Monday, July 27, 2009

Examine Your Worship 2

Diskusi “Worship” masih terus berlanjut sehingga materi pembicaraan pun semakin meluas. Tidak sedikit para scholars tidak henti-hentinya memberikan argumentasi akademis untuk menginterpretasi tema populer yang klasik ini. Ketika saya masih studi di Reformed Institue, saya berkesempatan membaca buku dari John Macarthur tentang Worship, Pembahasan Worship dari Macarthur sungguh memberikan spiritual insight kepada saya untuk melihat betapa krusialnya ibadah yang benar di hadapan Allah dan betapa kasihannya manusia memberikan ibadah yang tidak diperkenan oleh Allah. Melalui refleksi ini, saya hendak menuangkan spiritual insight tersebut.

Saya mempercayai bahwa worship harus dipahami oleh manusia di dalam totalitas seluruh dimensi kehidupan manusia. Kita tidak dapat mengkotak-kotakan worship hanya di dalam konteks ibadah saja, meskipun included. Pemahaman ini membekas dalam filsafat hidup saya sejak tulisan Nicholas Wolterstroff mengukir statement terbaiknya dalam perenungan pribadi saya mengenai worship yaitu presenting one life to God. Statement Wolterstroff ini kelihatannya sederhana sehingga kita terjebak dalam menganggap statement ini mudah diketahui oleh setiap orang kristen, tetapi realita justru membuktikan bahwa banyak orang kristen justru tidak mengerti dan melaksanakan sebuah aplikasi atas kesederhanaan worship tersebut. Jika demikian, apakah orang kristen dapat menganggap definisi worship dengan mudah? I don't think so. Mungkin respon yang benar adalah kita masuk ke dalam pergumulan spiritual yang kontemplatif dalam mengerti prinsip Firman Tuhan plus kenikmatan penuh sukacita menerima prinsip Firman Tuhan serta melaksanakan Firman Tuhan dengan “full confidience”. Jika demikian, bagaimana saya dapat mengerti worship yang salah dan worship yang benar?

Macarthur memaparkan bahwa ada empat macam konsep worship yang tidak dapat diterima Allah yaitu:

1. Penyembahan kepada Allah palsu. (Keluaran 34:14). Dalam Hukum Taurat Musa, Perintah 1 tertulis “Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku”. Di luar Allah, semua adalah allah-allah palsu. Bagi Tuhan, itu kekejian, kejijikan! Dalam seri khotbah saya mengenai “Sepuluh Perintah Allah”, saya mengatakan bahwa “Jika kita menyembah allah-allah lain maka kita sedang melakukan sebuah “ rebellious plan” guna melepaskan diri kita dari pengaruh Allah dan tentu saja saat kita telah menyusun “rebelious plan” tersebut maka kita telah mengambil sebuah “decission” untuk tidak mau bergantung kepada Allah sehingga kita melanggar perintah Tuhan dan melakukan pelanggaran berdasarkan “rebelious plan” yang menurut saya itu baik, yaitu melegalkan penyembahan terhadap allah-allah lain”. Dalam Surat Roma, Paulus mengajarkan bahwa manusia telah menggantikan Allah dengan allah yang fana (Roma 1:21-23) dan Allah menyerahkan mereka kepada “kecemaran” (Roma 1:24), hawa nafsu yang memalukan (Roma 1:26), pikiran yang terkutuk (Roma 1:28) dan menerima penghakiman tanpa ampun ( Roma 1:32-2:1). Mungkin terlintas di dalam benak kita untuk mempertanyakan “kenapa Allah tega menyerahkan manusia kepada kecemaran, hawa nafsu yang memalukan, pikiran terkutuk dan menerima penghakiman tanpa ampun?”. Bagaimana kita menjawabnya? Seharusnya kita balik bertanya kepada diri kita sendiri “kenapa manusia tega melawan Allah?”. Trouble maker ada disini! Manusia, engkaulah trouble makernya! Allah senantiasa memberikan edukasi kepada manusia agar mereka menyadari betapa terbatas limitasi manusia di hadapan Allah yang unlimited.

2. Penyembahan kepada Allah yang benar dalam bentuk yang salah. (Keluaran 32:7-8). Bangsa Israel telah tahu Allah Yahweh tetapi ibadah mereka bukannya kepada direct kepada Allah Yahweh, tetapi mereka justru menyembah anak lembu emas. Kenapa mereka bisa memilih anak lembu emas? Apa signifikansi anak lembu emas dalam kehidupan bangsa Israel? Mereka memiliki kepercayaan kepada Allah tetapi mereka justru masuk ke dalam bentuk kekafiran. Kenapa anak lembu emas tersebut kafir? Itu bukan konsep Firman Tuhan! Itu adalah penyembahan orang Mesir terhadap Apis atau Serapis alias dewa kesuburan bangsa Mesir. Kenapa mereka bisa menyembah Serapis? Mereka resah. Rupanya keresahan mereka menunjang perubahan paradigma mereka menyembah Yahweh dengan anak lembu emas. Bukankah hal ini terjadi dalam kehidupan gerejawi hari ini? Gereja resah karena generasi muda lebih suka MTV style. Keresahan gereja menyebabkan gereja merubah paradigma untuk “me-deformasikan” diri menjadi “budak”. Gereja menyembah Allah dalam bentuk “pop-culture” dan membentuk gaya hidup kristen yang sekuler dan instan. Pernahkah mereka merenungkan bahwa pop culture dan secularism adalah “anak lembu emas” modern? Gereja seharusnya mereformasi diri menjadi representative Allah untuk mendidik jemaat bagaimana memuliakan Allah dengan benar dan berkenan di hadapan Allah dalam bentuk yang benar yaitu menaati apa yang Firman Tuhan ajarkan. Gaya hidup sekuler dari orang kristen sangat dirasakan oleh “the drunken priest” dari dunia maya yaitu Mangucup. Ia mengatakan bahwa hari ini handphone dan komputer menjadi anak lembu “digital” kita. Semestinya kita menjadi tuan atas handphone dan komputer, ironisnya kita justru jadi budak dari handphone dan komputer sampai-sampai suami, istri, anak, jemaat, gereja dilalaikan.

3. Penyembahan kepada Allah yang benar tetapi dengan cara “sendiri”. (Matius 15:3). Orang Farisi mencoba menyembah Allah Yahweh dengan sistem hukum mereka sendiri. Sebagai contoh: hukum Taurat menetapkan bahwa hari Sabat harus dikuduskan, dan pada hari itu tidak ada pekerjaan yang boleh dilakukan. Orang Farisi memberikan hukum-hukum kecil atas hukum Taurat dengan definisi-definisi legalisme yang kurang signifikan. Misalnya, membawa beban di hari sabat adalah bekerja, menolong seseorang jatuh ke parit di hari sabat adalah bekerja, menolong orang sakit di hari sabat adalah bekerja. Jadi bekerja di hari Sabat adalah melawan hukum Taurat. Inilah hukum-hukum legalisme Farisi yang ada isinya ribuan tafsiran hukum yang disebut Talmud. Inilah hukum taurat yang dikecam oleh Yesus, bukan 10 Hukum Taurat. Melihat fenomenal Talmud, bagaimana dengan worship dewasa ini? Bukankah hari ini banyak orang mengatakan bahwa kami sedang worshipping God tetapi cara kita masih memakai interpretasi self-centered. Kita tidak rela mengikuti cara Tuhan. Fenomena musik hymne atau musik kontemporer dimengerti bukan sesuai dengan cara Tuhan, tetapi mereka bersitegang menurut asumsi keras mereka masing-masing. Cara sendiri tidak menyelesaikan masalah. Kita harus kembali kepada cara Tuhan melihat Worship. Setiap kali travelling ke berbagai kota, Kathedral menjadi salah satu tempat favorit saya. Semakin saya merenung ,saya semakin meyakini bahwa musik paling indah bukan dari produksi sekuler. Musik paling indah adalah musik gerejawi. Musik yang sakral dan ada pengajaran didalam lagu tersebut. Mereka mengerti musik, mengerti doktrin dibalik musik tersebut, mengajarkan doktrin melalui musik tersebut. Saya bersyukur bisa melihat Andrew Johnston, runner up dari Britain Got Talents 2008. Seorang solois gereja yang membawa musik gereja kepada penonton talent show tersebut. Meskipun saya berbeda keyakinan dengan Johnston, tetapi saya belajar melihat sebuah refleksi bahwa itulah sebenarnya tugas gereja – mengarami dunia dan menjadi terang dunia. Identitas musik gerejawi jelas dalam cara gerejawi yang tunduk kepada Firman. Itulah worship yang sejati.

4. Penyembahan kepada Allah yang benar, dengan cara yang benar, bentuk yang benar tapi dalam sikap yang tidak benar. (Maleakhi 1). Di dalam kitab Maleakhi, Allah mencela bangsa Israel karena mereka mengenal Allah Yahweh tetapi mereka meremehkan ibadah mereka dengan ucapan yang sembrono serta memberikan korban yang “kurang berkenan di hadapan Tuhan”. Korban yang sakit, timpang, cacat dipersembahkan kepada Allah. Dari bagian ini, bagaimana gereja merefleksikannya dalam konteks hari ini? Gereja harus menyadari bahwa gereja harus tahu bentuk, cara dan sikap yang benar dalam worship kepada Allah. Meskipun bentuk dan cara udah benar tetapi sikap tidak benar, Allah tetap tidak terima sikap worship mereka. Bagaimana saudara memandang worshipmu pribadi kepada Allah? Seringkali kita memberikan “excuse” kepada diri sendiri untuk melegalkan sebuah spirit “pokoknya” apa yang ada di dalam diri kita, kita berikan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Bukankah Tuhan melihat hati kita? Memang, Tuhan melihat hati kita tetapi setiap apa yang ada dalam worship kita juga adalah cerminan dari hati kita juga. Seringkali kita gak mau belajar untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan, kita hanya melihat apa yang ada padaku yang terbaik, itulah yang kuberikan kepada Allah.

Sebuah intermezzo, Hari ini saya sedang merenungkan sebuah risalah dari pemikir Indonesia yang telah dikenal naik nasional maupun internasional, Goenawan Mohamad. Dalam bukunya, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamed menuliskan di hal 71 … di lorong yang berliku di sekitar kanal-kanal di Rosse Buurt, orang lewat setiap hari, sebagian acuh tak acuh, sebagian menatap, hampir semuanya tidak terkejut, melihat para pelacur duduk atau berdiri seperti boneka toko pakaian dengan kutang terus terang dan rok minimal … Amsterdam tak mengutuk. Mungkin kota ini tak hendak mengutuk dan mengusir mereka sejak 500 tahun yang lalu, ketika para kelasi dari pelbagai bangsa mulai datang memenuhi nafsu syahwatnya di bandar ini. Kini wilayah yang terletak tak sampai satu kilometer dari Istana Ratu itu tampak lumrah … sebuah tanda bahwa pada akhirnya dosa bukanlah urusan kantor walikota. Dari jembatan yang menyeberangi salah satu kanal disisi lama kota itu tampak sosok Oude Kerk, “Gereja Tua” seperti hantu Gothis. Dibangun abad 13, ia bukan lagi tempat ibadah, tapi ruang konser dan pameran tahunan World Press Photo- juga saksi, dengan agama maupun tanpa agama, tak dapat memusnahkan perselingkuhan dan percabulan ….

Bagaimana saudara merenungkan tulisan diatas? Realistis! Jika gereja tidak mengajarkan kebenaran yang benar untuk menyembah Allah yang benar, dengan bentuk yang benar, dengan cara yang benar, dengan sikap yang benar, cepat atau lambat …gereja bukan lagi tempat ibadah, tetapi tempat pertunjukan badut-badut “rohani” yang menjadi saksi kerusakan worship manusia kepada Allah. Kiranya Tuhan menolong kita semua … be a good worshipper.

Bersambung …

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Examine Your Worship 1

Tema “Worship” tidak pernah habis-habisnya dibicarakan oleh jemaat kristen baik dari gereja konservatif sampai gereja “emerging”. Seakan-akan “Worship” tidak pernah menjadi tema yang memuaskan semua orang dari berbagai denominasi, khususnya kristen. Sayangnya, perbincangan “Worship” yang kelihatan menarik itu hanyalah membicarakan sebuah permasalahan aplikatif yaitu boleh atau tidak, khususnya dalam pemakaian lagu-lagu kontemporer dan alat musik kontemporer dalam gereja. Worship bukanlah sebuah aktivitas rohani yang kita kerjakan di gereja dalam temporal waktu 1-2 jam saja. Dalam Markus 12:28-33, Tuhan Yesus memberikan perintah untuk: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan segenap akal budimu dan dengan segala kekuatanmu … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini”.Pernahkah setiap kita mengutamakan definisi dari kebenaran ini lebih daripada urusan musik?

Dalam Bahasa Ibrani, istilah “Worship” memakai istilah “Shachah” artinya to bow down. Dalam bahasa Yunani, istilah “Worship” memakai istilah “'προσκυνέω- Proskuneo”. Menurut New American Standard Bible, “Proskuneo” diterjemahkan menjadi “to bow down, bow down before and bowing before” atau secara literal “to blow a kiss.” Dalam Injil Matius 28:9 “memeluk kaki-Nya” dan Markus 15:19 “sujud menyembah-Nya”, bagian ini bukan dipahami secara literal tetapi menunjukkan respon anak-anak Tuhan di hadapan Allah untuk “giving honor and respect to God” (Kejadian 19:1,Keluaran 18:7). Berbicara tentang respek, banyak kebudayaan yang menekankan “giving honor and respect” seperti orang Tiongkok dan orang Jepang. Dalam kebudayan Tiongkok dan Jepang, saat mereka menjalani hidup sesuai tradisi adalah kehormatan tertinggi bagi mereka. Jika ada tradisi asing masuk ke dalam kehidupan mereka, kewaspadaan penuh disiagakan demi kelestarian tradisi yang mereka hormati. Hari ini, bagaimana orang kristen memandang “Worship” mereka? Apakah mereka betul-betul tersungkur di hadapan Tuhan dan memberikan penghormatan dan respek kepada Allah dengan penuh kewaspadaan terhadap dunia? Atau mereka menjalankan ibadah dengan “pokoknya” beribadah kepada Allah?

Dalam Keluaran 30:34, Allah berfirman kepada Musa “Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya. Semuanya ini haruslah kaubuat menjadi ukupan, suatu campuran rempah-rempah, seperti buatan tukang campur rempah-rempah, digarami, murni dan kudus …”

Pertama, Worship adalah mengenai apa yang Tuhan mau, bukan yang manusia suka. Hari ini banyak dari kita suka datang ke gereja bukan mengutamakan apa yang Tuhan mau, tetapi mereka hanya mencari apa yang mereka mau. Ketika saya melihat mendengar sebuah kabar bahwa saat rekan pelayanan kami di beijing mau masuk ke apartemen sekretariat MRII Beijing untuk beribadah, ia melihat sekumpulan anak-anak Indonesia berada di lokasi dekat sekretariat, Saat mereka melihat apartemen kami, penilaian mereka adalah tempatnya jelek banget maka mereka pulang meninggalkan lokasi. Saat salah satu rekan kami memberitahukan hal tersebut kepada saya, ada sebuah perasaan sedih … bukan karena supaya ada yang bisa dengar khotbah yang saya sampaikan, tetapi mereka datang bukan untuk mencari Tuhan dan Kebenaran-Nya, mereka mencari fasilitas gereja yang baik untuk mereka, mereka mencari suasana ibadah yang baik buat mereka, mereka mencari program gereja yang bagus dan menarik untuk diikuti, mereka mencari kenikmatan kursi empuk dalam kebaktian. Pertanyaannya adalah apakah Tuhan berkenan atas motivasi seperti itu?

Kedua, Worship tanpa kekudusan adalah tidak diperkenan Allah. (Keluaran 30:38).34-38) Wewangian hanya ada di ruang tabernakel karena itulah tempat kudus Tuhan. Wewangian menjadi simbol worship yang membedakan tabernakel dengan dunia. dimanakah kekudusan dalam worship kita semua hari ini? Kita terlalu santai dan longgar dalam menjalankan worship kepada Allah yang kudus. Ada yang mengatakan, Tidak ada standar mutlak yang kita tanamkan dalam Worship kita kepada Tuhan, pokoknya Tuhan lihat hati dan motivasi kita, itu cukup? Tidak! Ikut standar Tuhan maka kita baru dapat melayani dengan hati dan motivasi benar. Kekudusan Allah dimengerti oleh setiap kita di dalam confession, mengakui dosa cemar,

Ketiga, Ibadah dimulai dari hati yang hancur dan hati penuh penyesalan di hadapan Allah. Kesadaran diri berdosa adalah seruan pembongkaran diri kita di hadapan Allah bahwa kita manusia berdosa yang datang kepada Tuhan, bukan karena manusia dapat menemukan Allah, justru Allah telah datang terlebih dahulu dan menemukan kita. Kenapa kita harus melakukan pengakuan dosa setiap kita beribadah di dalam gereja? Justru kita harus mengenal Allah dan diri kita secara seiring maka kita akan mengingat perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia, sehingga kita belajar untuk rendah hati menyembah Allah.

Keempat, Worship leader dan Musician harus memiliki roh yang sama melayani Tuhan, hikmat, pengertian, pengetahuan dan skill untuk mengerjakan pelayanan. Allah layak menerima pelayanan yang terbaik., termasuk musik. Mereka harus tahu pelayanan musik yang terbaik dan instrumen musik yang terbaik, bukan yang menurut mereka baik. Terkadang mereka menganggap mereka dapat melayani melalui apa yang mereka suka, Itu tidak cukup! Segala sesuatu memang baik tetapi apakah setiap hal yang baik dalam hidup kita adalah benar diperkenan oleh Tuhan? Kita terlalu banyak mengeraskan hati di saat Tuhan menolak apa yang kita sukai sehingga kita mengambil jalan pintas bahwa Allah khan transforming culture, jadi semua culture khan bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan? Itulah excuse yang selalu kita dengungkan pada saat kita sudah sampai pada jalan buntu dalam melegalitaskan kesukaan kita. Apalagi kalo kita gembar gembor mengatakan bahwa kita harus merobohkan dan membangun kembali culture. Pertanyaan saya sederhana saja, kita bangun apa? Dengan apa? Bagaimana kita membangunnya? Jangan-jangan kita banyak gembar gembor tapi sendirinya tidak tahu lagi gembar gemborin apa! Kalau musik dangdut kita mau robohkan dan bangun kembali, tapi hasilkan dangdut rohani, itu bukan merobohkan dan membangun kembali tetapi merenovasi dangdut jadi rohani. Kalo demikian, apanya yang dirobohkan? Worship leader dan Musician harus tahu jelas kenapa mereka harus melayani dengan musik gereja yang benar karena mereka adalah pelayan Tuhan yang mengerjakan apa yang diperkenan oleh Tuhan, bukan diri mereka. Jika tidak, celakalah mereka! Bukan melayani dengan apa yang mereka bisa saja, tetapi belajar menyangkal diri tuk belajar memberikan yang lebih baik kepada Tuhan.


Kelima, Worship tidak dipakai untuk entertaiment ataupun bisnis. Entertaiment maupun bisnis memiliki potensi besar menjadi allah lain di dalam kehidupan kita sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Justru dalam hukum Taurat, Perintah 1 berbunyi “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Salah satu bagian dalam worship yang memiliki potensi menjadi allah dalam hidup kita adalah musik. Suatu hari saya mengunjungi Campus Bookstore, Taipei, Taiwan, banyak dvd-dvd rohani yang memakai “praise and worship” hanya dalam konser musik akbar, saya perhatikan satu persatu baik dari Singapore, Indonesia, Taiwan, Amerika Serikat, Australia. Inilah tersentak dengan sebuah kalimat dalam hati “inilah semangat emerging church” … mereka menekankan worship kepada Allah, itu baik tetapi mereka tidak menekankan Firman Tuhan lebih utama, itu tidak benar! Alkitab mengajarkan setiap nabi dan rasul bukan untuk “praise and worship” tetapi mengajarkan Firman Tuhan, memberitakan Firman Tuhan, mengembalakan dengan Firman Tuhan. Inilah substansi “Worship” yang sebenarnya. Kesedihan saya adalah banyak anak muda tidak rela menerima konsep substansi yang kaku ini. Mereka lebih suka “Worship” dihubungkan dengan style “spirit of sharing the Word of God” dengan pengalaman pribadi dan perasaan mereka sebagai pemuda kristen. Dalam hal ini, musik menjadi sarana mereka untuk mengekpresikan “Worship” menurut pengalaman dan emosional mereka. Ini salah kaprah! Justru Yesus mengajarkan bagaimana penyembah yang benar harus menyembah dengan Roh dan Kebenaran (Yohanes 4:23). Dalam hal ini, “Worship” harus selaras dengan “The Word of God”. Jika saudara melihat ke dalam sejarah musik gerejawi, saudara akan menemukan bahwa komponis-komponis hymnes adalah formal pastor (Charles Wesley, John Newton, Horatius Bonar, Issac Watts,etc) dan kaum awam yang memiliki “theological learning” (Fanny Crosby, Kenneth Morris, Albert Osborn,etc). Jika saudara lihat hasil komposisi musik mereka bukan untuk bisnis maupun memperoleh profit. Justru musik yang mereka hasilkan didasarkan dari Roh Tuhan yang memberitakan Firman kepada mereka sehingga mereka berespon melalui theological learning and music. Jadi, musik bukan hanya dihasilkan dari melodi melankolik dan rythmn kita tetapi bagaimana Roh Kudus memimpin pikiran dan emosi saya memimpin saya untuk menulis komposisi musik untuk kemuliaan nama Tuhan melalui Alkitab. Puji Tuhan! Belajarlah dari sejarah maka kita akan banyak menemukan musik hymnes lebih doktrinal daripada sebagian musik kontemporer hari ini. Jadi, mau jadi musikus gereja, belajar teologi baik-baik untuk memuliakan Tuhan dengan lebih benar di hadapan Allah.

Bersambung …

Dalam Kristus
Daniel Santoso
Beijing, China

Monday, November 10, 2008

Sola Scriptura

Detik-detik menjelang hari reformasi 2008 seharusnya membuat setiap kita kembali melakukan re-reading terhadap konsep theos maupun logos di dalam hati setiap kita. Mengapa “sola scriptura” begitu berharga? Mengapa semangat “back to the Bible” menjadi penting dalam sejarah?

Seringkali kita menganggap “sola scriptura” berharga atau tidak, hanya demi menikmati kemauan kita sebagai ciptaan. Hasilnya, kita tidak mengerti harga sesungguhnya dari “sola scriptura”. Akibatnya, definisi “sola scriptura” sendiri telah dikaburkan oleh beragam interpretasi-interpretasi inovatif manusia berdosa sehingga mereka menganggap mereka masing-masing telah menemukan definisi yang tepat mengenai “sola scriptura”, padahal mereka melewatkan Allah dari interpretasi inovatif mereka.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia mengalami delusion. Pertama, manusia meraba-raba di dalam kegelapan hanya melalui sebuah cahaya kecil yaitu akalnya sendiri. Dalam hal ini manusia hanya melegalkan standar self centered dalam hidup beragama. Kejatuhan gereja di masa lalu adalah penyalahgunaan akal budi demi kebutuhan dana renovasi dari gereja St. Peter, gereja melegalkan penjualan surat indulgensia sebagai “the newest doctrine” yang kelihatannya religius, tetapi tidak setia kepada Allah dan kebenaran-Nya. Akibatnya, orang kaya dapat membeli surat penebusan dosa dan memperoleh “keselamatan” dengan leluasa. Sedangkan, orang miskin tidak dapat membeli surat tersebut karena keterbatasan dana mereka. Pertanyaannya adalah apakah keselamatan diberikan hanya bagi kaum ber-uang saja? Keselamatan ada di tangan siapa? Allah atau gereja?

Kedua, manusia cenderung menyesuaikan diri secara fungsional pada lingkungannya. Doktrin sola scriptura seharusnya dibawa ke dalam intinya yaitu menyingkapkan kepada kita mengenai diri kita sesungguhnya. Apakah kita bersifat spiritual atau natural? Apakah kita dilahirkan dari Allah dan hidup secara rohani atau apakah kita sedang menipu diri kita dan mati secara rohani. Hanya Firman Allah yang mampu membeda-bedakan pikiran-pikiran dan maksud-maksud dari hati. Problemnya adalah kita tidak peduli dengan hidup kita sendiri. Akibatnya hidup manusia banyak diisi bukan dengan “Sola Scriptura” tetapi interpretasi inovatif manusia mengenai “sola scriptura”. Dalam hal ini, manusia lebih suka menimbun konsep sampah ketimbang mengejar konsep yang kekal.contoh: Gereja di era perang dunia II menerima makian dari sini sana karena gereja hanya peduli kepada dirinya sendiri. Mereka menyesuaikan diri mereka ke dalam kenyamanan fisikal. Hitler telah membunuh jutaan orang Yahudi di kamp konsentrasi. Gereja bukan bersuara, justru gereja “silent”. Tidak heran, jika Emmanuel Levinas berteriak “ dimanakah suara gereja saat jutaan kaum Yahudi dibantai? “. Bagaimana dengan GRII? Calvin berkata: Dunia adalah biaraku. Justru kita harus ambil komitmen berani hidup selaras dengan prinsip Firman Tuhan dan menolak pengaruh sekuler baik di dalam gereja maupun di luar gereja. Itulah panggilan kita.

Ketiga, manusia cenderung percaya bahwa di luar Allah, semua dapat diketahui seperti lampu minyak yang punya energi sendiri. Orang non Kristen menganggap diri memiliki bukti-bukti maupun fakta-fakta logis (menurut mereka), padahal semuanya di dalam “kegelapan”. Sebagian orang anggap agama hanyalah pelengkap sehingga tidak perlu berdebat mengenai Allah dan kebenaran yang mutlak. Ini semangat satanis. Iblis tidak menyangkal Allah, tetapi Iblis menyangkal kemutlakan Allah. Justru orang Kristen harus meyakini sepenuhnya bahwa segala sesuatu “gelap” jika wahyu Allah tidak meneranginya. Tanpa terang Allah maka tiada fakta sejati. Allah adalah Sang Pencipta, Penebus dan Pewahyu. Hanya melalui Allah saja maka saya dapat menikmati Allah dan Kebenaran sejati. Itulah semangat sola scriptura yang diteriakkan oleh Martin Luther bahwa segala sesuatu harus kembali kepada otoritas Alkitab, tanpa-Nya maka manusia kehilangan fakta sejati.

Konklusi : Definisi terbaik adalah kembali kepada Allah (God centered) yang mewahyukan: Kristus sebagai wahyu yang hidup dan Alkitab sebagai wahyu tertulis.

Bagaimana saya dapat meresponi semuanya ini?

Dick Eastman dalam bukunya No Easy Road menulis komentar seorang komunis tentang Injil demikian, “ Injil merupakan senjata untuk membaharui masyarakat yang lebih ampuh daripada pandangan Marxisme yang kami anut. Namun demikian, pada akhirnya kamilah yang akan mengalahkan kalian orang Kristen. Kami orang-orang komunis tidak bermain dengan kata. Kami adalah orang-orang yang realis dank arena kami bertekad untuk mencapai tujuan, maka kami juga tahu bagaimana menyiapkan sarana yang perlu … kami orang komunis hanya mengambil apa yang betul-betul perlu dari gaji dan upah kami. Sisanya kami berikan untuk maksud propaganda. Kami juga menggunakan waktu senggang dan separuh dari liburan kami untuk propaganda tersebut. Sebaliknya, anda hanya memberikan sedikit waktu dan hampir tidak memberikan uang guna menyebarluaskan Injil Kristus … bagaimana orang akan percaya pada nilai Injil yang sangat tinggi itu bila anda tidak menyebarluaskannya, dan tidak mengorbankan waktu dan uang anda untuk maksud itu? Percayalah, kami yang akan menang karena kami percaya akan ajaran komunis dan rela mengorbankan segala-galanya, bahkan nyawa kami sendiri. Tetapi kalian orang Kristen takut mengotori tangan kalian.”

Benak saya mengeluarkan sebuah pertanyaan: inikah fakta orang Kristen hidup di dalam dunia? Orang Kristen lebih sibuk memperkaya diri mereka dengan aksesoris mahal guna memperindah tubuh sementara yang kelak bakal kembali menjadi tanah. Anasir modernisme dengan kapitalisme serta nafsu hedonistic semakin merusak dan memporak-porandakan kehidupan orang Kristen. Sola Scriptura adalah pustaka besar bagi kita melihat otoritas Allah memimpin manusia dan zamannya menuju kebenaran sejati.problemnya: kita tidak kuat. Kita lebih memperkuat ekspresi fenomenal kita bagi Tuhan daripada diam hening menikmati didikan Tuhan serta hajaran Tuhan setiap hari dan memberitakan injil kepada orang yang belum kenal Kristus. Apakah benar statement dari Goenawan Mohamed bahwa orang beragama cenderung sibuk dengan fenomenal (desain bangunan, struktur imperium, etc) dan kehilangan waktu hening dengan Firman, apakah orang beragama sudah seculum? Sola Scriptura! Kembali kepada Firman di dalam kuasa Roh Kudus menyatakan inti pelayanan hanya di dalam nama Kristus, satu-satunya pengharapan dunia.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Xiamen, China

Tuesday, September 09, 2008

Batik

Kemarin merupakan hari khusus di Istana Negara karena Presiden Rebuplik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merayakan ultah-nya ke 59 tahun. Tidak sedikit, para wartawan, para pejabat, keluarga sampai rakyat Indonesia memberikan selamat kepada beliau. Seluruh ruangan dipenuhi oleh para undangan yang berpakaian khas yaitu batik. Secara pribadi, saya suka baju batik, tetapi kenapa saya suka batik? Secara ideal, Batik merupakan gambaran ekspresi saya sebagai orang Indonesia yang menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia. Tapi, apakah benar itu ekspresi jujur saya terhadap batik? Apakah nasionalisme saya betul-betul memiliki “nyawa”? Apakah maraknya pemakaian batik tanda kebangkitan budaya Indonesia?


Batik berasal dari kata tik yang terdapat dalam kata titik yang berarti tetes. Tentu saja, proses pembuatan kain batik dilakukan dengan tetesan lilin. Sejarah Batik diperkirakan ada sejak abad 12 Masehi dengan memakai bahan kulit mengkudu, kulit pohon tarum, kulit kayu. Tahun 1815 batik dicetak dengan stempel tembaga yang berpola batik. Dulu motif hanyalah gambar binatang atau tanaman tapi sekarang motif lebih abstrak. Pemakai batik saat itu adalah keluarga kerajaan di zaman Majapahit, akhirnya meluas dikenakan oleh rakyat.


Pengaruh batik rupanya tidak hanya melanda Indonesia tetapi juga melanda dunia. Buktinya, Adidas mengeluarkan edisi batik Indonesia pada jacket, sepatu basketball, sepatu running, etc. Belum lagi, jam tangan terkemuka di Eropa Jaeger Le Coutre mengeluarkan salah satu jam tangan bermotif Indonesia. Bahkan Tiongkok tidak mau ketinggalan, desain baju batik diperjualbelikan di Asia sehingga banyak batik-batik made in China. Apakah semuanya ini menguntungkan Indonesia? Di satu sisi, citra Indonesia mengalami kemajuan karena dunia respek terhadap salah satu karya budaya Indonesia. Di sisi lain, ada sosok-sosok tradisional yang mengalami persaingan ketat. Betapa tidak, pasar tanah abang hari ini dipenuhi batik-batik dari Tiongkok karena murah. Bagaimana nasib batik produksi dalam negeri? Hanya kualitaslah yang dapat membedakan mana yang terbaik. Maju Indonesia!


Bangga sebagai WNI
Daniel Santoso
Jakarta, Indonesia

Dimana posisi Rumah Tuhan?

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca sebuah artikel dari majalah dinding seminari bahwa ada gereja yang dijual bersama dengan tiga ratus jemaatnya kepada pembaca surat kabar tersebut. Saya kaget dengan iklan kecil tersebut. Jika gedung gereja dijual, saya mungkin dapat memahaminya meskipun tidak 100% setuju. Tetapi gedung dijual bersama dengan jemaatnya, ini bukan hal biasa bagi saya. Mengapa dapat terjadi demikian? Pertanyaan yang timbul dalam benak saya adalah apakah perorangan dapat menjadi pemilik gereja? Kalau dapat, berarti perorangan dapat mengkontrol gereja, pendeta, penginjil, jemaat? Jadi boss gereja donk? Bagaimana dengan posisi Tuhan?


Gereja tidak dapat dilepaskan dari tahta Tuhan. Tuhan berdaulat atas keutuhan gereja sebagai kerajaan Allah di bumi. Tidak ada seorangpun dapat memiliki kedaulatan di atas gereja karena gereja harus berakar di atas batu karang yang kokoh yaitu Kristus. Di dalam Kristus, gereja mengajarkan doktrin yang ketat, disiplin rohani yang hidup, penginjilan dinamis dan melakukan semua aktivitas kehidupan dengan takut kepada Tuhan serta hati berkobar-kobar melayani Tuhan dan memuliakan Tuhan dengan kenikmatan Ilahi dari Tuhan. Sayangnya gereja hari ini kurang peduli dengan keketatan doktrin, disiplin rohani, pemberitaan Injil maupun aktivitas kehidupan dalam masyarakat sehingga sebagian gereja mengalami kelumpuhan rohani. Manusia mulai mengambil posisi di dalam gereja untuk mengatur umat Tuhan menurut analisa sendiri, observasi sendiri sehingga semuanya demi keuntungan sendiri. Persembahan demi persembahan dari anak-anak Tuhan bukannya dipakai untuk kemuliaan Tuhan tetapi digunakan untuk investasi diri terhadap material-material yang berlebihan. Inikah gereja Tuhan? Saya betul-betul mengaminkan statement dari Pdt. Dr. Stephen Tong bahwa banyak perampok-perampok rohani berkeliaran di dalam gereja. Jika demikian, masih adakah harapan bagi gereja untuk hidup suci melayani Tuhan? Gereja adalah milik Tuhan. Gereja adalah milik umat Tuhan. Gereja bukan milik perorangan. Gereja bukan milik orang kaya. Gereja bukan milik pejabat. Gereja bukan milik selebritis.


Dalam acara infotaiment Indonesia, Dorce membangun masjid megah di sebuah kompleks di Jakarta Selatan dengan motivasi religius; memuliakan nama Allah. Menurut saya, Dorce melakukan sebuah kebajikan bagi masyarakat supaya dekat kepada Allah, tetapi jika prinsip dan caranya salah, apakah nama Allah dipermuliakan? Dalam Alkitab, Seorang Kehat tidak boleh menyentuhkan dirinya kepada tabut Allah karena tabut Allah itu suci dan manusia itu berdosa. Prinsip menjadi penting. Posisi menjadi penting. Akhirnya karena gerobak sapi yang membawa tabut itu tersendat sehingga tabut suci itu mau jatuh. Ia memegang tabut Allah itu dengan motivasi untuk mengangkat tabut Allah itu kembali ke posisi semula. Motivasinya baik. Tapi ia juga tahu bahwa caranya dan prinsipnya salah. Akibatnya orang kehat tersebut meninggal di tempat. Dalam hal ini, saya belajar melihat bagaimana gereja harus kembali kepada prinsip Tuhan yang kudus, jika tidak, sebaik apapun motivasi kita, kita akan tetap salah karena kita sedang menekankan diri lebih daripada Tuhan. Mari kita berdoa untuk hamba-hamba Tuhan, pelayan-pelayan Tuhan, umat Tuhan agar mereka menghargai gereja sebagai tubuh Kristus, hidup sesuai standard Kristus dan memuliakan Tuhan dengan kenikmatan Ilahi dalam Kristus. Kiranya Tuhan mengampuni kita semuanya, terus melayani di gereja Tuhan dengan takut kepada Tuhan dan sukacita melayani Dia dengan prinsip yang benar dan suci. Tuhan memberkati kita semuanya …


Dalam kasih-Nya
Daniel Santoso
Jakarta, Indonesia

Monday, September 08, 2008

Persatuan; Moralitas atau Totalitas?

Setiap zaman akan melahirkan masalah dan aktornya tersendiri. Setiap jaman akan melahirkan semangatnya sendiri, dan akan melahirkan pahlawan-pahlawan tersendiri, yakni mereka yang akan menjadi kekuatan pelopor dalam memecahkan masalah zamannya. Di dalam hidup ada problematika yang terus membanjiri manusia dengan pertanyaan penuh teka-teki. Siapakah mereka yang dapat memecahkan masalah jaman ini? Hanya orang yang punya semangat pelopor rela berdialektika dengan zamannya dan keluar dari krisis. Pertanyaan yang muncul adalah apakah itu cukup?.


Pada awal abad XX, Indonesia (Hindia Belanda) diperlakukan sebagai pengemis di tanah air sendiri karena bangsa Eropa merebut kekayaan yang seharusnya dinikmati oleh Hindia Belanda. Spirit pengemis yang semestinya tidak melekat pada diri Hindia Belanda. Justru penjajahan dan penindasan yang diterima oleh Hindia Belanda. Kenapa Eropa merebut kekayaan Hindia Belanda? Sejarah memberikan informasi bahwa Eropa mengalami krisis kekurangan bekal hidup dalam tanah airnya sendiri sehingga rakyat Eropa mencari rejeki di negeri lain sampai Hindia Belanda miskin.


Sebuah buku dari Soekarno berjudul “Islam Nasionalisme Marxisme” memberikan konklusi betapa gandrungnya Soekarno terhadap satu kosa kata yang diimpikan yaitu persatuan. Menurut Soekarno, gelombang nasionalistis, islamistis dan marxistis dapat bekerjasama menjadi satu gelombang yang maha besar dan maha kuat, seperti satu ombak taufan yang tak dapat ditahan terjangnya. Dari mana pemahaman ini? Wahyu? Tidak. Soekarno hanya meyakini diatas penilaian dirinya sehingga hasil yang diperoleh bersifat relatif.


1. Nasionalisme
menekankan satu golongan/ satu bangsa (close system). Problemnya: gampang menjadi kesombongan bangsa (sosiologis) dan ras (biologis). Keinginan hidup menjadi satu. Jadi menurut Soekarno, golongan membuka kesempatan untuk perselisihan satu sama lain. Realitanya, sampai hari ini belum pernah ada persahabatan yang kokoh. Tapi apakah tidak dapat dicapai? Soekarno percaya persahabatan dapat dicapai dengan teladan spirit of down to earth. Soekarno mengutip Gandhi, cinta pada tanah air, cinta pada semua manusia (tidak peduli golongan apapun). Cinta harus menjadi wahyu dan melaksanakan wahyu tersebut sebagai bakti. Adakah teladan spriit down to earth hari ini? Nasionalisme yang dianggap sejati oleh Soekarno bukan Barat tapi Timur. Bagi Soekarno, nasionalisme barat itu bersifat serang mnenyerang, mengejar keperluan sendiri dan peduli untung rugi. Maksudnya buang waktu banyak hanya untuk berspekulatif ria dalam apologetika mereka.Sedangkan nasionalisme timur, Soekarno angkat topi, menurutnya jikalau islam sakit, roh kemerdekaan timur sakit juga.hal ini. Sama-sama merasakan sakit, seperti satu tubuh, satu keluarga … konsep yang penuh kekeluargaan. Kenapa persatuan ini tidak dapat dinikmati nasionalisme barat? Jawabannya karena kebimbangan mereka atas kekalnya persatuan.


2. Islamisme
Kaum Islam harus menanam benih keislaman kemana-mana. Kaum Islam harus mengambil teknik kemajuan Barat dan mempelajari rahasia kekuasaan Barat. Dari Turki, Mesir, Maroko, Kongo, Persia, Afganistan, India, Indonesia … gelombang tersebut masih terus menanam benih ke seluruh dunia. Islam adalah internasional. Problem dari islamisme adalah fanatic. Orang nasionalis dan marxis menuduh agam islam begitu rusak, rendah derajatnya dan hampir semuanya dibawah pemerintahan negeri Barat. Soekarno membela, itu bukan problem islamnya. Problem terletak pada budi pekerti pemeluknya yang rusak. Islamisme harus dapat mengerti aliran jaman. Persatuan dapat diperoleh dengan menjalankan perintah-perintah agamanya.


3. Marxisme
Karl Marx menjadi maha guru yang berkuasa menyatukan buruh dari seluruh negeri. Konsep dialek materialisme bahwa harga barang ditentukan oleh banyak kerja untuk bikin barang tersebut sehingga hasil pekerjaan kaum buruh lebih berharga daripada upah yang mereka terima. Komunis di Rusia ada orang-orang di distrik Samara makan daging anak-anaknya sendiri oleh karena laparnya. Dulu anti agama, anti kaum kebangsaan sekarang berubah justru ada persahabatan, contoh Tiongkok. Soekarno mengatakan bahwa teori Marx dan Engels harus dirubah kalau zaman itu berubah. Musuh marxisme adalah gereja. Memakai agama buat cari duit, membela keperluan atasan, menjalankan politik. Marxisme lebih dekat pada islam daripada Kristen. Islam dianggap agama tidak merdeka, kaum yang dibawah, sedangkan orang Kristen agama bebas dan agama kaum yang diatas.tapi kelemahan marxis yang kolot teori dan kuno taktiknya dapat menyebabkan diri mereka ingkar akan persatuan maka mereka dapat menjadi racun masyarakat.


Bagaimana respon kita sebagai orang kristen?
a. Soekarno mengajak kita harus dapat menerima tetapi harus bisa memberi. Persatuan tidak dapat terjadi kalau tidak mau memberi diri tuk bersatu. Menurut saya, Soekarno memiliki konsep moralitas yang cukup mendarat bagi bangsa Indonesia tetapi konsep menerima dan memberi tidak bisa hanya dianggap sebuah aktivitas tanpa dasar. Jika dasar memberi maupun menerima hanya diatas dasar kefanaan maka semuaya hanyalah aktivitas humanis yang dapat kembali menghancurkan masa depan manusia. Soekarno mengerti poin ini hanya dapat didasarkan melalui keinsyafan kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi bukan pertobatan melalui karya penebusan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Allah yang rela turun ke dalam dunia menebus dosa kaum-Nya. Dalam hal ini Soekarno tidak menekankan konsep Allah sejati didalam persatuan humanis maupun kekal. Persatuan hanya dapat diperoleh oleh mereka yang mengasihi Allah yang benar dan mengasihi sesamanya dengan benar.


b. Teologi Reformed justru mendasarkan semuanya diatas dasar Allah sebagai Sumber Kedaulatan Sejati yang Mutlak. Tidak ada satupun observasi manusia yang dapat melarikan diri dari Kebenaran Mutlak Allah. Soekarno seorang religius tetapi ia tidak mendasari seluruh prinsip-prinsipnya di atas dasar yang sejati. Soekarno hanya mendasarkan seluruh pemikirannya dari observasi dirinya terhadap gelombang-gelombang besar yang mempengaruhi peradaban hidup manusia. Dalam hal ini, hal praktis yang dapat kita pelajari bahwa tidak semua orang religius adalah orang berhikmat sejati/ orang benar. Banyak orang memakai topeng agama untuk bertahan hidup padahal mereka telah menghanyutkan kebenaran ke dalam dasar laut kebenaran relatif. Akibatnya manusia tidak dapat melihat kebenaran mutlak karena mereka telah dibutakan oleh dirinya sendiri yang telah jatuh ke dalam dosa.


c. Konsep persatuan Soekarno apakah alkitabiah atau tidak? Ketiga gelombang di atas bukanlah kebenaran mutlak. Semuanya hanyalah produksi manusia yang akarnya berbeda dan semuanya hanyalah dasar-dasar yang diperoleh melalui analisa kritis manusia berdosa yang lemah dan cenderung tidak akurat. Konsep persatuan tidak dapat dibicarakan oleh manusia karena manusia bertentangan satu dengan lainnya. Konsep persatuan harus dibicarakan di dalam satu-satunya konteks yang paling hakiki yaitu Persatuan di dalam Allah. Hanya Allah yang dapat menyatukan manusia dan memberikan definisi paling jelas dan akurat mengenai persatuan itu sendiri. Persatuan hanya dapat dilakukan oleh Allah, menurut standard Allah dan sesuai dengan rencana kekal Allah. Pertanyaannya siapakah yang dapat menyatukan manusia dengan Allah? Allah sendiri. Allah yang mana? Hanya Allah yang rela inkarnasi menjadi manusia yaitu Yesus Kristus. Konsep Inkarnasi hanya ada di dalam kekristenan. Jadi segala sesuatu harus dilihat dari perspektif Kristus sebagai Allah yang rela inkarnasi turun ke dalam dunia untuk menyatukan hubungan Allah-manusia di dalam ketetapan-Nya yang kekal.Kalau demikian, konsep persatuan Soekarno akankah terjadi? Menurut hemat saya, tanpa konsep Kristologis sebagai dasar mutlak, maka tidak mungkin ada apa yang namanya persatuan dan kesatuan yang kekal maupun humanis sejati.


Dalam Kasih-Nya

Daniel Santoso

Jakarta, Indonesia

Saturday, June 21, 2008

The Lack of Self Help

Pada mulanya Allah berfirman “ jadilah terang maka terang itu jadi “. Itulah Theology yang menyatakan konsep Theos ( God ) dan Logos ( Truth ) sebagai satu-satunya source of all creation, all definition, all application maka ciptaan Tuhan pasti memancarkan definisi Tuhan dan aplikasi Tuhan. Demikian juga dengan manusia. Problem terbesar muncul pada diri manusia disaat manusia jatuh ke dalam dosa ( fallen into sin ), sehingga manusia mengalami kerusakan total dalam membaca definisi Tuhan dan aplikasi Tuhan atas seluruh ciptaan-Nya termasuk dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia membutuhkan “ SPECIAL REVELATION “ tuk membaca fenomena ciptaan Allah termasuk manusia.


Special Revelation hanya berada dalam Firman yang menjadi daging yaitu Yesus Kristus dan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang menyatakan poin Alpha dan Omega sejarah manusia yang berada di tangan Allah. Maka Gereja berdiri sebagai “ radical community “ yang berbeda dengan dunia membaca segala sesuatu selaras dengan prinsip pengajaran Yesus Kristus untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan dengan memberitakan Injil, melaksanakan kehendak Tuhan serta membedakan mana yang benar dan mana yang salah dari perspektif Allah.Maka segala sesuatu harus diinterpretasi dari konsep Allah sendiri. Rela gak kita ?
Goal dari setiap penerima Firman adalah hati yang tunduk kepada Allah. Di dalam kitab Amsal dikatakan “ takut akan Tuhan adalah permulaan dari pengetahuan “. Dimanakah orang kristen yang takut pada Tuhan hari ini ? kita semestinya gentar terhadap setiap Firman Tuhan karena Firman itu hidup dan aktif. Permasalahan yang muncul dari kita hanya mendapatkan jawaban yang paling akurat melalui bercermin di hadapan Firman ( Alkitab ). Sudahkah kau baca Alkitabmu hari ini ?


Membaca Alkitab bukan sebuah aktivitas yang legalistic tetapi justru harus memohon Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk menemukan kelemahan diri kita serta kelimpahan Firman yang memberikan “ new life “ dalam hidup kita.


Tapi manusia cenderung lebih menyukai kekreatifan dirinya untuk melakukan research maupun analisa kritis terhadap ciptaan Allah tanpa perspektif Allah sehingga mereka menamakan diri mereka sebagai kaum pecinta bijaksana ( philosopher ). Filsafat bukanlah wahyu umum. Filsafat hanyalah reaksi manusia dalam mencari kebijaksanaan baik melalui rasio, pengalaman, emosi maupun komunitas yang didasarkan pada selera manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Mereka mencari kebijaksanaan untuk kepentingan diri sendiri dan kepentingan others dengan jalan “ self – observation “.


Dale Carnegie, penulis buku self help pertama tahun 1936 yang menjadi best seller yaitu “ how to win friends and influence people “ telah menjadi raja etika kepribadian hari ini. Awalnya buku itu ditujukan pada “ sales “, akan tetapi pengaruhnya besar ke berbagai bidang sehingga self help menjadi marak hari ini untuk semua kalangan. Oleh karena itu tidak heran, Martin Luther Kings menolak konsep self-help tetapi menekankan social-help sebagai imago Dei.
Semua theory maupun analisa manusia apakah 100 % salah ? tidak, tetapi bukan berarti 100 % persen mutlak benar ! maka analisa self observation hanyalah alat bantu yang boleh ada boleh tidak ada tetapi semuanya harus diadili dalam perspektif kebenaran Allah sejati.


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso, Taipei

Reflection on Yves Saint Laurent 1936-2008

Perjalanan dari Guangzhou-Hongkong-Taipei Dua hari yang lalu, Dunia fashion kehilangan seorang tokoh designer legendaris yang penuh inovasi di dalam mengikuti “ the evolution of women – ( fashion vocabulary ) “. Tidak heran jika South China Morning Post memberikan judul besar di kolom International halaman A9 “ YSL : The High Priest of High Fashion “. Julukan sakral itu diberikan oleh pengagum karya YSL dikarenakan dia menjadi orang pertama yang mmembawa perempuan tuk pakai celana,pakai tuxedo, baju maskulin, African style yang memberikan new inspiration kepada designer-designer lainnya. Mengagumkan. YSL lahir di Oran, Algeria – August 1, 1936 ( dahulu termasuk French territory ). Seorang pemalu, lonely child, homosexuality yang mati karena tumor otak.


Christian Lacroix memberikan tanggapan terhadap YSL bahwa YSL memiliki keunikan yang berbeda dengan designer besar lainnya. “ Chanel, Schiaparelli, Balenciaga and Dior all did extraordinary things. But they worked within a particular style. YSL is much more versatile, like a combination of all of them “. Dalam hal ini saya setuju dengan pendapat Lacroix. Di dalam pengamatan terbatas saya sebagai seorang awam, YSL memberikan inovasi yang “ simplicity “ plus “ versatility “ ( tentu saja secara humanis ).


Estetika YSL tentu saja termasuk seni, pertanyaannya bagaimana kita melihat seni hari ini ? Jika Plato melihat seni sebagai mimesis mimeseos ( tiruan atas tiruan ) dimana yang asali adalah dunia ide dan seni adalah tiruan atas dunia alamiah dan dunia manusia. Nietzche, Freud lebih menyukai definisi seni sebagai pemuasan atas hasrat jiwa. Nietzche mendasarkan definisi seni di dalam dua kecenderungan jiwa yaitu Apollonian ( dewa mimpi ) dan Dionysian ( dewa mabuk anggur ) yang akhirnya dapat disimpulkan bahwa seni adalah luapan hasrat jiwa manusia sebagai sebuah tiruan. Jadi seniman menukik ke kedalaman kemabukan Dionysian dan peniadaan diri dan terpisah dari kebanyakan orang yang menikmati seni dan kemudian melalui inspirasi impian Apollonian, keadaannya sendiri yaitu kesatuannya dengan dasar alam semesta ini, diwahyukan kepadanya dalam suatu gambaran impian simbolis. Sebagai seorang awam, saya melihat ekspresi kemabukan Dionysian para desainer juga muncul di permukaan bumi ini, salah satunya adalah Jean Paul Gaultier. Estetika Gaultier bukan sebuah tata harmoni dalam size, harmonisasi maupun keseimbangan yang normal melainkan tetapi justru penindasan keseimbangan harmonisasi. Kenapa demikian ? Christopher Caudwell, seorang pengagum Marxis mengatakan bahwa “ dream “ adalah asosiasi bebas, personal maka goalnya adalah hanyut ke dalam imajinasi sampai kesadaran akan ke-aku-an kita lenyap, seperti kita sedang bermimpi ( physiological introversion ). Kedua, Caudwell mengatakan bahwa seni adalah hubungan dialektis antara pengalaman personal dan dunia sosial yang membangkitkan self socialization. Ketiga, semua seni bersifat subyektif, emosional dan berkaitan dengan insting-insting ( alias liar ).


Jika kita kembali kepada Reformed Theology, seni adalah bagian dari kebudayaan ( culture ) yang merupakan reaksi manusia terhadap wahyu umum ( God’s creation ). Celakanya, kejatuhan manusia ke dalam dosa merusak setiap reaksi-reaksi sakral manusia terhadap wahyu umum Allah sehingga manusia banyak menghasilkan seni yang bidat – menyenangkan imajinasi dan idenya tuk menciptakan “ new revelation “ dalam dunianya ( kayak orang autism ) daripada kembali kepada “ God’s revelation “ yang memaparkan prinsip-prinsip manusia berespon kepada Tuhan diatas wahyu umum yang mereka nikmati ( rela dikakukan dalam prinsip Firman Allah. Manusia mengandalkan kekreatifan reason maupun emosional guna menciptakan “ new freedom “ dalam semua bidang termasuk seni. Oleh karena itu “ secularism “ menjadi popular daripada “ all things is sacred “. Mengapa popular ? karena manusia tidak netral. Manusia telah jatuh ke dalam dosa dan menikmati ketidak netralnya sebuah hasil kreasi entah milik penguasa, seniman atau siapa saja karena minimal manusia memiliki kepentingannya sendiri, entah ekonomis ataupun politis. All things sacred mengajak setiap kita untuk kembali menghargai kesakralan Tuhan di dalam setiap bidang yang kita geluti termasuk seni. Secara humanis, YSL menghasilkan kreasi design pakaian perempuan yang spektakuler dengan keanggunan yang ditawarkan tetapi itu bukanlah keindahan itu sendiri melainkan reaksi manusia bersosialisasi terhadap wanita dan bentuk tubuh sebagai ciptaan Tuhan sehingga menghasilan sebuah design pakaian wanita. Sayangnya, dirinya gagal di dalam menilai identitas manusia sebenarnya sebagai imago Dei. Begitu juga design Gaultier yang liar serta kacau di dalam kebebasan kreasinya. Saya percaya Gaultier belum mengamenkan identitas dirinya yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Maka reaksi bisa “ standard humanis “ juga bisa “ liar “ akan tetapi di hadapan Tuhan, semuanya gagal karena tujuan hidup manusia tidak tercapai disana yaitu memuliakan Tuhan dan menikmati Dia. Pertanyaannya, masih adakah desainer-desainer hari ini yang mati-matian bekerja buat Tuhan, melalui setiap kreasinya merupakan reaksi yang jujur atas wahyu umum Tuhan melalui interpretasi yang akurat di dalam wahyu khusus Tuhan yaitu di dalam Kristus, Firman Kudus-Nya ?

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Thursday, May 22, 2008

is your God big enough ?

Hari ini banyak orang kristen kehilangan “ kekakuan “ terhadap doktrin dan pengajaran karena mereka mengalami pergumulan “ problematic “ antara doktrin dengan realita kehidupan manusia dan dunia yang seakan-akan berkontradiksi alias saling bertentangan. Hans Kung di dalam bukunya “ Why I am still a Christian ? “ memberikan beberapa kesulitan mengenai idea of God :


a. Idea of God as The Creator of Heaven and Earth

Jika kita melihat science, tema “ creation “ diisi bukan dengan kehadiran Allah tetapi diisi dengan “ human observation “ sehingga lahir konsep big bang atau gap theory. Tentu saja “ human observation “ lebih masuk akal karena konsep itu dibikin menurut “ selera “ manusia, bukan kemauan Tuhan. Justru “ selera “ Tuhan diberikan hanya melalui Alkitab – kesaksian iman yang menyatakan Allah adalah the origin of everthing and everbody.

b. Idea of God as the One who guides history

How are we to understand this ? seringkali kita sebagai orang kristen mengetahui bahwa Allah adalah Allah sejarah tetapi seringkali pertanyaan kita muncul meragukan “ kalo Tuhan ada, kok Tuhan mengizinkan banyaknya agama, cara pandang, relativisme yang bikin bingung ? “. Kebanyakan orang jatuh ke dalam selera “ human beings “ khususnya suara masyarakat ( voice of society ) yang menjadi legitimate karena rating tinggi. Kemarin saya membeli buku no.1 new York times bestseller dari Christopher Hitchens “ god is not GREAT “. Menurut Hitchens, sejarah manusia sudah dirusak oleh agama-agama. Religion poisons everthing ! agama bukan menciptakan perdamaian tapi kebingungan. Coba liat, Yesus lahir di rahim seorang perawan namanya Maria oleh pekerjaan Roh Kudus. Bagi Hitchens, ini gak original karena legenda Greek, Perseus juga lahir dari perawan bernama Damae oleh God Jupiter. Anak perempuan Raja Mongol yang bertemu dengan cahaya dan melahirkan Genghis Khan, Krishna yang lahir dari perawan Maia, Romulus yang lahir dari perawan Rerea Slyvia. Hitcheens juga menilai bahwa agama membawa sejarah kepada hal yang buruk. Misalnya dalam old testament, Tuhan no 1 ( dari suara, mimpi, astrologi ) sedangkan istri, harta, binatang secondary. Itu tidak mengajarkan konsep solidaritas, compassion to others. Bagi Hitcheen, ini contoh “ failed society “. Coba liat dalam perumpamaan Yesus – dikatakan orang yahudi dirampok, imam cuek, lewi cuek, samaria menolong – tapi mental bos, kasi duit lalu dia pergi. Jelas, Hitcheen menafsir semuanya ini bukan dengan “ exegesis “ tapi “ self observation “ maka tentu saja pemaparan dia didasarkan dengan “ seleranya “, bukan “ selera Tuhan “.

Jika kita kembali kepada Alkitab maka kita menemukan kembali Allah sebagai Allah atas sejarah baik dalam makna “ beginning until the end of everthing “ dalam dunia termasuk dalam seluruh proses sejarah dunia. Justru “ selera Tuhan “ mengajak kita bukan untuk hanya menerima “ good situation “ saja tetapi dituntut belajar bagaimana “ struggling “ di dalam dunia yang menawarkan “ relativism “ maupun “ bad situation “ dan belajar menerapkan iman kepercayaan di dalam Kristus untuk “ transforming “ dunia di dalam kuasa pelayanan oleh Roh Kudus.

c. Idea of God as The Perfecter of the world and human beings

Tidak sedikit orang Barat tidak dapat menerima realita ini karena sejarah hidup manusia begitu “ complicated “ dan bukan sesuatu yang mudah untuk dapat segampang membalik tangan di dalam melihat teladan Allah sebagai teladan yang sempurna. Tidak sedikit orang kristen yang “ murtad “ seperti : Karl Marx melihat Allah = God of rulers ( banyak hukumnya – kaku dan kejam ), Nietzche melihat Allah = God of pitiable weakling ( lemah, kasihan ), Sigmund Freud melihat Allah = A Tryranical Super Ego ( memaksakan super ego sendiri ). Kenapa bisa demikian ? Marx hanya melihat “ Old Testament = nightmare “. Nietzche melihat New Testament = super weakman, Freud melihat Old Testament = sombong. Kejatuhan mereka karena membaca Alkitab secara “ fragmented “ sehingga kesempitan logika mereka hendak memberikan “ judgement “ kepada Tuhan yang melampaui logika mereka. Ini tindakan kurang ajar ! Go out, you unholy spirit ! Pandanglah pada Yesus maka mereka akan tahu bahwa judgement mereka terlalu “ bodoh “. Ini gambaran kita juga. Jangan anggap otakmu encer lalu bisa judge Allah seenaknya ! Berdoalah minta Roh Kudus bekerja di dalam kita untuk melihat pekerjaan Tuhan yang memerdekan kita.


Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Kowloon, Hongkong

Wednesday, May 21, 2008

May 12 Memorial Day


12 Mei 2008, gempa bumi Shichuan berkekuatan 7,9 skala richter di Wenchuan, Sichuan yang telah menewaskan 15.000 orang lebih merupakan tragedy terbesar dialami china after tahun 1976 yaitu gempa bumi Thangsan yang menewaskan 242.000 orang. Pemerintah RRC mengelar tiga hari belasungkawa tuk mengenang korban gempa Sichuan. Tidak sedikit, orang china maupun overseas yang menyatakan belasungkawanya baik melalui memasang bendera setengah tiang, memasang lilin di malam hari bahkan membaca puisi-puisi penghiburan terhadap keluarga korban. Sebagai seorang foreigner yang “ numpang “ tinggal di China, saya cukup terbawa untuk hanyut ke dalam kesedihan bangsa komunis ini, betapa tidak, setiap hari kuikuti perkembangan upaya militer menyelamatkan jiwa-jiwa disana, hasilnya hampir nihil karena hampir semuanya ditemukan dalam keadaan mengenaskan dan mati. Saya cukup respek ( sebatas kagum ) terhadap kepedulian sosial Yayasan Tzu Chi dari Taiwan yang always cepat tanggap dalam memerankan dirinya sebagai tim luar negeri menolong korban. Di dalam dunia artis, Leehom Wang mewakili World Vision Taiwan menghimbau muda-mudi untuk mengambil bagian dalam menggalang dana sosial untuk korban gempa disana. Mengapa mereka melakukan semua ini ?


Semua karena diri mereka belajar mengasihi others. Kenapa demikian ? karena mereka sama-sama manusia, bisa merasakan atau meraba-raba bagaimana hidup di dalam kesulitan, kepedihan, kesakitan maupun ketakutan apalagi kurangnya kebutuhan sandang, pangan, papan. Akan tetapi apakah kasih mereka kepada others adalah the best goal dari kehidupan manusia ? Di dalam Reformed Theology, kita harus belajar mengasihi Allah dengan benar maka kita dapat mengasihi others dengan benar juga. Akan tetapi kesulitan manusia hari ini adalah melihat bencana alam yang merenggut ribuan nyawa manusia termasuk anak-anak kecil yang masih ingusan. Bagaimana orang kristen menanggapi hal ini ?


Di dalam CNN Weekend, Larry King mengangkat sebuah topic marak “ September 11 ; Where was God ? “, diajukan kepada beberapa tokoh-tokoh agama dan spiritualitas. Salah satunya adalah John Macarthur, senior pastor dari Grace Community Church, Sun Valley, yang kembali kepada kemutlakan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang memaparkan kedaulatan Allah yang sesuai dengan rencana kekal-Nya dan Macarthur menanyakan “ jika kita bertanya “ why didn’t God stop that “ maka sebenarnya kita memiliki “ a huge question “. Maksudnya “ Is God going to stop all dying ?”.


Dalam Lukas 13:3, mereka bertanya kepada Yesus “ apakah 18 orang yang tertimpa menara dekat Siloam lebih “ parah “ daripada orang lain yang diam di Yerusalem ? “. Yesus justru menjawab “ you better repent or you will likewise perish “. Yesus sendiri yang mengatakan sendiri bahwa “ repentance is the key to life and salvation “. Bagaimana kita bercermin melihat korban ? Seharusnya kita dapat melihat kerusakan total kehidupan kita sebagai manusia yang “ fallen into sin “ dan mengalami “ total depravity “ sehingga kita masih hidup karena belas kasihan Tuhan diberikan “ more longer “ untuk menikmati anugerah Tuhan, menikmati hidup tetapi setelah kematian, setiap kita harus mempersiapkan diri bahwa kita tidak bisa melarikan diri dari maut karena itulah upah dosa. Siapakah yang dapat memberikan pengharapan kepada manusia after death. Kembali kepada otoritas Alkitab, Kristus satu-satunya pengharapan kita, Allah yang rela inkarnasi menjadi manusia tanpa dosa, rela mati menebus dosa saudara dan saya maka pertobatan harus diatas nama Kristus karena dialah satu-satunya jaminan keselamatan yang memberikan pertobatan sejati kepada kita. Oleh karena Allah mengasihi kita maka selayaknyalah kita belajar mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita seperti Allah mengasihi mereka juga.


Hanya kembali kepada Allah di dalam Alkitab ( bukan humanis) yang menyatakan identitas Allah sebagai “ The Creator and Sustainer of Universe “ , Ia berdaulat atas semuanya … Ia yang berinkarnasi dalam Yesus Kristus, turun ke dalam dunia, mati diatas kayu salib untuk menebus dosa manusia agar manusia dapat diselamatkan dan menikmati surgawi. Bagaimana dengan korban gempa bumi di Sichuan bagi kita semua ? John Macarthur memberikan sebuah inspirasi kepada setiap kita untuk melihat kematian mereka sebagai “ a wake up call for us to prepare for that “. So guys, are you ready ?


Dalam Kasih-Nya

Daniel Santoso

Beijing. China

Saturday, May 17, 2008

All that's left ...

Di atas pesawat Air China, saya membaca Koran “ The Straits Times “ yang memberikan saya bahan perenungan pada hari ini yaitu Sichuan Quake. Lempengan bumi yang bergerak menyebabkan beberapa kota di Sichuan lumpuh, 250.000 luka-luka, 28.881 orang meninggal dunia. Puluhan ribuan orang hilang. Benar-benar gempa yang dasyhat ! hari ini hari kelima dan masih banyak korban baru yang ditemukan. Belum lagi, saya melihat berita mengenai Li Yi, seorang anak perempuan cantik dari Mioba, Beichuan county, berumur 10 tahun yang kaki kanannya diamputasi petugas medis di tempat ia ditemukan guna menyelamatkan jiwanya. Foto Li Yi dengan ekspresi kesakitan, desperate, kecewa, sedih membuat saya mulai kembali merenungkan hidup yang mengalami keterhilangan.

Dalam kitab Ayub 1:20-22, Ayub memberikan proklamasi doctrinal yang absolute tentang Allah di dalam kondisi hidupnya yang “ complicated “.


a. Tuhan memberi, Tuhan mengambil. Disini saya belajar melihat kesementaraan yang ada dalam diri saya baik termasuk keluarga, harta, perjuangan kita karena semua milik Allah. Hidup manusia adalah milik Allah maka manusia tidak memiliki hak mutlak untuk complain kepada Tuhan. Seringkali kita tidak menyukai kondisi seperti ini karena kita tidak memiliki “ kebebasan “ dalam mengunakan hak mutlak yang ada pada diri Tuhan sendiri sehingga akibatnya kita seringkali jatuh ke dalam budaya “ complaining “ tanpa konsep “ positioning “ yang tepat sehingga pergeseran posisi menyebabkan manusia semakin “ liar “ dalam perspektif membaca dengan akurat makna keterhilangan dalam hidup manusia di dalam kehendak-Nya.


b. Telanjang lahir, telanjang mati. Proklamasi doctrinal Ayub ini mengetarkan diri saya di dalam menyadari “ theology of weakness “. Siapakah Ayub ? dia bukan siapa-siapa ! dia hanyalah manusia yang dilahirkan telanjang ( tanpa membawa apa-apa ) dan mati juga dengan telanjang ( tanpa membawa apa-apa ). Itulah manusia ! hari ini kita sudah kehilangan “ theology of weakness “ dalam menilai hidup kita. Hari ini kita lebih banyak bicara mengenai “ successful life style “ dengan pendidikan tinggi, perhiasan mahal, pakaian brand terkemuka, teknologi elektronik canggih ketimbang definisi ketelanjangan hidup dari Ayub. Akibatnya, banyak dari mereka yang terbiasa dengan successful life style mengalami “ culture shock “ saat mereka jatuh ke dalam keterhilangan.


c. Being and Gifts. Ketika kita menerima respek dari seseorang, seringkali kita menilai respek itu dari pemberian demi pemberian yang dinyatakan kepada kita, padahal itu hanyalah masalah supplemen. Ayub menyadari betul bahwa hidupnya adalah dari Allah. Meskipun ia kehilangan kekayaan, orang yang dikasihinya tetapi ia tetap bersandar kepada Being yang memberi semua kelimpahan dalam hidupnya. Luar biasa ! jika doktrin benar, meskipun hidup lebih sulit, kita harus belajar rela menjalaninya karena Being adalah esensi yang paling penting.


Saya mengajak saudara sekalian berdoa untuk korban Sichuan Quake yang mengalami keterhilangan harta maupun orang-orang yang mereka sayangi agar mereka dapat belajar bersandar kepada Tuhan, Sang Being yang memberi dan mengambil hidup manusia karena semua hanya karna Anugrah-Nya buat manusia yang tidak memiliki modal apa-apa selain ketelanjangan dalam lahir dan matinya. Berdoa bagi korban, agar mereka senantiasa menengadah ke atas berdoa memohon Tuhan memberikan kekuatan bertahan hidup serta menyatakan proklamasi iman yang akurat seperti apa yang dikerjakan oleh Ayub. Tuhan memberkati kita semua …


Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Beijing, China

The Lordship of Holy Spirit

Apakah kuasa Roh Kudus itu real ? banyak orang kristen kurang menyadari pentingnya kuasa Roh Kudus karena mereka menganggap itu adalah konsep denominasi tertentu. Benarkah demikian ? Bagaimana pekerjaan Roh Kudus turun atas hamba-hamba-Nya ?


Di dalam perjanjian lama, Samson membunuh 30 orang filistin sendirian, Samson melawan singa. Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Apakah kuasanya beda ? The same spirit is present in you. Pahamkah engkau ? seringkali kita kurang paham atas besarnya kuasa Tuhan dalam hidup kita karena pekerjaan Roh Kudus. saya bukan orang yang pesimis tetapi saya mengajak saudara sekalian tuk meremind diri kita untuk melihat diri manusia yang telah mengalami “ crisis value “.


Dalam 1 Tesalonika 1:5 , Rasul Paulus menyatakan “ Injil bukan hanya disampaikan dengan kata-kata, tetapi juga dengan kuasa Roh Kudus dengan kepastian yang kokoh “. Di dalam Roh Kudus ada 3 atribut Ketuhanan ( Lorship Attribute ) yang penting yaitu :


1. Power – controlled by God.

Kok power dikontrol ama God ? karena Tuhan sendiri yang tahu mengapa kuasa Roh Kudus diberikan kepada manusia. Manusia di dalam kecacatannya, dapat menyalahgunakan kuasa untuk kepentingan sendiri. Oleh karena itu John Calvin mengatakan bahwa kuasa Roh Kudus harus kembali kepada Kristus. Kristus sebagai satu-satunya juruselamat dunia dan kuasa Roh Kudus tidak bisa lepas dari tahta Kristus. Maka orang kristen hanya dapat menikmati kuasa Roh Kudus jika mereka kembali kepada Kristus. Dilematisnya, orang kristen sendiri sudah kehilangan kuasa Roh dalam pelayanannya, mereka lebih over-confidience dengan skill dirinya sehingga mereka menganggap diri mereka adalah penting dalam pelayanan. Orang seperti ini melayani dengan konsep “ ubermench “, itu bukan ajaran Alkitab. Itu ajaran humanis dari Nietzche. Jika saudara suka liat komik Marvell tahun 1940 an, konsep “ Ubermench “ banyak muncul dalam tokoh-tokoh yang digambarkan sebagai pahlawan yang “ perfecto “, berbeda dengan komik Marvell tahun 90 an yang mulai “ realistis “ dengan kelemahan mereka, misalnya red laser superman gak bisa tembus timah, spiderman bergumul dengan kemiskinan, hulk kuat tapi hidup dalam penyangkalan diri. Maka ubermench hanyalah konsep yang tidak realistis. Perlu theology of weakness tuk memahami kelemahan diri dan kelemahan orang lain. Tapi bukan minder tetapi menyadari semua karena pekerjaan Roh Kudus yang berpusat pada Kristus, bukan original dari diri kita. Di dalam Kristus baru ada kerinduan kepada Injil yang memberikan semangat sejati yang tersirat makna kekal.


2. Authority – God’s Authoritative Word.

Kuasa Roh Kudus tidak lepas dari otoritas Allah. Pertama, Otoritas Allah gak bisa dilepaskan dari Firman. Melalui Firman maka kita dapat mengenal Allah dengan benar, mengenal Kristus dengan benar, mengenal kuasa Roh Kudus dengan benar sehingga kuasa Roh Kudus pasti membangun iman orang kristen dengan kepercayaan dan ketentraman hati. Disini kuasa Roh Kudus menyucikan rasio manusia tuk mengecap kebenaran dan hati dikokohkan oleh kebenaran untuk melayani. dimanakah kuasa Roh dalam hidupmu ? hari ini kita banyak sudah tidak peduli dengan iman maupun “ the work of holy spirit “ karena kita tidak rela bercermin di hadapan Firman Tuhan. Mau jadi kristen apa loe ? taklukan dirimu pada Firman dengan mental rela dididik. Kedua, otoritas Allah gak bisa dilepaskan dari janji anugerah Tuhan. Di dalam Kristus, kita melihat penggenapan janji anugerah Tuhan dalam keselamatan. Jika kita tidak melihat Kristus sebagai pengenapan janji anugerah Tuhan maka kita pasti memposisikan diri sama seperti orang yahudi hari ini yang masih menunggu mesias, padahal Mesias adalah Kristus. Kasihan sekali ! Ketiga, otoritas Allah = absolute. Otoritas Allah adalah haknya untuk mengatakan kepada ciptaan-Nya apa yang mereka harus kerjakan. Saat Allah berkata kepada Musa “ let my people go “ – statement itu bukan spekulasi tetapi otoritas Allah yang absolute.


3. Covenant Presence – Meditating His Powerful control over all things

( kemanakah aku dapat pergi menjauhi roh-Mu Tuhan – psalm 139:7 ). Allah bersama-sama dengan umat-Nya. Seringkali kita tidak melihat Allah hadir karena kita kurang setia kepada covenant Allah yang berkata “ Aku adalah Allah dan engkau adalah kaum-Ku “ ( Keluaran 6:7 ).

Inilah konsep lordship yang ada pada para rasul dan para nabi, dalam old testament maupun new testament, semua karena pekerjaan Roh Kudus di dalam God’s control, God’s authorities, God’s Covenant Presence.


Seringkali kita menjadi orang kristen yang kurang berani di dalam memberitakan Injil karena kita kehilangan konsep God’s control, God’s authorities dan God’s Covenant Presence. Kita lebih banyak memerankan diri sebagai “ penonton “ Injil, bukan “ pemberita “ Injil karena kita gak melihat hubungan Injil terhadap others … padahal Paulus memberitakan Injil karena others yang membutuhkan Injil. Oleh karena itu bagaimana dengan saudara ? Maukah saudara melayani bukan hanya dengan kata-kata “ fisik “ tetapi melayani dengan kekuatan Roh Kudus, kepastian yang kokoh untuk jiwa yang butuh Injil. Tuhan memberkati kita semuanya …


Dalam Kasih-Nya

Ev. Daniel Santoso

Shanghai

Wednesday, April 09, 2008

Beauty of His Creation

Dalam Majalah Tempo edisi 13-19 Februari 2006 halaman 16, sebuah rubrik inovasi memberikan informasi mengenai Surga Papua yang Hilang, dimana ditemukan fauna “ baru “ di pegunungan Foja, Memberamo, Papua. Selama sebulan 13 orang peneliti menjelajah ke hutan, mereka menemukan kembali ratusan spesies lama yang dianggap telah punah. 30 spesies reptile, 60 spesies amfibi, 215 spesies burung, 37 spesies mamalia dan 170 spesies kupu-kupu adalah hasil penelitian mereka selama sebulan dan masih banyak kekayaan hayati Memberamo yang belum tersingkap. Setelah membaca rubrik inovasi ini saya belajar melihat Tuhan sebagai Sang Pencipta yang memiliki “ greater creativity “ untuk mendesain ciptaan-Nya dengan “ jutaan desain “ yang tidak bisa digeser oleh zaman, kalaupun punah itu karena kegagalan manusia di dalam menjaga dan mengusahakan dunia. Siapa desainer terbesar hari ini yang bisa membikin desain sebanyak Allah dengan kualitas yang abadi ? no ones !


Sebagai Calvinis, saya mempercayai alam semesta dan segala ciptaan maupun culture adalah general revelation yang memuat pengertian mutlak God as creator dan man as creatures. Sebenarnya saya kurang bisa mengerti dengan pendapat orang Konfusianisme seperti Prof. Tu Wei Ming dari Harvard University, Yen Ching Institue yang tidak menerima pengertian mutlak ini sebagai prinsip dasar dalam kehidupan manusia tetapi terus menekankan “ self-cultivation “ guna “ to cultivate centrality and harmony with throughness “ di dalam “ Process of Learning “. Tidak heran jika Konfusianisme terus menekankan “ Chung Yung “ dalam definisi “ what heaven impact to man is called human nature, to follow human nature is called the way, cultivating the way is called teaching “. Dimana Tu wei ming lebih menyukai metode “ interpretive “ ketimbang kekristenan yang “ exegetical “ karena Tu wei ming menganggap exegetical itu bermain di dalam kata-kata “ language game “. Ia begitu enjoyed di dalam prinsip-prinsip humanis dari paham Konfusianisme yang digumulinya setiap hari sehingga setiap studi, observasinya menjadi kumpulan prinsip-prinsip yang dilanggengkan dan diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Memang tidak heran, jika Konfusianisme begitu kelihatan agung karena setiap prinsipnya seakan-akan begitu “ down to earth “ dan selaras harmoni seperti alam yang ditekankan juga oleh Lao Tze. Secara humanitas, ada keagungan alam semesta yang memberikan “ pembelajaran “ kepada manusia untuk hidup bermasyarakat maupun hidup berbakti kepada Negara serta setia memegang Mandat Surga yang diberikan oleh Langit ( unknown ).



Bagaimana dengan kekristenan ? Justru wahyu umum memberikan “ kelimpahan “ kepada manusia untuk melihat keindahan karya Tuhan dan tidak bisa memungkiri bahwa di atas semua karya alam semesta, designernya adalah Tuhan sendiri. Tidak seorangpun dapat memungkiri Allah tidak ada, bahkan orang atheist berusaha melarikan diri dari pengetahuan tentang Allah sehingga mereka menipu dirinya seakan-akan Tuhan itu tidak ada padahal mereka lupa bahwa dirinya bisa exist dalam dunia ini karena Tuhan. Inilah kebodohan manusia yang mendukakan hati Tuhan ! banyak orang meminta bukti akan kehadiran Tuhan padahal setiap yang manusia nikmati adalah karya Tuhan yang Maha hadir tetapi kebebalan manusialah yang menyebabkan Tuhan cenderung dilupakan oleh manusia. Dasar ! wahyu umum sudah cukup menyatakan eksistensi Tuhan tetapi Tuhan memberikan wahyu khusus kepada manusia untuk dapat melihat keindahan karya-Nya di dalam keakuratan yang tepat yaitu melalui Firman yang menjadi daging yaitu Yesus Kristus yang menjadi satu-satunya message dalam Alkitab sebagai Firman Tuhan. Oleh karena itu keindahan ciptaan Tuhan lebih tajam dilihat dari perspektif Tuhan yang akurat dari sumber yang khusus yaitu Alkitab sebagai Firman Tuhan yang memberikan pengharapan kepada manusia untuk dapat menerima kehadiran-Nya di dalam ciptaan dan di dalam jiwa manusia yang berdosa yang membutuhkan penebusan dosa dan pengharapan hidup yang kekal yaitu di dalam Yesus Kristus, satu-satunya Allah yang menjadi manusia untuk rela mati menyatakan keindahan hidup berdamai dengan Allah dan menyatakan kemenangan bersama-Nya dan orang-orang kudus-Nya menikmati hidup kekal yang indah – new creation !



Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Xiamen, Fukien

Arti sebuah pengorbanan nyawa

Sebuah berita duka muncul dari televisi Guangzhou tempat saya tinggal yaitu brother chow, seorang calon serdadu komunis yang meninggal dunia bukan karena sakit penyakit, kecelakaan maupun menerima kutukan sang dewa. Di Beijing, Ia bersama temannya menolong anak-anak yang sedang bermain di atas sungai es yang meleleh. Mereka menolong anak-anak tapi anak-anak selamat, brother chow meninggal di tempat karena kedinginan. Angkatan darat mengangkatnya sebagai “ hero “ yang telah menyelamatkan jiwa manusia, tidak sedikit mereka datang ke tempat peringatan jasanya dengan derasnya air mata di wajah mereka sambil suara yang terisak-isak menahan tangisan. Belum lagi, papa, mama brother chow yang histeris menangis karena 2 tahun tidak melihat anaknya, eh dirinya telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Ketika anak-anak yang diselamatkan oleh brother chow bersama dengan orang tuanya menemui orang tua brother chow, hanya satu vocabulary yang keluar dari mulut mereka yaitu “ I am Sorry “. Melihat jasa brother chow, kota Beijing memperingati hari kepahlawannya dan kota kelahirannya, brother dianggap sebagai pahlawan berjasa bagi “ people rebuplic of china “.

Scene 30 menit ini membuat saya tertegun atas arti sebuah pengorbanan seorang serdadu yang rela mengambil resiko demi menyelamatkan jiwa generasi penerus bangsa. Tapi tiba-tiba saya tersentak dengan sebuah pertanyaan dari hati kecilku, jika pengorbanan brother chow membuatmu tertegun, bagaimana dengan pengorbanan Yesus bagimu, anak malang ? oh gosh ! saya gelisah dengan pertanyaan sederhana dari suara hatiku ! seakan-akan saya diperhadapkan di sebuah mahkamah agung yang memberikan dakwaan kepada saya mengenai respon saya terhadap brother chow dan kepada Yesus. Saya bisa tertegun dengan kisah brother chow karena saya melihat ada “ evidence “ yang memberikan saya “ jaminan “ bahwa ketertegunan saya memiliki bukti nyata yang terekam di dalam tayangan documenter angkatan darat tahun 2008, sedangkan Yesus, saya menyadari bahwa mungkin saya hanya tertegun dengan “ stories “ yang memberikan “ redemption “ kepada diri saya sehingga karena gak ada yang mati buat saya maka Yesus, oklah ! atau jangan-jangan saya hanya mempercayai pengorbanan Kristus hanyalah sebuah pengorbanan yang diberikan Allah kepada kita sebagai “ door prize “ sehingga kita seperti menerima tiket pesawat untuk terbang ke sebuah tempat yang namanya “ Heaven “. Atau jangan-jangan saya merasa Yesus hanyalah legenda yang memberikan “ pendidikan moral “ kepada kita untuk belajar mengorbankan diri untuk orang lain.

Mengapa aku lebih mudah tertegun atas pengorbanan brother chow ketimbang pengorbanan Kristus ? saya merenungkan betapa sulitnya manusia memahami pengorbanan Kristus karena diri-Nya adalah Allah yang rela turun menjadi manusia dan menyerahkan nyawanya mati di atas kayu salib demi menebus dosa saudara dan saya dan ia bangkit dari kematian memberikan pengharapan kepada saudara dan saya serta ia naik ke surga dan akan datang kedua kalinya. Di MRII Shanghai saya ada putarkan scene singkat via dolorosa dari Passion of the Christ dan seorang anak kecil “ Winelson “ masuk tanpa sepengetahuan saya dan melihat penderitaan Kristus. Ia bisa begitu tertegun. Waktu saya tahu dia sedang melihatnya, saya matikan. Tetapi winelson berkata “ I wanna see Jesus “. Oh God. Dimanakah teriakan kita ? kita sudah hidup terlalu sibuk sehingga kehilangan keingintahuan kita untuk melihat Yesus. Tetapi saya belajar sesuatu dari semuanya ini, justru saya diberkati Tuhan karena saya terlalu “ stupid “ untuk memahami pengorbanan Kristus sehingga Tuhan memberikan “ ilustrasi “ yang menyentuh diriku untuk tertegun sehingga aku belajar menyadari di dalam “ faith “ bahwa pengorbanan Kristus melampaui apa yang dikerjakan oleh brother chow. Puji Tuhan! Bagaimana dengan saudara ? sudahkah engkau realized atas “ ilustrasi-ilustrasi “ yang Tuhan berikan kepadamu ? sudahkah kau melihat pengorbanan-Nya dalam iman?

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Guangzhou, China

Peran Gereja dalam Dunia  Yoh 8:21-29, 30-32 Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan ...