Saturday, June 21, 2008

The Lack of Self Help

Pada mulanya Allah berfirman “ jadilah terang maka terang itu jadi “. Itulah Theology yang menyatakan konsep Theos ( God ) dan Logos ( Truth ) sebagai satu-satunya source of all creation, all definition, all application maka ciptaan Tuhan pasti memancarkan definisi Tuhan dan aplikasi Tuhan. Demikian juga dengan manusia. Problem terbesar muncul pada diri manusia disaat manusia jatuh ke dalam dosa ( fallen into sin ), sehingga manusia mengalami kerusakan total dalam membaca definisi Tuhan dan aplikasi Tuhan atas seluruh ciptaan-Nya termasuk dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia membutuhkan “ SPECIAL REVELATION “ tuk membaca fenomena ciptaan Allah termasuk manusia.


Special Revelation hanya berada dalam Firman yang menjadi daging yaitu Yesus Kristus dan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang menyatakan poin Alpha dan Omega sejarah manusia yang berada di tangan Allah. Maka Gereja berdiri sebagai “ radical community “ yang berbeda dengan dunia membaca segala sesuatu selaras dengan prinsip pengajaran Yesus Kristus untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan dengan memberitakan Injil, melaksanakan kehendak Tuhan serta membedakan mana yang benar dan mana yang salah dari perspektif Allah.Maka segala sesuatu harus diinterpretasi dari konsep Allah sendiri. Rela gak kita ?
Goal dari setiap penerima Firman adalah hati yang tunduk kepada Allah. Di dalam kitab Amsal dikatakan “ takut akan Tuhan adalah permulaan dari pengetahuan “. Dimanakah orang kristen yang takut pada Tuhan hari ini ? kita semestinya gentar terhadap setiap Firman Tuhan karena Firman itu hidup dan aktif. Permasalahan yang muncul dari kita hanya mendapatkan jawaban yang paling akurat melalui bercermin di hadapan Firman ( Alkitab ). Sudahkah kau baca Alkitabmu hari ini ?


Membaca Alkitab bukan sebuah aktivitas yang legalistic tetapi justru harus memohon Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk menemukan kelemahan diri kita serta kelimpahan Firman yang memberikan “ new life “ dalam hidup kita.


Tapi manusia cenderung lebih menyukai kekreatifan dirinya untuk melakukan research maupun analisa kritis terhadap ciptaan Allah tanpa perspektif Allah sehingga mereka menamakan diri mereka sebagai kaum pecinta bijaksana ( philosopher ). Filsafat bukanlah wahyu umum. Filsafat hanyalah reaksi manusia dalam mencari kebijaksanaan baik melalui rasio, pengalaman, emosi maupun komunitas yang didasarkan pada selera manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Mereka mencari kebijaksanaan untuk kepentingan diri sendiri dan kepentingan others dengan jalan “ self – observation “.


Dale Carnegie, penulis buku self help pertama tahun 1936 yang menjadi best seller yaitu “ how to win friends and influence people “ telah menjadi raja etika kepribadian hari ini. Awalnya buku itu ditujukan pada “ sales “, akan tetapi pengaruhnya besar ke berbagai bidang sehingga self help menjadi marak hari ini untuk semua kalangan. Oleh karena itu tidak heran, Martin Luther Kings menolak konsep self-help tetapi menekankan social-help sebagai imago Dei.
Semua theory maupun analisa manusia apakah 100 % salah ? tidak, tetapi bukan berarti 100 % persen mutlak benar ! maka analisa self observation hanyalah alat bantu yang boleh ada boleh tidak ada tetapi semuanya harus diadili dalam perspektif kebenaran Allah sejati.


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso, Taipei

Reflection on Yves Saint Laurent 1936-2008

Perjalanan dari Guangzhou-Hongkong-Taipei Dua hari yang lalu, Dunia fashion kehilangan seorang tokoh designer legendaris yang penuh inovasi di dalam mengikuti “ the evolution of women – ( fashion vocabulary ) “. Tidak heran jika South China Morning Post memberikan judul besar di kolom International halaman A9 “ YSL : The High Priest of High Fashion “. Julukan sakral itu diberikan oleh pengagum karya YSL dikarenakan dia menjadi orang pertama yang mmembawa perempuan tuk pakai celana,pakai tuxedo, baju maskulin, African style yang memberikan new inspiration kepada designer-designer lainnya. Mengagumkan. YSL lahir di Oran, Algeria – August 1, 1936 ( dahulu termasuk French territory ). Seorang pemalu, lonely child, homosexuality yang mati karena tumor otak.


Christian Lacroix memberikan tanggapan terhadap YSL bahwa YSL memiliki keunikan yang berbeda dengan designer besar lainnya. “ Chanel, Schiaparelli, Balenciaga and Dior all did extraordinary things. But they worked within a particular style. YSL is much more versatile, like a combination of all of them “. Dalam hal ini saya setuju dengan pendapat Lacroix. Di dalam pengamatan terbatas saya sebagai seorang awam, YSL memberikan inovasi yang “ simplicity “ plus “ versatility “ ( tentu saja secara humanis ).


Estetika YSL tentu saja termasuk seni, pertanyaannya bagaimana kita melihat seni hari ini ? Jika Plato melihat seni sebagai mimesis mimeseos ( tiruan atas tiruan ) dimana yang asali adalah dunia ide dan seni adalah tiruan atas dunia alamiah dan dunia manusia. Nietzche, Freud lebih menyukai definisi seni sebagai pemuasan atas hasrat jiwa. Nietzche mendasarkan definisi seni di dalam dua kecenderungan jiwa yaitu Apollonian ( dewa mimpi ) dan Dionysian ( dewa mabuk anggur ) yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa seni adalah luapan hasrat jiwa manusia sebagai sebuah tiruan. Jadi seniman menukik ke kedalaman kemabukan Dionysian dan peniadaan diri dan terpisah dari kebanyakan orang yang menikmati seni dan kemudian melalui inspirasi impian Apollonian, keadaannya sendiri yaitu kesatuannya dengan dasar alam semesta ini, diwahyukan kepadanya dalam suatu gambaran impian simbolis. Sebagai seorang awam, saya melihat ekspresi kemabukan Dionysian para desainer juga muncul di permukaan bumi ini, salah satunya adalah Jean Paul Gaultier. Estetika Gaultier bukan sebuah tata harmoni dalam size, harmonisasi maupun keseimbangan yang normal melainkan tetapi justru penindasan keseimbangan harmonisasi. Kenapa demikian ? Christopher Caudwell, seorang pengagum Marxis mengatakan bahwa “ dream “ adalah asosiasi bebas, personal maka goalnya adalah hanyut ke dalam imajinasi sampai kesadaran akan ke-aku-an kita lenyap, seperti kita sedang bermimpi ( physiological introversion ). Kedua, Caudwell mengatakan bahwa seni adalah hubungan dialektis antara pengalaman personal dan dunia sosial yang membangkitkan self socialization. Ketiga, semua seni bersifat subyektif, emosional dan berkaitan dengan insting-insting ( alias liar ).


Jika kita kembali kepada Reformed Theology, seni adalah bagian dari kebudayaan ( culture ) yang merupakan reaksi manusia terhadap wahyu umum ( God’s creation ). Celakanya, kejatuhan manusia ke dalam dosa merusak setiap reaksi-reaksi sakral manusia terhadap wahyu umum Allah sehingga manusia banyak menghasilkan seni yang bidat – menyenangkan imajinasi dan idenya tuk menciptakan “ new revelation “ dalam dunianya ( kayak orang autism ) daripada kembali kepada “ God’s revelation “ yang memaparkan prinsip-prinsip manusia berespon kepada Tuhan diatas wahyu umum yang mereka nikmati ( rela dikakukan dalam prinsip Firman Allah. Manusia mengandalkan kekreatifan reason maupun emosional guna menciptakan “ new freedom “ dalam semua bidang termasuk seni. Oleh karena itu “ secularism “ menjadi popular daripada “ all things is sacred “. Mengapa popular ? karena manusia tidak netral. Manusia telah jatuh ke dalam dosa dan menikmati ketidak netralnya sebuah hasil kreasi entah milik penguasa, seniman atau siapa saja karena minimal manusia memiliki kepentingannya sendiri, entah ekonomis ataupun politis. All things sacred mengajak setiap kita untuk kembali menghargai kesakralan Tuhan di dalam setiap bidang yang kita geluti termasuk seni. Secara humanis, YSL menghasilkan kreasi design pakaian perempuan yang spektakuler dengan keanggunan yang ditawarkan tetapi itu bukanlah keindahan itu sendiri melainkan reaksi manusia bersosialisasi terhadap wanita dan bentuk tubuh sebagai ciptaan Tuhan sehingga menghasilan sebuah design pakaian wanita. Sayangnya, dirinya gagal di dalam menilai identitas manusia sebenarnya sebagai imago Dei. Begitu juga design Gaultier yang liar serta kacau di dalam kebebasan kreasinya. Saya percaya Gaultier belum mengamenkan identitas dirinya yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Maka reaksi bisa “ standard humanis “ juga bisa “ liar “ akan tetapi di hadapan Tuhan, semuanya gagal karena tujuan hidup manusia tidak tercapai disana yaitu memuliakan Tuhan dan menikmati Dia. Pertanyaannya, masih adakah desainer-desainer hari ini yang mati-matian bekerja buat Tuhan, melalui setiap kreasinya merupakan reaksi yang jujur atas wahyu umum Tuhan melalui interpretasi yang akurat di dalam wahyu khusus Tuhan yaitu di dalam Kristus, Firman Kudus-Nya ?

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Thursday, May 22, 2008

is your God big enough ?

Hari ini banyak orang kristen kehilangan “ kekakuan “ terhadap doktrin dan pengajaran karena mereka mengalami pergumulan “ problematic “ antara doktrin dengan realita kehidupan manusia dan dunia yang seakan-akan berkontradiksi alias saling bertentangan. Hans Kung di dalam bukunya “ Why I am still a Christian ? “ memberikan beberapa kesulitan mengenai idea of God :


a. Idea of God as The Creator of Heaven and Earth

Jika kita melihat science, tema “ creation “ diisi bukan dengan kehadiran Allah tetapi diisi dengan “ human observation “ sehingga lahir konsep big bang atau gap theory. Tentu saja “ human observation “ lebih masuk akal karena konsep itu dibikin menurut “ selera “ manusia, bukan kemauan Tuhan. Justru “ selera “ Tuhan diberikan hanya melalui Alkitab – kesaksian iman yang menyatakan Allah adalah the origin of everthing and everbody.

b. Idea of God as the One who guides history

How are we to understand this ? seringkali kita sebagai orang kristen mengetahui bahwa Allah adalah Allah sejarah tetapi seringkali pertanyaan kita muncul meragukan “ kalo Tuhan ada, kok Tuhan mengizinkan banyaknya agama, cara pandang, relativisme yang bikin bingung ? “. Kebanyakan orang jatuh ke dalam selera “ human beings “ khususnya suara masyarakat ( voice of society ) yang menjadi legitimate karena rating tinggi. Kemarin saya membeli buku no.1 new York times bestseller dari Christopher Hitchens “ god is not GREAT “. Menurut Hitchens, sejarah manusia sudah dirusak oleh agama-agama. Religion poisons everthing ! agama bukan menciptakan perdamaian tapi kebingungan. Coba liat, Yesus lahir di rahim seorang perawan namanya Maria oleh pekerjaan Roh Kudus. Bagi Hitchens, ini gak original karena legenda Greek, Perseus juga lahir dari perawan bernama Damae oleh God Jupiter. Anak perempuan Raja Mongol yang bertemu dengan cahaya dan melahirkan Genghis Khan, Krishna yang lahir dari perawan Maia, Romulus yang lahir dari perawan Rerea Slyvia. Hitcheens juga menilai bahwa agama membawa sejarah kepada hal yang buruk. Misalnya dalam old testament, Tuhan no 1 ( dari suara, mimpi, astrologi ) sedangkan istri, harta, binatang secondary. Itu tidak mengajarkan konsep solidaritas, compassion to others. Bagi Hitcheen, ini contoh “ failed society “. Coba liat dalam perumpamaan Yesus – dikatakan orang yahudi dirampok, imam cuek, lewi cuek, samaria menolong – tapi mental bos, kasi duit lalu dia pergi. Jelas, Hitcheen menafsir semuanya ini bukan dengan “ exegesis “ tapi “ self observation “ maka tentu saja pemaparan dia didasarkan dengan “ seleranya “, bukan “ selera Tuhan “.

Jika kita kembali kepada Alkitab maka kita menemukan kembali Allah sebagai Allah atas sejarah baik dalam makna “ beginning until the end of everthing “ dalam dunia termasuk dalam seluruh proses sejarah dunia. Justru “ selera Tuhan “ mengajak kita bukan untuk hanya menerima “ good situation “ saja tetapi dituntut belajar bagaimana “ struggling “ di dalam dunia yang menawarkan “ relativism “ maupun “ bad situation “ dan belajar menerapkan iman kepercayaan di dalam Kristus untuk “ transforming “ dunia di dalam kuasa pelayanan oleh Roh Kudus.

c. Idea of God as The Perfecter of the world and human beings

Tidak sedikit orang Barat tidak dapat menerima realita ini karena sejarah hidup manusia begitu “ complicated “ dan bukan sesuatu yang mudah untuk dapat segampang membalik tangan di dalam melihat teladan Allah sebagai teladan yang sempurna. Tidak sedikit orang kristen yang “ murtad “ seperti : Karl Marx melihat Allah = God of rulers ( banyak hukumnya – kaku dan kejam ), Nietzche melihat Allah = God of pitiable weakling ( lemah, kasihan ), Sigmund Freud melihat Allah = A Tryranical Super Ego ( memaksakan super ego sendiri ). Kenapa bisa demikian ? Marx hanya melihat “ Old Testament = nightmare “. Nietzche melihat New Testament = super weakman, Freud melihat Old Testament = sombong. Kejatuhan mereka karena membaca Alkitab secara “ fragmented “ sehingga kesempitan logika mereka hendak memberikan “ judgement “ kepada Tuhan yang melampaui logika mereka. Ini tindakan kurang ajar ! Go out, you unholy spirit ! Pandanglah pada Yesus maka mereka akan tahu bahwa judgement mereka terlalu “ bodoh “. Ini gambaran kita juga. Jangan anggap otakmu encer lalu bisa judge Allah seenaknya ! Berdoalah minta Roh Kudus bekerja di dalam kita untuk melihat pekerjaan Tuhan yang memerdekan kita.


Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Kowloon, Hongkong

Wednesday, May 21, 2008

May 12 Memorial Day


12 Mei 2008, gempa bumi Shichuan berkekuatan 7,9 skala richter di Wenchuan, Sichuan yang telah menewaskan 15.000 orang lebih merupakan tragedy terbesar dialami china after tahun 1976 yaitu gempa bumi Thangsan yang menewaskan 242.000 orang. Pemerintah RRC mengelar tiga hari belasungkawa tuk mengenang korban gempa Sichuan. Tidak sedikit, orang china maupun overseas yang menyatakan belasungkawanya baik melalui memasang bendera setengah tiang, memasang lilin di malam hari bahkan membaca puisi-puisi penghiburan terhadap keluarga korban. Sebagai seorang foreigner yang “ numpang “ tinggal di China, saya cukup terbawa untuk hanyut ke dalam kesedihan bangsa komunis ini, betapa tidak, setiap hari kuikuti perkembangan upaya militer menyelamatkan jiwa-jiwa disana, hasilnya hampir nihil karena hampir semuanya ditemukan dalam keadaan mengenaskan dan mati. Saya cukup respek ( sebatas kagum ) terhadap kepedulian sosial Yayasan Tzu Chi dari Taiwan yang always cepat tanggap dalam memerankan dirinya sebagai tim luar negeri menolong korban. Di dalam dunia artis, Leehom Wang mewakili World Vision Taiwan menghimbau muda-mudi untuk mengambil bagian dalam menggalang dana sosial untuk korban gempa disana. Mengapa mereka melakukan semua ini ?


Semua karena diri mereka belajar mengasihi others. Kenapa demikian ? karena mereka sama-sama manusia, bisa merasakan atau meraba-raba bagaimana hidup di dalam kesulitan, kepedihan, kesakitan maupun ketakutan apalagi kurangnya kebutuhan sandang, pangan, papan. Akan tetapi apakah kasih mereka kepada others adalah the best goal dari kehidupan manusia ? Di dalam Reformed Theology, kita harus belajar mengasihi Allah dengan benar maka kita dapat mengasihi others dengan benar juga. Akan tetapi kesulitan manusia hari ini adalah melihat bencana alam yang merenggut ribuan nyawa manusia termasuk anak-anak kecil yang masih ingusan. Bagaimana orang kristen menanggapi hal ini ?


Di dalam CNN Weekend, Larry King mengangkat sebuah topic marak “ September 11 ; Where was God ? “, diajukan kepada beberapa tokoh-tokoh agama dan spiritualitas. Salah satunya adalah John Macarthur, senior pastor dari Grace Community Church, Sun Valley, yang kembali kepada kemutlakan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang memaparkan kedaulatan Allah yang sesuai dengan rencana kekal-Nya dan Macarthur menanyakan “ jika kita bertanya “ why didn’t God stop that “ maka sebenarnya kita memiliki “ a huge question “. Maksudnya “ Is God going to stop all dying ?”.


Dalam Lukas 13:3, mereka bertanya kepada Yesus “ apakah 18 orang yang tertimpa menara dekat Siloam lebih “ parah “ daripada orang lain yang diam di Yerusalem ? “. Yesus justru menjawab “ you better repent or you will likewise perish “. Yesus sendiri yang mengatakan sendiri bahwa “ repentance is the key to life and salvation “. Bagaimana kita bercermin melihat korban ? Seharusnya kita dapat melihat kerusakan total kehidupan kita sebagai manusia yang “ fallen into sin “ dan mengalami “ total depravity “ sehingga kita masih hidup karena belas kasihan Tuhan diberikan “ more longer “ untuk menikmati anugerah Tuhan, menikmati hidup tetapi setelah kematian, setiap kita harus mempersiapkan diri bahwa kita tidak bisa melarikan diri dari maut karena itulah upah dosa. Siapakah yang dapat memberikan pengharapan kepada manusia after death. Kembali kepada otoritas Alkitab, Kristus satu-satunya pengharapan kita, Allah yang rela inkarnasi menjadi manusia tanpa dosa, rela mati menebus dosa saudara dan saya maka pertobatan harus diatas nama Kristus karena dialah satu-satunya jaminan keselamatan yang memberikan pertobatan sejati kepada kita. Oleh karena Allah mengasihi kita maka selayaknyalah kita belajar mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita seperti Allah mengasihi mereka juga.


Hanya kembali kepada Allah di dalam Alkitab ( bukan humanis) yang menyatakan identitas Allah sebagai “ The Creator and Sustainer of Universe “ , Ia berdaulat atas semuanya … Ia yang berinkarnasi dalam Yesus Kristus, turun ke dalam dunia, mati diatas kayu salib untuk menebus dosa manusia agar manusia dapat diselamatkan dan menikmati surgawi. Bagaimana dengan korban gempa bumi di Sichuan bagi kita semua ? John Macarthur memberikan sebuah inspirasi kepada setiap kita untuk melihat kematian mereka sebagai “ a wake up call for us to prepare for that “. So guys, are you ready ?


Dalam Kasih-Nya

Daniel Santoso

Beijing. China

Saturday, May 17, 2008

All that's left ...

Di atas pesawat Air China, saya membaca Koran “ The Straits Times “ yang memberikan saya bahan perenungan pada hari ini yaitu Sichuan Quake. Lempengan bumi yang bergerak menyebabkan beberapa kota di Sichuan lumpuh, 250.000 luka-luka, 28.881 orang meninggal dunia. Puluhan ribuan orang hilang. Benar-benar gempa yang dasyhat ! hari ini hari kelima dan masih banyak korban baru yang ditemukan. Belum lagi, saya melihat berita mengenai Li Yi, seorang anak perempuan cantik dari Mioba, Beichuan county, berumur 10 tahun yang kaki kanannya diamputasi petugas medis di tempat ia ditemukan guna menyelamatkan jiwanya. Foto Li Yi dengan ekspresi kesakitan, desperate, kecewa, sedih membuat saya mulai kembali merenungkan hidup yang mengalami keterhilangan.

Dalam kitab Ayub 1:20-22, Ayub memberikan proklamasi doctrinal yang absolute tentang Allah di dalam kondisi hidupnya yang “ complicated “.


a. Tuhan memberi, Tuhan mengambil. Disini saya belajar melihat kesementaraan yang ada dalam diri saya baik termasuk keluarga, harta, perjuangan kita karena semua milik Allah. Hidup manusia adalah milik Allah maka manusia tidak memiliki hak mutlak untuk complain kepada Tuhan. Seringkali kita tidak menyukai kondisi seperti ini karena kita tidak memiliki “ kebebasan “ dalam mengunakan hak mutlak yang ada pada diri Tuhan sendiri sehingga akibatnya kita seringkali jatuh ke dalam budaya “ complaining “ tanpa konsep “ positioning “ yang tepat sehingga pergeseran posisi menyebabkan manusia semakin “ liar “ dalam perspektif membaca dengan akurat makna keterhilangan dalam hidup manusia di dalam kehendak-Nya.


b. Telanjang lahir, telanjang mati. Proklamasi doctrinal Ayub ini mengetarkan diri saya di dalam menyadari “ theology of weakness “. Siapakah Ayub ? dia bukan siapa-siapa ! dia hanyalah manusia yang dilahirkan telanjang ( tanpa membawa apa-apa ) dan mati juga dengan telanjang ( tanpa membawa apa-apa ). Itulah manusia ! hari ini kita sudah kehilangan “ theology of weakness “ dalam menilai hidup kita. Hari ini kita lebih banyak bicara mengenai “ successful life style “ dengan pendidikan tinggi, perhiasan mahal, pakaian brand terkemuka, teknologi elektronik canggih ketimbang definisi ketelanjangan hidup dari Ayub. Akibatnya, banyak dari mereka yang terbiasa dengan successful life style mengalami “ culture shock “ saat mereka jatuh ke dalam keterhilangan.


c. Being and Gifts. Ketika kita menerima respek dari seseorang, seringkali kita menilai respek itu dari pemberian demi pemberian yang dinyatakan kepada kita, padahal itu hanyalah masalah supplemen. Ayub menyadari betul bahwa hidupnya adalah dari Allah. Meskipun ia kehilangan kekayaan, orang yang dikasihinya tetapi ia tetap bersandar kepada Being yang memberi semua kelimpahan dalam hidupnya. Luar biasa ! jika doktrin benar, meskipun hidup lebih sulit, kita harus belajar rela menjalaninya karena Being adalah esensi yang paling penting.


Saya mengajak saudara sekalian berdoa untuk korban Sichuan Quake yang mengalami keterhilangan harta maupun orang-orang yang mereka sayangi agar mereka dapat belajar bersandar kepada Tuhan, Sang Being yang memberi dan mengambil hidup manusia karena semua hanya karna Anugrah-Nya buat manusia yang tidak memiliki modal apa-apa selain ketelanjangan dalam lahir dan matinya. Berdoa bagi korban, agar mereka senantiasa menengadah ke atas berdoa memohon Tuhan memberikan kekuatan bertahan hidup serta menyatakan proklamasi iman yang akurat seperti apa yang dikerjakan oleh Ayub. Tuhan memberkati kita semua …


Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Beijing, China

The Lordship of Holy Spirit

Apakah kuasa Roh Kudus itu real ? banyak orang kristen kurang menyadari pentingnya kuasa Roh Kudus karena mereka menganggap itu adalah konsep denominasi tertentu. Benarkah demikian ? Bagaimana pekerjaan Roh Kudus turun atas hamba-hamba-Nya ?


Di dalam perjanjian lama, Samson membunuh 30 orang filistin sendirian, Samson melawan singa. Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Apakah kuasanya beda ? The same spirit is present in you. Pahamkah engkau ? seringkali kita kurang paham atas besarnya kuasa Tuhan dalam hidup kita karena pekerjaan Roh Kudus. saya bukan orang yang pesimis tetapi saya mengajak saudara sekalian tuk meremind diri kita untuk melihat diri manusia yang telah mengalami “ crisis value “.


Dalam 1 Tesalonika 1:5 , Rasul Paulus menyatakan “ Injil bukan hanya disampaikan dengan kata-kata, tetapi juga dengan kuasa Roh Kudus dengan kepastian yang kokoh “. Di dalam Roh Kudus ada 3 atribut Ketuhanan ( Lorship Attribute ) yang penting yaitu :


1. Power – controlled by God.

Kok power dikontrol ama God ? karena Tuhan sendiri yang tahu mengapa kuasa Roh Kudus diberikan kepada manusia. Manusia di dalam kecacatannya, dapat menyalahgunakan kuasa untuk kepentingan sendiri. Oleh karena itu John Calvin mengatakan bahwa kuasa Roh Kudus harus kembali kepada Kristus. Kristus sebagai satu-satunya juruselamat dunia dan kuasa Roh Kudus tidak bisa lepas dari tahta Kristus. Maka orang kristen hanya dapat menikmati kuasa Roh Kudus jika mereka kembali kepada Kristus. Dilematisnya, orang kristen sendiri sudah kehilangan kuasa Roh dalam pelayanannya, mereka lebih over-confidience dengan skill dirinya sehingga mereka menganggap diri mereka adalah penting dalam pelayanan. Orang seperti ini melayani dengan konsep “ ubermench “, itu bukan ajaran Alkitab. Itu ajaran humanis dari Nietzche. Jika saudara suka liat komik Marvell tahun 1940 an, konsep “ Ubermench “ banyak muncul dalam tokoh-tokoh yang digambarkan sebagai pahlawan yang “ perfecto “, berbeda dengan komik Marvell tahun 90 an yang mulai “ realistis “ dengan kelemahan mereka, misalnya red laser superman gak bisa tembus timah, spiderman bergumul dengan kemiskinan, hulk kuat tapi hidup dalam penyangkalan diri. Maka ubermench hanyalah konsep yang tidak realistis. Perlu theology of weakness tuk memahami kelemahan diri dan kelemahan orang lain. Tapi bukan minder tetapi menyadari semua karena pekerjaan Roh Kudus yang berpusat pada Kristus, bukan original dari diri kita. Di dalam Kristus baru ada kerinduan kepada Injil yang memberikan semangat sejati yang tersirat makna kekal.


2. Authority – God’s Authoritative Word.

Kuasa Roh Kudus tidak lepas dari otoritas Allah. Pertama, Otoritas Allah gak bisa dilepaskan dari Firman. Melalui Firman maka kita dapat mengenal Allah dengan benar, mengenal Kristus dengan benar, mengenal kuasa Roh Kudus dengan benar sehingga kuasa Roh Kudus pasti membangun iman orang kristen dengan kepercayaan dan ketentraman hati. Disini kuasa Roh Kudus menyucikan rasio manusia tuk mengecap kebenaran dan hati dikokohkan oleh kebenaran untuk melayani. dimanakah kuasa Roh dalam hidupmu ? hari ini kita banyak sudah tidak peduli dengan iman maupun “ the work of holy spirit “ karena kita tidak rela bercermin di hadapan Firman Tuhan. Mau jadi kristen apa loe ? taklukan dirimu pada Firman dengan mental rela dididik. Kedua, otoritas Allah gak bisa dilepaskan dari janji anugerah Tuhan. Di dalam Kristus, kita melihat penggenapan janji anugerah Tuhan dalam keselamatan. Jika kita tidak melihat Kristus sebagai pengenapan janji anugerah Tuhan maka kita pasti memposisikan diri sama seperti orang yahudi hari ini yang masih menunggu mesias, padahal Mesias adalah Kristus. Kasihan sekali ! Ketiga, otoritas Allah = absolute. Otoritas Allah adalah haknya untuk mengatakan kepada ciptaan-Nya apa yang mereka harus kerjakan. Saat Allah berkata kepada Musa “ let my people go “ – statement itu bukan spekulasi tetapi otoritas Allah yang absolute.


3. Covenant Presence – Meditating His Powerful control over all things

( kemanakah aku dapat pergi menjauhi roh-Mu Tuhan – psalm 139:7 ). Allah bersama-sama dengan umat-Nya. Seringkali kita tidak melihat Allah hadir karena kita kurang setia kepada covenant Allah yang berkata “ Aku adalah Allah dan engkau adalah kaum-Ku “ ( Keluaran 6:7 ).

Inilah konsep lordship yang ada pada para rasul dan para nabi, dalam old testament maupun new testament, semua karena pekerjaan Roh Kudus di dalam God’s control, God’s authorities, God’s Covenant Presence.


Seringkali kita menjadi orang kristen yang kurang berani di dalam memberitakan Injil karena kita kehilangan konsep God’s control, God’s authorities dan God’s Covenant Presence. Kita lebih banyak memerankan diri sebagai “ penonton “ Injil, bukan “ pemberita “ Injil karena kita gak melihat hubungan Injil terhadap others … padahal Paulus memberitakan Injil karena others yang membutuhkan Injil. Oleh karena itu bagaimana dengan saudara ? Maukah saudara melayani bukan hanya dengan kata-kata “ fisik “ tetapi melayani dengan kekuatan Roh Kudus, kepastian yang kokoh untuk jiwa yang butuh Injil. Tuhan memberkati kita semuanya …


Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Shanghai

Wednesday, April 09, 2008

Beauty of His Creation

Dalam Majalah Tempo edisi 13-19 Februari 2006 halaman 16, sebuah rubrik inovasi memberikan informasi mengenai Surga Papua yang Hilang, dimana ditemukan fauna “ baru “ di pegunungan Foja, Memberamo, Papua. Selama sebulan 13 orang peneliti menjelajah ke hutan, mereka menemukan kembali ratusan spesies lama yang dianggap telah punah. 30 spesies reptile, 60 spesies amfibi, 215 spesies burung, 37 spesies mamalia dan 170 spesies kupu-kupu adalah hasil penelitian mereka selama sebulan dan masih banyak kekayaan hayati Memberamo yang belum tersingkap. Setelah membaca rubrik inovasi ini saya belajar melihat Tuhan sebagai Sang Pencipta yang memiliki “ greater creativity “ untuk mendesain ciptaan-Nya dengan “ jutaan desain “ yang tidak bisa digeser oleh zaman, kalaupun punah itu karena kegagalan manusia di dalam menjaga dan mengusahakan dunia. Siapa desainer terbesar hari ini yang bisa membikin desain sebanyak Allah dengan kualitas yang abadi ? no ones !


Sebagai Calvinis, saya mempercayai alam semesta dan segala ciptaan maupun culture adalah general revelation yang memuat pengertian mutlak God as creator dan man as creatures. Sebenarnya saya kurang bisa mengerti dengan pendapat orang Konfusianisme seperti Prof. Tu Wei Ming dari Harvard University, Yen Ching Institue yang tidak menerima pengertian mutlak ini sebagai prinsip dasar dalam kehidupan manusia tetapi terus menekankan “ self-cultivation “ guna “ to cultivate centrality and harmony with throughness “ di dalam “ Process of Learning “. Tidak heran jika Konfusianisme terus menekankan “ Chung Yung “ dalam definisi “ what heaven impact to man is called human nature, to follow human nature is called the way, cultivating the way is called teaching “. Dimana Tu wei ming lebih menyukai metode “ interpretive “ ketimbang kekristenan yang “ exegetical “ karena Tu wei ming menganggap exegetical itu bermain di dalam kata-kata “ language game “. Ia begitu enjoyed di dalam prinsip-prinsip humanis dari paham Konfusianisme yang digumulinya setiap hari sehingga setiap studi, observasinya menjadi kumpulan prinsip-prinsip yang dilanggengkan dan diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Memang tidak heran, jika Konfusianisme begitu kelihatan agung karena setiap prinsipnya seakan-akan begitu “ down to earth “ dan selaras harmoni seperti alam yang ditekankan juga oleh Lao Tze. Secara humanitas, ada keagungan alam semesta yang memberikan “ pembelajaran “ kepada manusia untuk hidup bermasyarakat maupun hidup berbakti kepada Negara serta setia memegang Mandat Surga yang diberikan oleh Langit ( unknown ).



Bagaimana dengan kekristenan ? Justru wahyu umum memberikan “ kelimpahan “ kepada manusia untuk melihat keindahan karya Tuhan dan tidak bisa memungkiri bahwa di atas semua karya alam semesta, designernya adalah Tuhan sendiri. Tidak seorangpun dapat memungkiri Allah tidak ada, bahkan orang atheist berusaha melarikan diri dari pengetahuan tentang Allah sehingga mereka menipu dirinya seakan-akan Tuhan itu tidak ada padahal mereka lupa bahwa dirinya bisa exist dalam dunia ini karena Tuhan. Inilah kebodohan manusia yang mendukakan hati Tuhan ! banyak orang meminta bukti akan kehadiran Tuhan padahal setiap yang manusia nikmati adalah karya Tuhan yang Maha hadir tetapi kebebalan manusialah yang menyebabkan Tuhan cenderung dilupakan oleh manusia. Dasar ! wahyu umum sudah cukup menyatakan eksistensi Tuhan tetapi Tuhan memberikan wahyu khusus kepada manusia untuk dapat melihat keindahan karya-Nya di dalam keakuratan yang tepat yaitu melalui Firman yang menjadi daging yaitu Yesus Kristus yang menjadi satu-satunya message dalam Alkitab sebagai Firman Tuhan. Oleh karena itu keindahan ciptaan Tuhan lebih tajam dilihat dari perspektif Tuhan yang akurat dari sumber yang khusus yaitu Alkitab sebagai Firman Tuhan yang memberikan pengharapan kepada manusia untuk dapat menerima kehadiran-Nya di dalam ciptaan dan di dalam jiwa manusia yang berdosa yang membutuhkan penebusan dosa dan pengharapan hidup yang kekal yaitu di dalam Yesus Kristus, satu-satunya Allah yang menjadi manusia untuk rela mati menyatakan keindahan hidup berdamai dengan Allah dan menyatakan kemenangan bersama-Nya dan orang-orang kudus-Nya menikmati hidup kekal yang indah – new creation !



Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Xiamen, Fukien

Arti sebuah pengorbanan nyawa

Sebuah berita duka muncul dari televisi Guangzhou tempat saya tinggal yaitu brother chow, seorang calon serdadu komunis yang meninggal dunia bukan karena sakit penyakit, kecelakaan maupun menerima kutukan sang dewa. Di Beijing, Ia bersama temannya menolong anak-anak yang sedang bermain di atas sungai es yang meleleh. Mereka menolong anak-anak tapi anak-anak selamat, brother chow meninggal di tempat karena kedinginan. Angkatan darat mengangkatnya sebagai “ hero “ yang telah menyelamatkan jiwa manusia, tidak sedikit mereka datang ke tempat peringatan jasanya dengan derasnya air mata di wajah mereka sambil suara yang terisak-isak menahan tangisan. Belum lagi, papa, mama brother chow yang histeris menangis karena 2 tahun tidak melihat anaknya, eh dirinya telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Ketika anak-anak yang diselamatkan oleh brother chow bersama dengan orang tuanya menemui orang tua brother chow, hanya satu vocabulary yang keluar dari mulut mereka yaitu “ I am Sorry “. Melihat jasa brother chow, kota Beijing memperingati hari kepahlawannya dan kota kelahirannya, brother dianggap sebagai pahlawan berjasa bagi “ people rebuplic of china “.

Scene 30 menit ini membuat saya tertegun atas arti sebuah pengorbanan seorang serdadu yang rela mengambil resiko demi menyelamatkan jiwa generasi penerus bangsa. Tapi tiba-tiba saya tersentak dengan sebuah pertanyaan dari hati kecilku, jika pengorbanan brother chow membuatmu tertegun, bagaimana dengan pengorbanan Yesus bagimu, anak malang ? oh gosh ! saya gelisah dengan pertanyaan sederhana dari suara hatiku ! seakan-akan saya diperhadapkan di sebuah mahkamah agung yang memberikan dakwaan kepada saya mengenai respon saya terhadap brother chow dan kepada Yesus. Saya bisa tertegun dengan kisah brother chow karena saya melihat ada “ evidence “ yang memberikan saya “ jaminan “ bahwa ketertegunan saya memiliki bukti nyata yang terekam di dalam tayangan documenter angkatan darat tahun 2008, sedangkan Yesus, saya menyadari bahwa mungkin saya hanya tertegun dengan “ stories “ yang memberikan “ redemption “ kepada diri saya sehingga karena gak ada yang mati buat saya maka Yesus, oklah ! atau jangan-jangan saya hanya mempercayai pengorbanan Kristus hanyalah sebuah pengorbanan yang diberikan Allah kepada kita sebagai “ door prize “ sehingga kita seperti menerima tiket pesawat untuk terbang ke sebuah tempat yang namanya “ Heaven “. Atau jangan-jangan saya merasa Yesus hanyalah legenda yang memberikan “ pendidikan moral “ kepada kita untuk belajar mengorbankan diri untuk orang lain.

Mengapa aku lebih mudah tertegun atas pengorbanan brother chow ketimbang pengorbanan Kristus ? saya merenungkan betapa sulitnya manusia memahami pengorbanan Kristus karena diri-Nya adalah Allah yang rela turun menjadi manusia dan menyerahkan nyawanya mati di atas kayu salib demi menebus dosa saudara dan saya dan ia bangkit dari kematian memberikan pengharapan kepada saudara dan saya serta ia naik ke surga dan akan datang kedua kalinya. Di MRII Shanghai saya ada putarkan scene singkat via dolorosa dari Passion of the Christ dan seorang anak kecil “ Winelson “ masuk tanpa sepengetahuan saya dan melihat penderitaan Kristus. Ia bisa begitu tertegun. Waktu saya tahu dia sedang melihatnya, saya matikan. Tetapi winelson berkata “ I wanna see Jesus “. Oh God. Dimanakah teriakan kita ? kita sudah hidup terlalu sibuk sehingga kehilangan keingintahuan kita untuk melihat Yesus. Tetapi saya belajar sesuatu dari semuanya ini, justru saya diberkati Tuhan karena saya terlalu “ stupid “ untuk memahami pengorbanan Kristus sehingga Tuhan memberikan “ ilustrasi “ yang menyentuh diriku untuk tertegun sehingga aku belajar menyadari di dalam “ faith “ bahwa pengorbanan Kristus melampaui apa yang dikerjakan oleh brother chow. Puji Tuhan! Bagaimana dengan saudara ? sudahkah engkau realized atas “ ilustrasi-ilustrasi “ yang Tuhan berikan kepadamu ? sudahkah kau melihat pengorbanan-Nya dalam iman?

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Guangzhou, China

On Forgiveness

Tema Forgiveness kurang popular di dalam dunia philosophy karena banyak asumsi-asumsi akademik yang mengatakan bahwa tema tersebut lebih bersifat theological. Akan tetapi beberapa filsuf postmodern memilih tema “ theological “ ini di dalam pergulatan pemikiran mereka. Dalam era postmodern ini, kita banyak mendengar nama Jacques Derrida, Emmanuel Levinas maupun Paul Ricouer, akan tetapi kita jarang mendengar nama Vladimir Jankelevitch. Saya percaya Vladimir Jankelevitch adalah orang besar yang mempengaruhi konsep Forgiveness dari Derrida. Vladimir Jankelevitch mengatakan “ forgiveness is not an attitude, mindset, ideology but is just event. It happen once and then it is gone “. Hanya dua kondisi manusia bisa mengampuni : pertama, miracle dan extra juridical nature of forgiveness. Menurut Vladimir Janekelevitch, forgiveness forgives that which cannot be excused or forgotten. Luar biasa ! tentu saja Vladimir memahami hal ini di dalam temporality dan process becoming dimana guilty person gak berubah tetapi relasi saya dengan guilty person berubah. Relasi yang berubah ini merupakan transfigures hatred into love. Disini Vladimir mempercayai forgiveness itu spontan, supernatural dan gracious acts. There’s no suck things as an unforgiveable.

Jacques Derrida menyatakan isi hati Vladimir Jankelevitch di dalam konsep forgivenessnya – Pertama, to forgive is to welcome offence and to absorb a violation from another. Forgiveness forgive only the unforgiveable. Derrida mengatakan jika kita hanya memberikan forgiveness kepada mereka yang forgiveable maka kita adalah orang Farisi yang hanya mengasihi teman-teman mereka sendiri di dalam Matius pasal 5. Oh gosh ! orang Farisi melayani Tuhan dan relasi dengan orang lain kotor. Ingatlah … we are called to love our enemies, to forgive the unforgiveable ! saya betul-betul terkesima dengan orang-orang ini ! Kedua, Forgiveness itu bersifat unconditional. Biasanya forgiveness diberikan kalau ada “ economic logic – ada balas jasa / profit maka menerima pengampunan “ atau “ logic of exchange – barter keperluan orang yang diampuni dengan yang memberikan pengampunan “. Itu namanya bukan unconditional ! luar biasa ! Derrida bahkan menegaskan konsep forgiveness yang unconditional juga berlaku untuk mengampuni setan ! benar gak ?

Jika saudara mengatakan benar maka saudara telah menjadi musuh Allah. Karena pengampunan yang diberikan Tuhan adalah terbatas. Bagi siapakah Kristus mati ? Kristus mati bagi semua orang ( arminian ) atau Kristus mati bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya ( calvinis ). Arminian mendasarkan pengampunan Tuhan secara universal ( 1 Yohanes 2:2 dan II Korintus 5:14 ) dan Calvinis mendasaran pengampunan Tuhan secara terbatas ( Matius 1:21, Yohanes 10:15, Yohanes 10:26, Yohanes 15:13, Kisah Para Rasul 20:28 dan Efesus 5:25 ). Sebagai Calvinis, saya mempercayai pengampunan Tuhan hanya didasarkan pada penebusan Kristus yang tiada terbatas dalam kemampuan-Nya, sempurna di dalam rencana-Nya dan tidak terbatas nilai-Nya tetapi secara jangkauannya terbatas karena Kristus menghapuskan dosa orang-orang yang dikasihi Allah dengan kasih khusus sejak kekekalan. Mungkin kita iseng memikirkan kenapa ya setan kok gak diampuni ? kalo diampuni nanti kamu gak punya penghargaan terhadap pengampunan yang Tuhan berikan kepada kamu. Karena manusia adalah makhluk yang paling suka membandingkan satu dengan lainnya. Oleh karena itu di dalam kekristenan, pengampunan Tuhan diberikan secara “ universal “ kepada semua anak-anak Tuhan yang mempercayai Yesus Kristus sebagai satu-satunya juruselamat dunia yang lahir, mati, bangkit dari kematian, naik surga dan akan datang kedua kali-Nya “ limited “.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Causewaybay, Hongkong

Tuesday, March 18, 2008

The Fulfillment of His Promise

Sejak jatuh ke dalam dosa, pengetahuan manusia mengenai Allah dan relasi manusia dengan Allah mengalami “ total depravity “ sehingga terpecah-pecah bagai gambar puzzle yang belum terbentuk alias tercerai berai. Maka tidak ada seorangpun manusia yang baik, semuanya telah jatuh ke dalam dosa ( Roma 3 ), maka Tuhan memberikan “ Janji Messianic “ kepada manusia, dimulai dari Adam – Hawa, dari keturunan perempuan ini Ia akan meremukkan kaki tulang dan muka ular, siapakah Dia ?, Yesaya 7: 14 dimana seorang perawan akan memiliki seorang anak di Betlehem dan dinamainya Immanuel, diulang kembali oleh nabi mikha ( mikha 15:1-2 ). Siapakah Anak itu ?

Prof. Walter Bruegemann mengatakan “ janji messianic “ tersebut memiliki hubungan “ covenant “ dengan kaum pilihan-Nya yang membangun kehidupan kaum-Nya, dunia dan masa depan kaum-Nya di atas satu nama yaitu Yesus, Anak Allah. Sayang sekali, hari ini promise of God menjadi “ problematic ‘ karena sampai hari ini jewish masih menunggu “ messiah “ karena mereka belum dapat menerima realita sejarah bahwa Yesus = Mesias yang diutus Allah sebagai pengenap janji keselamatan-Nya. Jika demikian, apa yang menjadi “ messages “ orang kristen di dalam pengenapan janji-Nya?


Di dalam pengenapan Janji-Nya, kita mempercayai bahwa Janji Tuhan tidak dapat dilepaskan dari :


Pertama, GOSPEL. Dari Perjanjian Lama, ada benang merah dari kitab Kejadian – Maleakhi di dalam janji Tuhan dengan “ Gospel “ yang dituliskan oleh Rasul Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan message di dalamnya tidak mengalami kontradiksi tetapi justru semakin lengkap, padahal beda zaman, beda setting dan context, beda figure-figur sejarah – tetapi justru tetap berada di atas satu alur yang jelas yaitu : Messiah. Kenapa bisa begini ? bukan manusia yang setia memproklamasikan Janji-Nya tetapi justru Allah setia di dalam memproklamasikan janji-Nya !


Kedua, Work of Grace – Salvation. Janji Tuhan tidak bisa dilepaskan dari pekerjaan Anugerah-Nya karena manusia tidak mungkin dapat kembali kepada Sang Pencipta karena dosa manusia adalah kekejian bagi Allah, maka pengenapan janji-Nya diberikan kepada manusia agar manusia dapat memahami bahwa hanya karena anugerah Tuhan sahaja maka manusia dapat menikmati keselamatan dan kembali kepada Dia.


Ketiga, Is In Christ – The Absolute Necessity. Janji Tuhan tidak bisa dilepaskan dari Kristus karena hanya Kristus – representative yang dipakai Allah untuk menyatakan keselamatan bagi manusia, oleh karena itu nama Kristus = exclusive. Hanya di dalam Kristus, ada jalan, kebenaran dan kehidupan. Jika kita kembali kepada “ Gospel “ maka kita melihat bahwa di saat Yesus lahir, mati dan bangkit dari kematian – ada pekerjaan “ mystical “ yang Tuhan kerjakan untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dikasihi-Nya dan diperkenan-Nya.


Keempat, Spiritual seeds born of the promise ( Galatia 3:16 ). Janji Tuhan kepada Abraham bukan diberikan kepada keturunan orang-orang Abraham ( jamak ) tetapi anak keturunan Abraham ( tunggal ). Siapakah anak keturunan Abraham ( tunggal ) itu ? Rasul Paulus menyatakan, Dialah Yesus Kristus ! Abraham percaya kepada janji Tuhan maka Ia diberkati. Bagaimana dengan saudara ?


Kelima, Unto Your children – disini janji Tuhan bukan stag tetapi juga dibutuhkan oleh generasi kita dan generasi masa depan. Kristus dibutuhkan oleh segala zaman, baik dari zaman perjanjian lama, perjanjian baru sampai abad 21 hingga Maranatha. Jika demikian, Yesus mati bagi dosa siapa ? orang-orang berdosa di segala zaman. Kelihatannya “ non-sense “ tetapi justru disinilah kita seharusnya menilai Yesus sebagai “ Allah yang sanggup “ menyatakan keselamatan di segala zaman baik yang sudah lewat maupun yang akan terjadi karena Kristus adalah “ beyond space and time “. Jadi jangan kita mutlakan kesempitan logika kita yang telah terkontaminasi dengan dosa tetapi taat kepada logika Allah yang digambarkan di dalam wahyu khusus yaitu Firman Tuhan yang menyatakan bahwa hanya Yesus, satu-satunya jalan, kebenaran dan kehidupan bagi manusia untuk kembali kepada Bapa di Sorga.


Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Beijing, China

Friday, March 14, 2008

Redemptive Spirituality

Di dalam Yesus, Allah bekerja di dalam penderitaan, kejahatan dan mengubahnya menjadi kebaikan untuk semua. Sebenarnya dari manakah penderitaan dan kejahatan ? darimanakah asal mula dosa ? adalah misteri ( ulangan 29:29 ) tetapi realita yang kita dapat lihat bahwa semua karena “ self “ yang menyebabkan diri kita jatuh ke dalam dosa. Kita kembali kepada Alkitab, tujuan utama Alkitab bukan memperjelaskan asal mula dosa tetapi bagaimana Allah bekerja di dalam penderitaan dan mengubahnya menjadi kebaikan dan sukacita. Di dalam Christian Philosophy, Agustinus memiliki pandangan bahwa penderitaan memperindah panorama kehidupan. Kalau demikian, yang buruk itu adalah bagian dari sebuah keteraturan yang lebih tinggi walaupun kita tidak selalu dapat memahami dan melihatnya. Agustinus mempercayai penderitaan yang kita alami di dunia ini memiliki makna sebab dia sudah direncanakan dank arena dalam perencanaan itu dia akan berguna bagi sesuatu yang belum kita kenal seluruhnya. Agustinus menuliskan dalam “ De Gratia et Libero Arbitrio “ yang berbunyi demikian : “ Allah tidak menghendaki dan mencintai keburukan, Namun Dia mempunyai kesanggupan untuk mengangkat keburukan itu dan memadukannya ke dalam keteraturan-Nya. Penderitaan tidak terjadi atas keputusan Allah. Baru ketika sudah ada keburukan, Allah memasukkan-Nya ke dalam tatanan-Nya. Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk segala sesuatu yang dapat berdosa ; namun bukan supaya mereka berdosa, melainkan supaya mereka memperindah universum, entahkah dengan atau tanpa dosa “

Bagaimana, Yusuf anak Yakub yang dijual oleh saudara-saudaranya ke saudagar mesir selama 17 tahun, eh malah jadi pemimpin muda di Mesir. Yusuf mempercayai sebuah doktrin dalam Kejadian 50:20 bahw manusia dapat mereka-reka yang jahat tetapi Tuhan mereka-reka yang baik. Kenapa Yusuf dibuang ? untuk diselamatkan ! Oleh karena itu Agustinus benar di dalam menekankan Allah pemilik hak cipta Ilahi bagi keburukan tetapi ia menekankan kesanggupan Allah untuk menggunakan keburukan yang diproduksi manusia menjadi sesuatu yang berguna.


Yesus, dihujat dan dipermalukan karena kesalahan-Nya. Tidak heran, Yesaya 53 mengambarkan orang kira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Di dalam kisah 2:23, Ia diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya. Anak Allah mengalami suffering untuk apa ? hancurkan suffering ( Yesaya 53:5 ) – Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tema salvation muncul dari penderitaan Kristus yang memberikan pengharapan kepada manusia untuk mengambil keputusan mengikuti dia, meski hidup menderita ada pengharapan yang memberikan “ secure “. Puji Tuhan ! Sebab Tuhan baik, bahwasanya sampai selama-lamanya …


Selamat Paskah

Daniel Santoso

Beijing, China

Thursday, March 13, 2008

From Grief To Glory

Siapakah Yesus Kristus ? hari ini banyak orang memiliki pengetahuan tentang Yesus Kristus ( Gnosis ) tetapi mereka tidak memiliki pengenalan terhadap Yesus Kristus ( Epignosis ). Oleh karena itu tidak heran jika banyak orang memakai Yesus tetapi mereka hanyalah kolektor teori-teori Yesus tapi tidak mengenal siapakah Yesus itu sebenarnya. Seperti kalian sedang beli bukunya J.K Rowling, kalian tahu imajinasi dari J.K Rowling tapi apakah engkau mengenal Rowling sebenarnya ? bagaimana dengan kita ? mengetahui Kristus atau mengenal Kristus ? Gnosis atau Epignosis ? kalo hanya gnosis maka kita hanya jadi “ scholar “ yang punya pengetahuan tentang Kristus tetapi tidak memiliki relasi yang intim dengan Yesus. Tetapi Epignosis – saya mengetahui Kristus dan saya mengenal Kristus maka saya memiliki relasi dengan Kristus, selain pengetahuan mengenai Kristus. Apakah relasi dengan Kristus berharga ?

Pertama, banyak orang kurang menghargai Kristus karena di dalam akhir hidupnya Yesus “ mati konyol “ seperti nabi-nabi dan diikuti oleh rasul-rasul-Nya. Mereka menganggap Yesus bukan memberikan “ kemerdekaan “ kepada orang kristen tetapi memberikan “ beban psikologis “. Padahal Ia menyerahkan dirinya untuk manusia karena kasih-Nya kepada manusia sehingga ia rela menerima “ penderitaan “ yang kelihatan konyol tersebut.

Kedua, banyak orang kurang mengerti signifikansi Yesus sebagai juruselamat dunia, karena “ covenant “ yang suci telah diinterpretasikan ulang oleh manusia sesuai dengan standar manusia, bukan standar Tuhan sehingga konsep covenant tentang Mesias menjadi kabur. Yesus adalah Allah yang rela turun ke dalam dunia untuk mengantikan dosa-dosa manusia agar manusia dapat menikmati kedamaian yang diberikan oleh Allah Bapa. Hanya Kristus satu-satunya jalan, kebenaran dan kehidupan yang sejati bagi manusia. Justru Kristus memiliki signifikansi penting dalam hidup kita. Adakah relasi itu di dalam hatimu ?

Ketiga, banyak orang menganggap Yesus tidak berharga karena kisah hidupnya yang penuh “ suffering “ dan “ violence “. Bukankah hidup manusia sudah penuh dengan suffering ? jangan-jangan kalo ikut Yesus, justru hidup saya malah tambah suffer. Akibatnya banyak orang tidak rela mengikuti Yesus karena low profit bahkan mungkin no profit yang dapat mereka dapat. padahal masalah low profit itu hanyalah persoalan secondary tapi yang paling penting adalah keselamatan. Dalam Yes 53, “ Oleh bilur-bilurnya, engkau sembuh “. Ini bukan kalimat sembarangan. Saya percaya betul kalimat ini penuh kuasa di dalam keselamatan / salvation. Dimana Darah-Nya mengalir menyembuhkan hidup kita sehingga kita dapat menikmati “ kesembuhan “ untuk menikmati Tuhan dan memuliakan Tuhan.

Terlintas sebuah pertanyaan classic di dalam benakku, mengapa Kristus rela mati bagi dosa manusia ?
1 Petrus 2:24.
Mengapa Kristus rela mati bagi dosa saya ?
Pertama, supaya kita mati. Ini reason yang sangat sulit untuk saya mengerti karena semestinya kalo Tuhan rela mati bagi dosa saya maka saya mestinya terluput dari kematian tetapi kok malah kristus mati supaya saya mati. Benar-benar gak masuk akal ! untuk memahami hal ini saya harus kembali merefleksikan diri saya bahwa saya manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan after death saya pasti masuk neraka. Maka Kristus mati supaya kita mati bersama dengan Kristus maka bersama dengan Kristus, akan tetapi Kenapa harus mati bersama Kristus ?
Kedua, supaya kita hidup. Bersama Kristus saya mati terhadap dosa dan saya hidup di dalam Kristus, hidup yang bukan dikendalikan oleh dosa tetapi kebenaran Tuhan dan kita hidup untuk kebenaran. Disini Kristus menjadi hal yang paling “ berharga “ di dalam diri kita. Dari penderitaan Kristus justru menyatakan kemuliaan Kristus. Puji Tuhan ! Hanya di dalam Kristus ada kemuliaan, maukah engkau menerima-Nya ? Selamat Paskah !

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Friday, February 15, 2008

The True Love and Broken Valentine in February

Valentine, sebuah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh pangeran-pangeran cinta dari ukuran XS, S, M,L, XL, XXL, XXXL sampai XXXXL untuk mencurahkan isi hatinya kepada putri-putri yang beragam kecantikan maupun sizenya juga. Di mana hotel-hotel mewah mengadakan “ valentine party “ bagi kaum muda dengan entertainment romantic disertai alunan lagu-lagu mellow artis ibukota tuk menghayati sebuah makna kasih di antara dunia insan manusia yang berbeda di atas meja makan yang “ berbunga mawar “. Tidak heran kalo vocabulary “ love “ mendapat rating paling tinggi di bulan Februari ini karena itulah yang diingini manusia dalam sisa hidupnya ( secara general ). Tetapi pertanyaannya apakah “ message utama “ dari Valentine ? Jika kita kembali kepada sejarah legenda Athena maka “ love “ dan “ prosperity “ tema besar yang didengungkan oleh Dewa Lupercus. Pemuja dewa Lupercus memberikan korban kambing kepadanya lalu minum anggur di kuil lalu keluar ke jalan-jalan menyentuhkan anggur tersebut pada perempuan-perempuan yang supaya dapat jodoh ataupun dapat melahirkan anak. Ada juga undian bagi laki-laki ambil untuk membawa pulang seorang perempuan yang dijadikan istri selama satu tahun ( hari pemujaan berikutnya ). Bagaimana gereja menanggapi hal ini ?

Jelas, Gereja tidak menyetujui aktivitas-aktivitas bejat Dewa Lupercus karena mereka telah menghujat kesakralan “ love “ dan “ marriage “ dan melakukan re-reading terhadap “ love “ yang diinterpretasi sebagai “ pergaulan bebas alias kumpul kebo “. Menurut ensklopedia, seorang guru gnostik bernama Valentinus membela gereja karena dirinya menghargai makna “ love – kasih dan penebusan dosa “ dan “ marriage – tempat pelaminan yang kudus “. Kisahnya seringkali membawa kita terhanyut ke dalam perjuangan cinta Valentinus terhadap anak seorang penjaga penjara yang memenjarakanya karena membela “ love “ dan “ marriage “ sejati. Di saat Kaisar Claudius melarang tentaranya untuk menikahi calon pendampingi mereka dengan alasan “ biar tetap jantan, gak lembek “ sehingga valentinus tidak setuju terhadap Kaisar Claudius menikahkan mereka secara diam-diam sehingga ditangkap dan dihukum mati.

Kesimpulan yang dapat kita adopsi adalah memperjuangkan “ the true meaning “ dari “ love “ dan “ marriage “. Akan tetapi, alangkah sayangnya, realitas hari valentine dewasa ini mengulangi ritual kebejatan yang sama dengan legenda Dewa Lupercus. Valentine menjadi “ celebration “ untuk mengumbar “ desire “ tanpa kontrol untuk bergaul bebas dan liar di dalam seksualitas maupun pesta pora demi kesenangan tubuh fisikal dalam menikmati “ hedonism ala epicurus “ sekuat tenaganya. Inikah “ love “ yang sebenarnya ? inikah “ celebration of valentine “ yang manusia banggakan selama ini ? Jika demikian, manusia betul-betul kasihan sekali karena :

1. Tidak ada lagi takut kepada Tuhan atas “ Love “ dan “ Marriage “. Manusia anggap Tuhan jauh di sana padahal Tuhan merekam setiap aktivitas maupun pemikiran bejat mereka menindas “ Love “ and “ Marriage “.

2. Matinya hati nurani karena manusia menindasnya dengan “ Desire “. Violence diciptakan oleh manusia sendiri untuk membuktikan dirinya “ bebas “. Kasihan sekali !

3. Liar alias kehilangan self control atas seonggokan daging yang ada pada manusia. Disini manusia bukan Tuan atas seonggokan daging tapi seonggokan dagingnya menjadi tuan atas manusia. Mengerikan sekali !

4. Membuka diri kepada konsep-konsep kafir yang dianggap memberikan kebebasan kepada manusia padahal konsep tersebut menghancurkan manusia menjadi “ binatang “ alias barbar, bukan manusia. Dalam hal ini islam sangat selektif, melarang valentine ! hanya akui Adha dan Israj Miraj ! bagaimana dengan kekristenan ? perjuangkan “ love “ dan “ marriage “ yang “ sacred “ dalam hidup manusia karena semuanya itu memuliakan Nama-Nya.

Keep “ remind “ us

Ev. Daniel Santoso

Beijing, People Rebuplic of China

Tuesday, February 12, 2008

Visi dan Pemimpin















Se
luruh siaran berita internasional terkini seakan didominasi oleh sebuah fenomena penting dalam sejarah Amerika Serikat yaitu kampanye pemilihan calon presiden. Betapa tidak, para calon-calon menawarkan “ visi-visi dagangannya “ dengan “ cita rasa yang berlainan “. Hillary Clinton memberikan speech yang cukup manis dan anggun seperti “ blueberry cheese cake “. Obama menekankan “ Stand for Change “ dalam orasinya yang menegaskan perubahan " taste " seperti “ nano nano candy “. McCain dan Huckabee, dua calon yang juga unik karena saling memberikan penilaian yang positif kepada sesama calon Rebuplican dengan istilah “ hero, decency, integrity “ sehingga kedengarannya harmonis nan “ nikmat “ seperti “ milk and tea “ dan calon lainnya. Meskipun mereka berbeda-beda, tetapi kesamaan mereka masing-masing adalah mereka sedang menawarkan dirinya sebagai calon pemimpin masa depan dari United States of America. Well, melihat fenomenal tersebut saya hanya mau merenungkan secara praktis makna seorang pemimpin. Dimanakah makna seorang pemimpin ? Tentu saja kita harus memfokuskan diri kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya pemimpin yang “ menerobos konsep kepemimpinan humanitas “. Contoh : Yesus mengajarkan bahwa Anda memberi sesuatu bukan untuk harapan menerima imbalan karena anda telah melakukan hal yang baik. ( rugi donk ) Contoh Kedua, Mau jadi yang terbesar ? Jadilah pelayan bagi orang lain. Justru Yesus mengajarkan “ servantship “ lebih akurat dan membongkar asumsi pemimpin dewasa ini yang “ dicuci otak “ dalam serum “ superman “, “ executive “, “ superstar “, “ academic “. Jika demikian apa yang paling dibutuhkan oleh pemimpin selain dukungan massa, dana, doa ? well, pemimpin membutuhkan teladan iman yang kuat, gigih tapi rendah hati mengikuti spedo yang Tuhan berikan karena hanya di dalam Firman-Nya ada wahyu yang membawa rakyat “ tidak liar “ ( Amsal 29:18 ). Back to His Word !

FirmanTuhan memberikan “ teladan “, “ prinsip “, “ strategi “, “ solusi “ yang kaku sekaligus dinamis serta relevan sepanjang zaman. Tetapi sayang sekali, banyak pemimpin-pemimpin dalam sejarah dunia ini kehilangan “ antusias “ menggali kelimpahan Firman karena mereka menutup mata mereka terhadap “ iman “. Tidak sedikit mereka menganggap iman sebagai mimpi orang-orang sakit jiwa nan takut mati ( neurosis ). Ada juga pemimpin kristen tapi lebih mencintai buku-buku tentang kepemimpinan sekuler ketimbang Alkitabnya sendiri sehingga mindsetnya cenderung mengarah kepada sekuler. Jika demikian apa yang dibutuhkan para pemimpin dunia ini ?


Visi. Sebuah istilah sacral yang cukup marak diucapkan oleh mulut-mulut manusia yang suka “ cut and paste “ tapi kehilangan “ meaning “ sehingga kelihatan memiliki “ word “ tetapi “ without understanding “, hasilnya “ without application “ . mengerikan sekali! Seringkali kita mendengar pemimpin yang memaparkan visi misinya dari hasil studi, observasi maupun survey dan menurut saya jelas cukup bertanggungjawab tetapi mari kita kembali merenungkan, sebenarnya visi itu milik siapa ? Visi adalah milik Tuhan dan Ia memberikan visi agar manusia mengusahakan dan menggarap ladang pekerjaan tuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia. Jika demikian, hasil studi, observasi, survey para pemimpin yang katanya “ bervisi “ mengadopsi originalitas Visi ? Saya mempercayai Visi harus kembali kepada Allah sendiri. Problemnya, manusia tidak mungkin dapat mencerna karena keberdosaan manusia yang “ memecahbelahkan “ visi. Dalam Reformed Theology, Visi gak dapat dilepaskan dari Allah Trinitas. Visi tidak dapat dilepaskan dari Allah Bapa yang menciptakan visi, Visi tidak dapat dilepaskan dari Allah Yesus Kristus yang menebus visi, Visi tidak dapat dilepaskan dari Allah Roh Kudus yang memimpin manusia tuk mengenal, mengerti, menjalankan visi. Oleh karena itu Visi tidak dapat dilepaskan dari “ THEOS - God “ dan “ LOGOS – His Truth “. Perspektif ini akan membawa saudara melihat kesakralan visi yang semestinya ada di dalam diri para pemimpin-pemimpin dunia abad 21 dan mereka belajar takut kepada Tuhan karena disanalah awal segala pengetahuan. Oleh karena itu saya menyukai sebuah definisi visi dari seorang tokoh bernama Bill Shore “ visi adalah cathedral di dalam diri “. Ada prinsip, aturan, hukum, kebebasan - kesakralan di dalam dirinya. tapi STOP ! Jika perspektif di jalankan di semua bidang, bukankah ini usaha kristenisasi terhadap “ others “ ? apa bedanya dengan gerakan islam fundamentalis yang punya “ visi “ mengulingkan Rebuplik Indonesia sebagai Negara Islam ? Sekali lagi, Visi Tuhan itu kaku tetapi dinamis. Secara prinsip, Visi Tuhan harus ditegaskan. kalo visi yang berdosa, mau pelakunya pribumi, bule, Chinese,blasteran, islam, kristen,hindu, budha, katolik, kaya, menengah, miskin … tetap harus dikritik ! tetapi secara relasi, kita sama-sama manusia yang berdosa yang sama-sama membutuhkan belas kasihan-Nya maka saling menghormati harus ada tetapi bukan berarti tidak boleh memproklamasikan Injil karena memproklamasikan Injil adalah “ vocation “ setiap orang kristen ( Matius 28:19-20 ). Jangan takut ! Jalankan panggilan kita masing-masing sesuai dengan Visi Tuhan.


Terus meraba Visi-Nya

Ev. Daniel Santoso

Beijing, People Rebuplic of China

Thursday, February 07, 2008

Kristus atau Manunggaling Kawula Gusti ?

Sila Pertama Pancasila “ Ketuhanan yang Maha Esa “ dibangun dari sebuah falsafah jawa “ Manunggaling Kawula Gusti “ yang seringkali dipakai dalam “ mystic – religio spiritual “ maupun dalam “ sosio-kultural “. Menurut orang Jawa, Allah tidak dapat diwujudkan ( tan kena kinayangapa ). Jika manusia berusaha mewujudkan Allah pastilah itu bukan gambaran hakekat Tuhan yang sepenuhnya seperti ibarat orang buta meraba gajah. Pengertian Manunggaling Kawula Gusti memberikan prinsip-prinsip yang menanamkan bibit “ pluralismd “ yaitu tidak banyak berdebat, tidak menganggap diri paling benar dan semuanya salah tetapi tidak agnostic. Jadi Allah = Coram Deo ( pinjam istilah Luther ) dan agama-agama hanyalah bayang-bayang gambaran tentang Allah. Lebih jelasnya, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan pengajaran bahwa :

1. Tuhan itu satu dan ada di mana-mana, disembah manusia dalam tata caranya masing-masing.

2. Tuhan ada dalam diri manusia tetapi jangan anggap diri Tuhan.

3. Tuhan itu jauh dekat tetapi tidak bersentuhan.

4. Tuhan itu abadi. Awal dan Akhir adalah Tuhan.

5. Tuhan dapat berwujud tetapi perwujudan bukanlah Tuhan.


Jika secara logika, pemaparan sila pertama ini adalah indah di dalam kesatuan menyembah Allah yang esa, tetapi perbedaan wujud antar agama tidak dapat kita sepelekan untuk menyatakan kesamaan ada di dalamnya karena justru perbedaan demi perbedaan yang absolute tidak dapat kita kompromikan.

Pertama, Allah yang dipahami oleh orang kristen adalah Allah yang hidup, Allah yang berbicara, Allah yang mampu memelihara perkataan-Nya dan Allah yang tidak mungkin membiarkan perkataan-Nya diselewengkan oleh manusia fana. Keempat standar ini menjamin kepercayaan adanya kitab yang murni , yang suci , yang dipelihara oleh Tuhan sampai pada kekekalan yaitu Kitab Suci.

Kedua, Allah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus datang ke dunia fana untuk mati menebus dosa manusia, konsep inkarnasi dan penebusan hanya ada di dalam kekristenan, maka bagaimana mungkin kita dapat menyatakan agama kristen adalah sama kualitasnya dengan agama-agama yang lain ? Yesus satu-satunya Allah dan Manusia yang rela mati untuk menebus dosa manusia … that’s the essence !

Ketiga, Setiap statement-statement yang diucapkan Yesus adalah statement yang “ exclusive “ misalnya “ Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun dapat sampai kepada Bapa, jika tidak melalui Aku “. Statement satu-satunya hanya ada di tangan Kristus sebagai juruselamat dunia. Bagaimana mungkin saya dapat mengiyakan dengan gampang “ manunggaling kawula Gusti “ ?


Zaman sekarang, Postmodernisme sehidup semati bersama “ relativisme “ untuk menikmati sebuah pengadopsian dari sebuah filsafat perbandingan. Apa itu filsafat perbandingan ? tentu saja filsafat perbandingan sedang berbicara mengenai sebuah aktivitas untuk mengumpulkan info, berspekulasi dalam keterbatasan, menentukan sebuah standar sementara maupun menganalisa sebuah ujian yang mengarah kepada kebijaksanaan dengan membanding-bandingkan para filsuf-filsuf, gerakan demi gerakan maupun buku demi buku dan harapan menemukan kebijaksanaan lebih kompleks dan menyeluruh. Beberapa patokan yang muncul dalam filsafat perbandingan yaitu : filsafat perbandingan itu sendiri adalah patokan alias tiada patokan. Disini ciri-ciri universal bertahta sebagai patokan melalui pemilihan kita sendiri melihat keunikan maupun kenyentrikan sebuah semangat pluralism yang selalu memerlukan “ revision “ baik secara fungsi maupun integrasi. Apakah goal dari filsafat perbandingan ini mulia ? kita memang diperkaya dengan wawasan peradaban, cultural maupun religious life sehingga vocabulary kita semakin “ up to dated “ tetapi hanya sebatas wilayah supplemen, not essence !


Keunikan Kristus jelas melampaui pesan relativisme karya manusia fana, apakah orang kristen berani tegar berdiri memproklamasikan Kristus sebagai satu-satunya juruselamat dunia ? kenapa harus takut ? takut dicap arogan, sombong, anggap diri paling benar, gila ? Kita harus membangun toleransi kepada agama-agama lain di dalam batas suplemen but tidak mencampuradukkannya di dalam essence alias faith. Kenapa harus kaku seperti ini ? Allah sudah mengirim, mengutus, memberikan dan menganugerahkan juruselamat kepada umat manusia dengan segala konsekuensi yang ada hanya bagi kita, manusia berdosa. Siapa yang telah melakukan action paling beresiko ? kita atau Tuhan ? jelas Tuhan ! kembali pada basics dari Reformed Theology on God ; Allah Bapa menyediakan keselamatan, Allah Anak mengenapi keselamatan dan Allah Roh Kudus melaksanakan keselamatan. Jangan takut ! Allah menyertai kita … Allah yang berjanji adalah Allah yang setia. Tuhan adalah Allah yang mengenapkan apa yang sudah dijanjikan-Nya dari zaman ke zaman. So Nikmatilah Anugerah Tuhan di dalam Kristus, beritakan Injil-Nya dengan sukacita-Nya sampai Maranatha.


Ev. Daniel Santoso

Beijing, People Rebuplic of China

Peran Gereja dalam Dunia  Yoh 8:21-29, 30-32 Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan ...