Monday, May 14, 2007

Hope and Victory

Sejak manusia berdosa, tiada seorangpun dapat mencari Allah dan Kebenaran-Nya secara “ perfectly “. Salah satu ketidakmampuan manusia mencari Allah dan kebenaran-Nya yaitu sebuah bangunan zigorad babilonia yang pernah tercatat di sejarah peradaban manusia yang desainnya diabadikan di Great Mosque, Samarra di Irak. Memiliki 23 pintu gerbang – tinggi 55 meter bentuk “ pisang molen “ or “ ice cream cone “ yang mampu menampung 80.000 jemaat. ( Kejadian 11 ). Mereka dengan visi yang satu membangun zigorad, komitmen yang satu menjalankan visi tersebut dengan susah payah, komunikasi yang efektif untuk mewujudkan visi yang mereka dambakan tetapi apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan sehingga manusia diceraiberaikan, bahasa manusia diporak-porandakan sehingga visi yang tadinya satu akhirnya kacau, komitmen yang tadinya begitu solid sekarang kacau, komunikasi yang tadinya efektif akhirnya tidak lagi berguna. Oleh karena itu Zigorad Babilonia menjadi peringatan sejarah manusia ! Mau punya manajemen sebagus mungkin tetapi tidak sesuai dengan kehendak Tuhan maka semuanya tidak mungkin dapat terlaksana ! Tetapi sayangnya manusia semakin bebal untuk kembali membangun zigorad pribadi mereka dengan ide-ide “ jahat “ yang justru melawan Tuhan. Hasilnya adalah sia-sia. Karena manusia tidak mungkin dapat mencari Allah dan kebenaran-Nya di dalam kapasitas sempitnya manusia yang terbatas. Hanya satu solusi satu-satunya yaitu Roh Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya dan Roh Allah sendiri yang menyatakan Kebenaran-Nya maka barulah manusia dapat menemukan Allah dan Kebenaran-Nya yang “ asli “. Roh Allah datang membawa Firman turun ke dalam dunia melalui “ special revelation – wahyu khusus “ yaitu ALKITAB & INKARNASI. Melalui Alkitab dan Inkarnasi barulah kita memahami bahwa di dalam Kristus barulah kita dapat menemukan Allah dan Kebenaran-Nya. Alkitab dan Inkarnasi menjadi “ the crucial point “ untuk menyatakan “ Theology “ dan “ Action “ yang membawa manusia kembali kepada Tuhan. Kelahiran Yesus, Kematian Yesus, Kebangkitan Yesus adalah momen-momen optimistik yang menyatakan pengharapan bagi hidup manusia. Tanpa kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus maka tidaklah mungkin kita dapat memahami “ Theology “ secara “ hidup “. Justru melalui momen-momen tersebut kita dapat melihat betapa momen-momen Yesus turun ke dalam dunia menyatakan pengharapan kita melihat “ Action “ dalam “ Theology “. Hari ini kita memperingati hari kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Disini kembali setiap kita melihat momen yang berharga dalam inkarnasi Tuhan untuk menyatakan sekali lagi, Pengharapan bagi umat Tuhan yaitu Theology of Victory. Tuhan menang atas maut ! ini bukan statement “ klise “ ! ini “ real “. Oleh karena itu janganlah engkau lengah ! Jika gereja Tuhan dipenuhi oleh anak-anak Tuhan yang “ berpengharapan “ di dalam Kristus yang menang atas maut maka hidup mereka bukan jatuh ke dalam ketakutan tetapi mereka hidup di dalam kelimpahan dan pengharapan iman mereka memberikan “ fighting spirit “ untuk memperjuangkan “ Theology “ dan “ Action “ sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Puji Tuhan !

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Monday, April 23, 2007

Transforming The Past

Tragedi Virginia Tech, sebuah berita menyedihkan yang “ berhasil “ menembusi setiap lapisan media komunikasi dari internet, berita televisi, media cetak maupun media elektronik lainnya. Banyak pemirsa menyimak dengan penasaran akan kisah nyata yang tragis tersebut sehingga rating pemirsa maupun pembaca semakin tinggi. NBC menjadi salah satu sumber informasi paling penting dalam perjalanan kisah tragis ini karena anda dapat memperoleh biografi akurat, foto-foto maupun orasi dari Cho Seung Hui, seorang pemuda “ South Korean “ berumur 23 tahun.

Tidak sedikit, profesor maupun muda-mudi Virginia Tech berusaha mengingat kembali identitas Cho Seung Hui yang kesepian, aneh, sering diketawai oleh teman sekelasnya, menulis karya tulis yang menegangkan seperti mimpi buruk, ditertawakan oleh teman dekatnya saat ia mengatakan andai aku adalah school shooter. Hasil dari tragedi tragis tersebut menjatuhkan 2 korban di West Ambler Johnston Hall dan 30 korban di Norris Hall, akhirnya ia membunuh dirinya sendiri.

Melihat kisah hidup Cho Seung Hui, ia bergumul dalam depresi, ketakutan, kemiskinan, kematian, ketidakadilan, kesepian, kasih sayang maupun kehormatan. Setiap statement yang anda saksikan di NBC beralasan dengan realita yang ada. Ia dianggap aneh karena menentang gaya hidup “ party style “ maupun hidup hedonisme dari teman-temannya, pendiam yang misterius sehingga suka diisengin oleh teman-temannya “ Yo man, go back to china ! “.

Entah apa yang terlintas dalam benak Cho Seung Hui ? melalui keterbatasan saya sebagai seorang awam, saya melihat apa yang dikerjakan oleh Cho Seung Hui adalah sebuah usaha transformasi budaya. Setiap kalimat yang terekam dalam video player-nya memuat nuansa ketidakpuasan gaya hidup yang dapat merusak generasi penerus ( vocabulary dari Cho : This is for my children ! ). Dalam hal ini, saya respek terhadap pemuda yang tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri tetapi juga memikirkan untuk orang lain dan kepentingan generasi penerus. Hanya orang dewasa memiliki lapang dada untuk rela memeras pikiran peroleh solusi terbaik bagi generasi berikutnya. Sayang, tindakan transformasi Cho Seung Hui bukanlah cara seorang konservative seperti Presiden Bush, cara seorang pacifism seperti ( Alm ) Martin Luther King tetapi ia memakai cara seorang “ cowboy “.

Setelah mengikuti setiap berita-berita yang melelahkan mata fisik, mata pikiran dan mata hati saya … saya berdoa kepada Tuhan, bagaimana mata iman saya membaca berita-berita tersebut ?

Pertama, saya menyadari betapa rentannya manusia sebagai seorang “ Sinner “. Tidak peduli apakah manusia itu sehat mental atau cacat mental, mereka hanyalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa sehingga kecenderungan berbuat dosa tetaplah ada dalam diri mereka. Inilah kecacatan semua manusia yaitu DOSA. Dosalah yang telah menkontaminasi iman, pikiran, hati, aplikasi hidup manusia sehingga dosa menghancurkan konsistensi seluruh totalitas kehidupan manusia menjadi kacau dan liar. Seorang boleh mengatakan dirinya orang kristen tetapi bukan berarti ia memiliki iman kristen, cara pandang kristen, hati seorang kristen, aplikasi hidup orang kristen. Inilah realita paradigma manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Pertanyaan yang timbul yaitu apakah manusia menyadari keberdosaan dirinya ?

Kedua, Respon manusia terhadap kesadaran dirinya berdosa bisa dua macam ; satu macam lebih bersifat pesimistik – tenggelam di dalam “ depresi “ maupun lebih bersifat optimistik – bangun dari tidur dan berjuang untuk menikmati hari yang baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Respon manusia yang pesimis menyebabkan depresi yang laten, tidak segera tampak atau disadari. Penderita depresi dapat nampak ceria walau sebenarnya ia sedih. Prof Daniel Goleman, Psikolog dari Harvard University, USA dalam bukunya “ Emotional Intelligence “ mengatakan bahwa di zaman modern ini kemungkinan orang depresi lebih banyak karena berbagai tekanan hidup yang selalu muncul dalam setiap berbagai konteks dan situasi. Manusia yang depresi biasanya memfokuskan dirinya kepada kepesimisan hidup yang ia alami, sulit konsentrasi ( painful thinking ), konsep diri yang negatif karena kesalahan masa lalu, rasa kuatir yang berlebihan, emosional yang labil, delusional thinking, psychotic depression dan sebagainya. Seorang murid SMU bunuh diri karena merasa berdosa kepada pacar yang dihamilinya dan mati. Merasa berdosa kepada keluarga pacarnya, merasa berdosa kepada keluarganya sendiri. Lalu tulis surat minta maaf lalu gantung diri, tiada jalan keluar kecuali bunuh diri, itulah yang dilakukan oleh manusia berdosa. Respon manusia yang optimis meskipun tetap mengalami depresi tetapi mengalami pertobatan di dalam karya keselamatan dan penebusan melalui satu-satunya juruselamat dunia yaitu Tuhan Yesus Kristus yang memberikan kekuatan untuk tekun belajar menjalani “ sinkronisasi “ hidup seperti Kristus sampai kedatangan Kristus kedua kalinya.

Ketiga, sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka manusia kehilangan Kemuliaan Allah ( TOTAL DEPRAVITY ). Disini manusia telah jatuh ke dalam cara pandang yang “ complicated “ tapi kelihatannya manusia menyukai keputusannya untuk jatuh ke dalam dosa. Dilematisnya, manusia menganggap keputusannya yang “ tidak beretika “ itu sebagai keputusan yang benar. Itulah yang dilakukan oleh Cho Seung Hui. Ia ambil keputusan untuk menjadi “ School Shooter “ demi generasi penerusnya yang inspirasinya mengutip Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan mereka yang tidak terlindungi. Apa maksudnya disini ? Cho Seung Hui, seorang kristen yang seharusnya bisa membaca “ qualitative difference “ antara Yesus Kristus dan dirinya. Disini konsep messiah telah mengalami “ ketidakadilan “ karena apa yang dikerjakan oleh Yesus adalah divine, sedangkan Cho Seung Hui lebih cocok dinobatkan sebagai “ cowboy “. Inilah realita cara pandang manusia berdosa yang belum mengalami sinkronisasi dengan cara pandang Allah ( God’s perspective ). Hanya melalui Firman Tuhan ( God Himself Speaking ) kita dapat dibawa untuk menyelami cara pandang Allah yang beresiko tinggi untuk mengalami “ suffering, injustice maupun violence “ tetapi cara pandang Allah pasti memberikan kekuatan untuk tekun menjalani kehidupan yang penuh penderitaan, ketidakadilan maupun kejahatan sampai waktu-Nya tiba bagaimana Tuhan dimuliakan dalam kehidupan yang “ complicated “ ini. Seringkali kita mengikut Tuhan hanya dengan keuntungan profit yang disediakan-Nya tetapi kita tidak mau mengalami kerugian dalam proses pengikutan kita kepada Tuhan. Saat kita tidak menikmati profit dari pengikutan kita kepada Tuhan akhirnya kita berjiwa pemberontak dan selalu memiliki keraguan radikal yang secara terus menerus mempertanyakan segala yang kita yakini, untuk sebagian orang hal itu mengakibatkan kekecewaan, realisme berlebihan yang semakin memberatkan langkah kita, membebani bahu kita dan akhirnya membuat kita berhenti dengan penuh kepahitan. Sekali lagi, semua karena dosa. Masalah dunia bukan hanya disebabkan oleh sistem sosial, keluarga, pemerintahan yang salah melainkan kelemahan radikal yang ada di dalam diri kita sendiri, sifat jahat hati kita.

Keempat, Seringkali kita terlalu cepat mengambil keputusan menjadi “ school shouter “ dari pemikiran filosofis kita yang sempit untuk melakukan sebuah transformasi budaya dan kita kurang beriman di dalam menunggu waktu Tuhan untuk kita belajar melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan untuk mendoakan dan mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita. sebuah buku “ Transforming Society - by Melba Padilla Maggay “ mengajak saya sebagai pembaca tuk menempatkan diri sebagai Yehezkiel di padang belantara ( Yehezkiel 27:1-14 ). Di hadapan padang belantara ini Yehezkiel diuji dengan pertanyaan “ Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali ? “. Karena tidak mampu membayangkan bagaimana hal itu bisa terjadi, Yehezkiel menggumam “ Ya Tuhan Allah, Engkau yang tahu “. Yehezkiel tahu bahwa Allah tahu apa jawaban atas pertanyaan itu dan dapat melakukannya jika ia mau. Tetapi pemandangan di hadapannya sedemikian mencengangkannya sehingga membangkitkan keraguannya untuk mengusahakan sebuah jawaban. Bagaimana perasaan Yehezkiel saat menutup tumpukan tulang-tulang kering itu, sama seperti keraguan kita. Tuhan memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang tersebut dan tulang-tulang tersebut bergerak dan hidup. Kemudian Tuhan menjelaskan kepada Yehezkiel bahwa tulang-tulang itu adalah seluruh kaum Israel. Saat itu mereka yang hidup dalam pembuangan di Babel sudah tidak punya pengharapan untuk dapat pulang kembali ke tanah mereka. Keputusasaan mereka sama dengan yang dirasakan oleh orang masa kini, tenggelam dalam depresi tanpa harapan. “ Tulang-tulang kami menjadi kering dan pengharapan kami sudah hilang “. Saya belajar menyelami orang-orang yang mengusahakan transformasi budaya dan masyarakat dengan kesadaran bahwa keputusasaan terjadi pada tempat yang hanya satu-satunya Tuhan yang dapat masuk yaitu Yesus Kristus.

Fakta bahwa Kristus sendiri dibunuh, mengingatkan kita bahwa kekuatan kejahatan sangatlah besar sehingga kita mengalami keputusasaan sampai tulang-tulang kita menjadi kering dan usaha terbaik kitapun gagal. Walau demikian, fakta lain bahwa Kristus sudah bangkit, mengingatkan kita bahwa pada pusat kekuasaan di dunia ini ada satu kekuatan yang mendobrak kubur dan menyatakan hidup “ Lihatlah, Aku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan engkau dari kuburmu, Oh umat-Ku dan Aku akan membawa kamu pulang ke tanah kaum Israel … dan Aku akan menaruh Roh-Ku dalam dirimu, dan engkau akan hidup, dan Aku akan menempatkan engkau di tanahmu sendiri. Maka engkau akan tahu bahwa Aku, Tuhanmu telah mengatakannya dan melakukannya, begitulah firman Tuhan. “ Membaca makalah tersebut saya merasa tertegur sedalam-dalamnya, Jika kita berada di dalam kebimbangan dan ditanya “ Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali ? “. Jawaban kita adalah Ya, seperti Yehezkiel, sebab Kristus sudah mati, Kristus sudah bangkit dan Kristus akan datang kembali. Inilah Janji Tuhan yang PASTI TERJADI !

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, R.O.C

Tuesday, April 17, 2007

Yesus atau Barabas ?

Matius 27 : 11-26
“ Apakah Engkau adalah raja orang Yahudi ? “. Sebuah pertanyaan yang muncul dari mulut seorang wali negeri Romawi yang ditujukan kepada Yesus. Situasi saat itu tidak mendukung Yesus sebagai Raja Orang Yahudi tetapi massa mendukung Yesus sebagai kriminal, pemberontak, bidat. Apakah Yesus menanggapi pertanyaan tersebut ? Apakah Yesus bungkam ? Yesus tetap mengatakan bahwa “ Engkau telah mengatakannya “. Siapakah Pemerintah ? Siapakah Yesus ? Mereka bisa dikatakan sebagai raja tetapi terdapat beda kualitas yaitu Yesus adalah Raja yang rela turun untuk melayani berbeda dengan Pilatus sebagai raja yang berbuat apa saja untuk menguasai. Inilah “ Divine Point “ Yesus adalah Allah yang justru rela turun untuk melayani untuk kepentingan orang lain sedangkan manusia berusaha naik tahta demi kepentingan sendiri untuk menguasai orang lain. Jika elit politik, penegak hukum, ekonom tidak rela turun untuk melayani maka mereka gagal melakukan aplikasi sebagai elit politik, penegak hukum maupun ekonom sejati. Saat para imam dan tua-tua menuduh Yesus sebagai kriminal sampai Pilatus heran karena respon Yesus bukannya marah histeris seperti kerasukan setan tetapi Yesus hanya berdiam diri tanpa menanggapi mereka. Setiap gosip dan rumor yang berkembang tidak bakal mengoncangkan identitas Yesus sebagai Mesias dan Raja Orang Yahudi. Gosip maupun rumor boleh beredar tapi bukan berarti kita harus menanggapi karena gosip maupun rumor yang salah tidak layak ditanggapi. Pada saat saya menulis sebuah artikel mengenai refleksi Reformed terhadap Da Vinci Code di internet, ada seorang rekan memberikan respon “ da vinci code hanyalah fiksi, buat apa tulis berlembar-lembar, semestinya mereka tahu itu hanyalah novel fiksi “. Satu sisi, ada kebenaran untuk tidak mengubris hal tersebut tetapi sisi lain, tidak sedikit orang menyukai fiksi sehingga tidak bisa membedakan mana yang fiksi maupun realita akhirnya kita dibutakan oleh kepalsuan ketimbang oleh kebenaran. Kita tahu itu gosip tidak benar tapi kita lebih suka “ memakan “ gosip tersebut. Kita suka entertaiment yang membutakan kita ketimbang pendidikan yang memberikan pertumbuhan kepada kita. Yesus berdiam diri tetapi bukan berarti setuju dengan gosip-gosip tersebut, Ia tetap menyatakan Kebenaran “ Engkau sendiri yang mengatakannya “. Istilah “ No Comment “ seringkali kita pakai dalam vocabulary kita. No Comment seringkali kita pakai untuk menyembunyikan sesuatu padahal No Comment, sebuah statement yang menyatakan bahwa tidak perlu dikomentari lagi. Yesus tidak memberikan komentar terhadap gosip tetapi Yesus hanya memberikan komentar terhadap Kebenaran.

Saat pemimpin agama dan tua-tua Yahudi menganggap Yesus sebagai kriminal, Pilatus memberikan kesempatan kepada rakyat untuk bersuara dan apa yang harus saya lakukan terhadap Yesus ? Apakah suara rakyat pasti benar ? Dalam Filsafat Romawi Kuno, ada sebuah kalimat “ VOX POPULI VOX DEI “ yaitu “ SUARA RAKYAT ADALAH SUARA ALLAH “. Benarkah ? suara rakyat pasti adalah suara Allah ? Justru suara masyarakat banyak tidak menyelesaikan masalah malah menghancurkan pemerintahan maupun rakyat. Pilatus mengadopsi filsafat Romawi maka ia melegalkan suara masyarakat mengambil keputusan buat Yesus. Suara rakyat justru liar karena rakyat adalah manusia yang memiliki kecatatan dalam keberdosaan mereka, kecatatan dalam beretika, cara pikir, moral. Maka suara rakyat adalah suara Allah ? Itu tidak benar ! Justru realita menunjukkan betapa suara rakyat telah memperkosa kebenaran itu sendiri.

Pilatus sebenarnya mau membebaskan Yesus karena Ia tidak menemukan kesalahan apapun dalam diri-Nya tetapi bagaimana caranya ? Maka Pilatus memakai sebuah tradisi hari raya untuk membebaskan salah seorang kriminal dan rakyat yang memilihnya. Bukankah Yesus punya etika dan moral baik sedangkan Yesus Barabas punya etika moral yang buruk ? Dalam benak Pilatus, Yesus pasti dibebaskan. Tetapi realita, suara rakyat justru mengagetkan Pilatus yaitu Bebaskan Barabas. Bagaimana dengan kita jika kita berada disana ? Orang yang tidak mau belajar dan tidak tahu konteks pasti maunya ikutan-ikutan, kata “ Salibkan Dia “ keluar dari mulut seorang pemimpin agama yang bidat. Hanya orang mau belajar dan tahu konteks barulah orang yang mengetahui benar bahwa Barabaslah yang semestinya dihukum. Mengikuti trend tidak salah tetapi bagaimana kita mengklarifikasi trend itu sendiri. Jangan-jangan kita mengikuti trend seperti suara rakyat yang mendengar sebuah order “ salibkan dia “ maka mereka berespon dengan satu suara seperti sebuah orkestra dan paduan suara yang dipimpin oleh pemimpin agama sebagai konduktornya. Inilah suara rakyat yang tercatat di dalam sejarah. Suara rakyat jika tidak takut kepada Tuhan maka suara rakyat jadi suara Setan ! Itulah realita. Setan bukan dari keluar mempengaruhi ke dalam tapi dari dalam keluar !

Pilatus tahu Yesus orang benar dan Barabas orang jahat tetapi ia terjebak oleh filsafatnya sendiri “ VOX POPULI VOX DEI “. Mana yang mesti diperjuangkan ? Kebenaran atau Filsafat Manusia ? Pilatus dipermainkan oleh filsafatnya sendiri dan menghancurkan dirinya sendiri dan mengoncangkan dirinya sendiri. Orang yang beragama, pintar, berkuasa jangan-jangan orang yang dipermainkan oleh sistemnya sendiri, kekreatifan sendiri, filsafatnya sendiri ! Akhirnya, Pilatus membiarkan Kebenaran disalibkan dan Kejahatan dibebaskan ! Apa gunanya engkau berkuasa tetapi engkau tidak memakai kuasa untuk menyatakan Kebenaran ? Apakah orang beragama berani memperjuangkan kebenaran ? Justru orang beragama berani bakar gereja dengan alasan katanya memperjuangkan kebenaran dan keadilan ! suara rakyat adalah suara Allah atau suara Allah yang mempengaruhi masyarakat ? Suara Allah yang semestinya mempengaruhi masyarakat, itu posisi benar ! Sebagai orang beragama, kita harus punya iman, kebenaran dan keberanian. Iman diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk memimpin hidup kita baik pikiran , hati dan sikap sebagai orang beriman. Martin Luther mengatakan Iman adalah Tuan, Rasio adalah Pelacur yang bisa tidur dengan siapa saja maka rasio harus setia kepada Iman. Mungkin kita bertanya iman yang bagaimana jadi tuan ? Tuan yang rela turun melayani ke bawah dan mengajarkan kebenaran yang membangunkan hidup manusia dan bangkit dari kematian untuk memberikan Pengharapan kepada saudara dan saya yaitu Sorga, tempat mulia dan baka. Setiakah engkau kepada Kebenaran atau menyukai Kepalsuan ?

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Shanghai, China, PRC

Katakanlah ...

Lukas 23:33-43
Golgota, sebuah bukit Tengkorak yang tragis karena disanalah tempat para kriminal dihukum oleh tradisi Yahudi maupun hukum Romawi dan disanalah tempat Yesus disalibkan. Siapakah Yesus sebenarnya ? Mesias atau Kriminal ? Bagaimana mungkin kedua gelar yang kontradiksi ini dapat melekat pada Yesus Kristus ? Yesus datang ke dalam dunia sebagai Mesias untuk menyatakan Pengharapan kepada manusia yang letih lesu dan berbeban berat. Tetapi sayangnya, manusia tidak mengenal Diri-Nya sehingga mereka menganggap Yesus sebagai kriminal, bidat, jelmaan iblis. Saat Yesus menerima perlakuan sadis seperti ini, Apa respon dari Yesus Kristus ?

“ Ya Bapa, Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat “. Doa dan Pengampunan menjadi respon Yesus ketika ketidakadilan ditimpakan kepada Diri-Nya. Seringkali doa dan pengampunan kita anggap sebagai respon orang tolol. Tetapi bagian ini memberikan cara pandang yang berbeda bahwa justru doa dan pengampunan memiliki kuasa yang besar dan bahkan ganas untuk mengasihi musuh meski tindakan mereka mempertanyakan validitas Kristus sebagai Mesias.

Para pemimpin agama dan ahli-ahli Taurat yang tidak mempercayai Yesus sebagai Anak Allah, Raja Yahudi maupun Mesias terus mencaci maki dan memaksa Yesus untuk membuktikan Diri-Nya di hadapan massa bahwa Diri-Nya adalah Anak Allah, Raja Yahudi maupun Mesias. Kalimat pedas diluncurkan bertubi tubi kepada Yesus “ orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan Diri-Nya Sendiri jika Ia adalah Mesias, Orang yang dipilih Tuhan “. Jika saudara membaca kalimat diatas, ada terdengar nada mencobai Allah dengan hukum logika “ selamatkan dirimu “ yang kemudian dipertegas oleh seorang penjahat “ Bukankah engkau adalah Kristus ? Selamatkanlah diri-Mu dan selamatkan kami juga “. Jelas sekali, kalimat di atas merupakan kalimat penghujatan melalui keterbatasan hukum logika mereka. Mereka menganggap hukum logika mampu menampung dan memenjarakan “ Siapakah Kristus “ dalam aplikasi yang tidak direalisasikan oleh Diri-Nya. Mereka lupa bahwa hukum logika mereka sangatlah terbatas karena keberdosaan mereka . Jika saudara lihat hari ini, bukankah banyak orang berani mempertanyakan secara gencar dan sadis mengenai keilahian Kristus ? Tidak sedikit yang mengatakan Kristus itu hanyalah manusia tolol yang mengalami depresi karena kehilangan makna hidup sehingga Ia mengorbankan Diri-Nya untuk menutupi kehilangan makna hidup-Nya. Ada juga yang mengatakan bahwa Allah Kristen itu mengajarkan etika yang bobrok dan tidak pantas untuk ditiru oleh manusia … Bagaimana mungkin Allah kristen mengajarkan seorang ayah untuk membunuh anaknya sendiri ( Abraham dan Ishak ) dan Allah yang merelakan Anak-Nya yang Tunggal mati bagi saudara saya, itu kebodohan etika. Seringkali kita membaca semuanya ini hanya dengan kesempitan hukum logika kita sehingga kita gagal menemukan pengertian di balik setiap pekerjaan yang Tuhan kerjakan melalui Yesus Kristus yang memiliki keluasan logika Allah yang melampaui hukum logika manusia. Qualitative Difference !

Saat penjahat tersebut mempertegas pertanyaan dari pemimpin agama maupun ahli Taurat, sebuah respon muncul dari penjahat satunya yang mengatakan “ Tidakkah engkau takut ….. “. Saya percaya penjahat ini merenungkan dengan seksama “ Siapakah Kristus “ sebenarnya … Jika ia adalah Allah, tidak seharusnya ia dihukum seperti kami, penjahat …. Jika ia adalah Manusia, tidak seharusnya juga ia dihukum seperti kami karena ia tidak melakukan kesalahan apapun “. Penjahat tersebut menyadari benar dirinya bersalah dan berdosa maka ia tidak bicara sembarangan. Speaking with understanding is meaningfull. Speaking without understanding is meaningless. Konsep Positioning seperti inilah yang membawa mata kita terbuka melihat Kebenaran yang melampaui konsep logika manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Hari ini banyak penjahat tidak menyadari bahwa dirinya jahat sehingga kepekaan mereka terhadap dosa telah luntur dan meng-excuse diri tuk melegalkan diri masuk ke dalam dosa. Banyak juga penjahat yang sudah tahu dirinya jahat tetapi menipu dirinya sendiri untuk membaca segala sesuatu dengan memutlakan kesempitan pikirannya sebagai sensor zone untuk menentukan benar dan salah. Mungkin saudara bertanya, kok bisa ya penjahat tadi mengenal positioning yang tepat bagi dirinya sendiri ? Kita percaya bahwa Roh Kudus bekerja dalam dirinya dan Ia berespon untuk merenungkan pekerjaan Roh Kudus dalam benaknya.

Setelah itu ia berkata kepada Yesus “ Ingatlah Aku ( penjahat ini ), apabila Engkau datang sebagai Raja. “ Dari manakah penjahat tersebut memiliki konsep demikian ? Padahal ia tidak masuk ke dalam sinagoge untuk mengambil intensive course apalagi membaca gulungan kitab-kitab Perjanjian Lama. Penjahat tersebut menikmati “ Guidance by Holy Spirit “, “ Hear His Voice “, “ Trust and Obey in His Promise “. Orang yang demikianlah orang yang layak menerima kalimat respon Yesus “ Aku berkata kepadamu, hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus “. Dimanakah penjahat-penjahat yang mendambakan “ Guidance by Holy Spirit “, “ Hear His Voice “, “ Trust and Obey in His Promise “ hari ini ? maukah engkau menerima-Nya ? Engkau bukan menjawab saya tetapi Engkau menjawab kepada Ia yang telah bangkit dari kematian dan menyatakan Pengharapan kekal kepada manusia. Puji Tuhan !

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Shanghai, China, PRC

Tuesday, March 20, 2007

Sudah Setia ?

Dalam Injil Matius 26:35, Rasul Petrus mengatakan “ Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau “. Sebuah ucapan penuh keyakinan dari mulut seorang murid Tuhan. Kenapa Rasul Petrus begitu yakin mengatakan hal tersebut ? Apakah Rasul Petrus melakukan apa yang pernah diyakininya ? Adalah sebuah realita bahwa Rasul Petrus justru menyangkal Tuhan Yesus sebanyak 3 kali. Jika demikian, mengapa Rasul Petrus berani mengeluarkan ucapan “ tidak akan menyangkal Tuhan Yesus “ ? Manusia selalu ingin dianggap setia, itulah ideal setiap manusia. Saya percaya bukan hanya Petrus belajar setia kepada Tuhan Yesus tetapi semua murid-murid-Nya memiliki kerinduan yang sama tuk setia. Saya membayangkan mereka seperti penyanyi vocal group yang sedang menyanyikan sebuah lagu “ setia “ dengan ekspresi keyakinan bahwa mereka mau setia mengikut Tuhan sampai mati !

Sayangnya, kesetiaan mereka hanyalah sekadar tekad saja, harus diuji dengan masa bahaya sehingga kesetiaan mereka diproses layaknya emas murni. Beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali saya mengunjungi sebuah universitas di kota Taichung yaitu Feng Chia University, saya terkagum-kagum dengan sebuah tanda salib lampu yang dipasang di sebuah pohon besar karena saat musim panas, musim dingin, musim semi, musim hujan – salib itu tetap berada disana ( kepanasan, kedinginan, kehujanan, tertimbun daun ). Siang panas hujan malam dingin, salib itu tetap disana menunjukkan gereja mahasiswa ada disana. Saya mempelajari sebuah kebenaran rohani yaitu bukankah salib adalah benda mati ? kenapa kok benda mati kelihatannya lebih setia daripada manusia yah ? bagaimana dengan dirimu, kawan ? dalam hal ini saya belajar tidak terlalu cepat menganggap diri sebagai seorang yang setia karena jangan-jangan saya belum melakukan apa yang salib lampu itu lakukan ! Sebuah doa sederhana dariku, Tuhan ajarlah kami untuk setia, dalam perkara kecil maupun perkara besar – tetap belajar setia melayani-Mu. Puji Tuhan !

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Beijing, China

Wednesday, March 14, 2007

Mesias dan Doa

Beberapa tahun yang lalu setelah memimpin renungan " Mooncake Party " di MRII Taichung, seorang rekan memasang sebuah dvd yang sudah tidak asing lagi di benak setiap kita yaitu " The Passion of The Christ ". Secara pribadi, waktu itu saya telah menonton film tersebut lebih dari 4 kali tetapi saat itu saya berusaha memahami kembali penderitaan Kristus. saat ia dikhianati oleh murid sendiri, ia diadili atas ketidakberdosaan-Nya, ia dicambuk atas ketidakbersalahan-Nya maupun disalib atas seruan massa yang tidak bertanggungjawab ... hati saya kembali menangisi sebuah perenungan teologis. Selama bertahun-tahun, saya melayani Tuhan dan satu-satunya message yang saya teriakkan dalam waktu apa saja maupun dimana saja yaitu Yesus Kristus. Tetapi saat melihat film tersebut, saya mempertanyakan diri sendiri, kok message saya begini yah ? sebegitu parahkah Yesus dibenci oleh massa maupun ahli-ahli taurat, padahal satu kesalahanpun tidak didapatkan buktinya ? Justru fitnahan yang diterima-Nya. Mengapa demikian ? Karena ahli-ahli taurat memiliki konsep Mesias yang tidak cocok dengan konsep Yesus. mereka mendambakan Mesias sebagai Raja Orang Yahudi yang kuat perkasa seperti Raja Daud sedangkan Yesus hanyalah anak tukang kayu yang tidak kualitatif tuk menjadi Mesias. Kedua, popularitas Yesus begitu melonjak melampaui popularitas dari ahli-ahli taurat sehingga membuat mereka frustasi terhadap diri mereka sendiri dan membenci Yesus. Akhirnya mereka meneriakkan " salibkan Dia " ! Jika demikian, apakah berarti Yesus gagal ? Justru Yesus mati di atas kayu salib untuk menyatakan konsep mesias yang sesungguhnya, bukan seperti yang dipikirkan oleh ahli-ahli taurat, kedua - popularitas Yesus jelas melampaui tokoh-tokoh yahudi siapapun karena yesus bukan sembarang tokoh tetapi ia adalah Tuhan. Ketiga, mereka melihat Yesus adalah figur manusia yang berdosa padahal Yesus adalah 100 % Allah 100 % Manusia yang menentang dosa. Meskipun kelihatannya Ia gagal tetapi justru Ia tidak gagal dalam rencana-Nya.

Pernahkah engkau merasa gagal karena injil yang kau beritakan kepada orang lain justru kelihatannya tidak diterima dengan baik ? Disini saya bukan membawa saudara untuk sembarangan masuk ke dalam positive thinking tetapi jangan-jangan kita menganggap diri gagal karena injil yang kita beritakan tidak masuk dalam orang yang kita injili. Jika demikian, apakah engkau berani menggangap Yesus juga gagal ? Ia tidak bersalah tetapi dihujat dengan kejam, difitnah dengan keji maupun diludahi dan dimaki dengan vocabulary yang emosional ! Pernahkah kita memikirkan kenapa kita dipanggil sebagai orang kristen ? untuk menerusakan penderitaan-Nya ! bukan dapat keselamatan lalu senang seperti baru aja dapat tiket gratis ke sorga dan kita enak-enak menikmati ruang boarding . Ingatlah ! Kebenaran Allah tidak mungkin dikalahkan oleh maut tetapi jangan takut, meskipun no skill tetapi tetaplah kita berdoa kepada Tuhan. Doa yang bukan metode mutlak tetapi bergantung total pada kuasa pelayanan pada hamba-hamba-Nya melalui DOA.

Kiranya Hari Paskah membuat setiap kita kembali merefleksikan diri kita yang senantiasa
luas dengan setiap pengajaran yang Kristologis !

Dalam Kasih-NYa
Ev. Daniel Santoso
Beijing, China, ROC

Monday, March 12, 2007

Truth and Freedom

Dewasa ini banyak para scholar yang akademis maupun kaum awam yang praktikal memberikan beragam definisi kebenaran dan kebebasan tetapi siapakah yang berhak berbicara mengenai kebenaran dan kebebasan itu sendiri ? hari ini jawaban terletak kepada satu kaum yaitu mereka yang memiliki " power ". Hari ini tema kebenaran dan kebebasan banyak keluar dari mulut para hakim, para pengacara, para ahli hukum, mahasiswa hukum. Problemnya adalah apakah mereka betul-betul membela kebenaran dan berjuang demi kebebasan yang sejati ? realita memberikan nuansa pesimis dalam terwujudnya kebenaran dan kebebasan yang sejati karena terlalu banyak mereka yang berjuang hanya untuk UANG. Jika saya diperbolehkan untuk meminjam tokoh dari The Lord of The Rings, ada tipe Gandalph ( scholar - pembela kebenaran dan kebebasan sejati ) dan ada tipe Saruman ( fools - mempermainkan kebenaran dan kebebasan ). Gandalph rela mengorbankan nyawanya demi kebenaran dan keadilan sedangkan Saruman menginjak-injak kebenaran dan kebebasan dengan kuasa gelap yang " menjijikan ". Adalah sebuah refleksi pribadi saya sendiri bahwa terlalu banyak orang tipe Saruman telah mempermainkan kebenaran dan kebebasan orang lain hanya karena " POWER ". dimanakah kaum tipe Gandalph ? tertidurkah engkau ?

Hari ini dunia banyak memberikan 4 macam kebebasan :

1. Kebebasan berbicara. itulah sebabnya dunia begitu bebasnya mengagungkan kebenaran maupun menghujat kebenaran itu sendiri. Tidak heran, jika tahun-tahun yang lalu surat kabar Denmark, Eland Posten dikritik habis-habisan oleh dunia islam karena karikatur Mohamed yang kurang senonoh. Jika demikian apakah kebebasan berbicara membawa dunia lebih baik ? Justru Prinsip harus mendasari kebebasan berbicara , barulah kebebasan berbicara itu dapat menyatakan kebenaran dan kebebasan. Ironisnya, manusia tidak suka diatur oleh prinsip-prinsip sehingga percakapan manusia jatuh ke dalam keliaran.

2. Kebebasan beragama. banyak orang mengatakan bahwa " all religion is the same " maka bebaslah beragama apapun karena semuanya sama. apakah ini fair ? justru ini sebuah tindakan yang tidak fair karena tiada persamaan disitu justru satu ama lainnya berkontradiksi. Sebagai orang kristen, saya mempercayai kekristenan karena hanya kristen saja yang memiliki konsep Allah rela inkarnasi ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Tiada seorang pendiri agama manapun melakukan hal tersebut. maka bagaimana mungkin saya dapat mengatakan semua agama itu sama. kedua, saya pun menyadari bahwa tidak semua kristen adalah benar karena ada denominasi yang percaya Yesus 100 % Allah 100 % Manusia, dan ada denominasi yang hanya percaya Yesus hanyalah manusia 100 %, pertanyaannya adalah apakah mereka memiliki kekristenan yang sama ? Tidak !

3. Kebebasan dari rasa takut. Banyak para travellers mengharapkan kota-kota yang mereka singgahi memberikan jaminan dan pelayanan yang membuat mereka merasakan kenyamanan maupun keamanan. Tetapi apakah memang kenyamanan maupun keamanan yang mereka berikan cukup bagi mereka ? Amerika Serikat banyak dikagumi sebagai " the promised land " tetapi apakah Amerika Serikat pasti menyakinkan semua travellers bahwa everthing is going fine ? justru berapa banyak korban yang berjatuhan di New York karena sniper-sniper dari atas gedung pencakar langit yang menembak orang-orang yang lalu lalang di jalanan. Banyak orang juga mengatakan bahwa naik pesawat terbang justru membebaskan kita dari rasa takut tetapi sampai kapan ? justru peristiwa September 11, 911 membukakan mata kita bahwa naik pesawatpun bisa juga tidak aman. maka dimanakah engkau dapat bebas dari rasa takut ? Janganlah Takut, penyertaan Tuhan itu real. Tetapi kita harus bercermin terhadap diri kita sendiri bahwa kita jatuh ke dalam dosa karena kita kehilangan " fear " kepada Tuhan sehingga akhrinya kita menganggap diri kita something dan menganggap Tuhan dan orang lain adalah nothing ! itulah semangat satanis yang hidup dalam diri kita. Jika kita tidak takut kepada Tuhan maka kita pasti tidak takut kepada orang lain juga. Oleh karena itu kita harus belajar seperti apa yang pernah dipaparkan oleh St. Bernard of Clairvaux bahwa kita harus memiliki takut kepada Tuhan seperti hamba ( servant fear ) yang respek terhadap Tuan dan takut kepada Tuhan seperti anak kecil ( childlike fear ) yang respek terhadap orang tua ( bukan childish ) yang telah ditebus oleh darah Kristus.

4. Kebebasan dari kekurangan. Banyak orang mau bebas dari kekurangan dan mengingini kekayaan material yang berlimpah-limpah.pertanyaan saya adalah apakah mereka yang kaya material pasti menikmati kebebasan dan kebenaran yang sejati ? justru merekalah yang kebanyakan mengalami " blindness " tuk melihat kebebasan dan kebenaran sejati diperoleh melalui terus bersandar pada Firman yang menyatakan " belas kasihan Tuhan ".


Dalam Yohanes 8:31-35, Yohanes menekankan :

1. Tetap pada Firman-Ku. Disini modal Yesus hanya berfokus pada Kuasa Firman itu sendiri, bukan fasilitas ( meskipun fasilitas itu perlu ). Kekristenan hari ini memiliki jutaan penganut bukan karena kekuatan organisasi maupun finansial tetapi kuasa Firman Tuhan yang mempertobatkan manusia tuk kembali kepada Firman Tuhan yang memberikan jaminan keselamatan melalui satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup yaitu Yesus Kristus.

2. Belajar untuk beriman ( trust and obey ). problemnya kita hanya mau kuasa Firman tetapi kita gak mau taat sehingga kita jatuh ke dalam mistik yang sempit, kedua banyak orang mau taat tetapi gak mau Firman Tuhan, yeah kita jadinya legalism. disini Yohanes menekankan trust and obey bukanlah statement yang " guyonan " tetapi harus dipahami dalam kesatuan meaning.

3. Keep Living in our words. Firman Tuhan bekerja bukan untuk membebani diri kita sendiri padahal untuk memerdekakan. bagaimana dengan kita sendiri ? bukankah seringkali kita menutup telinga kita terhadap Firman Tuhan karena kita mengganggap itu menjadi bencana bagi kebebasan kita tetapi justru melalui Firman Tuhan, kita sama-sama dapat memiliki kesempatan yang indah tuk menggumuli apakah itu kebenaran yaitu Yesus Kristus.


Dalam Kristus

Daniel Santoso

Beijing, China

Thursday, March 01, 2007

Penolong yang sepadan

Dalam Kejadian 2:18-25 / 12:10-20, kita melihat sebuah realita sejarah bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan manusia serta segala isi dunia adalah ciptaan-Nya. Dalam Penciptaan yang dilakukan oleh Allah semuanya sangat baik dan sempurna. Hanya satu-satunya statement negatif dari Allah yaitu " Tidak Baik manusia seorang diri ... ". Maka Hawa diciptakan oleh Allah, dibentuk oleh Allah dan dikaruniakan kepada Adam karena ia membutuhkan seorang penolong yang sepadan. Pertanyaannya adalah apa maksud dari sepadan dan penolong ?
1. Sepadan
Adam diciptakan sama uniknya dengan Hawa yaitu :
a. memiliki relasi antara Allah ( Sang Pencipta ) dengan Others ( Ciptaan )
b. memiliki ketaatan kepada Allah ( Sang Pencipta )
c. punya tanggungjawab memenuhi bumi dan menaklukkannya.
Saya menyukai sebuah quotes dari Matthew Henry " Perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria, bukan dari kepalanya tuk memerintah di atas pria. Bukan pula diciptakan dari kaki untuk diinjak-injak di bawah pria. Tetapi Perempuan diciptakan dari sisi rusuk pria untuk dilindungi dan dikasih oleh pria ". Meskipun demikian, bukan berarti kaum hawa lebih superior dari kaum adam. Di dalam pernikahan kristen, kenapa kaum hawa harus takluk di bawah kepimpinan kaum adam ? Disini kita harus melihat dari perspektif Allah memberlakukan prinsip ini yaitu karena Adam telah ditunjuk oleh Allah sebagai pemimpin keluarga dan Hawa sebagai penolong keluarga. Disini kita dapat memahami Allah yang menghargai konsep " headship " dan konsep " partnership ".
2. Penolong
Apa yang seharusnya ditolong oleh Hawa ? Hawa harus menolong Adam untuk memenuhi bumi dan menaklukkan bumi. Disini ada relasi unik antara Adam dan Hawa untuk bersama-sama melaksanakan perintah Allah yaitu beranakcucu dan bertambahlah banyak. Konsep tersebut bukan hanya dilihat dari segi fisikal saja tetapi bagaimana Hawa lebih banyak memberikan waktu kepada anaknya untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi anak-anak Allah yang melakukan perintah Allah. Jika kaum Hawa tugasnya hanya melahirkan anak maka apa bedanya kaum hawa dengan binatang ? Disini kaum Hawa dipercayakan Tuhan untuk membimbing anak-anak-Nya untuk menggumuli perjalanan kehidupan yang " down to earth " hingga mereka memenuhi bumi dan menaklukkannya dengan kebenaran Tuhan. Oleh karena itu, Berbahagialah kaum hawa di seluruh dunia karena engkau spesial diciptakan oleh Tuhan tuk senantiasa mendorong dan mendukung usaha manusia tuk melakukan dengan tuntas perintah Tuhan. Puji Tuhan ! Segala Puji Hormat dan Kemuliaan hanya bagi Allah sahaja !
Syukur Bagi-Mu
Ev. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Hidup Standar Sejati

Semua manusia yang hidup pasti akan bertemu dengan akhir hidup. Apakah mereka siap melangkah menuju pintu akhir kehidupan dunia ? ada yang siap dan ada yang tidak siap. Kenapa demikian ? bukankah kehidupan manusia dipenuhi dengan “ folder-folder “ yang meaningless ? manusia telah bekerja keras tetapi mereka tidak mendapatkan sebuah kualitas hidup sejati tapi malah mati . Dalam Yesaya 65:17-25, kita dapat belajar melihat “ future - eskatos “ kualitas hidup di dalam kekekalan Allah.

Ayat 17, Di dalam Janji-Nya, Allah berfirman bahwa ia menciptakan “ New Heaven and New Earth “ yaitu “ The New Jerusalem “, dimana tiada lagi bunyi tangisan maupun suara erang pun tidak. Disini kita dapat mencerna di dalam konteks masa kini bahwa sesungguhnya janji Tuhan bukannya kita hidup lebih modern, lebih high technology dimana kita dapat menghasilkan sesuatu yang “kuantitatif” tetapi justru “ kualitatif “.Hidup penuh keharmonisan Allah, kasih Allah, kebenaran Allah dan rencana Allah.

Ayat 20, Kualitas hidup bagaimana yang sesuai standar Allah ? umur panjang ? kalo hanya umur panjang tetapi tersiksa ya sama aja. No enjoyment ! Jika umur panjang bersama dengan anugerah Tuhan, itulah hidup yang sesungguhnya. Orang yang menghidupi hidup yang sejati berarti itulah mereka yang sedang mencicipi “ new heaven, new earth, new jerusalem “ dan menikmatinya. Memuliakan Tuhan dan Menikmati Tuhan … tujuan hidup manusia ( Katekismus Westminster ).

Ayat 21-24, Hidup yang berkualitas adalah hidup saat bekerja dan menikmati hasil pekerjaannya. Itulah berkat Tuhan yang sesungguhnya ! bukan enak-enakan lalu malas-malasan lalu berharap dapat “ doorprize “. Seringkali kita kurang fair, maunya kerja sedikit, kerja enak, gaji tinggi ,itu Malas ! Itulah yang diprotes oleh Fredereich Engels dimana kaum buruh di zamannya bekerja begitu keras tetapi menerima gaji yang mininum, bukankah itu violence ? padahal majikannya adalah orang kristen yang sudah “ cuan “ banyak uang, melihat realita seperti ini Engels sangat benci terhadap orang kristen karena semua orang kristen mentalnya kayak gitu. Pertanyaannya adalah apakah dakwaan Engels ini salah ? Saya akan menjawab Tidak dan Ya. Tidak, karena Engels melakukan “ over generalitation “ mendakwa semua orang kristen seperti itu, walaupun Ya, ada sebagian orang kristen yang menerapkan dualisme yang justru menghancurkan kehidupan fisikal mereka maupun spiritualitas mereka yang “ fragmented “. Misalnya para businessman, hari senin – sabtu mental serigala, hari minggu mental domba. Inilah yang diprotes oleh Zinzendorf.

Ayat 24 , Sebuah ayat pengharapan ; sebelum manusia melakukan “ action “, Allah slelau melakukan “ Action “ terlebih dahulu. Inilah poin yang mengajak setiap kita untuk mengerti kemahatahuan Tuhan yang memberikan penghiburan kepada manusia untuk bersandar total kepada Tuhan di masa suka maupun dukanya.

Ayat 25a, hidup berkualitas itu harmonis dan sinkron, ada kesatuan,kedamaian, kerukunan, keharmonisan, tiada saling benci, dengki, iri hati, saling mendepak satu dengan lainnya. Bisa gak poin-poin tersebut terwujud ? Adalah fakta bahwa gereja sekarang banyak dikerumuni oleh orang-orang yang agresif, ambisius, haus kekuasaan, haus popularitas. Jika gereja sudah seperti ini apalagi di luar gereja, dimanakah keharmonisan gereja ? hidup yang kuat tidak menindas yang lemah, kaya tidak menindas yang miskin, pintar tidak menindas yang bodoh, senior tidak menindas yang junior. Itulah gambaran “ tidak saling memakan tetapi sama-sama makan rumput “. Disini kita dapat belajar bahwa Tanpa Anugerah Allah kita gak mungkin dapat bersatu. Justru Anugerah-Lah yang membawa kita menikmati hidup yang berkualitas di dalam harmoni relasional yang sejati.

Ayat 25b, hidup yang berkualitas adalah “ singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu “. Artinya No more Fear, gak ada yang perlu ditakuti, tiada lagi ancaman tetapi disini kita bukan hanya menikmati secara pasif tetapi setiap kita harus aktif juga tidak mengancam orang lain. Belajarlah seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Thomas A Kempis untuk belajar sabar terhadap kekurangan maupun kelemahan orang lain karena merekapun menderita karena kelemahan maupun kekurangan kita juga. Apabila kita tidak mau merubah diri, bagaimana kita dapat melihat orang lain berubah rang sikapnya ? Ini problem kita semua. Kita selalu menginginkan orang lain menjadi orang sempurna tetapi diri justru banyak kekurangan yang belum mau disempurnakan, mau jadi apa kita ? Teruslah kita mengingat bahwa hidup yang berkualitas bukan dinikmati oleh kita saja tetapi juga orang lain. Oleh karena itu marilah kita belajar memahaminya dan berjuang untuk hidup. Kualitas hidup tiada lepas dari anugerah Allah yan selalu hadir setiap pagi, setiap hari yang membuat waktu dalam hidup kita indah pada waktu-Nya.

Dalam Kasih Kristus
Ev. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Tuesday, February 13, 2007

Requiem

Telah Pulang ke Rumah Bapa, Sdri Erna Tan, seorang kristen yang cinta Tuhan, rajin melayani Tuhan, mendengar Firman Tuhan, bersaat teduh menggumuli Firman Tuhan, berdoa kepada Tuhan untuk keluarga, saudara, teman-teman baik kristen maupun non kristen. Secara manusiawi, setiap kita mungkin mengalami “ keterhilangan “ figur yang spesial maupun “ keterpisahan “ antar batas dan tanpa batas sehingga airmata kita terus membanjiri jiwa dan fisik kita, tetapi saya menggumuli cintanya kepada Tuhan maupun sesamanya itulah yang selalu dekat dengan kita. Saya menyukai sebuah statement dari Kahlil Gibran ( seorang katolik maronite ) , cinta lebih kuat dari kematian. Pertama, karena dalam cinta ada harapan di dalam kesetiaan maka disitulah ada keabadian jiwa. Kedua, cinta lebih kuat dari kematian karena cinta tidak mengenal batas-batas biologis. Cinta melebihi kematian biologis. Ketiga, cinta adalah anugerah Tuhan yang abadi yang menyatakan Kebaikan Tuhan.

Bagaimana kita merenungkan “ Requiem “ ? Thomas A Kempis memberikan explanation :
Hidup kita akan tamat, lebih baik kita merefleksikan bagaimana keadaan kita. Jangan hanya melihat keadaan sekarang saja tetapi siapkan dirimu menghadapi waktu yang akan datang melalui hari ini karena jika hari ini saja kamu tidak siap, bagaimana dengan hari esok. Oleh karena saya percaya setiap manusia harus memiliki pergumulan antara hidup dan mati. Saya percaya bahwa Tanpa pergumulan maka manusia kehilangan semangat hidup, kehilangan nilai hidup, kehilangan target hidup – sebenarnya orang yang demikian sudah mengalami kematian.
umur panjang tetapi tidak memperbaiki hidup, tiada gunanya ! lebih baik hidup sehari saja tetapi berguna daripada hidup panjang tetapi tiada guna. Banyak orang mengatakan kematian itu menakutkan tetapi Thomas A Kempis mengatakan bahwa justru umur panjang itulah menakutkan karena manusia mudah meninggalkan konsistensi maupun kesetiaan kepada Tuhan. Bagaimana dengan saudara dan saya ? Hari ini kita masih hidup, apakah hidupmu setia kepada Tuhan ? terujikah kesetiaanmu kepada Tuhan ? sampai kapan kamu setia kepada Tuhan ? jangan lelah, terus perjuangkan kesetiaanmu kepada Tuhan !

Saudara, keluarga kita memang penting tetapi kita harus memperhatikan juga harta yang kekal yaitu keselamatan di dalam Kristus. Sekali datanglah saatnya, kita ingin benar mengalami satu hari bahkan satu jam saja untuk memperbaiki diri kita dan kita tidak tahu, apakah kesempatan memperbaiki diri itu kita peroleh atau tidak ?

Introspeksi dirimu dan selalu ingat akan dipanggil Tuhan maka kita akan terlepas dari bahaya. Seringkali kita mengganggap tindakan tersebut adalah tindakan pembiusan diri agar selalu takluk dalam “ ketakutan “ kepada Tuhan tetapi justru takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan.

saat pagi tiba, jangan kita berani mengatakan kita masih ada di malam hari. Kita gak tahu kapan kita mati. Seringkali kita terlalu percaya diri bahwa di waktu-waktu akan datang kita pasti masih ada padahal dari manakah mereka tahu kalo mereka masih ada ? hanya belas kasihan Tuhan sahaja yang memberikan kesempatan mereka untuk tetap hidup.

Kita adalah orang asing di duniawi ini karena gak punya tempat tinggal yang kekal, hanya disanalah tempat tinggal kita yang kekal. Disini kita kembali kepada prioritas kita sebagai manusia yang diciptakan untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan. Disini manusia diciptakan untuk rencana kekal Tuhan maka manusia bukan diciptakan untuk mencintai duniawi tetapi mencintai kekekalan. alangkah bijaksana dan bahagianya jika kita menomorduakan keinginan duniawi dan menomorsatukan kebajikan, cinta, cinta hukum, taat, menyangkal diri dan menerima dengan sabar segala kesukaran demi cinta kasih akan Kristus.

Puji Tuhan ! “ Requiem “ bukan mematikan semangat hidup manusia untuk jatuh ke dalam kenikmatan mengutuki kesusahan tetapi justru membuat hati manusia sadar atas keterbatasannya bahwa manusia masih hidup di “ exile “ agar manusia senantiasa terus berakar di dalam Tuhan dan menjalani kesusahan dengan fighting spirit yang optimis. Marilah kita pelayan Tuhan, terus berakar di dalam Firman Tuhan dan berjuang dengan fighting spirit yang optimis untuk melihat janji Tuhan yang akan digenapi yaitu jiwa-jiwa yang pulang ke Rumah Bapa dengan sukacita. Amen.

Dalam Sukacita-Nya
Ev. Daniel Santoso
Beijing, China

Wednesday, February 07, 2007

Kairos in Kronos

Manusia tidak mungkin dapat melepaskan diri dari keterikatan dan keterbatasan waktu, sebagaimana manusia dibatasi oleh lokasi dunia dan alam semesta maka demikian juga kita semua bersama-sama diikat dan dibatasi oleh waktu. Di dalam Greek Philosophy, seorang filsuf bernama Heraklitos pernah menyatakan sebuah prinsip " one cannot step into the same river twice ". Sebuah hipotesa yang menyatakan bahwa " everthing is in an eternal flux or change - becoming " yang maksudnya bahwa momen akan terus berubah meskipun berada di dalam waktu yang sama, lokasi yang sama, orang yang sama tetapi pasti ada yang berbeda. Oleh karena itu adalah sebuah perkara yang " impossible " jika kita bisa melihat suatu " possibility of repeating an action with sameness ". Hipotesis dari Heraklitos sebenarnya mengajak setiap kita berpikir dan belajar membedakan dalam perjalanan waktu ada momen-momen yang tidak pernah " sameness ". Oleh karena itu kita harus membedakan apakah itu waktu dan momen.

Dalam buku " Waktu dan Hikmat " karya Pdt. Dr. Stephen Tong, definisi waktu ( kronos ) adalah waktu yang berjalan secara mekanis dan definisi momen ( kairos ) adalah suatu saat di dalam waktu yang tidak akan terulang kembali. Melihat dari definisi diatas maka pertanyaan yang muncul adalah hidup kita ditentukan oleh kronos atau kairos ?

Hidup kita bukan dibentuk oleh waktu yang mekanis ( kronos ) justru momen ( kairos ) lah yang membuat kita belajar mengerti bagaimana kita menemukan momen yang berharga dan kekal dimana seringkali kita membiarkan waktu itu lewat begitu saja tanpa pengertian yang benar sehingga semua momen tersebut " no meaning ". Dalam buku " The Purpose Driven Life ", Rick Warren menawarkan spiritual journey selama 40 hari yang mungkin menjadi momen penting ( kairos ) bagi new believers atau sebagian orang kristen tuk mempersiapkan diri mereka menuju kekekalan. Rick Warren mempercayai bahwa 40 hari itu biblical karena Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah menganggap 40 hari adalah periode waktu yang penting secara rohani. Kapanpun Allah ingin mempersiapkan seseorang bagi tujuannya , Allah mengambil 40 hari. Menurut hemat saya, Rick Warren telah berani memutlakkan 40 hari spiritual journey adalah " kairos " mutlak yang Tuhan berikan kepada orang yang dipersiapkan Tuhan. Apakah penentuan Warren ini bisa diterima ? Tidak ! Allah tidak pernah berkata bahwa 40 hari adalah mutlak satu-satunya metode pemulihan rohani maupun pengenalan rohani. Tuhan justru tidak terlimitasi dengan 40 hari tersebut, justru Tuhan bisa memakai sewaktu-waktu untuk mempersiapkan orang-orang pilihan-Nya. Memang benar ada beberapa orang mengalami secara 40 hari , tetapi ada juga yang mengalaminya seumur hidupnya maupun mengalami hanya beberapa waktu bahkan kurang dari 40 hari ( seperti penjahat yang disalib disamping Tuhan Yesus ). Menurut saya, Rick Warren sudah terlalu lancang dalam menetapkan waktu " kairos " yang membuka pintu ambiguitas bagi mereka yang belum alami 40 hari tersebut. Mari kita kembali melihat " kairos " adalah semata-mata anugerah Allah kepada kita dimana kitapun harus bisa melihat, menangkap dan menggunakan sebaik-baiknya di dalam otoritas-Nya untuk kemuliaan Tuhan.


Solideo Gloria

Dalam Anugerah-Nya
Ev. Daniel Santoso, Beijing, China

Tuesday, February 06, 2007

Silent and Action

Elia adalah hamba Tuhan yang memiliki pengalaman hidup melayani Tuhan yang luar biasa dimana ia berani mengalahkan nabi-nabi Baal di Gunung Karmel ; namun setelah memenangkan pertempuran tersebut, ironisnya ia justru kehilangan kemenangan tersebut dan mengalami depresi berat untuk mengasihani diri.
Warren Wiersbe menafsirkan dalam bagian ini
1. Elia kehilangan perspektif dari ketakutan. Elia baru saja membunuh nabi-nabi palsu Baal, tetapi seorang perempuan membuatnya takut. Ia baru saja berdoa memohon api dari surga tetapi seorang perempuan ( Izebel ) menyebabkan ia melarikan diri dan kehilangan perspektif. Seringkali ketakutan kita membuat kita terlalu membesar-besarkan ketakutan kita sehingga “ kacau “. Efek dari ketakutan adalah TERROR.
2. Elia kehilangan kesabaran beriman. Kurang sabar menunggu waktu yang Tuhan tetapkan untuk diam mencari pimpinan Tuhan tetapi pergi menyelamatkan nyawanya. ( I Raja 19:3 ). Kenapa kita seringkali gagal di dalam pelayanan ? karena kita kurang sabar dengan keputusan Tuhan dan kita lebih menyukai keputusan kita yang paling tidak memberikan jaminan malah menjatuhkan kita.

3. Elia kehilangan sentuhan pribadi karena minoritas. Elia hamba Tuhan yang setia yang bukan hidup seorang diri tetapi hidup berkomunitas.

4. Elia kehilangan tujuan hidup minta mati. Elia berdoa memohon Tuhan mencabut nyawanya tetapi Tuhan tidak mencabutnya karena Tuhan memanggil Elia untuk memulihkan bangsa Israel pada penyembahan kepada Tuhan yang sesungguhnya. Saat Elia minta mati, apakah Firman akan mati ? Tidak ! Justru jika Elia mati, Pertama, Pekerjaan Tuhan akan terus berjalan dan memberkati umat-Nya karena Allah tidak tergantung pada manusia. Kedua, Jika Elia mati maka ia mungkin kehilangan kesempatan untuk menaiki kereta kemuliaan menuju Surga !

Jika kita menawan diri di dalam penafsiran Warren Wiersbe maka kesimpulan sementara kita yang realistik yaitu Elia tidak sekuat yang kita duga. Rupanya Elia hanyalah manusia biasa yang bisa mengalami “ depresi “.

Ia memprediksikan dirinya telah selesai menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan kepadanya menghadapi ;

1. orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu. Jiwa “ Traitor “
2. orang Israel meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu. “ Agresor “
3. orang Israel membunuh nabi-nabi-Mu. “ Killer “
4. Ia seorang diri. “ Loneliness “
5. Mereka ingin mencabut nyawa Elia. “ Terorist “

Inilah gambaran pelayanan Elia yang sebenarnya memberikan cermin bahwa itulah pelayanan real kita juga, di dalam pelayanan sendiri kita mungkin bertemu dengan orang sendiri yang berjiwa “ traitor “, “ agresor “, “ killer “, “ terorist “ dan diri sendiri yang “ lonely “. Jangan kaget apabila ada anak Tuhan yang menghancurkan anak Tuhan yang lain karena itulah realita yang realistik. Meskipun mereka mungkin berkata kita sama di dalam Kristus tetapi secara esensial, “ peleburan “ aplikasi mereka dengan interpretasi belum “ synchronize “ dengan baik menjadi seperti statement besar dari John M Frame “ Interpretation and Application is the same thing “.

Karakter Elia keras seperti angin, gempa bumi, api tetapi Tuhan tidak berada disana. Malah Allah hadir dalam Bunyi sepoi-sepoi = suara kesunyian yang lemah lembut. Siapakah yang sebenarnya silent ? Tuhan atau Kita ? Seringkali kita membenarkan diri untuk mengatakan bahwa “ Dimanakah Engkau, Tuhan saat aku mengalami kesepian seperti ini “ padahal sesungguhnya Dia terus bekerja dan berbicara kepada kita dan kita semestinya belajar untuk silent, bukan dengan memberikan prediksi-prediksi yang mengasihani diri sendiri dan menganggap diri sudah melakukan apa yang Tuhan mau.

Ada hak apa Elia memberikan prediksi seperti itu ? No More Question from God but God said “ Go, Return on your way to the wilderness of Damascuss … “. Problem adalah
1. kita terlalu “ talkactive “
2. “ complain to God “, mental “ aku sudah kerjakan “ pasti jatuh ke dalam stagnasi alias tidak mengalami kemajuan mutu dan kualitas – mestinya kita lebih rendah hati untuk pikirkan “ apa yang aku belum kerjakan “ sehingga kita terus mencari serta meraba rencana kekal Tuhan yang sulit kita nikmati tanpa Anugerah-Nya. Allah memerintahkan Elia pergi untuk mengerjakan pekerjaan yang ia belum selesaikan. Akhirnya ia kembali “ direcharge “ Tuhan tuk berjuang melayani Tuhan ! Bagaimana dengan saudara dan saya ?

Dalam Kisah-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, R.O.C

wake up, you true church

Nats : Markus 13:1-2

Dalam sejarah kekristenan khususnya di benua Asia banyak mencatat fenomena perusakan gereja seperti The Boxer Rebellion dengan segala kebencian mereka terhadap negara imperialisme Barat yang mayoritas beragama kristen, membakar gereja-gereja megah di kota Beijing, Tian Jin, Xian, etc. Indonesia, gereja-gereja di Situbondo, Surabaya, Jakarta, Ambon dibakar sana sini untuk melenyapkan rasa “ Aman “ beragama di negara pluralis oleh massa yang dipimpin oleh gerakan anti-kristenisasi maupun anti-imperialisme Barat pula. Sebuah statement keluar dari seorang awam yaitu Oh, Gereja Tuhan sudah diambang kehancuran ! Benarkah demikian ? Jika memang Gereja Tuhan sudah diambang kehancuran, pertanyaan saya adalah mengapa jumlah orang kristen semakin pesat ? apakah ada perbedaan konsep mengenai Gereja Tuhan disini ? jika demikian, apakah definisi Gereja Tuhan sebenarnya ?

Dalam Perjanjian Lama, orang Yahudi harus pergi menuju ke Bait Allah untuk bertemu dengan Allah. Hanya melalui Bait Allah, manusia baru dapat memperoleh “ kedamaian “ berkontemplasi dan bermeditasi di dalam Allah. Tidak heran, jika Bait Allah dipenuhi oleh kerumunan orang, “ bersaing “ satu ama lainnya memberikan persembahan korban yang beragam variasinya karena konsep yang mempengaruhi mereka bahwa disanalah mereka dapat bertemu dengan Allah. Pertanyaan saya, saat mereka mencari Allah di Bait Allah, adakah hasil yang memberikan “ solusi “ keselamatan dan kedamaian kekal ? Apakah saat orang kristen pergi ke gereja pasti akan menerima kepastian bahwa Ia akan diselamatkan dan memperoleh kehidupan kekal selama-lamanya ? Jawabannya adalah Tidak cukup !

Dalam hal ini kita harus membedakan mana Bait Allah dan mana Gedung Bait Allah. Dalam Injil Markus 13:1-2 kita melihat statement seorang murid Yesus yang berkata kepada-Nya “ Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu ini dan betapa megahnya gedung-gedung itu “. Murid Yesus tersebut terpesona melihat “ design “ yang tahan lama dan “ estetika arsitektur “ yang mengagumkan bagi tradisi Yahudi, kehormatan Yahudi maupun Sejarah Yahudi. Tetapi apakah itu yang terpenting ? semestinya hal ini juga menjadi perenungan pribadi kita semuanya, selama ini kita berkecimpung di dalam pelayanan Gereja, Ibadah maupun Ceremony tetapi adakah yang terpenting di sana ? Orang Yahudi memiliki tradisi yang tinggi, kehormatan yang tinggi dan sejarah kebudayaan yang tinggi juga tetapi itu hanyalah form dari religion saja. Dimanakah poin yang terpenting ? God of religion ! Apakah selama ini kita beragama, beribadah ataupun melakukan pelayanan tanpa Tuhan ? Yesus memberikan jawaban yang menggoncangkan tradisi, kehormatan dan sejarah Yahudi “ Kaulihat gedung-gedung yang hebat ini ? Tidak satupun batu akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan “. Pemikiran orang Yahudi dimana ada Bait Allah, disitulah Allah berada tetapi saat Yesus mengatakan statement tadi, jika demikian dimanakah Allah ?

Gedung Bait Allah itu penting tetapi secara fungsi hanyalah sarana untuk bersekutu dengan jemaat lainnya. sedangkan Bait Allah adalah
setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai juruselamat dan Roh Kudus diam diatas mereka ( I Korintus 3:16, 6:19, II Korintus 6:16 ).
Di dalam Efesus 2:19-21, Rasul Paulus menegaskan bahwa orang yang percaya Yesus Kristus bukanlah “ strangers “ tetapi sudah menjadi keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi yaitu Kristus adalah batu karang yang kokoh.
Hanya di dalam Kristus manusia dapat memperoleh tempat kediaman yang “ nyaman “ di dalam Roh. ( It is well in my soul ).

Maka, Gedung Gereja jika dipenuh sesak oleh manusia-pun masih gak mampu membawa manusia kembali dan berdamai dengan Allah, Oleh karena itu Allah mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus datang ke dunia fana untuk memberikan solusi keselamatan dan kehidupan kekal selama-lama-Nya. Puji Tuhan ! Manusia tidak perlu lagi membakar korban bakaran karena Yesus Kristus telah menjadi korban hidup !

Jika 3 poin di atas merupakan Gereja Tuhan yang “ sesungguhnya “ maka pertanyaan kita adalah bukankah mereka juga mengalami penderitaan ? Mengapa Allah mengizinkan penderitaan melanda mereka ? Saya belajar sebuah kebenaran rohani yang mengajarkan saya bahwa terkadang Allah mengizinkan penderitaan melanda jemaat maupun orang kristen untuk memberikan “ Skak Mat “ kepada kita. Apakah maksudnya ? Hey pelayan-pelayan Tuhan, apa yang sedang kita kerjakan hari ini ? Kita sebagai pelayan Tuhan terlalu mencintai diri kita sendiri sehingga hanya mau berkecimpung dalam gedung gereja tanpa mempedulikan urusan-urusan jemaat di luar gedung gereja. Bukankah pelayan Tuhan semestinya selain menggembalakan program-program dalam gedung gereja plus menggembalakan kawanan domba Allah yang dipercayakan Tuhan kepada kita di dalam dunia ? tubuh kita adalah Bait Allah maka bagaimana kita berfungsi untuk memberikan supply baik secara doktrinal, spiritual maupun material ( jika perlu ). First Thing First !

Jika kita memahami panggilan kristen kita sebagai Bait Allah secara benar maka :
Kita pasti akan semakin mencintai sesama kita yang mengalami penderitaan maupun kesepian.
Kita membangun reruntuhan manusia yang rusak karena dosa-dosanya tuk menjadi Bait Allah yang kudus dan Allah dimuliakan disana melalui pekerjaan Roh Kudus. Kita harus mengingat bahwa Iblis selalu rajin di dalam menularkan “ spyware-spyware “nya dan meracuni manusia maka bagaimana kecepatan kita yang dipanggil sebagai “ Anti-Virus Spyware “ ? Jangan-jangan kita masih terlampau lamban mengabarkan Injil Tuhan baik di dalam gedung gereja maupun di luar gedung gereja !

Sekali Lagi, Gereja Tuhan bukan terbuat dari batu marmer yang bagus mengkilap dan kuat. Tetapi Gereja Tuhan yang sesungguhnya adalah darah dan daging manusia yang lemah yang perlu “ DIBANGKITKAN “ di dalam KRISTUS. Biarlah setiap kita dapat melihat sebuah “ preveilege “ dari Tuhan untuk menjadi orang kristen yang mensupply Kebenaran kepada orang lain tetapi biarlah kita juga dapat melihat sebuah “ warning “ buat kita sendiri sebagai orang kristen apalagi pelayan Tuhan, prioritas pelayanan kita berada di mana ? urusan program gedung gereja / jiwa-jiwa ?

Dalam Kristus
Daniel Santoso
Shanghai, China

Penghiburan Rohani

Setiap manusia membutuhkan penghiburan rohaniah dari Tuhan, Thomas A Kempis memberikan sebuah “ explanation “ :

1. Penghiburan rohaniah sungguh melebihi kesenangan dunia dan kenikmatan daging yang hampa dan mencemarkan. Penghiburan rohaniah suci dan dituangkan oleh Tuhan di dalam jiwa yang suci murni. Ironisnya tak ada seorangpun yang dapat selalu menikmati penghiburan rohaniah ini sesuai dengan kehendaknya sendiri karena bergumul dalam percobaan.

2. Ironisnya kebebasan hati kita semua alias palsu dan kepercayaan terhadap diri sendiri terlalu besar. Kenapa bisa terjadi demikian ? Karena kita kurang percaya secara fullhearted terhadap janji Tuhan. Janji Tuhan memiliki hubungan yang erat dengan perintah Tuhan. Lakukanlah perintah Tuhan karena di dalamnya ada janji Tuhan. Justru pada saat kita melakukan perintah Tuhan maka kita akan menikmati janji Tuhan. Kembali kita mengimani Katekismus Westminster pasal 1, Tujuan manusia diciptakan adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan. Kedua, karena kita lebih suka memerintah Tuhan ketimbang kita diperintah. Unsur egoisme kita seringkali membutakan diri terhadap janji Tuhan yang memberikan kelimpahan kepada kita dalam berkat jasmani maupun rohaninya. Disini kita harus memiliki pengenalan diri dan menempatkan diri secara tepat di hadapan Tuhan. Thomas A Kempis memberikan statement keras yaitu “ Marahlah kepada dirimu sendiri dan jangan sampai kamu tinggi hati dan temukan dirimu yang kecil dan hina sehingga orang-orang dapat leluasa menginjak-injak kamu dan menjadikan dirimu sampah “. Memang betul kok dirimu gak punya apa-apa karena semuanya adalah milik Tuhan, milik kita hanya satu yaitu dosa kita sendiri, itulah sampah ! tapi seringkali kita menganggap diri sebagai “ sampah yang berharga “ padahal kita “ sampah “ yang patut dibakar oleh api yang menghanguskan !
3. Ku tak ingin penghiburan yang menghilangkan rasa bertobat dan saya tidak mau sombong. Matius 22:21 tertulis “ Berilah kepada Allah yang Allah punya “ maka kita manusia adalah kepunyaan Tuhan maka semuanya harus diberikan kepada Tuhan, tetapi justru kita tidak rela memberikan diri kita kepada-Nya karena kita menganggap kita pemilik diri kita, bukan Allah. Padahal paradigma kita salah ! justru kita adalah ciptaan Allah, milik Allah maka kita milik Allah kecuali satu yaitu dosa kita karena itu kita yang mau bukan Tuhan yang mau.


4. Pilihlah tempat yang paling rendah niscaya kita akan diberikan tempat yang paling tinggi sebab tempat tertinggi terletak di tempat terendah. Inilah teladan Kristus – Allah yang rela turun ke dalam palungan yang dianggap rendah tetapi justru inkarnasi Tuhan mengajarkan kita untuk memiliki kerelaan untuk turun ke dalam dunia yang “ rendah “. Bagaimana dengan kita ? kita lebih suka perintah sana perintah sini ketimbang turun sendiri dalam pelayanan. Kenapa demikian ? gak punya kerelaan !


5. Belajarlah mengucap syukur atas pemberian Tuhan baik kecil maupun besar meskipun penderitaan ada karena semuanya untuk keselamatan dan kebahagiaan kita, oleh karena itu tetaplah berdoa agar kita senantiasa menyadari anugerah Allah di setiap detik kehidupan kita. Problem kita adalah cinta kita kepada Tuhan belum kuat dan sempurna ? kenapa bisa demikian ?


5.1 Karena kesulitan sedikit aja, pekerjaan yang engkau mulai akhirnya engkau tinggalkan. Kesulitan membuat kita jenuh dan akhirnya membuat kita putus semangat dan meninggalkan pekerjaan itu. Justru kesulitan tetap membuat kita “ sukacita “ menjalan pekerjaan kita. Masalahnya soal kerelaan, kita kurang rela menjalani lika liku perjalanan pekerjaan kita dengan sukacita akhirnya alami kesulitan,ngomel. Tidak alami kesulitan, juga ngomel. Dalam hal ini kita harus sadar bahwa itu jiwa pemalas, banci, gojik ! Belajarlah dari Mao Tze Dong – you gue nan, you pang fak, you shi wang – ada kesulitan, ada solusi, ada harapan. Oleh karena itu orang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan manusia pasti adalah orang yang kuat berdiri hadapi tantangan maupun percobaan.


5.2 Karena kita masih suka melihat “ nilai pemberian “ ketimbang “ perasaan kasih “. Jika kita hanya melihat nilai pemberian, saudara bisa seenaknya mengatakan ini bernilai dan ini tidak bernilai karena tidak sesuai dengan seleramu sehingga orang demikian jatuh ke dalam semangat matre ! berapa banyak orang memberikan hadiah dengan sungguh-sungguh dalam keterbatasan ekonominya tetapi dihina-hina didepan umum sehingga pemberi hadiah tersebut minder ! itu congkak namanya ! justru nilai kekalnya bukan disana tetapi perasaan kasih itulah “ meaningnya “.


5.3Kehilangan fokus untuk memegang teguh dan mengarahkan diri selalu kepada Tuhan. Tubuh manusia yang berdosa selalu berusaha melawan dan mengagalkan keinginan baik kita untuk confession kepada Tuhan maupun worship kepada Tuhan dan kita bukannya bergumul di dalam Tuhan tetapi kita sendiri memberikan “ excuse “ kepada diri sendiri – oh I am just human ! misalnya kita lakukan dosa besar tetapi gak pernah minta ampun kepada Tuhan, itu satanic mind ! justru saat musuh memberikan pikiran yang jahat dan kotor, kita harus usir dan katakan “ Enyahlah engkau roh jahat dan kotor ! Yesus akan sertaiku dan menjadikanku “ spiritual warrior “ dan kamu akan dibuat malu oleh-Nya “. Terkadang kita bisa jatuh bangun tetapi tetaplah bangun dan tetaplah berkali-kali bangun dan selalu rendah hati bersandar kepada Tuhan saja. Perjuangkanlah itu ! Belajarlah dari Pdt. Dr. Stephen Tong : kita harus memiliki :
- courage without fear ; keberanian tanpa takut
- consistency without compromise ; konsistensi tanpa kompromi
- fighting without surrender ; berperang tanpa menyerah.

Tuhan memberkati kita semua, Cia Yo !

Dalam Kristus
Daniel Santoso
Xiamen, China

Kerelaan Hamba dan Kuasa Firman

Hidup manusia tidak lepas dari sejarah, momentum-momentum yang terus berjalan sampai hari ini yang memberikan beragam ekspresi manusia dari suka, duka, benci, dengki, iri hati, mengasihi, mengampuni, memperjuangkan, menyelamatkan dan sebagainya. Manusia dan sejarah tidak dapat dipisahkan satu dengan lain. Sejarah dimana Allah menciptakan dunia dan isinya dengan Firman-Nya. Sejarah yang disebabkan keinginan diri manusia tuk menjadi seperti Allah sehingga manusia “ fallen into sin “, tiada solusi bagi manusia untuk kembali seperti semula karena keberdosaan mereka jijik di hadapan Allah, hanya satu solusi yaitu Allah rela inkarnasi ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia kembali kepada-Nya, Oleh karena itu di dalam rencana kekal Allah, Yesus Kristus lahir, mati dan bangkit dari kematian untuk menyatakan Firman Tuhan yang memberikan “ Pengharapan “ kepada manusia. Sejarah bagaimana setiap orang beriman tidak hidup seorang diri tetapi Allah Roh Kudus yang senantiasa menyertai setiap orang pilihan-Nya dengan Firman Tuhan. Bukankah ini menunjukkan Firman Tuhan begitu berkuasa ? Firman-Nya menciptakan manusia, Firman-Nya memberikan pengharapan kepada manusia, Firman-Nya menyertai manusia, Betapa besar kuasa Firman-Nya !

Dalam konteks pelayanan hamba-hamba Tuhan, saya merenungkan betapa besar kehormatan para nabi, para rasul, para pendeta, para penginjil, kaum awam untuk melayani Tuhan di setiap ladang pelayanan mereka masing-masing, tetapi secara pribadi saya memiliki pergumulan teologis mengenai kenapa ada hamba Tuhan yang dipakai dengan begitu berkuasa ? ada hamba Tuhan yang tidak berkuasa dalam pelayanannya ? Dalam hal ini, kuasa yang saya mengerti bukanlah kuasa retorika manusia yang bisa dilatih secara berkala, kuasa yang saya gumulkan juga bukanlah kuasa massa kuantitas yang besar, kuasa yang saya tekankan disini adalah Kuasa Allah atas Firman Tuhan itu sendiri.

Secara pribadi, Saya menggumuli beberapa poin mengapa pelayanan orang kristen kehilangan “ enjoyment “ dan “ power “ padahal sudah memakai nama Allah sebagai meterainya ?

1. Problem terletak pada manusia itu sendiri yang tidak rela untuk ditahtai oleh Firman Tuhan. Sisi satu, Mereka tidak rela duduk diam untuk belajar mengerti kehendak Tuhan maupun perintah Tuhan tetapi bersibuk ria untuk menciptakan diskusi panel yang “ menarik “ untuk membawa jemaat untuk masuk ke dalam kerumitan teologis yang akhirnya memuaskan logika manusia tetapi intuisi mereka kering. Sisi lainnya, Mereka juga tidak rela bekerja secara dinamis untuk mengerti kehendak Tuhan maupun perintah Tuhan sehingga mereka lebih suka menciptakan “ sphere of heaven “ maupun “ heaven songs “ yang secara fenomenal kelihatannya lebih “ down to earth “ tetapi memberikan ruang lebih besar terhadap pembodohan-pembodohan kehidupan spiritual orang beragama karena kehilangan sebuah disiplin rohani untuk rela menerima kehendak dan perintah-Nya sebagai “ pedoman fokus hidup “ mereka sehingga intuisi mereka menjadikan diri mereka liar terhadap “ emotional fenomenal “. Sisi yang paling parah kondisinya yaitu budaya “ cuek “ terhadap setiap pergumulan-pergumulan manusia di dalam sejarah baik secara logika maupun intuisi dan menumpulkan usaha-usaha transformasi yang semestinya dikerjakan oleh kita sebagai orang Reformed yang dipanggil untuk berjuang di dalam mandat Injil maupun mandat budaya. Banyak orang kristen yang jatuh ke dalam semangat dualisme antara sacred dan secular yang harus dibaca sesuai perspektif masing-masing, sebagai contoh kasus – Jemaat MRII Taiwan – China banyak sekali terjun ke dalam dunia pendidikan khususnya Bahasa Mandarin yang kelak membawa mereka untuk berprofesi sebagai guru bahasa mandarin. Jika mereka menganut dualisme maka iman reformed injili tidak dianggap relevan terhadap profesi guru mandarin tersebut. Tetapi justru Reformed Evangelical Theology mengajak setiap manusia untuk melihat kuasa Firman Tuhan atas kehidupan sacred maupun secular. Kita bukan hanya dipanggil untuk mengabarkan Kristus atas Injil saja tetapi kita juga dipanggil untuk mentransformasi kebudayaan untuk kembali kepada Kristus karena Kristus telah mengalahkan dunia. Jika kita masih mengadopsi sistem dualisme di dalam pemikiran akademis kita maka saudara tidak mungkin bisa memahami Bush saat memjawab sebuah pertanyaan simple yaitu siapakah filsuf favorit anda ? yang dijawab oleh Bush yaitu Yesus Kristus. Bagian ini digumulkan oleh seorang penulis senior Indonesia yaitu Goenawan Mohamed. Menurut pendapat Goenawan Mohamed, semestinya seorang kristen lazimnya tidak akan menganggap Yesus seenteng itu tetapi Bush melakukan hal tersebut. Kedudukan Bush sebagai Presiden United States of America menghidupkan “ Bible Study “ di White House, Washington D.C mengusik tokoh-tokoh dualisme, salah satunya yaitu Goenawan Mohamed. Disini Bush memberikan spiritual insight kepada kita bahwa Kristus berada di atas kebudayaan karena Penciptaan Alam Semesta dan Kebudayaan berada dibawah kedaulatan Allah maka God Transformed Culture menjadi spirit perjuangan yang semestinya mempertobatkan setiap manusia untuk kembali bercermin merenungkan dan melaksanakan upaya perjuangan bagaimana budaya harus setia memancarkan keindahan Sang Pencipta Budaya itu sendiri. We need to repent !

2. Kita tidak rela didisiplinkan oleh Firman. Firman Tuhan memiliki “ kekakuan “ dan “ kedinamisan “ yang dapat mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan penuh makna serta melangkah pasti menuju fokus kekekalan yang memberikan pengharapan optimistik yang sejati. Ironisnya, banyak orang kristen sendiri kurang menghargai “ kekakuan “ serta “ kedinamisan “ gerakan dari Firman Tuhan sehingga penghormatan dan respek kita kepada Firman Tuhan kurang memberikan implikasi yang sejati untuk setia kepada Firman-Nya. Disini kita perlu untuk menyelami konsep nilai dan positioning kita terhadap Firman Tuhan, Apakah Firman Tuhan bernilai dalam hidup kita ? Jika Firman Tuhan tidak bernilai maka kita tidak akan mungkin respek terhadap Firman tersebut. Kedua, Bagaimana kita memposisikan diri terhadap Firman Tuhan ? Apakah Firman Tuhan terletak di atas kita ataupun di bawah kita ? Jika Firman Tuhan terletak di atas kita maka kita harus setia kepada Firman karena kita hanyalah hamba Firman yang menerima visi Firman dan melaksanakan secara kontekstual visi Firman tersebut dalam kehidupan manusia baik secara sacred maupun secular. Jika sebaliknya maka kita memiliki kekuatan untuk memperbudak kuasa Firman sehingga kita kelihatannya tuan atas Firman tetapi sebenarnya kita adalah pemberontak Firman Tuhan itu sendiri.

3. Kita lebih mendambakan manusia memiliki “ freedom of expression “ yang luas dan meredam suara kenabian Firman Tuhan terus terjebak ke dalam kesempitan pemikiran Firman Tuhan yang menurut mereka digambarkan mirip seperti katak di dalam tempurung alias kuper. Sebenarnya saat kita berbicara mengenai freedom maka sebenarnya apakah freedom menyelesaikan masalah ? justru kita melihat bahwa freedom terkadang merusak opini-opini klasik yang anggun menjadi opini picisan yang tidak memiliki keanggunan. Terkadang freedom justru bikin liar dunia. Misalnya ; Free Sex di United States of America dari tahun 1930 sampai tahun 2006 telah merusak berapa generasi yang kehilangan kemurniaan di dalam kehidupan seksual mereka dan masuk ke dalam dunia gelap yang “ melegalkan “ dosa manusia menjadi lebih liar dan diterima oleh masyarakat yang membutuhkan “ freedom of expression “ tersebut. Menurut saya, kita harus kembali kepada konsep nilai dari Freedom itu sendiri – meskipun freedom of expression diberikan kepada manusia di seluruh dunia tetapi bukan berarti saudara dan saya merindukan ekspresi yang bebas alias liar menilai diri sendiri yang “ tidak rela “ tetapi justru kuasa Firman Tuhan mampu membawa orang yang sudah “ full spirit “ untuk berjuang mati-matian untuk kemuliaan-Nya. Justru Firman Tuhan memerdekakan saudara dan saya dan Firman Tuhan membebaskan kita untuk dapat melayani Tuhan. Oleh karena itu marilah kita kembali dalam fokus kita untuk melihat Kuasa Firman Tuhan yang real terjadi dan biarlah doa kita terus terpanjatkan melalui bahasa dan vocabulary sederhana kita untuk melayani Tuhan karena Kristus bertahta dalam hidup percaya dan kita belajar konsisten taat kepada-Nya. Jangan saudara takut ! Tetap semangat ! Puji Tuhan !

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Wisma Kinasih, Sukabumi






Kuasa Firman dan Minoritas

Usia dunia semakin lama semakin tua, pengalaman manusia semakin bertambah, semakin tinggi segala perkembangan ilmu pengetahuan, ironisnya semakin gelap hati manusia sehingga tidak mampu lagi memantulkan hidup yang sejati karena manusia sudah tidak lagi mencintai Allah melainkan membius dirinya untuk mencintai dirinya sehingga overdosis.

Kenapa Kristus datang ke dunia ini ? Kristus datang untuk membawa bangsa yang mengalami overdosis ini untuk sadar bahwa dirimu telah “ fallen into sin “ dan manusia perlu “ keselamatan “ dan “ syalom “. Di dalam Superman Return, secara general menggambarkan dunia yang memerlukan keselamatan dan damai sejahtera melalui seorang figur juruselamat yaitu Superman. Ketika Superman menghilang, dunia begitu merindukan keberadaannya sehingga dimasa vaccum dunia akhirnya berbalik membenci superman. Ekspresi tersebut diwakili oleh Lois Lane yang menuliskan sebuah makalah kontemporer “ Why The World Doesn’t Need Superman “ tetapi singkat cerita saat Superman kembali menyelamatkan dunia, Lois Lane yang awalnya membenci akhirnya kembali berharap optimistik terhadap Superman dan menuliskan kembali “ Why The World Need Superman “. Inilah sebuah kebenaran general bahwa dunia membutuhkan keselamatan dan damai sejahtera tetapi siapakah Superman yang sesungguhnya ? Clark Kent ? George Bush ? Donald Trump ? Samuel Hungtinton ? Benny Hinn ?

Dalam Alkitab, ada sebuah cuplikan serius yang membuat setiap kita untuk kembali merenungkan bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia yang real. Yesus melayani dari satu tempat ke tempat yang lain dengan “ antusiasme “ yang begitu berkobar-kobar menyatakan keselamatan maupun damai sejahtera melalui setiap Firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya. Disini pelayanan Yesus pun tidak lepas dari Firman Tuhan yang memberikan pengharapan kepada manusia yang membutuhkan keselamatan maupun damai sejahtera. Disini Yesus memimpin sebuah gerakan yang revolusioner karena ia memimpin gerakan yang kelihatannya kecil dan minoritas tetapi justru disini gerakan yang minoritas ini memiliki pengaruh yang begitu luas. Pernahkah engkau membayangkan kekristenan yang dimulai dari segelintir orang akhirnya mempengaruhi dunia sehingga jutaan orang menjadi penganut kristen. Saat Yesus melayani Tuhan, banyak murid berbondong-bondong – mengikuti Tuhan, pertanyaannya apakah mengikuti Tuhan pasti memiliki motivasi pengikutan yang baik ? Jika kita melihat pengikut Tuhan, kelihatannya banyak tetapi ada tidak pengikut Tuhan yang setia ikut Tuhan sampai mati ? Jawabannya terlalu sedikit orang yang mengikut Tuhan setia sampai mati.


Refleksi ini membuat saya merenungkan perjalanan gerakan reformed injili, banyak orang berbondong-bondong terjun dalam pelayanan di bawah gerakan reformed injili tetapi apakah semuanya memiliki motivasi benar ? Di dalam pelayanan Yesus, ada seorang pengemis buta yang namanya Bartimeus yang memohon berkat Tuhan. Siapakah Bartimeus ? Ia hanyalah seorang pengemis yang dianggap “ low class “, “ minority “, “ low power “, “ low profit “. Apakah orang yang memiliki kondisi seperti ini tidak layak memohon berkat Tuhan ? respon murid-murid-Nya yaitu menegornya dengan one statement “ SHUT UP “. Disini Bartimeus dibawa kepada suatu kondisi bahwa posisinya tidak layak membuka mulut untuk meminta berkat Tuhan. Apakah itu benar ? Justru kisah Bartimeus memberikan “ spiritual insight “ kepada setiap untuk kita ! Pertama, Bartimeus memanggil “ Yesus, Anak Daud, Kasihanilah Aku “, dalam Lukas “ Tuhan, Kasihanilah Aku “. Disini kita dapat belajar melihat iman Bartimeus yang Kristologis yaitu Yesus adalah Tuhan. Darimana ia belajar Kristologi ? Ia tidak pernah masuk sekolah theologia tetapi ia menerima kesempatan dari Allah untuk percaya kepada Yesus sebagai Allah – disini Bartimeus melakukan loncatan iman ( leap of faith ) untuk beriman kepada-Nya. Kedua, Jikalau setiap anak Tuhan mendengar Firman Tuhan dengan hati yang seperti ini, saya percaya Tuhan akan membangkitkan pahlawan-pahlawan iman yang kuat dan memiliki “ fighting spirit “ dengan kerinduan besar bahwa hari ini saya harus diberkati oleh Tuhan, saya tidak mau mendengar khotbah dengan percuma tetapi saya harus mendapatkan berkat Tuhan !


Biarlah teriakan Bartemeus menjadi teriakan kita untuk memohon keselamatan maupun damai sejahtera yang satu-satunya hanya melalui satu-satunya nama yaitu Yesus Kristus. Ketiga, Saat Tuhan memberikan berkat-Nya kepada Bartemeus, bagaimana respon Bartimeus dan pengikut Tuhan lainnya ? Banyak orang menerima berkat Tuhan lalu melupakan Tuhan tetapi justru Bartimeus mengambil aksi respon untuk mengikut Tuhan karena ia sadar siapakah Yesus ( Guru / Tuhan ) maupun siapakah diri sendiri ( Pengemis / Minoritas / Dosa ). Kesadaran inilah yang ditekankan oleh John Calvin di dalam Institues of Christian Religion. No knowledge about God without know about man, No knowledge about man without know about God ! Mari kita belajar memposisikan diri kita tepat pada tempatnya sehingga kita bisa menjalani sebuah kehidupan yang integrated di dalam Kristus. Terakhir, Saat Bartimeus berespon, pengikut lainnya memuliakan Tuhan. Ini menunjukkan sebuah kebenaran rohani bahwa satu jiwa bertobat maupun diberkati maka pengikut Tuhan bersukacita karena berkat Tuhan memberikan kesempatan berharga bagi orang untuk menikmati anugerah Allah. Bagaimana dengan kita ? Jangan-jangan kita kehilangan kebersamaan bersukacita atas berkat Tuhan yang dinikmati oleh orang lain. Kita bukan hidup seorang diri maka saat Allah memberkati orang lain, biarlah kita belajar untuk melihat berkat Tuhan yang orang lain nikmati mengajarkan kita bahwa itupun menjadi berkat buat kita untuk melihat pekerjaan Tuhan itu real tanpa tipuan kepada orang lain dan sadar bahwa pekerjaan Tuhan atas hidup kita pun real dan bukan tipuan. Solideo Gloria !

Dalam Anugerah-Nya
Daniel Santoso
Wisma Kinasih, Sukabumi

Peace on Earth

Nats Alkitab : Lukas 2:8-14

Mengapa hari ini setiap kita diajak untuk mendengarkan renungan Natal pada hari ini ? Karena Natal memiliki kedalaman “ meaning “ yang belum pernah dikerjakan oleh siapapun dan belum pernah “ exist “ di zaman manapun ! Oleh karena itu, Natal menyimpan “ meaning “ yang misterius tetapi memberikan pengharapan kepada kita semuanya.

Saat sekumpulan malaikat menampakkan diri pada para gembala di Betlehem, mereka berkata “ Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia, yang berkenan kepada-Nya “. Saat saudara dan saya membaca statement tersebut, apakah yang terlintas di dalam benak saudara sekalian ? Imajinasi saya sedang meragukan para gembala yang “ langsung percaya “ dengan statement malaikat tersebut. Bukankah sejak nabi Maleakhi, vaccum “ statement Ilahi dari Sorga “ selama 400 tahun ? jika kita melihat statement Ilahi dari malaikat kepada para gembala dibandingkan dengan konteks zaman sekarang maka kita mungkin akan bersikap “ skeptic “ serta mengharapkan bukti-bukti ilmiah yang rasional untuk membuat setiap kita mengerti statement Ilahi-Nya.

Kedua, Benarkah Damai itu datang ke bumi ? Bukankah statement ini aneh ? Kalau kita melihat di dalam konteks sekarang maka kita justru melihat dunia sedang “ asyik “ berperang dan bencana terus dialami oleh manusia sehingga mematikan jiwa terus menerus. Damai di bumi, statement apaan ini ! Be Realistic donk ! Lihat, orang kristen bukannya memperoleh kedamaian di bumi, malah gerejanya dibakar, rumahnya dijarah, anak mereka diperkosa, bahkan mereka dipenjarakan dan mati martir karena diteror gerakan anti – Kristus. Melalui realita ini, masihkah engkau bicara “ damai “ ?

Ketiga, Saat Damai itu datang ke bumi maka Kehendak Baik di antara manusia, manusia memiliki kehendak baik dengan “ others “ ? kalau ada maunya, Iya Betul ! Jika itu menguntungkan, Okay, why not ? Bukankah sebagian orang kristen memiliki mental seperti itu ? kita seringkali merugikan sesama orang kristen sendiri sehingga akhirnya identitas kekristenan kita menjadi batu sandungan orang lain untuk mempercayai diri orang kristen maupun Yesus Kristus.

Secara doktrinal, ketiga pertanyaan tadi hendak mempertanyakan apa ? Kedaulatan Allah dan Rencana kekal Allah. Come on, You Tell Me, What is exactly means of Peace on Earth ? Dalam Film Superman Return, Lex Luther berusaha memberikan jawaban bahwa “ Allah tidak mungkin mensharingkan kepada manusia setiap kekuatan-Nya atau knowledge-Nya “. Sebuah gambaran skeptic Lex Luther terhadap Allah yang sebenarnya juga membuat setiap kita bercermin terhadap diri kita sendiri bahwa seringkali kita skeptic terhadap Kedaulatan Allah maupun Rencana kekal Allah. Seperti Lois Lane ( Superman Returns ) memperoleh penghargaan jurnalistik atas sebuah karya kontemporer yang ditulisnya yaitu “ Why the world doesn’t need Superman ? “ yang memberikan conclusion bahwa “ no more saviour “.

Dimanakah Damai itu ? Yesus pernah berkata bahwa Damai yang Kuberikan bukan seperti apa yang dunia berikan ! Oleh karena itu “ Damai “ yang Tuhan berikan bukanlah sesempit apa yang dipikirkan oleh manusia tetapi Damai yang “ universal “ dan meaningfull yaitu Damai diselamatkan oleh Anugerah di dalam Kristus. Disini kita bisa mengaminkan “ Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi “ karena manusia tidak bisa mendeskripsikan maupun meniru kemuliaan-Nya dengan kapasitas sempit mereka.

Saat Superman mengajak Lois Lane terbang ke atas langit dan mereka melihat ke bawah, keindahan lampu-lampu gedung pencakar langit yang menyala maupun cahaya lampu mobil lalu lalang yang memberikan warna-warni dalam pemandangan mereka, Lois Lane hanya melihat “ perfect view of city “ yang mengagumkan. Bagaimana dengan Superman ? Ia justru melihat “ complicated situations in the perfect view of city “ yaitu They Need Help ! Lois Lane tidak bisa mendengarnya ! Superman bisa mendengarnya ! Apa yang kita bisa pelajari dari bagian ini ? Banyak orang yang tidak bisa mendengar seperti Lois Lane, dimanakah damai di bumi itu, mereka menganggap damai itu berada di tangan presiden, teroris, selebritis, milioner dan sebagainya. Itu hanyalah kedamaian yang fana ! Allah melihat kedamaian yang manusia perlukan adalah kembali bertemu Bapa di So
rga yang kekal hanya melalui Kristus Yesus. Inilah arti sebuah Inkarnasi !

Biarlah melalui Hari Natal ini saat kita bukan hanya bersukacita karena menerima kado saja tetapi kita bersukacita karena kita menikmati satu-satunya kado yang memberikan kedamaian sejati tuk pulang ke Sorga kekal, hanya melalui Yesus Kristus ! maukah saudara beriman dan berkenan kepada-Nya hari ini ? Maukah engkau memberitakan Kristus bagi orang yang belum bisa mendengar-Nya ? Puji Tuhan !

Dalam Kedamaian-Nya
Daniel Santoso
Shanghai, China

Love in the fearful land

Semakin tua umur dunia, semakin bertambah ilmu dan pengalaman manusia, semakin gelap hati mereka sehingga tidak mampu lagi memantulkan kesejatian hidup dan hanya mampu mengira-ira kebutuhan dan kepentingannya. Semakin bertambah jumlah manusia, semakin bertambah kemungkinan konflik antara mereka. Kenapa bisa demikian ? karena KASIH telah pudar dan ditertawakan oleh orang.

Pada mulanya hari natal hanyalah sebuah momen penting kelahiran Yesus Kristus ke dunia yang hanya dihadiri oleh segelintir orang tetapi kini telah menjadi hari besar yang dirayakan oleh miliaran jiwa di seluruh dunia. Bahkan agama kristen yang pada mulanya hanya dianut oleh segelintir manusia , kini telah menjadi agama raksasa terbesar di dunia. Menakjubkan, bukan ? Kehadiran Yesus dalam sejarah manusia bagaikan kobaran api kasih yang menyala diantara dunia yang gelap.

Saya bangga memproklamasikan apa yang pernah didengungkan oleh Agustinus yaitu : Kristus mengalahkan dunia. Seluruh pemimpin di dunia berdiri dan menghormatiNya. Ia merendahkan semua penguasa di dunia. Bukan dengan panji kemenangan, melainkan kasih melalui palungan hina. Ia mengalahkan dunia hanya dengan kematianNya di kayu salib yang kotor itu, dan tidak dengan senjata. SalibNya yang terpancang di atas tanah itu menjulang tinggi dan Ia menyerahkan nyawaNya kepada BapaNya. Ia menderita di dunia, Ia mati, dan Ia mengalahkan semuanya. Dunia bertekuk lutut di hadapanNya. Aku bertanya kepadamu, adakah yang lebih berharga daripada perhiasan yang melekat di mahkota seorang raja? Jawabnya adalah ya. Salib kotor Kristus itu lebih berharga daripada seluruh perhiasan di dunia. Kasihilah Kristus, dan engkau tidak akan pernah lagi merasa hina.

Di Zaman Agustinus, orang-orang kristen dibenci sehingga mereka menjadi mangsa binatang buas di gladiator – suasana menyenangkan tetapi mencekam. Tetapi jangan kuatir karena Kristus menjaga dan memelihara jemaat-Nya. Ketika Agustinus mengalami pertunjukan semacam ini, ia melihat orang-orang memberikan dua reaksi yang berbeda. Reaksi yang pertama adalah reaksi dari para sensualis—mereka yang menjerit dan berteriak ketika Martir-Martir Kristus itu dimakan oleh binatang buas, ketika kepala mereka dipenggal, bahkan ketika mayat mereka dilempar ke dalam api. Akan tetapi bagi pemandangan berdarah itu memiliki arti yang berbeda bagi beberapa orang lain yang datang menonton pertandingan itu. Dalam kondisi tertentu, pemandangan yang berdarah itu mampu dan mengubah beberapa orang memiliki cara pandang spiritual. Mereka datang untuk melihat pertandingan tersebut, tetapi mereka tidak memandang melalui cara pandang penonton lain pada umumnya. Mereka menonton pertandingan itu dengan seolah-olah memiliki mata malaikat. Mereka melihat tulang-tulang para Martir berserakan, darah yang mengalir, dan mereka mendengar jeritan yang mengerikan dari para Martir. Maka kini mereka datang untuk melihat yang tidak kelihatan oleh mata biasa—iman orang-orang Kristen yang mati di arena tersebut. Tidak ada cara pandang melihat pertandingan itu seperti ini: Jiwa yang suci dari mayat yang dikoyak-koyakkan. Beberapa dari mereka yang menonton pertunjukan berdarah itu dengan tujuan untuk mengasihi Kristus; karena mereka tahu bahwa Dia tidak bisa ditaklukkan di dalam arena itu. Kita tidak perlu malu akan hal itu. Inilah Kasih di dunia yang menakutkan ! Bagaimana dengan kita di dunia yang menakutkan ini ?

Tanggal 24 Desember 2005, Di dalam Kasus Indramayu dan kristenisasi, pelayanan sekolah minggu “ Minggu Ceria “ dari dr. rebecca zakaria, ratna bangun dan esti pangesti ditangkap karena telah mengabarkan Injil Yesus Kristus – Natal kepada 10-20 anak muslim. Sebenarnya jika mereka mencari aman maka mereka bisa tidak mengabarkan Injil tetapi mereka tetap mengabarkan Injil sampai dipenjarakan karena mereka telah melihat Kasih-Nya di dunia yang menakutkan ini dan mereka mengasihi jiwa-jiwa tuk berbalik kepada-Nya. Akhirnya mereka divonis penjara tetapi apakah Kasih itu hilang dari peredaran ? Justru Kasih itu semakin real di penjara sehingga banyak orang percaya kepada Tuhan dan persekutuan pun terintis disana. Itulah berkat Tuhan yang sama persis dialami oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang dilempar ke dalam dapur api oleh Raja Nebukadnezar, namun berkat Tuhan melimpah dan Firman Tuhan terus didengungkan di segala zaman serta memberikan “ inspirasi “ maupun penghiburan serta kekuatan untuk melayani Tuhan dengan maksimal demi kemuliaan-Nya.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Shanghai, China

Peran Gereja dalam Dunia  Yoh 8:21-29, 30-32 Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan ...