pyong Yang, Kim Il Sung. Latihan mereka begitu keras, dari berlari keliling pulau, masuk ke dasar laut menahan nafas, menahan besi panas yang membakar punggung mereka, menerima pukulan bertubi-tubi dari para trainer mereka demi mempersiapkan mereka melaksanakan sebuah misi khusus yaitu masuk ke Pyong Yang dan bunuh Kim Il Sung. Ketika mereka diberangkatkan, justru Jenderal Jae-hyun menerima order dari atasan untuk kembali ke Silmido dan menerima order untuk membunuh tentara divisi 684 tersebut. Mereka mempertanyakan identitas mereka yang telah dihapus dari data base South Korea, mereka mempertanyakan kebangsaan mereka yang dianggap komunis oleh bangsanya sendiri. Mereka bunuh diri di dalam bus dengan meledakkan granat. Kisah tersebut difilmkan pada tahun 2003 dengan judul yang sama “Silmido”. Banyak scene-scene kekerasan yang “sadis”, “bengis” dan “imoral”, tetapi pergumulan mereka membayar kesalahan mereka sebagai kriminal yang telah dijatuhkan hukuman mati (sebelum bergabung dalam divisi 684) tidaklah mudah. Sayang sekali, mereka menyelesaikan pergumulan mereka dengan solusi humanis yang tidak mengutamakan kebenaran dan standar Allah sebagai utama.

Dalam konsep kekristenan, semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan setiap manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3), mereka membutuhkan Kristus, satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Inilah pertobatan yang kembali kepada konsep keselamatan sejati yang hanya didasarkan di atas nama Yesus Kristus, sebagai satu-satunya keselamatan yang dinyatakan dari Allah. Meski demikian, tidak sedikit orang kristen merasakan hidup mereka begitu sulit dalam menaati kebenaran Allah. Mereka jatuh ke dalam kejatuhan dan cenderung melakukan dosa-dosa yang tidak berkenan bagi Tuhan. Ketaatan masih menjadi “question mark” yang tidak habis-habis dalam mengaminkan serta menjalankan keteladanan dan pengajaran Yesus Kristus dalam konteks orang yang mengatakan dirinya kristen. Kalau ketaatan kepada Allah masih menjadi pergumulan orang kristen, maka ketaatan mereka selama mengikut Kristus hanyalah sebuah “sandiwara” atau “drama” yang formalitas dan palsu. Berbeda dengan Rasul Paulus dalam Filipi 2 justru menekankan pada “work out your salvation”. Kerjakan keselamatanmu, bukan ketaatanmu! Pada saat keselamatan kita hanya dapat dijamin di dalam pekerjaan Allah Anak yaitu Yesus Kristus, melalui pengorbanan darah-Nya di atas kayu salib dan menebus dosa manusia, barulah kita dapat melihat keindahan konsep kasih dan keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus adalah tindakan nyata Allah “from above” yang memberikan makna hidup yang kekal. Justru urusan iman untuk menaati Allah seharusnya telah menjadi urusan yang telah kita bereskan dalam pertobatan kita di hadapan Allah. Jika kita masing bimbang untuk menaati Allah, maka kita masih belum totally menyerahkan semua total kepada Allah. Justru penyerahan diri secara totalitas kepada Allah memberikan kesukaan dalam hidup di dalam Allah dan sukacita dalam Kristus sajalah yang memampukan setiap kita untuk menjalani panggilan dan pergumulan kita untuk mengerjakan keselamatan kita yaitu hidup selaras dengan Kristus. Hidup memberitakan Kristus sebagai esensi Injil yang “full of meaning” kepada dunia ini. Sekali lagi, tidak mudah membawa Injil Kristus ke dalam dunia ini, tidak “always easy and smooth” tapi bukan berarti keselamatan di dalam Kristus harus dikompromikan dengan “situasional manusia”, “moralitas manusia” maupun “fakta hidup manusia”, tetapi bagaimana setiap situasional manusia, moralitas manusia dan fakta hidup manusia dibawa untuk selaras dengan Injil Kristus sebagai standar Allah yang absolute dan tidak dapat diganggu gugat. Itulah panggilan hidup orang kristen. Cia Yo.


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijng, China

Friday, February 05, 2010

Aula Simfonia Jakarta

Vitrivius, seorang arsitek Roma abad 1 memberikan 3 prinsip mengenai “good building” yaitu Pertama, Firmitatis (menekankan kondisi bangunan) Jika bangunan tidak memiliki firmitatis, bangunan tersebut hanyalah sebuah fenomenal yang tidak bertahan lama. Kondisi bangunan menentukan bangunan yang baik. Baru-baru ini satu gedung perkantoran di daerah Taiwan roboh, padahal gedung perkantoran tersebut baru 3 tahun. Problemnya adalah mutu bangunan belum memenuhi syarat firmitatis yang kuat. Firmitatis menjadi poin penting dalam bangunan karena umur gedung tersebut ditentukan dari firmitatis yang kuat. Kedua, Utilitatis (menekankan fungsi bangunan bagi orang lain), Ketiga, Utilitatis, Fungsi menjadi poin penting dalam membangun sebuah gedung, Apa jadinya bila tidak ada poin utilitatis? Tentu saja, gedung tersebut tidak akan berfungsi secara maksimal alias mandul memberikan sumbangsih dalam perjalanan hidup manusia. Jika saudara melihat Eropa, kerajaan dan gedung-gedung gereja menjadi daya tarik tersendiri di dalam dunia arsitektur. Mengapa demikian? Kerajaan melayani rakyat. Gereja melayani Tuhan. Ada fungsi-fungsi penting dan sakral dalam fungsi bangunan tersebut. Ketiga, Venustatis (ada keindahan yang membangunkan semangat). Neuroaesthetic. Dalam arsitektur, estetika memiliki “linked” dengan “order” dan “balance”. Terkadang beberapa designer rela membuang “function” demi sebuah “beauty”. Tentu saja, keduanya gak bisa dipisahkan karena kita adalah manusia yang menekankan fungsi dalam kehidupan dan keindahan melampaui ruang dan waktu karena keindahan bukan sebuah material namun sebuah “sukacita”.

Sebuah kebanggaan bagi rakyat Indonesia, Aula Simfonia Jakarta menjadi auditorium pertama di ibukota yang dikhususkan bagi pentas musik klasik dengan ornamen-ornamen “renaissance”, potret para komponis dan gedung pementasan yang anggun, megah dan besar. Aula Simfonia Jakarta didesign oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, seorang pendeta reformed, teolog reformed, filsuf, musikus, ahli sejarah, guru besar, arsitek.

Suara akustik Aula Simfonia Jakarta menekankan hasil “direct sound”, “early reflection sound” dan “overall reverberation” yang jernih. Tidak mudah bagi arsitek dalam membangun sebuah auditorium dengan suara akustik yang jernih. Menurut informasi sebuah website http://www.church-acoustics.com, kesulitan dalam design sebuah auditorium adalah memperoleh “good projection of the sound to the rear of th enclousure”, “good clarity and articulation”, “good balance of low and high frequencies”, “feeling of intimacy and presence”. Aula Simfonia Jakarta merupakan salah satu auditorium di seluruh dunia yang telah melewati kesulitan tersebut. Puji Tuhan! Segala kemuliaan hanya bagi Allah saja.

Dalam Kristus
Daniel Santoso
Jakarta, Indonesia

Wednesday, April 09, 2008

Arti sebuah pengorbanan nyawa

Sebuah berita duka muncul dari televisi Guangzhou tempat saya tinggal yaitu brother chow, seorang calon serdadu komunis yang meninggal dunia bukan karena sakit penyakit, kecelakaan maupun menerima kutukan sang dewa. Di Beijing, Ia bersama temannya menolong anak-anak yang sedang bermain di atas sungai es yang meleleh. Mereka menolong anak-anak tapi anak-anak selamat, brother chow meninggal di tempat karena kedinginan. Angkatan darat mengangkatnya sebagai “ hero “ yang telah menyelamatkan jiwa manusia, tidak sedikit mereka datang ke tempat peringatan jasanya dengan derasnya air mata di wajah mereka sambil suara yang terisak-isak menahan tangisan. Belum lagi, papa, mama brother chow yang histeris menangis karena 2 tahun tidak melihat anaknya, eh dirinya telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Ketika anak-anak yang diselamatkan oleh brother chow bersama dengan orang tuanya menemui orang tua brother chow, hanya satu vocabulary yang keluar dari mulut mereka yaitu “ I am Sorry “. Melihat jasa brother chow, kota Beijing memperingati hari kepahlawannya dan kota kelahirannya, brother dianggap sebagai pahlawan berjasa bagi “ people rebuplic of china “.

Scene 30 menit ini membuat saya tertegun atas arti sebuah pengorbanan seorang serdadu yang rela mengambil resiko demi menyelamatkan jiwa generasi penerus bangsa. Tapi tiba-tiba saya tersentak dengan sebuah pertanyaan dari hati kecilku, jika pengorbanan brother chow membuatmu tertegun, bagaimana dengan pengorbanan Yesus bagimu, anak malang ? oh gosh ! saya gelisah dengan pertanyaan sederhana dari suara hatiku ! seakan-akan saya diperhadapkan di sebuah mahkamah agung yang memberikan dakwaan kepada saya mengenai respon saya terhadap brother chow dan kepada Yesus. Saya bisa tertegun dengan kisah brother chow karena saya melihat ada “ evidence “ yang memberikan saya “ jaminan “ bahwa ketertegunan saya memiliki bukti nyata yang terekam di dalam tayangan documenter angkatan darat tahun 2008, sedangkan Yesus, saya menyadari bahwa mungkin saya hanya tertegun dengan “ stories “ yang memberikan “ redemption “ kepada diri saya sehingga karena gak ada yang mati buat saya maka Yesus, oklah ! atau jangan-jangan saya hanya mempercayai pengorbanan Kristus hanyalah sebuah pengorbanan yang diberikan Allah kepada kita sebagai “ door prize “ sehingga kita seperti menerima tiket pesawat untuk terbang ke sebuah tempat yang namanya “ Heaven “. Atau jangan-jangan saya merasa Yesus hanyalah legenda yang memberikan “ pendidikan moral “ kepada kita untuk belajar mengorbankan diri untuk orang lain.

Mengapa aku lebih mudah tertegun atas pengorbanan brother chow ketimbang pengorbanan Kristus ? saya merenungkan betapa sulitnya manusia memahami pengorbanan Kristus karena diri-Nya adalah Allah yang rela turun menjadi manusia dan menyerahkan nyawanya mati di atas kayu salib demi menebus dosa saudara dan saya dan ia bangkit dari kematian memberikan pengharapan kepada saudara dan saya serta ia naik ke surga dan akan datang kedua kalinya. Di MRII Shanghai saya ada putarkan scene singkat via dolorosa dari Passion of the Christ dan seorang anak kecil “ Winelson “ masuk tanpa sepengetahuan saya dan melihat penderitaan Kristus. Ia bisa begitu tertegun. Waktu saya tahu dia sedang melihatnya, saya matikan. Tetapi winelson berkata “ I wanna see Jesus “. Oh God. Dimanakah teriakan kita ? kita sudah hidup terlalu sibuk sehingga kehilangan keingintahuan kita untuk melihat Yesus. Tetapi saya belajar sesuatu dari semuanya ini, justru saya diberkati Tuhan karena saya terlalu “ stupid “ untuk memahami pengorbanan Kristus sehingga Tuhan memberikan “ ilustrasi “ yang menyentuh diriku untuk tertegun sehingga aku belajar menyadari di dalam “ faith “ bahwa pengorbanan Kristus melampaui apa yang dikerjakan oleh brother chow. Puji Tuhan! Bagaimana dengan saudara ? sudahkah engkau realized atas “ ilustrasi-ilustrasi “ yang Tuhan berikan kepadamu ? sudahkah kau melihat pengorbanan-Nya dalam iman?

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Guangzhou, China

Wednesday, July 11, 2007

Reflection on " Negri Di Awan "

Kemarin, saya meninggalkan Shanghai menuju lokasi transit saya " Hongkong " sebelum masuk ke Taiwan. Sepanjang perjalanan dari Shanghai - Hongkong - Taipei, saya menikmati sekali berkat-berkat Tuhan yang begitu melimpah khususnya berkaitan dengan alam ciptaan Tuhan. Dari atas mobil, bus maupun pesawat terbang - saya mengagumi salah satu keindahan alam semesta di antara seluruhnya. Awan-awan di langit mencuri perhatian saya sepanjang perjalanan tersebut baik saya melihat ke atas maupun saat saya melihat ke bawah, sehingga terlintas sebuah lagu karya musisi Indonesia, Katon Bagaskara dengan tembangnya " Negri di Awan "di dalam benak saya. Betapa indahnya engkau, awan-awan putih. Apakah ada " Negri nan damai " dibalik keindahanmu, awan ? Pernahkah saudara memiliki pertanyaan yang serupa ? Terpesona memandang awan dan mencari jawaban yang pasti , apakah ada " Negri di Awan " itu ? Dimanakah saya dapat mencari jawaban tersebut ?

Teologia Reformed mengajak kita untuk kembali kepada THEOLOGY. how to understand THEOLOGY ? John Calvin memberikan kesimpulan dalam mengerti THEOLOGY yaitu " No Knowledge about God without know about man, No Knowledge about Man without know about God ". Secara positioning, ada perbedaan kualitatif antara Allah sebagai " Creator " dan Manusia dan ciptaan lainnya sebagai " created ". Tetapi manusia memiliki keunikan yang berbeda dengan ciptaan lain-Nya yaitu Imago Dei ( Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah ) dan Sensus Divinitatis ( kesadaran sesuatu yang Ilahi melampaui keterbatasan dirinya ) dan Hukum Taurat dalam diri manusia dalam memilah " what is right " dan " what is wrong ". Problemnya manusia kehilangan kesadaran bahwa dirinya diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sehingga positioning manusia selalu bergeser sehingga jauh dari posisi semula dengan membutakan " sensus divinitatis " mereka sehingga problem demi problem muncul khususnya dalam memberikan interpretasi mengenai " what is right " dan " what is wrong ". Jika demikian, interpretasi paling akurat kita dapat peroleh dari mana ? VERBUM DEI - Firman Tuhan.

Kita mempercayai ini sebagai wahyu khusus - satu-satunya kunci paling " akurat " untuk memahami misteri " Negri di Awan " karena dunia ini dijadikan oleh Allah melalui Firman. ( Kejadian 1 dan Mazmur 33:6-9 ), di dalam otoritas Allah yang menyampaikan Firman-Nya. Maka kuasa Firman itu real dan setiap orang kristen harus mempercayai Firman Tuhan = God Himself Speaking in every culture, every society, every context, every area of life, etc. Tanpa Firman Tuhan maka tiada jawaban pasti mengenai " Negri di Awan " apalagi " Allah ". Melalui Firman Tuhan sajalah, kita dapat meyakini Allah sebagai Allah atas " Negri di Awan " baik jauh dari pandangan kita maupun dekat dalam hati kita. Allah atas " Negri di Awan " adalah Allah yang bagaimana ? Melalui Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab, kita mengaminkan bahwa Yesus Kristus adalah Inkarnasi Allah yang rela turun menjadi manusia untuk menebus dosa manusia dan menyatakan kedamaian yang abadi ... istana negri awan disana !


Keep Reflecting
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Peran Gereja dalam Dunia  Yoh 8:21-29, 30-32 Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan ...