Wednesday, November 03, 2010

The Only Focus

Bagaimana kita menghidupi perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan di dalam dunia yang terus berubah ini? Tidak sedikit dari kita yang telah bergereja, mendengar kotbah serta menerima pendidikan teologi sekalipun, tetapi kita merasa “kurang iman” dalam menjalani hidup kita dalam dunia untuk Tuhan. Why? Seringkali kita melihat adanya ”gap” kehidupan anak-anak Tuhan di jaman sekarang dengan kehidupan para rasul dan nabi yang hidup ribuan tahun yang lalu. Kita dapat melihat bagaimana Allah memakai Musa mengeluarkan bangsa Israel keluar dari Mesir, bahkan penyertaan Tuhan begitu nyata dengan adanya tiang awan dan tiang api-Nya yang senantiasa memimpin perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian Allah. Kita dapat melihat bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego diikat oleh serdadu raja Nebukadnezar karena mereka tidak mau tunduk di hadapan Baal dan Nebukadnezar, tetapi ada penyertaan Tuhan yang membebaskan mereka dan mereka tidak mati dalam luapan dapur api tersebut, malah mereka hidup ditemani oleh utusan Allah. Pengalaman rohani mereka begitu “real” sehingga mereka jelas melihat penyertaan Tuhan atas hidup mereka. Namun, bagaimana dengan kita hari ini? Bukankah kita menemukan adanya “gap”, mengapa mereka bisa menikmati Tuhan dengan “real”, sedangkan saya kok tidak? Pertanyaan ini muncul di dalam sebuah student fellowship yang saya hadiri beberapa hari yang lalu di Cheng Chi University, Taipei, Taiwan. Mereka membahas buku “Knowing God” yang ditulis oleh J.I Packer, bagi saya, “Knowing God” adalah high recommended utk semua orang kristen untuk membacanya.

Memang kita sering melakukan perbandingan/komparasi antara kehidupan rasul dan nabi dengan kehidupan kita di dalam dunia ini sehingga kita cenderung melihat “gap” dalam mengerti karya-karya Allah dalam kehidupan anak-anak Tuhan sehingga tercipta banyak diskusi panel penuh pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan inkonsistensi Tuhan dalam berkarya di dalam kehidupan orang percaya. Akan tetapi, hasil diskusi panel manusia hanyalah berputar-putar di area yang “blur” baik dalam membandingkan “event”, “people”, “context”, “special cases”, apalagi soal “messages behind the scenes”. Tidak ada jawaban yang memuaskan hati. Akibat tidak puas, banyak manusia yang menjadi “free thinkers”, sibuk berinovasi dalam memberikan “statements” yang kelihatan logis dan kelihatan bertanggungjawab sesuai kepuasan pikiran manusia tapi jauh dari kebenaran Tuhan. Seringkali kita lupa atau lebih tepat “sengaja melupakan” sebuah realita yang tercatat di dalam Kejadian 3 yaitu Kejatuhan manusia ke dalam dosa (hamartia – meleset dari sasaran). Kejatuhan manusia ke dalam dosa menyebabkan rusak totalnya hubungan Allah-manusia, termasuk standar seluruh aksi manusia. Jika kita mengabsolutkan standar seluruh aksi kita yang berdosa ini, maka kita sedang melukai dan mengkhianati Allah. Tuhan tidak berkenan atas tindakan manusia yang tidak setia kepada kebenaran Tuhan. Tuhan berkenan atas tindakan manusia yang setia kepada kebenaran Tuhan yaitu Back to The Bible. Jadi, apa yang seharusnya kita imani? One for sure ... Firman Tuhan mengajak saudara untuk setia memfokuskan diri kepada Allah, bukan sibuk mencari “persamaan” dalam situasi, kondisi, latar belakang, konteks, hidup orang percaya dalam zaman Alkitab dengan zaman sekarang. Zaman memang berubah tetapi Allah tidak pernah berubah.

Allah tidak berubah (Maleakhi 3:6). Namun, banyak kecurigaan yang muncul dalam mengerti Allah tidak berubah ketika Alkitab mencatat “Allah yang berubah” (Kejadian 6:6-7, Keluaran 3:14, Yunus 3:10). Sungguhkah ada kontradiksi dalam diri Allah? Ketika Allah mengatakan bahwa Ia tidak pernah berubah, Ia sedang membicarakan masalah natur dan karakter-Nya. Tetapi tidak berarti bahwa Ia tidak bisa merubah cara kerja-Nya dengan manusia sepanjang sejarah.

Ketika kita melihat Allah merubah pikiran-Nya (menyesal), kita melihatnya dari sudut pandang seorang manusia. John Calvin mengatakan bahasa yang dipakai adalah bahasa bayi "baby talk". Karena Allah tahu segala sesuatu dari kekekalan, Ia selalu tahu rencana-rencana tertinggi yang akan Ia kerjakan; termasuk juga rencana untuk "menyesal dan berubah pikiran". Ia telah melihat hasil pekerjaan Yunus di Niniwe. Penduduk Niniwe bertobat dan Allah merubah pikirannya dari penghancuran yang seharusnya datang kepada penduduk Niniwe. Tentu saja, Allah tahu hal ini (penyesalan orang Niniweh) akan terjadi dan menetapkan bahwa peringatan harus diberikan dalam rangka membawa mereka ke dalam penyesalan.

Inilah fokus kita seharusnya yaitu kembali kepada “message” yang dinyatakan oleh Allah yaitu keselamatan hanya di dalam pekerjaan-Nya yang digenapi dalam pribadi Yesus Kristus sebagai penebus fokus orang percaya untuk kembali kepada Allah yang sejati.Sudahkah fokus saudara menengadah kepada-Nya? Biarlah Roh Tuhan bekerja membawa setiap kita kembali kepada fokus utama yang sejati. Tuhan memberkati.

Dalam Kristus
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Friday, October 29, 2010

Menemukan Kembali Nilai Reformasi

Martin Luther (1483-1546), Seorang biarawan dari ordo Agustinian yang sebagian besar hidupnya menjadi Professor Teologi di Wittenberg. Ia belajar teologi, bukan untuk mengejar gelar maupun kedudukan akademik. Ia belajar teologi karena Allah memanggil Luther dan Luther ditangkap oleh Allah untuk mengugah motivasi Luther untuk mencari Kerajaan Allah dan Kebenaran Allah.

Luther memiliki cara pandang yang tajam melihat akar kerusakan gereja adalah doktrin yang tidak sesuai dengan Alkitab, doktrin yang tidak memiliki otoritas sejati. Luther menyadari kerusakan gereja hanya dapat diperbaiki jikalau doktrin dikembalikan kepada Alkitab. Oleh karena itu, Gerakan Reformasi memiliki visi yang agung dan mulia yaitu mengembalikan kekristenan kepada otoritas Alkitab, dengan iman kepercayaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Wahyu Allah dan mempertahankan kebenaran serta pelaksanaan kebenaran, bukan dasar otoritas gereja (magisterium). Luther menyadari bahwa otoritas hanya terdapat pada Alkitab. Problemnya, diakui oleh seorang pendeta kondang dari Amerika Serikat, Jim Bakker. Ia mengakuinya sendiri, boro2 baca Alkitab, membaca konteksnya saja tidak mau dia lakukan.Menjadi hamba Tuhan hanya dipahami sebagai sebuah “profesi” seperti layaknya “sales” dan mengutip serta membangkitkan semangat. Hal yang lebih penting adalah hati yang tulus mengasihi Tuhan lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dari Alkitab kita beroleh pengharapan. Pengharapan berdasarkan Alkitab kita beroleh pengharapan iman. Jikalau bukan Allah yang mewahyukan Alkitab maka tidak ada Firman Tuhan di dalam dunia. Jikalau tidak ada Firman Tuhan maka kita akan kehilangan otoritas yang sejati. Itulah sebabnya kita harus kembali kepada otoritas Alkitab. Hanya dengan tolak ukur pengajaran Alkitab, kita dapat menilai segala sesuatu. Dalam hal ini semangat “Back to the Bible” (Sola Scriptura) yang seharusnya mendidik gereja untuk menaklukan diri di hadapan Firman Tuhan, bukan gereja (magisterium) yang menguasai Alkitab.

Tercantum dalam Pengakuan Iman Augsburg (Art. IV, 1530), Manusia tidak dapat dibenarkan dalam pandangan Allah melalui kekuatan, jasa-jasa atau perbuatan-perbuatan mereka sendiri, sebaliknya secara cuma-cuma mereka dibenarkan karena Kristus (Solus Christus) hanya melalui iman (Sola Fide), pada waktu mereka percaya bahwa mereka diterima dalam anugerah saja (Sola Gracia) dan dosa-dosa mereka diampuni karena Kristus yang melalui kematian-Nya sendiri menyelesaikan dosa-dosa kita(Solus Christus). Iman ini diperhitungkan Allah sebagai kebenaran bagi kemuliaan-Nya (Solideo Gloria), (Roma 3 dan 4). Jadi, Iman bukanlah hasil kontribusi manusia, melainkan bagian dari anugerah keselamatan yang Allah berikan (Sola Gracia), bukan pemberian manusia berdosa kepada Allah (Efesus 2:8-9).
Konklusi bahwa segala sesuatu harus ditinjau kembali dalam terang Firman Tuhan Allah yang terdapat di dalam Alkitab. Memang, ada dilematis bagaimana manusia dapat menjalani perjalanan hidup antara hidup sementara dengan hidup kekal. Seakan tidak ada titik yang dapat menyeimbangkan kedua kondisi hidup tersebut, satu-satunya titik temu hanya dapat digenapkan melalui inkarnasi Kristus, yaitu Firman yang sudah menjadi daging. Jadi kesulitan hidup akan tetap ada maka justru kita harus konsisten menjalani sebuah kehidupan yang selaras dengan apa yang Tuhan mau. Itulah konsistensi dari semangat Reformasi yaitu berani jalani tantangan hidup dengan prinsip kekekalan yang Tuhan kehendaki, bukan manusia. Luther menjalani tantangan hidup dengan prinsip “back to the Bible”, mengadakan pembaharuan dan protes menentang indulgensia dan penyalahgunaan lainnya yang tercantum dalam 95 tesis yang dipakukan di pintu gereja Wittenberg.

Seharusnya kita menemukan kembali semangat reformasi, nilai-nilai reformasi dan berani melakukan sebuah “action” dalam menjalankan Mandat Injil (memberitakan Injil yang memancarkan kemuliaan Allah, kesucian Allah, keadilan Allah) , Mandat Budaya (mengelola, mengatur dan membudidayakan seluruh alam ciptaan Allah), Mandat Keselamatan (menerima, mengalami, menikmati serta memberitakan anugerah dan kebenaran Allah) dan Mandat Pelayanan (menjalankan kehendak Tuhan). Sayang sekali, apabila orang kristen sendiri semakin lemah dan takabur sehingga jati diri kekristenan menjadi tidak jelas, alias tiada parameter yang jelas untuk membedakan antara yang benar dan salah, jujur dan bohong, pejuang dan pecundang dan seterusnya. . Yg merusak dan menjegal adalah oknum-oknum yang punya keinginan untuk membajak Kerajaan Allah dan Kebenaran untuk diri sendiri dengan perilaku rohaniawan, jubah agama, sakramen, religiusitas yang palsu.

Sekali lagi, seharusnya, Nilai-nilai Reformasi menjadi parameter orang kristen untuk mengerjakan mandat-mandat yang dipercayakan Allah. Dalam hal ini, sangat diperlukan kesatuan visi dengan kesiapan hati untuk berkorban dan bekerja keras dalam penyertaan Roh Kudus untuk mewujudkan dengan komitmen dan konsistensi sebuah “christian living” sebagai Anak-anak Tuhan yang setia melayani Tuhan Allah di dalam dunia sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Renungkan kembali nilai-nilai Reformasi dalam benak kita semua dan berdoalah memohon Roh Kudus membakar hati kita untuk belajar memberikan yang terbaik dalam menjalankan mandat surgawi yang Tuhan telah anugerahkan bagi anak-anak-Nya. Selamat memperingati Hari Reformasi!

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Beijing, China

On Halloween

Hallowen, sebuah event kultural yang berasal dari "ancient celtic" di Irlandia, Inggris dan Perancis. Biasanya mereka merayakan hallowen pada tanggal 1 November sebagai "the end of summer and the harvest of season". Tgl 31 Oktober mereka merayakan "samhain". Kebudayaan "trick and treating", sebuah kebiasaan dari abad 9 untuk melakukan "souling" pada tgl 2 November. Biasanya kebiasaan ini dipergunakan untuk membantu orang miskin, tetapi justru now secara sekuler, "trick and treating" dianggap sebagai "just for fun" saja.

Bagaimana orang kristen menanggapi Hallowen? Father Gabriele Amorth, pastor Vatican yang berkecimpung dalam pengusiran setan (exorcism) di Roma mengatakan bahwa " Kalo anak-anak Inggris dan American menyukai pakaian iblis dan penyihir hanya dalam sehari dalam setahun, itu bukanlah masalah. toh itu hanyalah sebuah permainan, tidak ada maksud yang lain. Saya tidak setuju. Secara directly, Hallowen adalah paganisme yang mempromosikan satanisme, penyembahan berhala, mistik hitam, okultisme (Ulangan 18:9-13) dan orang kristen dipanggil bukan untuk dipengaruhi oleh hallowen tapi orang kristen harus memberikan pengertian yang mendidik generasi muda utk tidak dipermainkan oleh setan, tetapi kembali ke jalan Tuhan (Efesus 5:11. Jadi tidak ada common ground dalam Hallowen. Injil harus lebih diberitakan oleh jemaat dan hamba Tuhan dengan hati yang takut akan Tuhan, mengasihi kebenaran dan memperjuangkan kebenaran Tuhan di dalam terang Injil Tuhan, bukan kegelapan.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Tuesday, May 25, 2010

Chen Hsu Chu

Siapakah Seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia ini versi Majalah Time 2010? Siapa lagi kalo bukan tokoh-tokoh dunia seperti Obama, Bill Clinton, Sarah Palin, etc. Akan tetapi, ada sebuah nama yang tidak pernah kita dengar sebelumnya, namanya Chen Shu, dari Taiwan. Mungkin kita lebih mengenal penulis artikel Chen Shu Chu di majalah Time yaitu Ang Lee, sutradara Brokeback Mountain, Lust, Caution, etc. Ang Lee menulis sebagaimana fakta-fakta kebaikan humanis Chen Shu Chu, seorang pedagang sayur di TaiTung berumur 59 tahun, telah memakai uang penghasilannya untuk membangun perpustakaan umum agar banyak generasi muda suka membaca buku. Kurang lebih USD 320.000 atau NT 10 juta telah disumbangkan oleh Chen Shu Chu, memberikan support kepada anak-anak miskin yang kurang mampu membiayai sekolah, beli buku maupun memiliki perpustakaan umum. Ia mengatakan “"Money serves its purpose only when it is used for those who need it". Rencana dia akan mengumpulkan dana untuk orang yang miskin dalam mengambil pendidikan, makanan dan kesehatan, rencananya dimulai dari integritas hidupnya rela berkorban dana demi menolong orang miskin. Ini luar biasa! Terkadang kita lebih banyak bikin planning soal destinasi, waktu maupun profit tanpa kita melihat apa yang Tuhan planningkan kepada kita melalui prinsip-prinsip Firman Tuhan. Alkitab mencatat besok aja kita tidak tahu, bagaimana kita harus mengurusi urusan planning, justru hal tersebut memberikan sebuah pengertian bahwa manusia adalah fragile dan mereka membutuhkan Tuhan karena bermegah di dalam Kristus, satu-satunya. Barulah ada kemenangan karena Firman Tuhan membawa setiap kita menikmati kepekaan terhadap perbuatan dosa (Yohanes 4:13-17). Kita harus belajar maintain keuangan kita untuk kemuliaan Tuhan dan biarlah Tuhan memberikan "disiplin rohani" bagi kita masing-masing untuk mau berupaya memberikan yang terbaik bagi Allah.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Delay Flight

Delay Flight. Siapa yang tidak pernah terjebak di dalam delay flight? Sampai hari ini, saya telah mengalami ratusan delay flight dalam frekuensi jadwal terbang saya selama 7 tahun melayani di China. Hari ini saya terjebak dalam penerbangan Shanghai- Guangzhou yang melelahkan seluruh tubuh dan pikiran saya. Betapa tidak, Pagi saya udah ditelpon dari elong (tempat saya beli tiket pesawat) bahwa ada change flight. Seharusnya saya flight jam 13.30, akhirnya jadwal saya dirubah menjadi 14.30. Setelah sampai di Hongqiao Airport. Jam 15.30 saya baru flight dalam perjalanan ke Guangzhou. Tiba-tiba di tengah perjalanan, muncul informasi dari kapten bahwa kita mendarat darurat di Xiamen Airport karena pesawat tidak dapat memasuki wilayah Guangzhou disebabkan weather problem yang diduga adalah badai angin topan. Akhirnya kami menunggu di Xiamen, dari jam 18.00-23.00 ( waktu sekarang saat saya menulis jurnal ini.). Memang melelahkan, from the morning delay flight, on the spot, delay 1 jam, on the planes tunggu 3 jam, on the xiamen airport tunggu 3 jam juga. Kondisi saya hanya menerima 1 coke and 1 instant noodles. Well, can u imagine that?

Hari ini just wanna share about one topic. Pembelajaran saya dalam delayed flight hari ini adalah belajar mengucap syukur kepada Allah di setiap keadaan. Meskipun saya delayed, saya diuji oleh Tuhan, apakah mulut saya tetap digunakan untuk mengucap syukur? Atau saya merusaknya dengan sungut-sungut? Terus terang, ketika saya hanya menerima 1 instant noodles n 1 coke, terlintas dalam hati “kok instant noodles doang sih?”. Langsung saya teringat sebuah kritik dari seorang rekan saya kepada saya ketika saya berada di Jakarta dalam seminar Faith and Culture-nya Pdt. Dr. Stephen Tong. Saya menerima roti, lalu saya ngomel “kok roti doang”. Rekan saya mengatakan, “Ko Dan, Doang itu Roti Lho”. Langsung tersentak dalam hati saya bahwa seringkali kita kurang bersyukur di dalam segala hal. Kedua, Akibat delayed flight, semua passengers masuk ke dalam “kebingungan” sehingga mereka mulai sibuk mengatur ulang jadwal mereka. Baik penumpang dari Economy Class sampai First Class, semua sama bahwa mereka harus mengalami hal yang sama yaitu mengatur ulang jadwal mereka. Manusia mulai belajar apa itu dinamis disaat planning kaku mereka terhalang maupun tidak dapat terealisasi. Kenapa kita perlu hidup dinamis? Karena manusia tidak dapat hidup di dalam kemutlakan rencananya sehingga manusia harus belajar waspada terhadap setiap kesulitan-kesulitan yang mereka bakal hadapi dan berani mengambil keputusan untuk belajar mengutamakan Tuhan lebih daripada keputusan kita.Kenapa saya juga harus menunggu? Ya seharusnya saya belajar meyakini pimpinan Tuhan bahwa pasti ada yang Tuhan mau ajarkan kepada saya mengenal kejadian ini. Ini bukan pertama sekali saya mengalaminya. Tahun 2009, Saya teringat ketika saya menunggu jadwal keberangkatan kereta api dari Beijing ke Guangzhou (harga 253 RMB, duduk di kursi bersama orang-orang Chang Sha selama 23 jam), saya tertegun dengan sebuah scene bagaimana seorang ayah harus memberi makan istri dan dua anak perempuannya. Apa yang dia lakukan? Dia membeli sebuah “Mie Instant Noodle” dan satu porsi nasi putih. Istri dan 2 anak-nya makan mie instant dan nasi. Terakhir, sang ayah makan nasi dan kuah mie instant saja. Yang Ajaib, mereka menikmati seluruhnya dengan muka yang berseri2 dan tidak sedikit senyuman ditebarkan kepada setiap orang yang melewati mereka. Kenapa mereka bisa bersukacita? Karena mereka masih bisa makan, itu anugerah Tuhan. Oh man, it was touching my heart! By The Way, Sekarang jam 1 pagi, ada panggilan untuk boarding now! Thank’s God for everthing and see you around, guys, Ciao!

In Love
Daniel Santoso
Xiamen Airport, China

Sunday, May 02, 2010

The Confession of (Reformed) Shopaholic

Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis wanita yang shopaholic, alias tidak bisa menahan diri ketika dirinya mencari hawa segarnya di fashion boutiques kelas dunia di Manhattan, New York City. Bagaimana suka dukanya seorang shopaholic yang harus “berperang” terlebih dahulu melawan keinginan dirinya untuk memiliki sebuah syal hijau yang “anggun” dan kalah dalam menahan diri untuk tidak membelinya. Bahkan ia rela membayarnya dengan perhitungan kartu kredit yang memusingkan dirinya dalam cara membayar semuanya, baik kepada bank maupun kepada “debt collectors”. Apalagi, ia rela berkelahi dengan sesama shopaholic lainnya demi sebuah sepatu boot? Dalam hal ini, seharusnya wanita menyadari bahwa shopping menyediakan dua tastes yaitu: taste of heaven dan taste of hell. Seringkali kita merasakan shopping menjadi taste of heaven pada saat barang yang menyenangkan mata dan hati itu telah menjadi milik kita. Seringkali hati bersuara “ You Got to have it” dan terkadang kita menyetujui semuanya itu dengan excuse “kapan lagi sale 50%?”. Seringkali kita mengasihi diri kita sendiri (narcisst) sehingga kita bisa memberikan treat yang paling the best kepada diri kita meskipun kita harus bokek karenanya. Enggak heran, semuanya ini dapat disimpulkan dalam format Rene Descartes yaitu I SHOP, THEREFORE I AM. Tentu saja, kita boleh shopping asal wisely! Justru kita seharusnya belajar self control karena kita cenderung jatuh ke dalam control disorder sehingga kartu kredit dan uang cash kita keluar hanya untuk membeli barang-barang yang kurang perlu menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan kita. Justru kita harus menggunakan uang kita untuk beli apa yang kita butuhkan dalam kehidupan ini. Hal ini bukan hanya berlaku pada wanita saja, termasuk pria. Tidak sedikit, pria banyak menghabiskan limit kartu kredit mereka hanya untuk memuaskan keinginan mereka membeli barang-barang yang mereka mau. Ada orang berkata, Pria jatuh dalam “collectors” sedangkan wanita lebih jatuh ke dalam “shopaholic”. Memang tidak salah, buktinya, Wanita lebih banyak berada di fashion boutiques di Mall dan Pria lebih banyak berada klub motor besar Harley Davidson, tempat kolektor jam antik, toko elektronik, etc.

Menurut seorang komentator, kita seharusnya menyadari bahwa kita kurang sehat dalam mengatur keuangan maupun kurang berhikmat dalam membelanjakan semua uang kita, sehingga kita membutuhkan hikmat Tuhan, maka berdoalah minta Tuhan memberikan kepekaan kepada setiap kita, bagaimana kita dapat menyimpan uang dengan berhikmat maupun memakai uang dengan berhikmat?, serta menyadari dan mengerti dengan berhikmat bahwa kita tidak dapat mengharapkan semua yang kita sukai harus terealisasi dengan menabung uang maupun membelanjakan uang. Well, memang kita sangat membutuhkan hikmat. Darimanakah kita dapat memperoleh hikmat tersebut?

Berbicara tentang hikmat, Joshua Harris memberikan 5 point dalam kitab Amsal pasal 1
1. Anugerah Allah memberikan confidience kepada orang berdosa untuk mencari hikmat Allah.
2. Kita harus mencari hikmat tersebut.
3. Hikmat itu datangnya dari Allah. Salomo meminta hikmat itu kepada Allah, maka Allah memberikan kepada Salomo.
4. Hikmat adalah untuk kehidupan manusia. Inilah knowledge in Action.
5. Jalani kehidupan kita dengan decission yang sesuai dengan hikmat-Nya.
Belum sanggup? Terus memohon kepada Tuhan hikmat bijaksana-Nya dalam hidup kita (Yakobus 1:5).

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Back to God's Design

Sebuah cerita yang sama, pengantin yang berbeda muncul dalam film Bride Wars, kisah Emma (Anne Hattaway) dan Liv (Kate Hudson) yang saling bersaing merebut waktu pernikahan yang mereka idam-idamkan sejak mereka kecil di Plaza Hotel Manhattan, the legendary hotel dengan attack one anothers. Film ini tidak memberikan pendidikan yang benar mengenai konsep pernikahan, meskipun kalo menurut standar Hollywood, film ini masih tergolong netral dan normal, tetapi sebenarnya banyak batas-batas moralitas yang tetap telah mereka tabrak dengan “halus”.

Dari “social drinking” hingga mabuk sebelum hari pernikahan, tinggal bersama pacarnya sebelum menikah (bahkan udah 10 tahun?), kata-kata jorok seperti *SS, $$$CHES, DA$$$, MOTHER F jelas tidak mendidik generasi muda untuk hidup bermoralitas baik (apalagi benar, jelas enggak mungkin). Sebagai orang kristen, bagaimana kita seharusnya membaca persiapan pernikahan yang seperti ini? Masihkah kita dapat mengatakan bahwa film tersebut mengajarkan kebaikan (apalagi sebuah kebenaran?)? Bagaimana kekristenan menanggapi hal tersebut?

Allah menciptakan segala sesuatu di dalam purpose dan design Allah yang “GOOD” (Kejadian 1:31), bagaimana seks diberikan kepada manusia di dalam design dan purpose Allah yang “GOOD” tersebut yaitu beranak cucu dan penuhi bumi ( be fruitful and multiply – Kejadian 1:28). Seks itu sakral, didalam seks, ada hubungan relasional yang memberikan keintimanan yang tidak dapat diwakili oleh apapun dalam dunia ini, apalagi dipermainkan. (Keluaran 20:14, I Korintus 6:18). Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, purpose dan design Allah telah didistorsi, diacuhkan dan membuang purpose dan design Allah dan mengganti purpose dan design menurut kebebalan hatinya. Ketika saya berusaha mempersiapkan pernikahan, sejujurnya apa yang saya pikirkan? Seringkali kita lebih sibuk mempersiapkan cincin pernikahan seperti Tiffany & Co ataupun Cartier Gold Wedding Rings daripada melihat simbolisme Allah dengan umat-Nya (Yesaya 54:5, Yeremia 3:1-14, Hosea 2:9, 20), simbolisme Yesus Kristus dengan gereja-Nya (Yohanes 3:29, Wahyu 21:9, 22:17). Kita telah kehilangan kesakralan sebuah pernikahan di atas nama Tuhan, kita hanya membaca pernikahan di dalam “event”, bukan di dalam “holy matrimony” yang sakral. Seringkali kita mempersiapkan pernikahan hanya bersibuk ria dengan memilih design gaun pengantin Vera Wang yang indah atau designer lainnya tetapi kita tidak melakukan maintain terhadap purity of marriage itu sendiri. Banyak orang pakai baju pengantin yang begitu mengagumkan tetapi mereka kehilangan keanggunan dalam menjalani kehidupan marriage mereka, sebagai contoh: mereka telah tinggal serumah, sekamar dan tidak tabu mengakui sex before marriage atau sex outside the marriage. Allah tidak memberikan purpose dan design kepada seks untuk jatuh ke dalam perbuatan yang tidak sakral, Justru segala sesuatu yang jauh daripada purpose dan design Allah, bersifat menghancurkan diri sendiri. Seks di luar nikah maupun Perselingkuhan jelas memberikan dampak kehancuran yang besar dalam konsekuensi fisikal (AIDS, Penyakit Kelamin) dan konsekuensi relasi (merusak hubungan-hubungan yang selama ini telah terbangun). Akhirnya, seks yang sakral dibaca oleh manusia bukan di dalam keindahan purpose dan design Allah. Manusia membacanya di dalam kehancuran definisi seks yang sakral menjadi jorok, merusak dan nakal. Oleh karena itu, kenapa kekristenan mengajarkan monigami (Matius 19:5, I Korintus 6:16). Dalam Film Bride Wars, mereka saling menyerang satu sama lainnya hanya untuk menikah di Plaza Hotel Manhattan, untuk merealisasikan mimpi yang telah mereka idam-idamkan tetapi setiap tindakan mereka yang saling menyerang tersebut jelas bukankah tindakan yang harus diteladani karena hanya orang childish yang melakukan semuanya itu. Justru sebagai orang kristen, kita seharusnya mengikuti apa yang Tuhan mau, bukan apa yang kita mau (Galatia 5:16-18, 22-26). Justru kita seharusnya bukannya saling menyerang, tetapi mengambil waktu sejenak untuk mengintrospeksi kesalahan kita, bukan mengembangkan niat dan siasat ambisi kita. Itu jelas tidak mendidik. So, let’s back to God’s Purpose and His Design. No more Bride Wars!

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

The Value of Friendship

大兵小將 (The Little Big Soldier), sebuah film komedi kolosal mandarin yang bersinar di tahun 2010. Betapa tidak, aktor utama Jackie Chan dan Leehom Wang menjadi daya tarik pasar entertaiment yang sangat menjanjikan keuntungan baik di pasar China, Hongkong maupun dunia internasional. Meskipun, ada sedikit analisa-analisa reviewer gadungan sampai komentator film blockbuster yang profesionnal meragukan film tersebut karena Jackie Chan tidak melakukan banyak gerakan-gerakan action yang spektakuler seperti film-film terdahulunya yaitu Rush Hour atau Rhumble in The Bronx. Tidak sedikit, para reviewers gadungan mempertanyakan kompetensi Leehom Wang, Seorang ABC (American Born Chinese) yang harus tampil dgn pakaian jenderal serta melatih suara pria yang lebih matang dan berwibawa seperti seorang jenderal perang. Mengutip seorang reviewer dari Malaysia, What a weird combination! No matter what, sebuah pesan yang kental muncul dari berbagai macam pesan lainnya yang berada dalam film tersebut yaitu tema friendship. Dalam film tersebut Jackie (Older Soldier) dan Leehom (The Little Big Soldier) berada di dalam kondisi peperangan antar negara, mereka bersama tidak tahu kenapa mereka harus berperang tetapi situasi dan kondisi negara mengharuskan mereka untuk melakukan tugas mulia dalam kenegaraan untuk berperang. Singkat cerita, Jackie dan Leehom, dari strangers menjadi teman, inilah keindahan tema friendship dalam film tersebut.

Bagaimana kita mendefinisikan friendship di dalam kehidupan kita dewasa ini? Sebenarnya, apakah benar kita telah memiliki kehidupan friendship yang sungguh-sungguh sesuai dengan definisi yang sesungguhnya mengenai bagaimana friendship itu seharusnya menjadi hidup dalam kehidupan manusia? Sampai hari ini saya masih mempertanyakan apakah kita sudah menikmati the great value of friendship atau belum? Betapa tidak, ketika kita berbangga kepada dunia bahwa kita memilliki 5000-10000 friends di friends list kita, apakah kita sebenarnya betul-betul punya friendship bersama mereka? Jangan-jangan kita hanyalah collector wajah-wajah cantik dan tampan masuk ke dalam friendlist kita, tetapi sesungguhnya mereka bukanlah teman kita. Itu penipuan yang membuka kedok sendiri bahwa kita sedang mengalami kesepian. Gereja yang berusaha terbuka menerima dunia apa adanya di dalam konteks pelayanan, mereka menggunakan seeker-friendly style of churches. Worship with your own cultures! Worship with Jazz, Worship with Rock, Worship with Cocktails, Worship with Belly Dance? Worship with Legalized Homosexuality? Gereja sedang kesepiankah sehingga ia mencari kuantitas jemaat dengan mengobral prinsip Firman yang seharusnya menjadi jati dirinya untuk Tuhan?

Pemikiran sekuler menilai friendship hanya sebatas personal development dan moral development from the basics of humanistic ideas. Parahnya gereja mngambil “idea” sekuler ini dalam membangun sebuah friendship dengan dunia. Akhirnya, Gereja malah membawa message-message sekuler yang jauh daripada kebenaran Firman Tuhan. Jangan-jangan gerejapun jatuh ke dalam pseudo-friendship! Mengerikan sekali! Kekristenan memberikan dasar friendship paling penting yaitu Allah dan umat-Nya dalam hubungan relasional (1 Yohanes 4:16) dan seharusnya ini menjadi model bagi kita semua (Keluaran 33:11). Dalam kitab Samuel, kita belajar dari hubungan relasional; Daud dan Yonatan yang memiliki hubungan friendship yang pure (bukan homoseksual) di dalam Tuhan (1 Samuel 18:3, II Samuel 9:1-13, I Samuel 20:42, 1 Samuel 23:16-18). DI DALAM TUHAN! Friendship yang mereka bangun bukan dibaca di dalam humanistic ideas tapi mereka membangunnya DI DALAM TUHAN. Oleh karena itu, biblical friendship tidak memberikan hidden motive atau hidden agenda untuk menjadi seorang teman tapi bagaimana friendship tersebut dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Ini konsep yang tidak mudah. Karena di dalam friendship, kita belajar mengasihi Tuhan, love for God, love for God’s sake. St. Bernard de Clairvaux mengatakan bahwa kecenderungan kita adalah kita mengasihi sesuatu for our own sake, Oleh karena tiada seorangpun dapat memberikan love for God, love for God's sake. Hanya Anak Allah yang inkarnasi datang ke dalam dunia, mati diatas kayu salib, dikuburkan dan bangkit dari kematian, naik ke Surga Mulia, Hanya Kristus yang dapat memberikan love for God secara perfectly. Kristus menjadi satu-satunya representative yang memberikan second chances kepada setiap kita untuk dapat memberikan kepada Tuhan segala kemuliaan-Nya, di dalam Kristus. Oleh karena itu, biarlah setiap friendship yang kita bangun didasari dengan sebuah love for God, love for God’s sake di dalam proses disiplin rohani kita, hari demi hari untuk kemuliaan Nama Tuhan, di dalam Kristus.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

The Centrality of His Resurrection

Kebangkitan Kristus merupakan kunci sentral dalam kekristenan. Bagaimana kita dapat membuktikan kebangkitan Kristus? Jawabannya adalah tiada seorangpun dapat membuktikan kebangkitan Kristus. Hanya Alkitab yang dapat membuktikannya. Mengapa? Karena Alkitab adalah Firman Allah yang menyatakan rencana kekal Allah, penebusan dosa dan pengenapan janji Allah. Oleh karena itu, kebangkitan Kristus tidak dapat dilepaskan dari kekristenan. Why?
1. Kebangkitan Kristus adalah inisiatif Allah. Yesus ditentukan oleh Allah dan dinyatakan kepada manusia dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah mereka. Dia diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya. Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut (Kisah Para Rasul 2:22-24).
2. Kebangkitan Kristus menunjukkan Kebenaran-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 2: 25-28, penulis mengutip apa yang dikatakan oleh Daud mengenai Kristus dalam nats Mazmur 16:8-11. Daud menuliskan mazmur bukan untuk dirinya, melainkan untuk kemuliaan Allah. Ayat 29-30, Petrus menafsirkan Daud telah bernubuat tentang kebangkitan Mesias. Siapakah Mesias? Ayat 32, Yesus jawabannya.
3. Kebangkitan Kristus menunjukkan keilahian Kristus. Kebangkitan Kristus adalah sejarah monumental yang bahwa Kristus adalah Anak Allah, Hanya Allah dapat memberi hidup dan melampaui kematian. Dalam Markus 5 dan 6, ayat 5-7, Iblis saja tahu keilahian Kristus. Roma 1:3-4. Herannya, banyak orang gak percaya Yesus sebagai Anak Allah, karena mereka pada dasarnya enggak mau percaya kepada Yesus. Mereka lebih parah daripada Iblis. Jangan-jangan manusia lebih menakutkan dari Iblis. Marta dan Maria (Yohanes 11:27), tentara Romawi juga mengatakan “Truly this man is The Son of God”. Deklarasi keilahian Kristus yang paling otoritatif adalah konfirmasi Allah sendiri terhadap Kristus saat Ia dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptist di sungai Yordan. “Inilah Anak-Ku yang Ku-kasihi, kepada-Nya Aku berkenan”.
4. Kristus bangkit untuk menebus dosa manusia Mengenapi Rencana Keselamatan Kekal Allah. Dalam Roma 4:25, pembenaran oleh Allah dinyatakan kepada kita melalui hidup kekal, Roh Kudus, menebus dosa, berada di sebelah kanan Bapa, spiritual gift, spiritual power,
5. Kebangkitan Kristus menunjukkan penting peranan gereja. Matius 16- Diatas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan maut takkan dapat menghalanginya. Jika Kristus tidak bangkit, tidak mungkin ada gereja. Kristus adalah kepala, gereja adalah tubuh Kristus. Gereja harus menjalankan semangat Kristologis dalam pelayanan.
6. Kebangkitan Kristus menyatakan Penghakiman Terakhir. Yohanes 8: 21,26. Yohanes 5: 21-30.

Seringkali kita kehilangan poin-poin penting dalam Kebangkitan Kristus dikarenakan kita salah menempatkan cara berpikir kita terhadap kebangkitan Kristus. Seringkali cara berpikir menuju kepada muara “ bagaimana saya dapat membuktikan kebangkitan Kristus?”, padahal arus utamanya adalah “apa yang dibuktikan dalam kebangkitan Kristus?”. Seringkali kita membuang kebangkitan Kristus dan kita memotong nadi jiwa iman kristen dan kita mengantikan kekristenan dengan personal penafsiran kita tentang iman kristen tanpa kebangkitan Kristus. Coba liat di tanggalan, Jumat Agung dicantumkan untuk mengingat kesengsaraan Kristus tetapi belum pernah mencantumkan hari kebangkitan Kristus, dikarenakan ini berita eksklusif yang kualitasnya “qualitative difference” dari apa yang ditawarkan oleh dunia ini.

Tiga hal penting yang Yesus mentioned saat Ia naik ke Surga:
1. Kepergian-Nya menyediakan “places” bagi orang percaya (Yohanes 14:2).
2. Ia mengirimkan Roh Kudus (Yohanes 14:25-26).
3. Great Commission- memberitakan Injil (Matius 28:18-20).

Kenapa kita harus memberitakan Injil dengan benar?
1. Karena dunia berada di dalam bahaya. Banyak orang beragama tetapi semuanya hanyalah menjadikan konsep keselamatan sebagai “automatic ritual” yang hanya menyediakan “absence of virtue” yang membunuh pengertian yang benar mengenai makna teologi yang seharusnya menjadi makna hidup orang yang mengikut Tuhan.
2. Devosi Orang-orang kudus. Banyak pemimpin-pemimpin rohani sebelum kita telah menjalani sebuah perjalanan spiritualitas yang memberikan pertumbuhan di dalam pengikutan mereka di dalam Yesus Kristus. Nomensen bisa datang ke tanah Batak, bukan karena inisiatif sendiri. Selain panggilan Allah, ada orang-orang sebelumnya yang menjadi teladan pelayanan dalam hidupnya.
3. Dinamika Injil itu sendiri. Pada saat kita melihat Yesus berbicara dengan Nikodemus, kita belajar melihat bagaimana Nikodemus yang telah memiliki teologi, pengalaman rohani, akademik, jubah agama pun harus “dilahirkan kembali”. Selama ini, apa yang dapat kita pelajari dari pembicaraan Yesus- Nikodemus? Knowing, Being dan Doing is not enough. Love and Justice ditimpakan kepada Yesus Kristus karena semua manusia telah jatuh ke dalam dosa. Murka Allah adalah konsekuensi yang harus mereka terima. Meski demikian, melalui Yohanes 3 dan Roma 3 memberikan sebuah kunci bahwa hanya di dalam Kristus, baru kita dapat knowing, being dan doing yaitu di atas dasar Loving. God of knowing, God of being, God of doing.
4. Takut kepada Tuhan. Dengan konsep loving inilah kita baru dapat melihat kematian dan kebangkitan-Nya memberikan spiritual impact kepada setiap kita untuk membunuh “self hatred” menjadi “self-denial”, “self love” menjadi “self affirmation”. Ini konsep dari John Stott.

Inilah command dari Allah – believe in Christ and you shall be saved. The Gospel is command.

In His Love
Daniel Santoso
Beijing, China

From Paradise to Calvary

From Paradise to Calvary. Bagaimana kita mengerti hal ini? Bagaimana kita melihat benang merah yang menghubungkan Surga dengan Kalvari? Surga dipahami sebagai a place of perfection. Menurut John Macarthur, Surga adalah:
a. Perfect Pleasure. Kenikmatan sempurna yaitu di dalam hadirat Tuhan. Berada di dalam hadirat Tuhan adalah the fullness of joy (kepenuhan sukacita).
b. Perfect Knowledge. Pengetahuan sempurna (1 Korintus 13:12). Pengetahuan yang memiliki perbedaan kualitatif dengan pengetahuan manusia yaitu Kebenaran Allah.
c. Perfect Comfort. Kenyamanan sempurna yaitu di dalam kasih-Nya.
d. Perfect Joy. Sukacita sempurna.
Inilah keindahan surga. Sayangnya manusia enggak dapat menikmati surga, mencicipi surga karena manusia hidup di dalam dosa dan manusia cenderung berusaha menciptakan surga menurut imajinasinya sendiri. Mereka lebih suka mencari “perfection” menurut seleranya sendiri daripada ikut “perfection” selera Tuhan. Suatu kali saya membeli sebuah sabuk, waktu saya bawa kasih ke SPG-nya, dia kaget melihat saya, dan ia mengatakan bahwa ia akan mengambilkan sabuk yang baru dari gudang. Kenapa? Rupanya sabuk yang saya mau ambil itu ada cacatnya. Waktu ia ambilkan barang dari gudang, baru saya mengiyakan kalo sabuk yg ia bawa jauh lebih baik kondisinya daripada yang tadi saya pilih. Langsung saya tertegun sebentar memikirkan, kalau manusia begitu jeli terhadap kecacatan, kenapa mereka kok tidak jeli terhadap “perfection” Allah? Bagaimana manusia dapat menikmati “perfection” tersebut? Perfection Surga hanya dapat manusia nikmati di saat manusia menuju ke The Mount of Execution yaitu Kalvari. Buat apa manusia melihat kepada Kalvari? Seringkali kita hanya mengatakan bahwa Kalvari adalah tempat Allah menyatakan kasih-Nya kepada dunia melalui anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus.. Memang, kasih adalah message universal, memang di dalam Alkitab, hukum yang paling terutama tertulis: Kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu. Akan tetapi, Yesus Kristus rela datang ke dalam dunia bukan hanya menyatakan aksi kasih kepada manusia saja tetapi menggenapi apa yang telah dijanjikan oleh Allah. Janji keselamatan Allah digenapi di dalam Kristus.

Kita dapat menikmati makna Jumat Agung hanya disaat kita kembali kepada konsep Kovenan Allah (Janji Allah).
1. Kovenan Allah adalah Anugerah Allah. I will be your God and you are my people. Dalam zaman konsumerisme, brand name menjadi populer sekaligus menjadi kebanggaan kita disaat kita hidup bersamanya. Misalnya kaum hawa bakal pede kalo tasnya pakai Louis Vuitton atau Gucci. Kaum adam pede kalo jasnya pakai Ermenegildo Zegna. Kaum muda-mudi bakal tampil trendi kalo mereka pakai baju merk ZARA, H&M. Mereka bangga dengan brand name tersebut. Bagaimana kita mengkaitkan ini dengan Allah? Nama Allah menjadi satu-satunya brand name yang seharusnya membuat kita bersukacita sekaligus waspada atas keteledoran kita yang bakal menjadi batu sandungan di atas nama Allah.Allah begitu suci tetapi manusia tidak dapat hidup suci karena fallen into sin. Oleh karena itu kenapa Adam mati (Kejadian 3:2) secara fisikal dan spiritual. Karena mereka telah kehilangan kemuliaan Allah. Allah adalah Kudus (Imamat 9:2). Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, tiada seorangpun dapat menyelamatkan mereka untuk hidup di dalam kekudusan Allah dan memuliakan Allah. Tidak ada jalan yang dapat memberikan arah maupun alternatif bagi manusia untuk memuliakan Tuhan dengan konsep yang benar karena manusia telah kehilangan standar dalam memuliakan Tuhan, apalagi konsep manusia tentang apa itu kebenaran. Hanya Inisiatif Allah dari Sorga yang dapat menyelamatkan manusia berdosa melalui penderitaan Yesus Kristus di atas bukit Kalvari.
2. Kovenan Allah tidak dapat dilepaskan dari Keselamatan bagi anak-anak Tuhan. Kenapa demikian? Karena tanpa Darah Kristus tercurah bagi manusia maka tidak ada keselamatan maupun pengampunan dosa yang dapat memberikan pengharapan kepada manusia dalam perjalanan hidup mereka (Ibrani 9:20, Roma 4:25). Konsep Salib Kristus yang mencucurkan darah-Nya untuk menebus dosa manusia menjadi poin krusial dalam konsep keselamatan manusia karena salib Kristus mengambil posisi dimana Adam telah jatuh ke dalam dosa saat makan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat di Taman Eden. Salib Kristus menggantikan posisi Adam, diri kita sebagai keturunan Adam. Darah-Nya membersihkan jiwa kita untuk kembali berbalik kepada Allah dan hidup di dalam kemenangan setelah dibelenggu oleh dosa Adam. Inilah kuasa keselamatan Allah bagi manusia di dalam janji-Nya. Puji Tuhan!
3. Kovenan Allah ada berkat sukacita. Oleh karena darah-Nya tercurah bagi manusia maka kita adalah milik-Nya. Tidak perlu takut terhadap kesulitan-kesulitan hidup yang pasti kita alami, karena keselamatan kita di dalam Kristus, SECURE. Justru kita harus melampaui setiap kesulitan-kesulitan yang ada karena inilah panggilan surgawi kita yang membawa setiap kita terjun ke dalam sebuah pelayanan yang dilihat dan dinilai oleh Allah untuk berani menyatakan panggilan Allah bagi anak-anak Tuhan untuk memberitakan Injil.

Sadarkah engkau atas anugerah Allah dalam hidupmu? Sadarkah keselamatan satu-satunya hanyalah di dalam Kristus? Adakah sukacita dalam kehidupanmu? Hanya kembali kepada Yesus Kristus maka engkau akan belajar mencicipi pengucapan syukur atas seluruh anugerah Allah, keselamatan dan sukacita mengikut Dia. Itulah pengenapan janji Allah yang seharusnya menjadi makna jumat Agung kita semua . Itulah Kovenan Allah yang turun dari Surga datang ke dalam dunia, Kalvari yaitu di dalam Kristus., From Paradise to Calvary – From A Place of Perfection to The Mount of Execution. Only Christ, The Only Way To God. Tuhan memberkati.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Karya Allah dalam Kebangunan Rohani

Tahun 1931 sebelum Masehi, Kerajaan Israel terpecah menjadi dua negara bagian yaitu negara israel utara dan negara yehuda. Dalam kerajaan Utara tercatat 7 pembesar yang jahat:
a. Yerobeam (1 Raja 12:28-32)
b. Nadab (1 Raja 15:26)
c. Baesa (1 Raja 15:27)
d. Ela (1 Raja 16)
e. Zimri (1 Raja 16:20)
f. Omri ( 1 Raja 16:25-26)
g. Ahab (1 Raja 16:30-31).

Inilah kemerosotan moral bangsa sekaligus kemerosotan rohani kerajaan Utara yang telah jatuh ke dalam kejahatan dan melakukan penyembahan bukan kepada Tuhan tetapi menjadikan self menjadi Tuhan. Dalam hal ini, kita dapat melihat Allah membenci dosa manusia dan itu straight dan absolute. No offense! Kita harus memahami Allah yang membenci dosa manusia adalah Allah yang mengasihi manusia. Dalam Kejadian 3, manusia yang diciptakan menurut imago Dei jatuh ke dalam dosa dan manusia kehilangan kemuliaan Allah tapi Allah masih menyatakan kasih-Nya agar manusia dapat kembali kepada-Nya dengan takut kepada Allah dan Kebenaran-Nya. Auchwiz, tempat pemusnahan ribuan orang Yahudi yang menjadi saksi bisu kamp konsentrasi tentara Nazi yang menjadi lambang kekejaman sejarah masa lalu maupun sebagai produk barbarisme modern (Adolph Adorno). Ada hal yang menarik di dalam sejarah tragis tersebut. Kaum Yahudi menjadi victims, mereka memiliki ketakutan manusiawi, tetapi mereka lebih takut kepada Allah Yahweh, mereka tetap berdoa dan membaca Taurat meskipun mereka mengalami “violence”. Mereka mempercayai Tuhan yang melihat keberadaan mereka dan mereka tetap mengharapkan kedatangan mesias (bukan Mesias).

Tuhan mengirimkan Elia, orang Tisbe dari Gilead. Siapakah Elia? Ia bukan orang akademik, ia bukan orang kaya, ia bukan orang yang punya pengaruh kekuasaan yang besar, ia bukan siapa-siapa! Tapi Tuhan mau pakai seorang Elia untuk melakukan perkara Allah, sesuai dengan nama Elia sendiri yaitu Tuhan adalah Allahku, maka suara Tuhan mengelegar dari suara seorang Elia. Inilah tindakan Allah yang sanggup menghidup kembali orang berdosa untuk dapat menyatakan Firman dengan konsep kekudusan Allah.

Walter Kaiser, Jr, seorang Biblical scholar dari Gordon Corwell Theological Seminary memberikan gambaran mengenai tiga karya Allah dalam perikop diatas:
1. Allah membuat kita teguh (1 Raja 18:1-20). Allah memberikan keberanian di dalam kebenaran-Nya untuk menegur sesama orang percaya (dalam hal ini, Obaja, orang saleh yang mendapat jabatan dalam negara yang “korupsi” ditegur olehnya). Kalo memang ada kesulitan, bukan lari dari kesulitan tetapi bagaimana kita menghadapi kesulitan? Ayat 17-20, Allah memberikan keberanian di dalam kebenaran-Nya untuk menegur orang fasik. Tidak ikut jalan Tuhan berarti mencelakakan diri sendiri, Tidak ada kebenaran berarti meninggalkan perintah Allah. Hidup di dalam kepalsuan berarti mengikuti Baal. Seringkali kita telah memegang kebenaran, tetapi dunia kita menolak kebenaran tersebut sehingga suara kebenaran yang ada di dalam diri kita masih teredam sehingga nyaris tidak ada suara kenabian muncul menyatakan kebenaran itu hidup. (Markus 6:20, Kisah 24:25). Akhirnya kita cenderung mengajak Tuhan ikut kehendak kita, bukan kita yang mengikuti kehendak Tuhan. Seyogyanya, kita mengingat Tuhan sebagai Tuhan, bukan mesin ATM yang dapat menjadi mesin uang yang memuaskan setiap kita yang hendak mengambil seberapa besar nominal yang kita mau. Allah jauh melampaui kehendak manusia maka manusia tidak mungkin dapat memahami kehendak-Nya, kecuali manusia rela bertekuk lutut dengan rendah hati berdoa dengan sungguh-sungguh memohon hati yang peka terhadap setiap kehendak Tuhan di dalam hidupnya.
2. Allah menyatakan kuasa-Nya kepada kita (1 Raja 18:21-39). Saat ini, Elia adalah orang yang paling tersendiri. Ia minoritas. Tetapi bersama dengan Allah, Elia justru adalah majority. Kondisi mereka, banyak yang timpang dan cabang hatinya alias tidak tegak, tidak konsisten dan bergerak lamban.dalam mengenali kuasa Allah sampai api dari surga turun baru mereka sadar dengan spontan bahwa Tuhan, Dialah Tuhan, Dialah Allah. Kenapa bisa demikian? Karena mereka tidak bersama-sama dengan Tuhan (Matius 12:30).
3. Allah menjawab doa-doa kita dalam waktu Tuhan. Doa Elia di bukit Karmel menunjukkan betapa elia bukan superman, Elia hanyalah orng biasa yang memiliki sesungguhan untuk berdoa dan kembali kepada Allah. Elia rela “dihidupkan kembali” di dalam Allah dan kebenaran-Nya. Dimanakah kesungguhan saudara dan saya? Jangan bersembunyi dibalik doktrin kedaulatan Allah, justru kita harus sadar bahwa semakin mengerti kedaulatan allah seharusnya kita semakin memahami panggilan hidup kita di dalam lawatan ilahi Allah. Lawatan Ilahi Allah yang membawa kita untuk mengutamakan Allah, berlutut memohon revival terjadi dalam hidup dan kesungguhan hati berdoa tanpa henti kepada Tuhan.


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Wednesday, February 17, 2010

Silmido

Silmido, inilah pertama kali aku mendengar nama sebuah pulau bersejarah di wilayah Korea Selatan. Sebuah pulau tempat training tentara khusus South Korea divisi 684 di tahun 1968 yang menjadi saksi bisu atas sejarah 30 pasukan khusus divisi 684 yang tanpa sepengetahuan pihak bersangkutan, data pribadi mereka dilenyapkan dari data base South Korea dan mereka dilatih untuk melaksanakan satu misi besar yaitu membunuh Presiden Pyong Yang, Kim Il Sung. Latihan mereka begitu keras, dari berlari keliling pulau, masuk ke dasar laut menahan nafas, menahan besi panas yang membakar punggung mereka, menerima pukulan bertubi-tubi dari para trainer mereka demi mempersiapkan mereka melaksanakan sebuah misi khusus yaitu masuk ke Pyong Yang dan bunuh Kim Il Sung. Ketika mereka diberangkatkan, justru Jenderal Jae-hyun menerima order dari atasan untuk kembali ke Silmido dan menerima order untuk membunuh tentara divisi 684 tersebut. Mereka mempertanyakan identitas mereka yang telah dihapus dari data base South Korea, mereka mempertanyakan kebangsaan mereka yang dianggap komunis oleh bangsanya sendiri. Mereka bunuh diri di dalam bus dengan meledakkan granat. Kisah tersebut difilmkan pada tahun 2003 dengan judul yang sama “Silmido”. Banyak scene-scene kekerasan yang “sadis”, “bengis” dan “imoral”, tetapi pergumulan mereka membayar kesalahan mereka sebagai kriminal yang telah dijatuhkan hukuman mati (sebelum bergabung dalam divisi 684) tidaklah mudah. Sayang sekali, mereka menyelesaikan pergumulan mereka dengan solusi humanis yang tidak mengutamakan kebenaran dan standar Allah sebagai utama.

Dalam konsep kekristenan, semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan setiap manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3), mereka membutuhkan Kristus, satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Inilah pertobatan yang kembali kepada konsep keselamatan sejati yang hanya didasarkan di atas nama Yesus Kristus, sebagai satu-satunya keselamatan yang dinyatakan dari Allah. Meski demikian, tidak sedikit orang kristen merasakan hidup mereka begitu sulit dalam menaati kebenaran Allah. Mereka jatuh ke dalam kejatuhan dan cenderung melakukan dosa-dosa yang tidak berkenan bagi Tuhan. Ketaatan masih menjadi “question mark” yang tidak habis-habis dalam mengaminkan serta menjalankan keteladanan dan pengajaran Yesus Kristus dalam konteks orang yang mengatakan dirinya kristen. Kalau ketaatan kepada Allah masih menjadi pergumulan orang kristen, maka ketaatan mereka selama mengikut Kristus hanyalah sebuah “sandiwara” atau “drama” yang formalitas dan palsu. Berbeda dengan Rasul Paulus dalam Filipi 2 justru menekankan pada “work out your salvation”. Kerjakan keselamatanmu, bukan ketaatanmu! Pada saat keselamatan kita hanya dapat dijamin di dalam pekerjaan Allah Anak yaitu Yesus Kristus, melalui pengorbanan darah-Nya di atas kayu salib dan menebus dosa manusia, barulah kita dapat melihat keindahan konsep kasih dan keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus adalah tindakan nyata Allah “from above” yang memberikan makna hidup yang kekal. Justru urusan iman untuk menaati Allah seharusnya telah menjadi urusan yang telah kita bereskan dalam pertobatan kita di hadapan Allah. Jika kita masing bimbang untuk menaati Allah, maka kita masih belum totally menyerahkan semua total kepada Allah. Justru penyerahan diri secara totalitas kepada Allah memberikan kesukaan dalam hidup di dalam Allah dan sukacita dalam Kristus sajalah yang memampukan setiap kita untuk menjalani panggilan dan pergumulan kita untuk mengerjakan keselamatan kita yaitu hidup selaras dengan Kristus. Hidup memberitakan Kristus sebagai esensi Injil yang “full of meaning” kepada dunia ini. Sekali lagi, tidak mudah membawa Injil Kristus ke dalam dunia ini, tidak “always easy and smooth” tapi bukan berarti keselamatan di dalam Kristus harus dikompromikan dengan “situasional manusia”, “moralitas manusia” maupun “fakta hidup manusia”, tetapi bagaimana setiap situasional manusia, moralitas manusia dan fakta hidup manusia dibawa untuk selaras dengan Injil Kristus sebagai standar Allah yang absolute dan tidak dapat diganggu gugat. Itulah panggilan hidup orang kristen. Cia Yo.


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijng, China

Sunday, February 14, 2010

Lonely Servants

Ketika saya membaca kembali buku “Catatan Seorang Demonstran” karya Soe Hok Gie, saya tertegun lama saat membaca salah satu pembicaraan pribadi Soe Hok Gie dengan kakak kandungnya, Arief Budiman pada bulan desember 1969. Inilah kutipan keluh kesah Soe Hok Gie yang membuat diriku tertegun beratus-ratus menit …“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalo keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan ONANI yang KONYOL? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian “.

Gie banyak menerima kecaman dari berbagai pihak sampai dirinya dimaki “ CINA GAK TAHU DIRI”. Mamanya pun mempertanyakan “ Gie, untuk apa semuanya ini? Kamu hanya mencari musuh saja. Tidak dapat uang lagi”. Gie hanya menanggapinya dengan senyum sambil menjawab “Ah, mama enggak ngerti”. Ia memperjuangkan kebenaran tapi ia menjadi seorang pejuang yang tersendiri.

Henry Kissinger pernah mengatakan “Seorang pemimpin tidak patut mendapat nama jika ia tidak bersedia untuk kadang-kadang menjalani ketersendirian”. Memang, kepemimpinan berarti melebihi orang lain dalam mengambil keputusan demi keputusan dan memimpin mereka, tekanan dari kepemimpinan dapat menciptakan kesepian. Warren Wiersbe dalam bukunya Lonely People mengatakan bahwa kesepian akibat pelayanan dapat muncul terutama dalam pelayanan kristen. Pelayanan adalah pengorbanan. Bagi Wiersbe, salah satu tentang pelayanan yang menyebabkan kesepian adalah mereka yang berada dalam posisi kepemimpinan harus melihat lebih jauh dan lebih dalam daripada orang lain. Allah memberi visi kepada para pemimpin tentang apa yang bisa dilakukan, dan kerinduan untuk melihat segala sesuatu terjadi demi kemuliaan Tuhan. Tanpa visi dan kerinduan yang sama, pasti timbul permasalahan. Rasul dan Nabi banyak disalahpahami karena mereka tidak tahu apa visi rasul dan nabi. Tidak heran, mereka selalu menjadi sasaran kritik, termasuk Yesus Kristus. Melalui tulisan ini saya akan membagikan apa yang saya telah pelajari mengenai lonely servants baik dari Nabi Musa mewakili Perjanjian Lama dan Rasul Paulus mewakili Perjanjian Baru.

Di dalam buku Warren Wiersbe, ia mengutip pengalaman Musa yang dicatat dalam kitab Bilangan 11:4-6 “Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat akan ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kemudian mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatupun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Inilah keadaan bangsa Israel setelah keluar dari perbudakan Mesir. Selama setahun bangsa Israel makan manna yang turun dari surga, sekarang mereka jenuh dengan manna dan menginginkan sesuatu yang pernah mereka kecap di Mesir Mereka menuntut kepada Musa agar mereka diberikan makanan menurut selera mereka. Ketika Allah murka terhadap kaum Israel yang bersunggut-sunggut, Musa berkata “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggungjawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: pangkulah dia seperti pak pengasuh yang memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kau janjikan dengan beersumpah kepada nenek moyangnya? Darimanakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? … Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggungjawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. Jika engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak haruus melihat celakaku”. (Bilangan 11:10-15). Ketika saya membaca bagian ini, aku bertanya kepada diri sendiri, kenapa saya kok terkesan cocok dengan apa yang Musa katakan? Musa seorang pemimpin yang harus mengurusi jutaan anak-anak Israel di padang gurun, anak-anak yang baru belajar berjalan bersama Tuhan dengan iman dan mengikuti pimpinan Tuhan. Saya tertegun dengan pergolakan hati seorang pemimpin ini. Warren Wiersbe menggambarkan pegolakannya dengan sebuah statement “Musa membutuhkan waktu satu malam untuk mengeluarkan bangsa Israel keluar dari Mesir, tetapi Musa membutuhkan waktu empat puluh tahun untuk mengeluarkan Mesir dari bangsa Israel “. Statement Wiersbe menggugah pribadi saya sebagai pemimpin gereja di Taiwan-China, melihat kepemimpinan sangat dekat dengan pengorbanan untuk rela menerima ketersendirian. Inilah pelayanan. Ketika Musa berteriak kepada Allah, apa yang dapat kita pelajari dari Bilangan 11 tersebut?

a. Manusia tetap saja manusia. Terkadang di dalam pelayanan, kita sudah berjuang mati-matian melayani Tuhan tetapi jemaat yang kita layani malah bersunggut-sunggut dan mendambakan hidup kristiani yang lebih “down to earth” menurut selera manusia, toh digunakan buat menjangkau jiwa toh? Dalam Bilangan 11:5 tertulis “Kita teringat akan ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa”. Bukankah mereka budak di Mesir? Mereka telah membayar ikan yang mereka makan itu dengan kebebasan mereka! Mereka tidak melihat fakta bahwa mereka bukan lagi budak di Mesir. Mereka bebas dari perbudakan. Mereka tidak peduli, yang mereka pedulikan hanyalah ikan, bawang prei, bawang merah, bawang putih. Mengerikan! Mereka menganggap “masa lalu yang kelam” itu lebih baik daripada masa sekarang bersama pimpinan Tuhan. Bukankah ini juga yang kita alami dalam era demokrasi di negeri Indonesia? Banyak orang mengatakan, Zaman Presiden Soeharto, Indonesia hidup lebih makmur. Zaman Reformasi hidup lebih tegang. Pilih mana? Tidak sedikit suara rakyat yang mengatakan lebih baik rakyat makmur, soal korupsi itu mah enggak terlalu masalah, bisa diatur! Kalo dapat berkat, ingat Tuhan, kalo dapat beban berat, maki Tuhan! Itulah manusia yang harus didisiplinkan oleh Firman Tuhan.

b. Manusia gampang terpengaruh oleh orang lain. Segerombolan bajingan yang dimaksud dalam Bilangan 11 adalah sekelompok “unbelievers” yang meninggalkan Mesir bersama dengan orang-orang Israel. Terkadang disaat “unbelievers” mengeluh, kita yang telah percaya kepada Tuhan pun tergoda untuk mengiyakan keluhan mereka sehingga kita terpengaruh dan meneriakkan keluhan tersebut dengan nada yang keras. Kalau dipikirkan kembali, Allah telah memberikan berkat kepada setiap kita, sayangnya kita terlalu meremehkan berkat Tuhan dan keluhan kita kepada Tuhan justru menjadi komitmen dan motivasi yang kita perjuangkan kepada-Nya. Justru kita harus peka terhadap apa yang Tuhan kehendaki dan mempengaruhi mereka yang belum percaya untuk belajar taat melihat pimpinan Tuhan.

c. Perspektif mereka hanyalah perspektif manusia. Ketika 12 pengintai Israel dikirim ke tanah Kanaan untuk menyelidiki situasi, mereka melihat orang-orang raksasa dan tembok-tembok yang tinggi, tetapi mereka tidak melihat Tuhan dan berkata “…kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami”. (Bilangan 13:33)”. Mereka lupa kebesaran Allah. Mereka hanyalah melihat segala sesuatu dari perspektif manusia sehingga mereka tidak melihat betapa berkuasanya Allah itu. Bukankah ini juga cermin saudara dan saya. Bukankah kita melihat ladang pelayanan yang begitu membuat diri kita takut sehingga kita menganggap diri tidak mampu mengerjakan pelayanan di ladang tersebut? Justru kita seharusnya melihat seperti apa yang dilihat oleh Abraham Kuyper bahwa tiada seincipun di seluruh dunia ini yang bukan milik Allah. Oleh karena itu, seharusnya kita berani menjalani panggilan sebagai pejuang kebenaran dan pemimpin dengan perspektif Allah.

d. Pemimpin sangat mudah menonjolkan kekuasan mereka sendiri. Ketika Musa berkata “Mengapa kau perlakukan hamba-Mu dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia dimata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggungjawab atas seluruh bangsa ini?”.(Bilangan 11:11). Inilah ekspresi yang jujur dari Musa. Jika kita melihat apa yang dipaparkan oleh nabi dan rasul, mereka berdoa dengan segala kejujuran. Sebagai contoh: Pemazmur dalam kitab Mazmur bukan memuat doa-doa yang tampak saleh dan dibuat-dibuat, justru pemazmur memanjatkan doa yang jujur “Allahku, Allahku, Mengapa Engkau meninggalkan Aku?”. Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mazmur 22:2). Mungkin kita bertanya, bukanlah Musa adalah nabi Allah? Bahkan ia dicatat sebagai hamba yang setia dalam segenap rumah Allah (Ibrani 3:2,5). Justru kita harus belajar dari Musa bagaimana ia belajar memandang dengan iman kepada Allah meskipun banyak hal yang ia belum mengerti. Dalam hal ini, “theology of weakness” seharusnya menjadi kesadaran kita di hadapan Tuhan yang akan memberikan kekuatan kepada setiap anak-anak-Nya.

e. Kepemimpinan Musa adalah hak istimewa dari Allah. Mungkin melayani bangsa Israel,, Musa merasa hancur tetapi membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan adalah hak istimewa dari Allah. Ketika kita melayani, terkadang kita merasa capek dan pesimis melihat jemaat yang kurang antusias, tetapi mengajarkan Firman Tuhan merupakan hak istimewa dari Allah. Wiersbe mengatakan gereja anda mungkin tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya, tetapi menjadi salah seorang hamba Tuhan merupakan hak istimewa karena tugas memberitakan Injil diberikan kepada kita, bukan malaikat. Ia memakai bejana tanah liat yang lemah seperti Musa, anda dan saya. Saya pernah menerima email dalam konseling, dimana ayahnya berjuang sendirian di satu desa dan jemaatnya bukan semakin banyak, malah musuh semakin banyak. Justru dalam situasi apapun, ayah tersebut telah diberikan oleh Allah hak istimewa untuk memberitakan Injil. Apapun kesusahannya, Ia diberikan panggilan khusus untuk melayani Tuhan secara totalitas di dunia yang membutuhkan Injil. Pada akhir Bilangan 11, Allah mengatakan kepada Musa apa yang seharusnya dilakukan yaitu Musa harus berbagi berkat dan beban pelayanan dengan 70 tua-tua bangsa Israel. Oleh karena itu, menjadi pemimpin harus taat kepada apa yang dikatakan oleh Allah melalui Firman Tuhan, itulah iman (Ibrani 11:6). Iman akkan membawa kita kepada ketaatan, tidak peduli apapun yang kita rasakan, apapun yang kita lihat atau konsekuensi yang ada. Tuhan memegang kendali dan Tuhan menyertai.


Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menjadi rasul yang memiliki hidup ketersendirian dalam perjalanan hidupnya melayani Tuhan. Michael Green, seorang Evangelist dari Oxford, England mengatakan bahwa “Paul was a passionate believer in personal ethical monotheism”.Personal – doubtless God is beyond personality, but he is at least personal since he is the Creator of person like ourselves.Ethical – he cares deeply about right and wrong: he is the moral ruler of the world.Monotheism – God is the single ultimate source of everthing in the universe. Luar biasa! Meski demikian, Rasul Paulus tetap memiliki ketersendirian dalam pelayanannya. Kita membaginya di dalam 4 bagian:

1. Paulus adalah Saulus. Siapakah Saulus? Ia adalah teroris rohani yang pernah mengejar orang kristen dan menghancurkan komunitas mereka. Ketersendirian terbesar adalah pada saat Saulus menjadi musuh Allah. (Kisah Para Rasul 9:1-19). Akhirnya disaat ia bertemu dengan Allah di Damsyik, disanalah Saulus menjadi Paulus, Rasul Yesus Kristus yang dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil dan membela kebenaran Firman Allah di hadapan orang Yahudi dan orang Yunani.

2. Setelah pertobatan, ia pergi ke Arab untuk merenungkan peristiwa yang terdasyhat yang ia pernah alami yaitu panggilan hidupnya sebagai rasul Yesus Kristus. Setelah itu, Paulus kembali ke Damsyik, Kilikea untuk memberitakan Injil kepada komunitasnya. Ia mengalami “loneliness of rejection from others” Ia ditolak oleh komunitasnya. Ia alami kesendirian memberitakan Injil. (Kisah Para Rasul 9:20-25).

3. Rasul Paulus datang ke Yerusalem. Ketika Paulus datang ke Yerusalem, iapun mengalami ketersendirian karena orang-orang Yerusalem menganggap Paulus adalah bekas Farisi yang mungkin sedang bersandiwara sebagai mata-mata dalam komunitas kristen saat itu. Kedua, posisi rasul Kristus Yesus yang berbeda kondisi dengan posisi rasul-rasul Kristus lainnya. Paulus memperoleh kerasulan dari Yesus Kristus after Ia mati dan bangkit dari kematian. Sedangkan murid-murid Yesus memperoleh kerasulan dari Yesus Kristus sebelum Ia ditangkap, dimatikan dan bangkit dari kematian. Ia menerima penolakan dari Yerusalem. (Kisah Para Rasul 9:26-31).

4. Dalam Kisah Para Rasul 15:36-41. Rasul Paulus berpisah dengan Barnabas. Perpisahan tersebut juga dapat menyebabkan loneliness. Separation tidak mudah untuk dihadapi. Justru dalam pelayananpun, kita masih bersitegang dengan penolakan dan tantangan pelayanan.

5. Paulus pergi ke Athena dan ditertawakan oleh unbelievers (Kisah Para rasul 17:13-34) dan dianggap Dewi Artemis jauh lebih besar daripada Yesus Kristus yang telah memberikan keselamatan kepada anak-anak Tuhan.

6. II Timotius 4:6-22 menyatakan kesepian Paulus ketika melayani bersama rekan-rekan sekerjanya karena ada yang meninggalkan Paulus karena mereka cinta dunia lebih daripada Injil. Paulus mengalami kembali ketersendirian dalam hubungan dia denga rekan kerja.

Sekali lagi, Pelayanan tidak bisa menghindari sebuah ketersendirian yang sebenarnya menjadi bagian proses Tuhan dipermuliakan dalam pelayanan kita masing-masing baik secara mindset maupun secara application life untuk melaksanakan panggilan hidup Tuhan yang sakral untuk menyatakan apa yang Tuhan mau setiap kita kerjakan dengan “full-hearted” kepada Tuhan. Tuhan memberkati kita semuanya.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Stringless Violin

Hidup manusia tidak lepas dari kesalahan, penyalahgunaan maupun kecelakaan. Mungkin, statement tersebut dapat menjadi pesan secara general melihat fakta-fakta kehidupan manusia yang semakin rumit hingga melawan definisi kemanusiaan yang seharusnya tercermin dalam prinsip serta keputusan hidup manusia guna menyelaraskan kebenaran di dalam tingkah ciptaan Tuhan. Sayangnya, ciptaan Tuhan bukannya hidup seperti Sang Pencipta. Ciptaan malah tega berani menghancurkan sesama ciptaannya. Bahkan ciptaan yang telah dihancurkan oleh ciptaan lainnya, melakukan penghancuran lagi kepada ciptaan yang berikutnya. Inilah kondisi yang tercermin dalam film Indonesia berjudul Biola Tak Berdawai (2004) karya Seno Gumira Ajidarma, yang dibintangi oleh Ria Irawan dan Nicholas Saputra.

Di sebuah rumah bergaya arsitektur kolonial yang terletak di Kota Gede, Daerah Selatan Jawa Tengah, Seorang perempuan bernama Renjani mencium seorang anak kecil berusia 8 tahun dengan berkata “Ibu sayang sama Dewa”. Namun anak umur 8 tahun tersebut tidak memberikan reaksi yang biasanya tampak pada anak-anak seumurnya. Rupanya Dewa adalah seorang anak tuna daksa, dilahirkan cacat dari hasil hubungan gelap orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan Dewa termasuk salah satu anak-anak yang dibuang oleh orang tua kandungnya karena kecacatan mental maupun fisikal yang tidak lazim seperti kondisi anak-anak normal di dalam masyarakat. Meskipun demikian, Dewa membuat hidup Renjani penuh dengan makna. Siapakah Renjani? Seorang perempuan cantik berumur 31 tahun yang memiliki history yang menyayat hatinya. Ia seorang penari balerina. Namun, ia tidak lagi menari bahkan trauma karena ia diperkosa oleh instruktur balerinanya sendiri. Renjani menjadi korban pemaksaan dan pemerkosaan. Akhirnya, Renjani hamil dan iapun melakukan aborsi sehingga iapun kena sakit kanker. Teman Renjani, Mbak Wid kelihatannya lebih kuat dan punya dedikasi, namun kodratnya sebagai perempuan-pun pernah mengalami luka dalam di masa lalu dalam dunia prostitusi. Ia melayani di panti asuhan anak-anak cacat sekaligus memainkan kartu tarotnya membaca nasib hari demi hari. Dalam gejolak feminim yang kental mengapung dalam mendominasi cerita, muncul pula figur maskulin “prince of charming” dengan permainan biolanya membawa Dewa, Renjani masuk ke dalam jiwanya, Bhisma namanya. Ya, Bhisma, seorang anak umur 23 tahun yang tidak dapat melupakan Renjani cantik yang berumur 34 tahun maupun Dewa, anak tuna daksa umur 8 tahun yang hidupnya macam tak berguna. Singkat cerita, Bhisma menciptakan komposisi musik “Biola Tak Berdawai” yang didedikasikan kepada Renjani dan Dewa. Akhirnya, dedikasi tersebut mengiris hati penonton disaat ia memainkan komposisi musiknya di kuburan Renjani yang wafat akibat sakit kanker yang tidak pernah diketahui sebelumnya dan suara dewa yang memberikan respon “dewa sayang ibu” dengan terpatah-patah tidak jelas.

Biola Tak berdawai memiliki prinsip yang konservatif, religius dan mengangkat kodrat manusia sebagai pria, wanita dan anak-anak (dalam hal ini anak cacat). Prinsip penting moralitas dalam film tersebut menekankan kepada perspektif aborsi dan perspektif humanitas. Pesan konservatif bahwa aborsi adalah dosa, aborsi harus ditentang meskipun perempuan tersebut hamil akibat seks bebas maupun korban perkosaan karena anak dalam kandungan tersebut punya hak untuk hidup, termasuk anak cacat. Konsekuensi terburuk dari aborsi yaitu kanker sebagai result dari aborsi.

Soal Aborsi, bagaimana orang kristen seharusnya meresponinya? Justru kita harus kembali kepada Firman Tuhan sebagai satu-satunya dasar kebenaran yang kembali kepada standar Allah yang menyatakan bahwa Tuhan mengenal manusia bahkan sebelum manusia tersebut dilahirkan (Yesaya 49:1, Mazmur 139:13-16) dan manusia harus tetap mengambil responsibility yang dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Firman Tuhan berkata dalam Keluaran 21:22-23, Apabila ada situasi laki-laki tertumbuk pada perempuan yang mengandung sehingga perempuan tersebut harus melahirkan secara prematur, jika perempuan tersebut tidak terluka tetapi keguguran, laki-laki tersebut harus membayar denda sesuai putusan hakim, kalo perempuan tersebut terluka serius maka laki-laki tersebut bersalah dan harus kena “penalty of death” karena melawan hukum Taurat yaitu Jangan membunuh. Dalam hal ini, manusia harus memiliki responsibility kepada Tuhan dan kepada manusia. Mother Theresa menentang aborsi, Ia mengatakan bahwa aborsi bukanlah “teaching of love” tetapi “violence to get what human want”.

Soal Dewa, ia adalah ciptaan Allah yang memiliki beautynya sendiri dalam limitasi fisikalnya. Memang Dewa digambarkan seperti biola tak berdawai karena mereka tidak dapat memproduksi suara yang indah. Bahkan prolog menuliskan: Tanpa dawai, bagaimana biola dapat bersuara? Biola bagaikan tubuh, suara itulah jiwanya. Tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia dapat membuatnya berbicara? Jiwa hanya dapat disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelma jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. Gambaran dewa sebenarnya adalah gambaran saudara dan saya. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia cenderung melawan Allah. Tetapi manusia dapat berdamai dengan Allah karena pekerjaan Kristus yang dinyatakan melalui pengorbanan-Nya diatas kayu salib, menebus dosa saudara dan saya sehingga saya dapat bertobat bukan karena tindakan saya, tetapi karena Kristus. (Galatia 2;20). Itulah tindakan anugerah Allah dalam Kristus Yesus yang memberikan “true meaning” dalam hidup saudara dan saya.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Saturday, February 13, 2010

The Death of Alexander McQueen

Hari ini, China merayakan Chinese New Year dengan begitu maraknya sehingga semuanya ramai dengan suara petasan, canda tawa keluarga besar yang terekspresi lepas, salam congratulations and prosperity diucapkan memberikan “support” keluarga maupun kolega mereka agar dapat memperoleh “lucky” dalam hidupnya. Rupanya, suasana di China hari ini berbeda dengan suasana dunia mode di belahan Eropa hari ini. Kamis lalu, seorang desainer terkemuka asal Inggris, Alexander McQueen yang dikenal sebagai “berandal mode Inggris” ditemukan tewas akibat gantung diri. Menurut beberapa laporan polisi, Alexander McQueen dicurigai sengaja mengantung dirinya akibat depresi kehilangan ibundanya yang meninggal awal Februari kemarin. Banyak teman-teman Mcqueen menyayangkan akhir reputasi McQueen yang sedang menikmati puncak keberhasilan dan ketenarannya sebagai seorang desainer terkemuka di seluruh dunia. Di dalam perspektif Fashion, McQueen dikenal nyentrik dengan penampilan yang “merombak citra mode Inggris” dari anggun menjadi lebih “sarkastik”. Keberaniannya menciptakan inovasi yang “gila” membuat banyak selebritis mencarinya, beberapa diantaranya Sandra Bullock, Madonna, Naomi Champbell, etc. Prestasi popularitasnya juga mengantarnya ke kancah Kerajaan Inggris, dimana Ratu Elizabeth memberikan gelar kepada McQueen yaitu “Commander of British Empire”. Luar biasa! Setelah kematiaan McQueen, pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh para jurnalis adalah siapakah penerus Alexander McQueen design akan pergi? Sejak tahun 2000, brand ini telah dijual kepada Gucci. Akan tetapi, siapakah yang bakal melahapnya? Versace? Ungaro? Atau akan menurun seperti prestasi dari Valentino?

Kehilangan ibunda yang ia sayangi menjadikan dirinya ditekan oleh “pressure” yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengambil sebuah keputusan konyol yang bodoh yaitu membunuh dirinya sendiri (self-caused death). Kekristenan jelas menentang perbuatan-perbuatan seperti ini. Hidup manusia memang tidak bisa lepas dari pressure. Akan tetapi, manusia tidak diberikan hak untuk mengambil sendiri nyawanya, karena manusia tidak memiliki “right to make this decission”. Tindakan membunuh dirinya termasuk telah melakukan hal yang keji di hadapan Allah, karena hidup manusia harus dipertanggungjawabkan kepada Allah karena Ia adalah Sang Pencipta. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa dan tidak ada seorangpun dapat melaksanakan hidup dengan baik, maka adakah pengharapan bagi manusia untuk hidup tenang tanpa melakukan perbuatan konyol seperti McQueen?

Intermezzo, Minggu lalu setelah saya berkhotbah di Mimbar Reformed Injili Indonesia Beijing, saya mengunjungi Haidian Christian Church dan mengikuti English Worship. Saya sungguh terkesan dengan kesaksian seorang mahasiswa chinese yang dulunya atheist dan ia banyak membaca buku untuk berusaha mematahkan konsep keberadaan Allah sampai akhirnya ia mempertanyakan makna hidupnya jika tidak ada Tuhan. Ia langsung menyadari bahwa hidup begitu fragile karena everthing telah terpolusi oleh dosa sehingga apapun tindakan manusia semuanya tidak bakal memberikan jaminan sekuritas yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia mengatakan jika hidup manusia hanya dipahami di dalam konteks “existence” maka manusia tidak dapat melihat pengharapan yang dapat memberikan jaminan sekuritas yang sejati. Hanya pengertian hidup yang “eternity” baru dapat memberikan jaminan sekuritas yang sejati yaitu Allah sendiri. Which Gods, anyway? Hanya satu-satunya Allah yang di dalam eternal plan telah merencanakan anugerah keselamatan Allah kepada manusia melalui Yesus Kristus sebagai satu-satunya juruselamat dunia. Akhirnya ia memahami bahwa pengharapan hidup baru dapat dimengerti ketika dirinya bertobat kepada Allah, di dalam nama-Nya yaitu Yesus Kristus. Pengharapan itu hanya dapat diperoleh pada saat kita kembali kepada pusat kehidupan manusia yaitu kembali kepada Sang Pencipta yaitu Allah sendiri. Allah yang memberikan anugerah kepada manusia untuk dapat kembali melihat makna hidup yang sesungguhnya dan mengecap keindahan hidup sejati bukan di dalam existence saja, tetapi juga di dalam eternity. Kembali bertobat kepada Allah dan berserah total kepada anugerah Allah yang memberikan pengharapan bagi mereka untuk kembali mencicipi hidup yang memuliakan nama Tuhan. Bunuh diri adalah mendekatkan diri pada api neraka. Bertobat di hadapan Allah, membunuh dosa- mendekatkan diri pada Tiang awan dan Tiap api-Nya, berani menjalani hidup di dalam penyertaan-Nya. Haleluyah.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Memory from Shibuya

Chinese New Year tahun ini dingin sekali.Angin bertiup begitu kencangnya bersama dengan ayunan daun pada pohon-pohon yang ditemani dengan kumpulan es yang tertimbun di bawah kaki pohon. Setelah persekutuan doa selesai, hari ini kami menikmati makan siang pesanan kami sambil menonton sebuah film sad story- Hachi: A Dog’s Tale (2009). Sebuah film sentimentil antara seorang professor musik, Parker Wilson (Richard Gere) dan seekor anjing jepang “akita” yang membawa hanyut setiap penonton film tersebut ke dalam arus tema filsafat dan spiritualitas oriental yang kental. Betapa tidak, kekentalan konsep family dan loyalty yang diutamakan oleh Japanese culture-pun dapat kita lihat dengan jelas dalam film tersebut. Bahkan, Richard Gere menjiwai betul peran penyayang anjing hingga seakan-akan hati mereka telah menjadi satu dan menjadi milik berdua (Majikan dan Anjing kesayangan) sampai maut menjemput salah satunya-pun, loyalty masih tetap dipertahankan. Sungguh amat mengagumkan! Is it a joke? Rupanya, kisah diatas adalah kisah “true story” di Jepang tahun 1924. Kisah Professor Hidesamuro Ueno dari University of Tokyo dengan anjing “akita” bernama Hachiko sungguh berbekas dalam sejarah nasional negara Jepang. Dimana Ueno pergi maupun pulang bekerja dari stasiun Shibuya, disitulah Hachiko mengantar dan menjemput tuannya dengan setia. Sampai suatu hari, Ueno jatuh kena stroke ketika ia sedang mengajar di University of Tokyo. Ueno meninggal dan tidak pernah kembali ke stasiun Shibuya. Meskipun demikian, Hachiko tetap bersikeras menunggu majikannya setiap jam 4 sore hingga stasiun tutup selama 10 tahun. Singkat cerita, Hachiko mati dalam keadaan kedinginan menunggu majikan yang ditunggunya bertahun-tahun. Kematian Hachiko menjadi berita nasional di Jepang dan akhirnya patung bronze Hachiko diletakkan di stasiun Shibuya sebagai reminder of devotion and loves. Tubuh anjing tersebut diawetkan untuk disimpan dan dipamerkan di National Science Museum of Japan. Sampai hari ini, banyak para orang tua dan para guru memakai kisah Ueno dan Hachiko ini sebagai simbol nasional guna mengajarkan kepada anak-anak mengenai apa arti sebuah love, compassion dan loyalty. Kedua, selain mereka memfokuskan ajaran tersebut mengenai bagaimana generasi muda belajar mengenai konsep loyalty di dalam keluarga maupun negara, mereka juga belajar memahami binatanag bukan hanya sebuah simple creatures tetapi binatang mampu memberikan lesson of love kepada manusia dan membuat mereka mengerti apa arti sebuah love, compassion and loyalty.

Meskipun film diatas sangat baik untuk memberikan edukasi kepada generasi muda untuk mengerti konsep love, compassion and loyalty, sayang semuanya itu hanyalah sebuah lesson humanistik untuk bagaimana membereskan etika manusia dan belajar bagaimana manusia memberikan apresiasi terhadap binatang, tetapi bukan kepada Sang Pencipta. Seharusnya kita semakin menyadari bahwa theological aspek adalah prioritas utama yang harus kita introspeksi, bukan psikologikal aspek maupun humanistic mindset. Tuhan adalah Kasih dan Dasar Kasih hanya dapat diberikan dari Allah, melalui Yesus Kristus (Yohanes 3:16). Sebagai orang kristen, kita percaya bahwa konsep love yang sehati tidak dapat lepas dari doktrin Kristus (Yohanes 13:35, I Yohanes 3:14, I Yohanes 5:2-3). Konsep compassion orang kristen juga didasari dari konsep God centered bahwa Allah adalah full of compassion for people (Mazmur 86:15) dan Yesus memiliki compassion tersebut bagi orang yang terhilang (Matius 9:36), orang sakit (Matius 14:14) dan orang yang kelaparan (Matius 15:32). Bagaimana dengan saudara dan saya? Sudahkah engkau mengenali konsep love dan compassion dari Allah? (1 Petrus 3:8-12). Loyalty juga tidak dapat dilepaskan dari konsep God centered karena setiap kita telah diberikan spirit of loyalty dari Allah untuk konsentrik kepada-Nya yaitu setia kepada Kristus. Inilah fondasi dalam karakter kristen (1 Petrus 2:9-12). Kita adalah “chosen people” diberikan “royal priesthood”, dipanggil sebagai “holy nation” yang menyatakan kemuliaan Allah. Bukankah ini yang Yesus Kristus kerjakan di dalam dunia? Segala sesuatu yang Yesus Kristus lakukan sesuai dengan makna kasih yang Allah maksud untuk setiap kita belajar menikmati kasih-Nya dan membagikan kasih-Nya kepada others. Memang, semua ini perlu sebuah proses yang tidak langsung “click” tetapi biarlah kita dapat menikmati perjalanan kita menyelami kasih-Nya, belas kasih-Nya dan kesetiaan-Nya dengan “knowing Him” (II Korintus 10:5, 3:1-7) dan “set your heart and mind” (Markus 8:38, Filipi 4:6-9) dengan berserah total kepada Tuhan (Mazmur 37, Roma 8:6-8). Dalam hal ini, prinsip keallahan harus menjadi starting point dalam mengerti kebesaran konsep love, compassion dan loyalty sejati. Oleh karena itu, kita perlu belajar “firmly” percaya kepada konsep Firman Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran Allah dan panggilan hidup kita berbagian di dalam kerajaan Allah untuk melayani Tuhan sampai kedatangan Tuhan kedua kali. Segala kemuliaan hanya bagi Dia. Solideo Gloria.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Monday, February 08, 2010

His Love, My Love, Our Love

Bulan Februari ini kita merayakan 2 events sekaligus yaitu Chinese New Year dan Valentine Day. Kedua events ini kelihatannya totally berbeda karena keduanya memiliki perbedaan kultural antara Timur dan Barat. Tetapi keduanya memiliki dasar yang sama yaitu Love and Togetherness. Kasih dan Kebersamaan. Di dalam kasih ada kebersamaan. Di dalam kebersamaan ada kasih. Jika keduanya tidak ada di dalam keluarga maupun kehidupan manusia maka kelihatannya mereka bersatu di dalam satu bus tetapi mereka tidak saling sapa karena mereka tidak saling mengenal satu dengan lainnya. Oleh karena itu, apa yang dapat menjadi prinsip penting bagi kita semua hari ini dalam memperingati chinese new year dan valentine day?

Kolose 3:1-2 mengatakan bahwa “we are called to set our heart and minds in heavenly places”. Apa maksudnya? Saudara dipanggil untuk hidup konsetrik di dalam konsep kesucian yang Allah tegakkan. Mungkin saudara berkata “buat apa hidup terlalu ideal”. Justru saudara adalah orang yang paling jauh daripada ideal karena saudara telah terlebih dahulu meremehkan ideal sehingga saudara tidak memiliki komitmen maupun motivasi untuk melakukan ideal tersebut. Kegagalan saudara dan saya, mata dan pikiran kita seringkali hanya kita gunakan untuk melihat segala sesuatu yang “earthly things”.

Chinese new year menawarkan “GONG XI FAT CHOY” dengan ucapan Congratulations (good luck) dan prosperity (pengertian aslinya yaitu lot of cash). Semakin banyak yang, semakin beruntunglah kita. Inilah konsep chinese culture yang sebenarnya menggambarkan materialistic mindset manusia dewasa ini. Apakah hidup manusia hanya dinilai dengan keberuntungan dan dinilai dengan uang? Coba saudara pikirkan …. Apakah semuanya ini benar? Di saat kita menerima angpao merah dari orang-orang yang lebih tua daripada kita, kita mungkin bahagia setengah mati karena “panen” kita melimpah. Jika saudara cek, kenapa ada tradisi bagi angpao merah? Karena bagi angpao ada good luck. Pertanyaannya, apakah setiap kita percaya konsep hidup yang seperti ini? Sebagai orang reformed, kita percaya kepada pemeliharaan Tuhan, anugerah keselamatan Tuhan dan belas kasihan Tuhan jauh melebihi setiap konsep good luck yang ada di dalam chinese cultures. Kenapa demikian? Karena hanya di dalam pemeliharaan Tuhan, anugerah keselamatan Tuhan dan belas kasihan Tuhan saja, saya memperoleh kepastian hidup bahwa hidup saya ada pengharapan. Tanpa Tuhan, dimanakah kepastian pengharapan saya? Ketika kita merayakan Chinese New Year, justru kita seharusnya membawa pengharapan kepada keluarga kita dan menguatkan keluarga kita untuk mengutamakan Kristus dalam hidup mereka, bukan harta dunia. Ingat, Matius 16:26 ada tertulis “for what is man profited, if he shall gain the whole world and lose his soul”. Mungkin saudara berkata, Mengapa saya harus melakukan semuanya itu? Jawabannya ada pada satu kata yaitu Kasih.

Valentine Day merayakan tema besar “kasih” yang begitu didambakan oleh manusia. Sayangnya, banyak fakta-fakta tragis yang dialami oleh anak kecil, pasangan muda, keluarga maupun lansia sekalipun, dimana mereka melakukan “violent, angry, fight all the times” sampe “doing the evil things”. Tidak sedikit, mereka dikecewakan oleh pasangannya, keluarganya, saudaranya, komunitasnya, padahal dulunya mereka saling mengasihi. Pertanyaannya, what is wrong with it? Seorang guru bela diri di Amerika Serikat mengatakan “the reason why people are violent, angry and want to fight all the time is because they lack love and affection from another person who they loved”. Kenapa bisa terjadi demikian? Karena mereka tidak memiliki patokan di dalam love and affection mereka. Mereka hanya menilai love dan affection menurut interpretasi emosi mereka sehingga semua aplikasi cinta kasih merekapun hanyalah menjadi reaksi atas interpretasi mereka masing-masing yang tidak mewakili patokan cinta kasih yang sebenarnya. Tidak heran, orang psikologi menganggap love hanyalah feeling or emotions with strong sense of lust, attraction, affection” sehingga love hanya dinilai dengan emosi. Jacques Derrida, Filsuf Postmodernisme asal Aljazair mengungkapkan bahwa love harus dibedakan antara “the who” with absolute singularity dengan “the what” with specific qualities of the beloved. Apa maksudnya? Pada saat kita mengatakan kata cinta kepada pasangan kita, mengapa kita mencintai dia? Seringkali kita melakukan seduction dalam mengasihi pasangan kita karena “specific qualities” yang ada di dalam diri pasangan kita. I love you because you’re beautiful, you’re charming, you’re sexy, etc. Mungkin terlalu sedikit (atau mungkin tak seorangpun) yang mengatakan I love you because you are you, tanpa mempedulikan “spesific qualities” yang ada pada dirinya. Ini konsep Alkitabiah yang dipinjam oleh Derrida (atau mungkin dirampasnya).

Di dalam Kekristenan, Kasih berasal dari Allah. Kasih Allah adalah kasih yang tidak bersyarat, tidak mementingkan diri sendiri, membangun orang lain dan mengasihi others. Inilah kasih Agape. Bukankah ini konsep kasih yang ideal bagi manusia? Yup. Ini kasih ideal yang harus dijalani oleh manusia, meskipun cinta kasih Tuhan berbeda kualitas dengan cinta kasih manusia, akan tetapi justru inilah disiplin rohani bagi kita untuk mengutamakan Tuhan di dalam kehidupan kita, bukan my will will be done tetapi Thy will be done di dalam cinta kasih kita (eros). Misalnya, soal jodoh. Kembali kepada cinta kasih Tuhan dan biarlah kehendak Tuhan yang selalu menjadi patokan kita bersama untuk menemukan panggilan hidup kita untuk menemukan jodoh atau hidup selibat untuk kemuliaan Tuhan. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana saya dapat menerapkan Thy will be done? Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, itulah brotherly love (philia). Bertemanlah dengan others dan berdoalah kepada Tuhan untuk kehendak-Nya jadi dalam hidupmu. Melalui Chinese New Year 2010 ini, Ketahuilah bahwa Allah adalah Kasih (Agape), biarlah setiap kita mengutamakan Allah dalam cinta kasih kita (eros) untuk mengasihi keluarga dan saudara-saudara kita agar mereka dapat mencicipi kasih Tuhan yang menyelamatkan dan bersama-sama belajar mengutamakan Allah melalui hati, pikiran dan tingkah laku kita sebagai anak Tuhan yang mengasihi Tuhan (filia/storge). Terus berjuang di dalam Kasih dan Kebenaran-Nya. Happy Chinese New Year and Happy Valentine Day.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

About Ray

Ray Charles, seorang tuna netra dalam sejarah musik blues yang membuat “geger” blantika industri musik di Amerika Serikat yang sedang bergumul dengan rasisme antara kulit hitam dan kulit putih. Tahun 1948, Ray Charles Robinson menjadi artis terpopuler dengan sentuhan irama blues yang unik dimasanya. Pro dan kontra banyak bermunculan baik memaki Ray dengan mixed style gospel dengan blues maupun memuji Ray karena ide gilanya itu. Pemuja musik jazz ala Nat King Cole dan Charles Brown yang akhirnya melakukan mixed R&B dengan gospel music membuatnya tenar melalui rock and roll-nya. Melalui film Ray (2004), pemeran utama dimainkan oleh Jamie Foxx, saya berusaha membaca diri Ray yang dapat menjadi pelajaran moral bagi saya sebagai orang kristen (in my opinion, of course).

1. Ray Charles adalah golongan second class (waktu itu). Saat itu, kelompok negro dipandang sebagai second class, sedangkan kelompok kulit putih adalah kelompok yang dipandang lebih “high class”. Oleh karena itu, pergumulan rasisme pernah di alami di Amerika Serikat, juga dialami oleh Ray. Kondisi rasisme yang pernah terjadi di Amerika Serikat dimasa silam juga dapat kita lihat di film “The Great Debate” dari Denzel Washington maupun “The Cinderella Man” dari Russell Crowe. Meski demikian, kelompok minoritas dapat memberikan sumbangsih di dalam sejarah musik Amerika Serikat yang akhirnya mempengaruhi dunia. Meski banyak hal saya kurang setuju dengan Ray Charles, satu poin yang dapat saya pelajari bahwa minoritas masih memiliki hak untuk memperjuangkan hak hidup yang diberikan Allah sebagai Sang Pencipta dan manusia (termasuk minoritas) sebagai ciptaan. Di dalam Alkitab, kisah Raja Saul ditolak oleh Allah karena kejahatan hatinya, Samuel menemui Isai (ayah Daud) dan Samuel mau mengurapi anak-anak Isai menjadi raja atas Israel. Namun Allah mengatakan “
But God told Samuel, “Don’t judge by his appearance or height, for I have rejected him. The Lord doesn’t see things the way you see them. People judge by outward appearance, but the Lord looks at the heart” (1 Samuel 16:7). Well, mungkin saudara dan saya adalah kaum minoritas tetapi jika hati kita sungguh-sungguh mau memuliakan Tuhan, Tuhan mau pakai kita yang “minor” ini.

2. Ray Charles hidup di dalam “guilty feeling”. Betapa tidak, Ray selalu terbayang masa lalunya, dimana adiknya, George meninggal dunia akibat masuk ke dalam ember panas. Ia merasa tidak berguna karena ia kurang sigap menolong George alias ia diam tanpa ekspresi melihat tragedi tersebut. Inilah suffering dan pain yang menghantui Ray seumur hidupnya. Menurut saya, semua manusia telah memiliki “guilty feeling dasar” yang juga menghantui hidup manusia yaitu dosa. Ketika mereka melakukan kejahatan ataupun perbuatan yang bertentangan dengan moralitas maka mereka pasti menemukan “guilty feeling” tersebut dan mereka seharusnya jujur terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka seharusnya mengakui dosa mereka dan kembali kepada jalan yang benar di hadapan Sang Pencipta. Celakanya, manusia cenderung menipu dirinya sendiri sehingga mereka malah menimbun dosa-dosanya dan melakukan “revenge” terhadap setiap suffering dan pain mereka dengan melakukan aksi pembalasan kepada “others”. Ray mencari solusi bukan kepada Tuhan, ia malah mencari solusi kepada cocaine, seks maupun kenikmatan yang ia dapat nikmati di dalam kebutaanya. Akhirnya, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Ray untuk kembali kepada Tuhan melalui nasihat mamanya.

2. Ray Charles adalah golongan tuna netra. Pada mulanya ia lahir di dalam keadaan sehat, sampai pada umur belasan tahun, matanya semakin rabun sampai akhirya ia buta sama sekali sehingga ia tidak bisa melihat secara penglihatannya, tetapi ia mengatakan bahwa aku melihat dengan pendengarannya. Akhirnya, seorang cacat masih dapat “enjoying his life” dalam kecacatannya sampai akhirnya ia berhasil di dalam sejarahnya. Dalam hal ini, orang cacat tidak selalu menyusahkan orang lain, justru mungkin orang cacat malah memberikan teladan hidup yang seharusnya menjadi contoh hidup dalam komunitas manusia dewasa ini. Misalnya, Almarhum Gus Dur, seorang cendekiawan, haji, guru muslim yang memiliki keterbatasan dalam penglihatannya tapi hatinya untuk bangsa Indonesia sangat terlihat jelas. Gus Dur paling benci dengan orang munafik yang berada di dalam jajaran pemerintahan seperti anggota DPR, MPR yang dianggapnya sebagai “taman kanak-kanak”. Secara penampilan sehat tetapi banyak orang yang hatinya kekanak-kanakan bahkan kotor. Ray Charles, meskipun cacatpun, ia jatuh ke dalam dosa. Sejak kekayaan menimbuni hidupnya, ia menjadi “the junkies” dan “cheating husband” yang mencoreng teladan keluarga kristen kulit hitam di Amerika Serikat. Ray suka bermain perempuan, money oriented, power controled, coccaine sebagai pemicu semangat. Inilah contoh moralitas manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (gak peduli ia cacat atau sehat) karena melanggar hukum Taurat dan melanggar ketentuan Allah sendiri. Oleh karena itu, Ray Charles teringat kata-katanya ibunya tentang Tuhan Yesus bahwa Yesus lebih bermakna dari apapun. Puji Tuhan! Ray akhirnya bertobat dan memorynya membawa dia untuk melihat Yesus Kristus begitu berharga di dalam hidup manusia karena inkarnasi – jawaban dari hidup di dalam moralitas yang dikuduskan oleh Allah. Ray bertobat dan setiap memorinya diisi Anak Domba Allah, Ia mengisi hidup orang percaya dan mereka dapat menyaksikan bagaimana Allah bekerja di dalam hidup mereka tanpa melakukan sebuah penghujatan kepada Allah, tetapi sebagai disiplin rohani untuk menyerahkan diri untuk menyembah Allah. Haleluyah.

Hidup Ray memang tidaklah sederhana dan sempurna. Itulah cermin gambaran hidup saudara dan saya juga. Tetapi tema pertobatan dan pengampunan, itulah yang menjadi keindahan di dalam hidup Ray. Bagaimana dengan saudara dan saya? Menurut saya, Ray hanyalah salah satu dari kaum tuna netra yang bergumul dengan hidupnya. Fanny Crosby, penulis hymnes yang begitu “agung”, ia buta karena kesalahan diagnosa dari dokter. Meski demikian, karya-karyanya jauh melampaui apa yang dilihat oleh manusia yaitu melihat Kristus sebagai satu-satunya sandaran kekal yang “real”. Biarlah berkat rohani ini menguatkan setiap kita untuk tetap melihat kepada keselamatan di dalam Kristus, apapun situasinya. Tuhan memberkati kita semua.


Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Peran Gereja dalam Dunia  Yoh 8:21-29, 30-32 Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan ...