Wednesday, April 27, 2011

VERITAS DEI

Harvard University, sebuah universitas terkemuka di Amerika Serikat yang menjadi dambaan setiap mahasiswa-mahasiswi seluruh dunia yang merindukan masa depan cerah dalam karier mereka (hopefully). Logo “VERITAS” terpampang di setiap sudut kampus bergengsi tersebut, Mark D. Roberts mengungkapkan nuansa “VERITAS” berada dimana-mana seperti “the eye of God”. Apa sih “VERITAS” itu? Tidak lain, “VERITAS” adalah kosa kata bahasa Latin untuk “Kebenaran”.

Manusia tidak dapat lepas dari sebuah kenyataan bahwa manusia adalah sosok ciptaan dari Sang Pencipta. Hubungan creator – creatures adalah kebenaran yang tidak dapat ditolak karena itulah natur setiap manusia. Manusia tidak dapat lepas dari “searching for THE TRUTH” karena setiap manusia memiliki “sense of divinity” dalam dirinya. Namun problem terbesar manusia adalah manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Sang Pencipta. Manusia telah “Fall into sin” namun manusia tetap bersikeras hendak berkuasa dan melampiaskan nafsu mereka dalam menentukan kebenaran.

Mengapa manusia membutuhkan Kebenaran? Frederich Nietzche, seorang filsuf modern yang mempopulerkan dirinya dengan “Death of God Theology”, ia mengatakan bahwa kebenaran ada di dalam diri setiap manusia yang berhasil menjadi “Ubermench” alias “Super Man”. Konsep “Ubermench” Nietzche tercipta dari hasil “blenderan” dua semangat mitologi Yunani yaitu Apollonian (dewa kuasa, dewa ambisius) dan Dionysian (dewa mabuk, dewa nafsu). Gabungan tesis-anti tesis diatas diharapkan oleh Nietzche dapat menciptakan sebuah formula bagi kehidupan manusia yaitu sukses. Bagi dunia, sukses adalah segala-galanya. Jika kita tidak berada di puncak gunung maka kita bukanlah siapa-siapa! Rupanya, Harvard University di masa kini sedang menghidupi semangat kesuksesan ini. Banyak orang-orang pintar dicetak oleh kampus bergengsi ini tapi dimanakah orang-orang benar? Ingat, Matius 16:26 ada tertulis ‘What profit is it to a man if he gains the whole world, and loses his own soul”. Harvard bukan lagi menghasilkan orang-orang benar, mereka hanya memproduksi orang-orang pintar bagi dirinya sendiri. Kebenaran Allah telah diusir dari area publik, bahkan area privat. Makna “VERITAS” telah hilang dari Harvard University. Bagaimana kita dapat menemukannya kembali?

Back to the Scripture. Injil Yohanes 8:31-32 – Jikalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan. Kebenaran adalah Allah sendiri. Teladan Kebenaran hanya terletak di dalam Inkarnasi Yesus Kristus yang menjalani hidup-Nya sesuai dengan Kitab Suci. Hanya di dalam Yesus Kristus, kita dapat mengenal Kebenaran Allah dan hidup di dalam Kehendak Allah yaitu hidup kudus dan merdeka dari dosa. Bagaimana merdeka dari dosa? Bukan hanya mengenal secara “episteme” maupun “theoria”, namun kita harus bertindak tuk “terlibat” di dalam Allah dan Kebenaran-Nya yaitu “ginosko/ epiginosko”. Tanpa “keterlibatan”, tiada seorangpun orang yang sudah punya “label” kristen mengenal Allah dan Kebenaran sejati. Sekali lagi, hari ini terlalu banyak orang yang memiliki label kristen tapi mereka hanyalah kristen tipe “episteme” dan “theoria” tetapi mereka belum “ginosko”. Bagaimana mau “ginosko”? Lakukan dulu Kebenaran, sesuai Kitab suci. Kuncinya adalah “Jadilah Murid Kristus”. Namun menjadi “Murid Kristus” bukan hanya bicara tentang hubungan pribadi dengan Dia, melainkan harus terkait dengan hubungan terhadap sesama. Mereka harus punya tanggungjawab untuk tidak boleh menyesatkan orang lain, justru mereka harus membawa Kebenaran Allah untuk diajarkan kepada orang lain. Itulah tanggung jawab “Murid Kristus”

Originalitas “VERITAS” Harvard University mula-mula adalah tertulis “VERITAS CHRISTO ET ECCLESIAE – TRUTH FOR CHRIST AND CHURCH”. Dimana Kebenaran yang memerdekakan pasti berelasi dengan Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Yesus Kristus menjadi “the only foundation of all sound knowledge and learning.” Gereja menjadi representatif Allah di dalam dunia untuk memberitakan Kebenaran Allah baik dalam mandat Injil maupun mandat budaya. Namun, Harvard University telah menukarnya dengan “TOLERANCE” dan membuang keberadaan Allah, Kebenaran Kristus dan Peranan Gereja dalam Pendidikan. Harvard University, bukan lagi “Bible Proclaiming School”. Mereka hanya peduli terhadap program humanisme untuk memproduksi “ man of success”, bukan “man of significance, man of honor, man of integrity”.

Tahun 1970 an, Di Vietnam, Ada seorang anak muda bernama Hien Pham, dia seorang penganut agama Budha, namun ia meninggalkan agama Budha karena ia merasa kosong seperti orang yang tidak beragama. Akhirnya ia mendatangi sebuah gereja dan ia berbicara dengan pendeta setempat untuk menemukan kebenaran. Akhirnya, ia menyerahkan dirinya menjadi seorang kristen. Ia sangat fasih di dalam bahasa Inggris. Akhirnya dia menjadi seorang translator bagi tentara Amerika maupun tamu-tamu internasional. Singkat cerita, Vietnam jatuh ke tangan komunis. Hien ditangkap oleh komunis dan dijebloskan ke dalam penjara karena dituduh telah membantu tentara Amerika. Hien tidak diperbolehkan berbicara di dalam bahasa Inggris dan Hien didoktrinasi dengan propaganda komunis baik dari Engels, Marx, Lenin dan Ho Chi Minh. Rupanya, “Communist Manifesto” membawa Hien untuk membaca ulang iman kepercayaannya terhadap Kristus. Akhirnya, ia berencana hendak meninggalkan iman kristennya. Tibalah di sebuah pagi hari, ketika Hien ditugaskan untuk membersihkan toilet “kotor”, dirinya melihat “toilet paper” bekas yang kotor dan bau. Rupanya, “toilet paper” yang bekas dipakai adalah sobekan Alkitab dalam bahasa Inggris. Ia bersihkan dan akhirnya ia menemukan iman kristennya kembali melalui “toilet paper” - (Roma 8:28, 38,39). Bagaimana mungkin? Semua hanya karena Kebenaran Allah yang memerdekakan Hien dan Hien menemukan hidupnya kembali menjadi “MURID KRISTUS”. “Life is not about getting the destination, but life is about walking with God and His Truth on the journey to the destination.”

Tercatat di dalam Injil Lukas 23, Ketika Yesus berseru dengan nyaring “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, Ia memuliakan Allah, katanya “Sungguh orang ini adalah orang benar!”. Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun disitu untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Dari bagian ini kita dapat mengetahui sebuah kebenaran bahwa kematian Yesus bukan karena Diri-Nya dibunuh, tetapi Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah. Justru, Yesus bukan kalah, justru Ia telah menang karena Ia telah melakukan kehendak Allah, sesuai Kitab Suci. Setelah melihat semuanya itu, kepala pasukan “kafir” memuliakan Tuhan? Penonton-penonton memukul-mukul diri? Bagaimana mungkin? Mereka pelaku “order” sistem pemerintahan maupun sistem religius yang rusak, mereka penonton yang telah membayar karcis “The Passion of the Christ” dengan “darah mereka”. Namun, Yesus telah mengampuni mereka dan Ia mati untuk menebus dosa setiap orang percaya. Ia bangkit atas kematian untuk mengenapi rencana Allah untuk memberikan pengharapan kepada setiap orang percaya untuk menemukan kepastian hidup kekal. Itulah Kebenaran yang memberikan keselamatan. Keselamatan hanya diperoleh melalui apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan. Tidak ada kata terlambat untuk berbalik dan percaya kepada Allah. Bagaimana dengan kamu hari ini? Sudahkah “VERITAS DEI” memerdekakan hidupmu? Maukah engkau menerimanya hari ini?

In Christ
Daniel Santoso
Tianjin, China

Wednesday, April 06, 2011

A Warning to rich peoples

Sebuah pertanyaan reflektif mengenai keberadaan Allah dilayangkan kepada orang-orang terkaya di Amerika Serikat. Bill Gates, CEO Microsoft mengambil sikap agnostik dan menganggap urusan “pergi ke gereja” adalah tindakan yang tidak efisien karena menurutnya, ia dapat melakukan banyak pekerjaan dalam “satu jam” saja. Warren Buffet, CEO Berkshire Hattaway dikenal sebagai seorang yang too mathematical, too logical dan dirinya tidak banyak peduli terhadap kehidupan spiritual. George Soros, Chairman dari Soros Fund Management dan Open Society Institues lebih tegas menyatakan dirinya atheist. Contoh, George Soros, seorang spekulan pasar uang yang telah meraup untung 1,2 milyar dollar menjatuhkan poundsterling sehingga Inggris mengalami inflasi besar-besaran di tahun 1982 karena ulahnya. Belum lagi, Tahun 1997-1998, Soros termasuk salah satu orang yang turut “bermain” dalam pasar uang sehingga Asia Tenggara mengalami krisis moneter, termasuk Indonesia yang akibat inflasi, hutang Indonesia sebesar Rp. 1500 triliun. Cacian muncul dari mulut Mahathir Mohamad, Mantan Perdana Menteri Malaysia yang mengatakan bahwa “mendagangkan uang adalah tindakan yang tidak bermoral”. Tidak sedikit, Soros dianggap “vampir” yang serakah dan haus kekuasaan karena tindakan Soros telah merugikan banyak negara dan sebagian masyarakat dunia. Muncul di benak saya, keinginan untuk mempelajari sedikit soal filsafat Soros. Rupanya beliau banyak menerapkan gagasan serta metode epistemologi dari Karl Popper.

Karl Popper, seorang filsuf postmodernisme yang percaya bahwa satu ilmu tidak mungkin dapat memadai tanpa ilmu-ilmu yang lain. Popper percaya bahwa pengetahuan yang kritis bukan diperoleh melalui verifikasi, namun falsifikasi. Jadi, bagi Popper, kebenaran adalah problem of setting, lalu gimana kita dapat melakukan problem of solving, maka logika falsifikasi dipakai untuk menemukan sebuah konklusi bahwa tidak ada kebenaran yang sempurna, yang ada hanyalah “verisimilitude” atau menyerupai kebenaran. Kebenaran dapat dikatakan ilmiah, apabila tiada kebenaran tandingan yang “corraborated”. Kalau ada, maka kebenaran yang kurang ilmiah harus dikatakan sebagai kesalahan. Semangat positif dari pemikiran Popper adalah bahwa kegagalan merupakan awal dari keberhasilan, namun setiap kegagalan pasti lebih benar? Atau masih ada ruang dapat salah? Dalam hal ini, teori falsifikasi tetap lemah dalam penentuan posisi sebagai kebenaran karena kebenaran dapat dikatakan sebagai kebenaran, masih di dalam sebuah “kesepakatan” akademis yang relatif.
George Soros banyak mengadopsi pemikiran Popper dalam penerapan epistemologis bahwa sifat manusia bisa salah (falliable). Knowledge manusia bertumbuh bukan karna “verifikasi” (pembenaran) tetapi dari “falsifikasi” (penyangkalan). Soros menolak pasar sebagai titik sempurna. Justru pasar tidak sempurna dan tidak pasti maka itulah tempat bermainnya. Side Effectnya, Tidak ada ruang kosong, tidak ada netralitas dan efek dari permainan globalisasi adalah penderitaan banyak orang. Sebab, Soros hanya konsentrasi kepada epistemologi tetapi mengabaikan etika.

Matius 19:23-24 berbunyi demikian “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Sebuah ayat dari Perjanjian Baru yang memberikan sebuah pengertian bahwa tidak mudah bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, malah hiperbola dipakai “seekor unta” lebih mudah masuk melalui lubang jarum. Bagaimana kita membaca ayat ini? Apakah Alkitab melakukan “demonize” terhadap orang kaya? Jika kita kembali kepada Alkitab, kita akan menemukan kebenaran bahwa Allah tidak menentang setiap orang kaya, tetapi problem yang ditentang oleh Allah adalah problem sebagian orang kaya yang lebih mencintai uang daripada Allah (Lukas 12:13-21, 1 Timotius 6:6-10). Mereka mencintai uang dan harta kekayaan di dalam kerusakan total dirinya sebagai manusia berdosa yang telah kehilangan kemuliaan Allah dan mereka menjadikan uang dan harta kekayaan sebagai idola mereka, padahal Sepuluh Perintah Allah mencatat bahwa jangan ada padamu allah-allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3). Dalam hal ini, mereka harus bertobat, kembali kepada Allah dan bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka dengan “takut akan Tuhan” dan melakukan penyelarasan sesuai dengan originalitas Allah, otoritas Allah dan selera Allah dalam Firman Tuhan. Itulah Kebenaran Allah yang tidak perlu ditentukan oleh “kesepakatan” kita dalam menentukan metode verifikasi maupun falsifikasi, melainkan inisiatif Allah menyatakan kebenaran satu-satunya yang memimpin manusia untuk mengikuti kebenaran Allah bersamaan dengan mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang selama ini kita adopsi sebagai filsafat hidup kita secara continue di dalam pekerjaan Roh Kudus untuk menyadarkan orang kaya untuk hidup dan mati untuk Yesus Kristus.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Tuesday, March 29, 2011

Reason for the season 2

Kedua, Yesus Kristus adalah Allah yang rela turun ke dalam dunia yang berdosa, mengambil rupa seorang manusia untuk menggenapi rencana kekal Allah di dalam keselamatan. Manusia tidak dapat memiliki kehidupan yang sempurna karena semua telah jatuh ke dalam dosa. Akibatnya, banyak perintah Tuhan dan ketetapan Allah dilanggar karena mereka mengexcuse diri mereka tidak mampu menjalani perintah dan ketetapan Allah. Yesus Kristus menjadi satu-satunya manusia yang dapat menjadi teladan bagi manusia untuk mentransformasi manusia untuk bagaimana mereka belajar menghidupi hidup yang diperkenan oleh Allah. Dalam hal ini, Yesus Kristus menjadi satu-satunya teladan manusia hidup menurut kehendak Allah. Namun, banyak orang meneladani Yesus di dalam cara yang salah. Mereka bukan mau hidup seturut kehendak Tuhan, melainkan mau menjadi Tuhan menurut kehendak sendiri. Semangat “equality like God” masih panas membara di dalam kosa kata hidup manusia berdosa yang berjubah “religius”. Dalam Alkitab, kita dapat menemukan bahwa Lucifer, pemimpin malaikat Kerubim, pemimpin pujian Surga dan pemimpin malaikat tidak puas dengan semua kepemimpinan yang diberikan Allah kepadanya. Dalam kitab Yesaya 14, kita melihat seruan Lucifer “ I will be like most high. I will be the most high”. Apa yang Lucifer mau? Equality like God. Ini permohonan yang telah keluar jalur “positioning” yang benar! Tuhan menghukum Lucifer dengan membuangnya ke neraka. Siapakah Kristus? Ia adalah Allah yang rela mengosongkan dirinya menjadi manusia, mengambil rupa seorang budak “doulos” dengan “total submission” untuk melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki (Thy will be done).

Ketiga, Yesus Kristus rela mengambil posisi sebagai “the suffering servant” untuk rela mati diatas kayu salib, meneteskan darah-Nya untuk menebus dosa manusia yang berdosa dan memberikan pengharapan baru di dalam hidup kekal melalui apa yang Yesus kerjakan di dalam dunia. Yesus melakukan semuanya untuk menebus dosamu dan dosaku. Ia rela menderita demi menanggung dosa-dosa kita yang sebenarnya tidak Ia lakukan. Ia mengasihi kita dan Ia menyelamatkan kita agar setiap kita dapat kembali kepada Allah Maha Pengasih.

Keempat, Yesus Kristus mati diatas kayu salib, dikubur di kuburan pinjaman. Namun kubur itu kosong dan Yesus menampakkan diri di hadapan murid-murid-Nya. Disini menyatakan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan setiap kita dapat melihat pengharapan di dalam Kristus bahwa ada kehidupan baru setelah kita mati. Dalam hal ini, satu-satunya pendiri agama yang bangkit dari kematian hanya di dalam Yesus Kristus. Jadi, inilah keunikan iman kristen di dalam Kristus dan biarlah semua lidah mengakui bahwa Yesus bukan manusia biasa, Yesus adalah Tuhan dan Hanya di dalam nama Yesus Kristus kita dapat beroleh hidup kekal.
Inilah the real reason for the season. Natal bukan foya-foya! Natal bukan liburan! Natal adalah Pengharapan keselamatan Ilahi, hanya di dalam Yesus Kristus. Sudahkah engkau mengenal-Nya?

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Tianjin

Friday, December 10, 2010

Reason for the season 1

Desember 2010 telah tiba, dekorasi natal telah menghiasi kota-kota besar di seluruh penjuru dunia. Banyak Mall udah mempersiapkan sale besar-besaran bagi pengunjung konsumerisme yang “gila shopping” terhadap barang-barang bermerk. H&M penuh sesak oleh pengunjung muda-mudi dalam memburu koleksi Lanvin dan H&M dalam rangka Natal. Belum lagi, pohon natal besar berwarna warni dengan nyala kelap kelip lampu natal memberikan nuansa “celebration” di Central, Hongkong. Tidak sedikit, penduduk Hongkong dan sebagian foreigner memenuhi area Central untuk menikmati “happy holidays” mereka. Sebenarnya, bagaimana kita seharusnya merayakan Natal? Sebagai orang kristen, kita seharusnya memakai waktu kita untuk stop dan reflect just why we really celebrate this season?

Dewasa ini, kebangkitan gerakan ateisme cukup berani menyuarakan “freedom of speech” mereka baik secara lisan, tertulis maupun secara organisasi. Buku “The God of Delusion” dari Richard Dawkins dan “God is not great: How religion poisons everything” dari Christopher Hitchens menjadi aksi serangan kaum ateis kepada orang-orang teistik. Dawkins menyerang Katolik Roma sebagai “the greatest force for evil in the world” . Dawkins anggap Katolik Roma sebagai “disgusting institution” dan “cannibal feast”. Dawkins menganggap agama sebagai mitologi yang kelihatan indah tapi salah dan berbahaya. Hitchens juga mengajak setiap pembaca bukunya untuk melihat kepada fakta/evidence bahwa keberadaan agama menyebabkan dunia tidak semakin baik, malah semakin complicated and so confusing. Tidak heran, Dawkins dan Hitchens menilai Allah dan keberadaan agama sebagai hal yang “non-sense” karena tidak sesuai dengan fakta/ evidence dalam sejarah. Mereka menganggap “From Faith to Faith” tidak relevan. Lebih baik “From Evidence to Faith”. Sungguhkah? Alkitab justru memberikan sebuah proklamasi bahwa “God loved therefore i am”. Jadi, kepercayaan soal Allah dan agama tidak dapat hanya dinilai dari “reason” manusia yang bersumber pada “cogito ergo sum” ala Rene Descartes, tetapi harus setia kepada “God centered” sehingga definisi iman dimengerti di dalam kembalinya reason, emotion, will kepada Kebenaran Allah yang absolut.

Sebagai orang kristen, kita harus kembali berbalik kepada fokus yang asli yaitu kembali kepada Yesus Kristus. No Jesus, No Christmas! Inilah our duty untuk menyatakan sebuah proklamasi Injil Kristus di dalam kepenuhan dan kelimpahan anugerah-Nya, bukan melakukan “editing” terhadap Injil Kristus. Ironisnya, Kontradiksi demi kontradiksi silih berganti menodai keakuratan Natal dalam aksi manusia memperingatinya.

Contoh, ketika bayi Yesus berada di Bethlehem, orang majus datang dari tempat jauh untuk bertemu dengan bayi Yesus dan mereka memberikan persembahan mas, kemenyan dan mur sebagai persembahan terbaik mereka. Bukankah Natal membuat saudara dan saya belajar memberikan yang terbaik kepada Tuhan? Natal seringkali membuat setiap kita hanya terjebak dalam ornamen-ornamen plastik pohon natal yang “menarik” secara fenomenal tapi kehilangan makna dari Natal tersebut. Jadi, Seharusnya saudara sibuk merayakan Natal untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan, ataukah karena saya hanya mau terlibat dalam “keramaian” Natal?

Sekali lagi, kita harus “straight-forward” untuk membawa fokus utama Natal ada dalam Yesus Kristus. Bagaimana kita belajar memahami pentingnya Yesus Kristus dalam kita merayakan Natal? Saya mengajak saudara merenungkan satu perikop yaitu Surat Filipi 2:5-11. Paulus mengajarkan setiap kita untuk menjadikan:

Pertama, Yesus Kristus menjadi standar pikiran dan perasaan kita. (ayat 5). “Having this mind among yourselves, which you have in Christ Jesus”. Dalam tradisi Yahudi, kita dapat belajar bahwa pikiran dan perasaan tidak dapat lepas dari hati. Semuanya connecting dan tidak dapat dilepaskan. Jadi, dalam hal ini, hati kita seharusnya terpaut dalam Yesus Kristus sebagai satu-satunya fondasi iman yang dianugerahkan Allah kepada kita (Yohanes 8:24, Yohanes 14:6). Dalam hal ini, kita harus menjadi saksi Kristus yang berani mendasarkan setiap aksi hidup kita dalam pengertian Kristus yang benar yaitu Yesus 100% Allah dan Yesus 100% Manusia, inilah kualitas Allah yang “qualitative difference” nan “radical” yang kembali bersumber pada anti-tesis antara kaum percaya dan kaum non-percaya. Presuposisi kita adalah kembali dalam Kovenan Allah yang absolut, bukan “new thesis” dari tesis dan anti tesis versi Hegelian.

Bersambung

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Shanghai, China

Friday, December 03, 2010

Natal di dalam Kristus

Natal 2010 telah tiba. Dikotomi Natal “marak” bergelombang baik dari kalangan orang kristen yang merayakan kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat Dunia yang berinkarnasi turun ke dalam dunia tuk menebus dosa kaum pilihan-Nya dan kalangan kaum ateis dan kaum sekular yang menekankan pembebasan Natal dari Kristus, “freedom of religion” dan “freedom from religion” mendefinisikan Natal hanya dalam”event” libur panjang musim dingin dan imajinasi budaya “Santa Claus” paganisme. Banyak hal-hal yang paradoks dalam Natal Kristen dengan Paganisme. Paganisme menyediakan Santa Claus, Pohon Natal dengan aksesoris plastik, kelap kelip lampu hiasan natal serta Christmas Sale di shopping mall seluruh dunia. Inti Natal Paganisme hanya terletak pada konsumerisme. Seperti apa yang diucapkan oleh Jeff Locke dari truthxchange.com, Christmas is a Pagan Holiday. Paganisme telah mereduksi makna sakral Natal mula-mula, saat orang majus datang memberikan persembahan yang terbaik kepada bayi Yesus, Paganisme hanya membeli ornamen-ornamen plastik pohon natal sebagai “accessoris” mereka merayakan Natal. Saat orang majus memberikan persembahan kepada Yesus dengan “humility gift”, justru Paganisme memberikan “indulgence of selfishness gift” tanpa melupakan keuntungan profit. Saat Bethlehem menjadi kota yang sepi nan sunyi, Paganisme merubah kesunyian menjadi keramaian Natal yang “blink-blink”. Saat inkarnasi Yesus turun ke dalam dunia secara nyata dan serius, justru Paganisme mengajak dunia bermain di dalam party-party yang memalukan. Sebagai orang kristen, kita harus “straightforward” kepada esensi Natal yang sejati yaitu Yesus Kristus, bukan bermain-main di dalam area supplemen yang tidak jelas di luar Yesus Kristus. Seringkali kita terlalu berani menggunakan alasan “ah hanya main-main doang”, padahal “doang” itu termasuk jawaban aksi dari permainan dunia. Sekali lagi, Kita harus “straightforward” kepada fokus Natal yang sejati. Natal tidak dapat dilepaskan dari Yesus Kristus, satu-satunya “Allah yang rela turun menjadi manusia” yang menjadi juruselamat manusia satu-satunya tuk membawa manusia berdosa kembali kepada Allah. Tantangan postmodernisme dan sekularisme banyak memberikan ruang negatif bagi dunia melihat kekolotan para fundamentalisme kekristenan dalam memproklamasikan Kebenaran Fundamental dalam Firman Tuhan, baik Firman yang menjadi daging yaitu Yesus Kristus dan Firman yang ditulis oleh para rasul dan para nabi dalam Kitab Suci yaitu Alkitab. Namun, orang kristen bukanlah orang yang sedang berada di dalam bahaya, justru “prostitusi kristen” itulah yang berada dalam bahaya. Mereka kelihatannya kristen, padahal mereka tidak berjiwa “kristen”. Meski demikian, kita harus “straightforward” tanpa henti-henti memberitakan Injil Kristus kepada dunia karena seperti kata Rasul Paulus, celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil (1Korintus 9:16-19).Dari atas mimbar, Pdt Dr. Stephen Tong mengingatkan bahwa Injil tidak cukup hanya kita terima dan percayai, tetapi juga harus dikabarkan. Masih adakah Injil diberitakan oleh orang kristen di hari Natal? Selamat memberitakan Injil di hari Natal! Tuhan memberkati kita semua.

Selamat Natal
Daniel Santoso
Beijing, China

Monday, November 29, 2010

Understanding Your Sloth/ Laziness

Berita-berita Indonesia memberikan rapor merah terhadap anggota-anggota DPR yang sering bolos dalam mengikuti rapat paripurna, tidak cekatan dalam pelaporan kekayaan mereka maupun pengurusan NPWP anggota-anggota DPR, tidak ada inisiatif untuk mengerjakan tugas ideal wakil rakyat untuk membawa aspirasi rakyat untuk digodok dalam rapat wakil rakyat. Mereka cenderung malas, tidak segan2 bolos tanpa sebab dan banyak mereka sudah kehilangan kepekaan untuk bagaimana memperjuangkan aspirasi rakyat demi Indonesia yang lebih adil dan makmur. Kursi-kursi anggota DPR tetap kosong melompong dan kalopun ada orang yang duduk di kursi mereka, kebanyakan dari mereka sudah tidak memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan amanat tugas kenegaraan mereka alias mereka santai dan lebih memilih tertidur dalam ruang rapat. Di berbagai media komunikasi, banyak foto-foto dan tayangan media televisi yang mempertontonkan kekonyolan anggota-anggota DPR yang suka “bolos” maupun yang suka “tidur” di ruang rapat. Meski keadaan anggora DPR begitu memprihatinkan, namun mereka berani menuntut fasilitas-fasilitas wakil rakyat yang serba mewah itu baik dengan menikmati kunjungan-kunjungan luar negeri yang kagak jelas visi misinya apa, menuntut renovasi rumah dinas mewah mereka maupun kenaikan gaji. Sebenarnya virus kemalasan ini bukan hanya melanda pemerintahan saja, namun gereja mengalami hal yang sama. Immanuel Kant dalam bukunya “What is Enlightement?” memaparkan salah satu kegagalan gereja modern adalah gereja jatuh ke dalam “laziness”. Kemalasan untuk berpikir sesuai dengan pikiran Tuhan. Secara teologis, Alkitab banyak berbicara tentang kemalasan yang merusak, mematikan dan terkutuk itu, terutama dari Kitab Amsal (Amsal 6:6, 6:9, 10:26, 13:4, 15:19, 19:15, 19:24, 20:4, 21:25, 22:13, 24:30, 26: 13-16).

Mengutip dari buku “Bebas dari 7 Dosa Maut”, Billy Graham memaparkan bahwa Dosa kemalasan menyebabkan cara hidup negatif yaitu hidup yang terhenti dan tidak efektif yang kesemuanya membuat orang itu tidak layak menjadi pengikut Kristus. Bagi Billy Graham, kemalasan rohani bukan saja dosa terhadap Allah tapi juga dosa terhadap diri sendiri. Kemalasan adalah pembinasa kesempatan dan pembunuh jiwa. Ini statement besar. Seorang yang tekun adalah seorang yang terus menggunakan setiap kesempatan sebanyak mungkin. Dalam hal ini ketekunan hanya dapat dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki jiwa mau berkorban dan rela capek dalam mewujudkan kesempatan demi kesempatan karena ketekunan mereka adalah perjuangan untuk memberikan apa yang paling “the best” untuk dapat menikmati kualitas yang “qualitative difference”. Jika demikian, bagaimana kita memahami vocabulary “kemalasan” dalam spiritualitas kita? Dalam Yakobus 4:17, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”. Jadi, kemalasan adalah dosa?

Seringkali kita membiarkan semua hal menghalangi kita melakukan kehendak Tuhan dengan tekun. Kemalasan adalah dosa! disaat kamu malas baca alkitab, kamu berdosa! disaat kamu malas memberitakan injil, kamu berdosa! disaat kamu malas melayani Tuhanm kamu berdosa! Kemalasan selalu mengendorkan kamu, itulah kehebatan dosa! Roma 12:11 menasihati setiap kita agar “janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”. Iblis sangat menyukai pengikut-pengikut Kristus berdosa di dalam kemalasan mereka dan membangkang pengikutan mereka kepada Kristus dengan kemalasan rohani mereka untuk memberitakan Injil. Jangan malas, saudara! Bangkitlah bagi Kristus! Mari kita tekun melayani Tuhan karena kemuliaan Tuhan adalah worth it bagi kita semuanya untuk kerjakan yaitu melakukan apa yang Tuhan tuntut dalam hidup kita, kita berikan sebaik mungkin sampai ajal kita tiba, sampai kita kembali kepada Tuhan menikmati hidup kekal-Nya.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Sunday, November 28, 2010

Pendoa Syafaat yang Tekun

Bapak Tri Wahyudi,Sosok beliau terlalu berkesan di dalam diri saya karena di dalam hidupnya, beliau senantiasa berperan besar menjadi seorang pendoa syafaat yang tekun mendoakan pelayanan hamba-hamba Tuhan. Tahun 2002, masa dimana saya dikirim dari Reformed Institue, Jakarta untuk menjalani masa praktek pelayanan di MRII Yogyakarta selama 2 bulan. Banyak pengalaman-pengalaman indah yang tidak dapat saya lupakan, baik melayani di rumah sakit Bethesda, Persekutuan Reformed di Semarang, mengajar 2 mata kuliah di Sekolah Teologia Reformed Injili Yogyakarta yaitu: “Integrity of Christian Life” dan “Christian Ethics”, mengunjungi Candi Borobudur, Pantai Parang Tritis, Villa Pak Susilo di Kaliurang, mengisi renungan di PMK Melisia Christi, memimpin 2 session di Retreat Remaja GKI Magelang di Wisma Baptis Salatiga, melayani di Mimbar Reformed Injili Indonesia Yogyakarta, termasuk berkenalan dengan beliau, sang pendoa syafaat.

Beliau begitu ramah dan rendah hati mau berkawan dengan saya bahkan memperkenalkan istri dan anak-anaknya seperti saudara sendiri, padahal umur kami jauh berbeda. Kisah pelayanan beliau di Gereja Kristen Jawa, mengambil studi akupuntur dan kemauan belajar teologia Reformed di Sekolah Teologia Reformed Injili Yogyakarta membuat saya tidak dapat melupakan beliau. Setiap kali saya lihat motor vespa melintas, memori saya hanya mengingatkan saya kepada dua pribadi yaitu Frans Magnis Suseno dan Tri Wahyudi. Pak Tri selalu berkata “Saya memang semakin tua, justru saya harus banyak belajar”. Luar biasa! Hari ini banyak anak-anak muda gak mau belajar teologia, malas ke gereja, gak pernah saat teduh, hanya peduli dengan komik-komik bergambar, games-games virtual, shopping barang-barang “sekunder”, anak muda macam demikian lebih baik dibuang ke tempat sampah (kalo boleh pinjam statement dari Soe Hok Gie). Beliau berkata “Oleh karena itu Saya senantiasa doakan Pak Daniel dapat dipakai Tuhan untuk melayani Tuhan, jadi berkat bagi orang lain yang belum kenal Tuhan”. Saat itu, saya hanya berkata “ kami sangat membutuhkan doa-doa seperti bapak. Mohon doakan kami!’. Do you know watt? He did it.

After 2 bulan melayani di Yogyakarta, saya kembali ke Jakarta dengan jam “seiko” yang baru saya beli dari toko loak dekat tugu, Yogyakarta. Tidak lama kemudian, saya menerima secarik surat dari Pak Tri. Apa isinya? Isi doa syafaat beliau untuk saya. Ia juga memberikan doa syafaat agar saya mendoakan ujian praktek akunpuntur beliau. Saya begitu terharu dan berdoa bagi beliau. Tak lama kemudian, datang kembali secarik surat dari Pak Tri. Isinya juga doa syafaat mendoakan pelayanan saya dan doa syafaat untuk saya mendoakan beliau. Saya sungguh tertegun dan saya berdoa bagi pergumulan Pak Tri. Namun, saya baru dapat membalas surat Pak Tri setahun kemudian karena saya telah kembali melayani di Taiwan dan mulai menjajaki medan pelayanan yang baru di China. Setelah itu kami telah “lost contact”. Saya hanya sempat bertanya tentang kabar beliau kepada teman-teman sepelayanan yang dikirim ke Yogyakarta. Saya mendengar beliau justru tetap aktif melayani dan semakin tekun belajar. Saya sungguh-sungguh senang mendengar berita tersebut.

Now, Beliau telah kembali ke rumah Bapa. Meski informasi kepulangannya terlambat 2 bulan kepada saya, saya tak dapat memungkiri bahwa ada kesedihan mendalam dalam diri saya yang membuat saya sungguh merasa terpukul karena saya kehilangan seorang pendoa syafaat yang tekun. Namun, saya sadar bahwa Tuhan hendak memberikan pelajaran penting buat saya untuk bukan terpuruk dalam kesedihan terlalu dalam. Justru Pak Tri telah diselamatkan oleh Kristus. Maka Tidak ada gunanya kita menumpahkan seluruh airmata kita hanya untuk keterhilangan kita. Namun bagaimana kita harus tetap teguh di dalam Kristus untuk tetap melayani dengan lebih “mati-matian” untuk Tuhan dan belajar dari hidup beliau untuk berdoa bagi pelayanan hamba-hamba Tuhan dan tetap semangat belajar dan bekerja di dalam Kebenaran Tuhan.

Terakhir, Ketika saya melihat foto-foto sebelum beliau meninggal dunia, Pak Tri masih memimpin liturgi KKR Regional dan kebaktian MRIIY. Beliau masih enerjik meskipun raut wajah telah menua. Sebuah refleksi sederhana muncul dalam benak saya, wajah saya kelak pasti akan menua, masihkan kita melayani dalam Kebenaran Kristus dengan enerjik? Selamat jalan Pak Tri ... Kami tetap akan mendoakan pelayanan hamba-hamba Tuhan dan berjuang mati-matian melayani Tuhan karena Kristus mengasihi kita semua!

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Wednesday, November 17, 2010

God is better than Sex

Skandal Seksualitas di kalangan Selebritis telah menjadi nilai merah bagi masyarakat untuk menilai kehidupan selebritis secara positif, dalam hal ini selebritis identik dengan kehidupan yang negatif. Betapa tidak, Selebriti seharusnya dapat menempatkan diri sebagai teladan masyarakat yang turut mengembangkan kehidupan moralitas yang baik dan benar bagi generasi penerus bangsa. Di Indonesia, Skandal Seks Ariel Peter Pan begitu gempar hingga sampai mancanegara, sampai hari ini, Ariel masih berada di dalam tahanan di Bandung.

Di Hongkong, Skandal Seks Edison Chen juga mengemparkan Hongkong dan dunia entertaiment sampai hollywood. Melalui jumpa pers, Edison Chen menyampaikan permintaan maaf kepada setiap perempuan yang telah menjadi korban dalam video-video tersebut dan memohon maaf kepada keluarga korban, keluarga Edison dan seluruh rakyat hongkong. Dirinya begitu kepukul dan ia meninggalkan Hongkong menuju Canada untuk memulihkan dirinya. Tidak sedikit, Selebritis-selebritis yang memiliki moralitas yang rendah dan tidak punya kesadaran untuk menjadi teladan masyarakat. Mereka hanya mau hidup glamour dan diperlakukan seperti King & Queen. Seharusnya, mereka sadar bahwa sebagai public figure harus memiliki hati untuk mendidik masyarakat dan mengarahkan masyarakat untuk hidup di dalam kebaikan dan kebenaran termasuk etika seksualitas. Bagaimana kita seharusnya mendidik generasi muda terhadap free sex?

Saya sangat kecewa terhadap sebagian gereja yang telah kehilangan suara kenabian untuk mendidik generasi-generasi muda untuk setia hidup dalam kebenaran dan hidup dalam kesucian. Maksud saya, ada gereja yang sengaja tidak memerangi free sex malah mendukung free sex dengan “safe sex” alias menggunakan kondom. Inikah panggilan gereja? Sungguh amat memalukan! Gereja seharusnya mengajak jemaat dan masyarakat dunia untuk menghormati seks dan pernikahan, mengendalikan diri dan menjauhi semua tindakan najis dan menjaga kesucian hidup (1Tes 4:4) karena orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah (Ibrani 13:4). Free Sex jelas bertentangan dengan Firman Tuhan, enggak peduli safe sex or not, tetap melanggar etika dan norma di hadapan Allah dan manusia. Jika demikian, bagaimana kita seharusnya hidup dalam kebenaran dan kesucian? Seks itu indah bagi mereka yang “menikah”. Jangan lancang! Jika lancang, kita telah memilih jalan hidup sendiri untuk tidak kembali kepada jalan Tuhan dan cari liang kubur sendiri. Ingatlah, Allah melarang dengan tegas “free sex” yang telah menodai kesakralan arti seksualitas. Jadi, siapapun kita yang telah jatuh ke dalam dosa, kita harus belajar bertobat dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab menjaga kesakralan hidup dan cinta kasih yang telah Tuhan anugerahkan kepada manusia ciptaan-Nya untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan natur cinta kasih-Nya.

Akhirnya, Edison Chen kembali ke Hongkong. Yup! Artis muda Hongkong yang terjun dalam blantika musik hip hop, dunia akting hongkong maupun hollywood, model dari Levi’s dan model MV kembali mengadakan jumpa pers di CNN Talk Asia dan memaparkan pertanggungjawaban Edison. Rupanya, perubahan hidup baik iman, pemikiran, emosi dan aksi menjadikan setiap kita kembali melihat krusialnya etika seksualitas yang setia kepada Firman Tuhan dalam hidup anak-anak Tuhan.Semoga Edison sungguh-sungguh menekuni apa yang Tuhan kehendaki dan menghidupi sebuah kehidupan yang suci dan bertanggungjawab di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Semoga mereka bukan bertobat hanya "panas-panas tahi ayam". Be Strong in The Lord!

In Christ
Daniel Santoso
Beijing, China

Tuesday, November 16, 2010

Where is Your Citizenship?

Setiap kali saya travelling ke kota-kota besar China seperti Shanghai, Guangzhou, Xiamen, Fuzhou, Tianjin, Zhangzhou, Shenzen, Guiyang dan sebagainya, saya sering mengalami putus asa disaat saya memperkenalkan “citizenship” saya. Ketika saya memperkenalkan diri saya sebagai “Indonesian”, mereka tidak tahu dimana letak geografis Indonesia. Sedih juga, ketika mereka mendengar Indonesia, mereka menganggapnya sebagai India. Rupanya, kejadian yang sama dialami oleh teman2 Indonesia yang berada di negara Barat. Bahkan ada seorang bule yang menebak Indonesia berada di Timur Tengah hahaha. Kebacut!

Rupanya Indonesia tidak populer di masyarakat dunia. Meskipun, kita dapat menghibur diri dengan prestasi bangsa Indonesia dalam olahraga bulu tangkis haha. Padahal tidak sedikit, barang-barang bermerk di luar negeri adalah Made in Indonesia seperti GEOX, Nike, ZARA, etc. Tapi mereka lebih familiar dengan Made in Vietnam, Made in Mauritius, Made in Cyprus, Made in Bangladesh dibandingkan dengan Made in Indonesia.

Masih adakah kebanggaan orang Indonesia ketika diperhadapkan dengan ketidakpopuleran Indonesia di dunia? Rupanya masih ada harapan. Meskipun banyak orang tidak mengenal Indonesia, tapi mereka tahu Pulau Dewata Bali. Bahkan tidak sedikit dari mereka telah berkali-kali mengunjungi Bali, tapi mereka tidak menyadari Bali sebagai bagian dari Indonesia. Mungkin mereka anggap Bali adalah Maldives. Namun, Menjadi ambiguitas bagi kami untuk memperkenalkan diri kami, Apakah kami orang Indonesia atau kami orang Bali (meskipun asli jawa timur haha)? Tentu saja, kita harus tetap mengatakan bahwa kita berkebangsaan Indonesia dan Bali adalah bagian dari Indonesia. Dengan demikian, kita dapat mendidik dunia untuk mengenal Indonesia.

Namun, hari ini saya mau memfokuskan diri terhadap sebuah pertanyaan “where is your citizenship?”. “Citizenship” bukan hanya dibaca secara temporal dalam dunia, tetapi juga dibaca setelah manusia meninggal dunia, mereka bakal kemana? Oleh karena itu, pertanyaan krusial saya adalah “Where is your eternal citizenship?”.

Rasul Paulus dalam Surat Filipi 3:17-21 memaparkan sebuah pengertian bahwa kita memiliki” dual citizenships – a temporary one in earth and an eternal one in heaven.” Pertanyaan ini jarang kita gumulkan secara serius sehingga banyak manusia mengalami keputusasaan yang berkepanjangan terutama bagi mereka yang telah sekarat. Tentu saja, we have no idea ketika melihat kondisi kita sebagai sinner dapat memiliki “citizenship of heaven”. Tidak ada pendiri agama manapun yang dapat memberikan sebuah “payment” agar setiap kita dapat diterima di Surga, kecuali Yesus Kristus- Allah yang rela berinkarnasi ke dalam dunia dan memungkinkan setiap kita semua dapat kembali kepada Allah dengan “citizenship of heaven” di dalam kedaulatan-Nya. Jadi kita tidak boleh hidup sembarangan di dalam dunia karena kita harus hidup meneladani Kristus sebagai patokan bagaimana saudara menghidupi “citizenship of heaven” dalam satu-satunya Juruselamat Dunia, Yesus Kristus. Solideo Gloria.

In Christ
Daniel Santoso
Beijing, China

Monday, November 15, 2010

Indonesia Bagian Dari Diri Saya

“Indonesia bagian dari diri saya” ... 10 November 2010, Sebuah kalimat kekeluargaan keluar dari mulut seorang Presiden Amerika Serikat- Barack Hussein Obama, ketika ia membawakan kuliah publik di Universitas Indonesia. Pidato Obama di Universitas Indonesia begitu berkesan bagi mahasiswa-mahasiswa indonesia dan mereka “tersihir” untuk memberikan respon yang “kebanggaan” terhadap figur Obama yang lebih mungkin dinilai lebih “karismatik” dan “popular” dibandingkan dengan figur Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang semakin menurun. Masa kecil Obama di Indonesia tahun 1967 menjadi jalan penghubung komunikasi Obama sebagai Presiden Amerika Serikat dengan Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam, untuk memberikan penegasan bahwa Amerika Serikat bukanlah Anti Islam. Amerika Serikat bukanlah musuh Islam. Justru, Amerika Serikat harus belajar konsep demokrasi dan toleransi beragama dari Indonesia dari Indonesia. Obama memaparkan kekekuatan Rebuplik Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika yaitu “Unity in Diversity”. Tidak heran, Pidato Obama sangat diterima baik oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia bagaikan seorang pahlawan nasional yang “pulang kampung nih”. Komentar- komentar positif muncul dari sebagian mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Indonesia yang mendengarkan pidato Obama. Bagi sebagian mahasiswa, pidato Obama telah mengkoreksi pemikiran negatif mereka terhadap Amerika Serikat. Namun, ada pendapat berbeda yang menganggap pidato Obama hanyalah sebuah pidato “nostalgic” biasa, tidak ada relevansi yang “progressive” dari pidato Obama di Cairo sampai pidato Obama di Indonesia, bahkan Obama dianggap gagal merealisasikan janjinya kepada dunia islam. But no matter what, tidak ada seorangpun yang dapat memungkiri bahwa Obama punya perhatian tersendiri terhadap bangsa Indonesia. Indonesia adalah bagian dari diri saya, kata Obama. Pertanyaan yang muncul dari benak saya adalah bagian yang mana adalah bagian dari diri seorang Obama?

Pidato Obama memang luar biasa, tetapi secara pribadi saya lebih tersentuh melihat bagaimana seorang pemimpin berpidato melalui hidupnya. Menurut hemat saya, Rev. Dr. Stephen Tong, figur yang saya anggap paling tepat berkata “Indonesia adalah bagian dari diri saya”. Beliau adalah seorang hamba Tuhan Indonesia beretnis Tionghoa yang telah berkotbah lebih dari 600 kota besar di seluruh dunia. Beliau pernah berkata bahwa dirinya pernah diundang untuk menjadi uskup besar di Hongkong, tetapi ia menolak undangan tersebut karena beliau mengasihi Indonesia. Bentuk cinta kasih beliau dicurahkan melalui kehadiran Gereja Reformed Injili Indonesia, Sekolah Theologia Reformed Injili Kaum Awan, Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili, Reformed Institue, Sekolah Kristen Calvin, Sekolah Logos, Reformed Millenium Center, Reformed Center for Religion and Society, Aula Simfonia Jakarta, Museum, KKR Akbar, KKR Regional, etc. Seharusnya beliau bisa saja mengiyakan undangan sebagai uskup besar di Hongkong karena bukankah itu juga memuliakan nama Tuhan? Beliau sadar panggilan hidupnya mengharuskan Indonesia menjadi bagian dari dirinya, meskipun dia tetap keliling dunia berkotbah.

Indonesia bagian dari diri saya. Bagaimana kita melihat Indonesia hari ini? Indonesia sedang berjuang untuk mengikuti kemajuan teknologi dunia, tantangan globalisasi dunia, dialog agama dan kebudayaan dunia serta memerangi terorisme dan pertahanan keamanan dunia. Betapa tidak, dunia semakin kompetitif dalam menjalani era globalisasi maupun usaha glokalisasi tiap negara dalam usaha membangun ekonomi dunia. Contoh terbaik adalah China. Sejak Deng Xiao Ping membuka diri kepada dunia, China semakin mengalami kemajuan yang sangat pesat hingga sekarang, posisi China menjadi penentu ekonomi dunia, bukan negara Barat. Meski demikian, Presiden China, Hu Jian Tao mengatakan bahwa China sudah maju secara ekonomi, sekarang waktunya China membenahi moralitas. Dalam hal ini China ada kepekaan terhadap kesadaran moral yang dibutuhkan oleh China. Bagaimana dengan Indonesia? Seharusnya Indonesia takut akan Allah karena Indonesia meletakkan prioritas prinsip mereka di dalam pengertian Pancasila, yaitu sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Menurut pendapat beberapa kaum awam, justru Pancasila hanyalah dipandang sebagai sebuah prinsip kenegaraan ideal yang cenderung telah dilupakan dan dianggap kurang relevan menjadi dasar pemikiran negara bagi petinggi-petinggi negara kita sehingga mereka berani bermain di dalam area “aspirasi rakyat” untuk mencari profit bagi diri sendiri maupun kepentingan partai. Tidak heran, rakyat Indonesia telah kehilangan rasa hormat dan respek terhadap petinggi-petinggi negara baik dari anggota DPR sampai Presiden. Pergumulan “Indonesia bagian dari diri saya” seharusnya ada dalam diri kita sebagai seorang Indonesian baik tinggal di Indonesia maupun di luar Indonesia. Sebagai Orang Kristen, kita harus terus mengingat bahwa Tuhan Yesus telah memberikan panggilan inkarnasional kepada setiap anak-anak Tuhan untuk menjadi garam dan terang dunia, yaitu memberitakan Injil dan mengalami penyertaan Tuhan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat Dunia, Satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup yang membawa manusia kembali kepada Allah! Panggilan Inkarnasional ini bukan hanya diperuntukkan bagi orang-orang Indonesia saja, tapi seluruh dunia butuh Kristus. Mari kita bersama-sama menggumuli panggilan inkarnasional ini untuk membawa standar Allah menjadi patokan utama bagi dunia untuk memuliakan Tuhan di setiap inci kehidupan manusia (Kuyper), dimulai dari diri kita. Indonesia bagian dari diri saya. Solideo Gloria!

In Christ
Daniel Santoso
Beijing, China

Thursday, November 04, 2010

Kristus, Reformasi dan Kebangunan Rohani

Kebangunan Reformasi tidak dapat dilepaskan dari Yesus Kristus sebagai satu-satunya daya tarik sejati bagi setiap manusia dapat mendengar, mencari, menemukan, menyaksikan dan memberitakan kesakralan serta kebenaran Allah yang memberikan pengharapan sejati bagi jamannya. Celakanya, banyak orang mengakui dirinya kristen tapi tidak mengenal Yesus Kristus dengan akurat. Apalagi, Hari Reformasi, tidak didengar lagi dengungan kotbah reformasi yang diteriakkan di dalam gereja, apalagi di luar gereja. Gereja lebih memilih masuk ke dalam kenikmatan “Kebangunan Rohani” menurut definisi mereka. Peringatan Reformasi sudah tidak dianggap penting. Now, Kebangunan Rohani dianggap “necessity” dalam kekristenan. Kelihatannya logis, Namun dewasa ini, banyak KKR-KKR diadakan di seluruh dunia, tetapi sungguhkah “Kebangunan Rohani Sejati” itu terjadi? Banyak KKR Palsu yang telah membius jutaan orang bukan lagi mencari Yesus Kristus, satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup sebagai fokus utama, melainkan berharap lebih kaya, kesehatan lebih terjamin, hidup jauh dari kesulitan, entertaiment yang memuaskan selera, perut kenyang dengan makanan penuh selera. Alamak, inikah kebangunan rohani sejati? Bukan! Kebangunan Rohani tidak dapat dilepaskan dari Kristologis yang sejati dan Semangat Reformasi. Bagaimana kita memahami hal-hal tersebut?

YESUS

Bagaimana saudara mendefinisikan Yesus Kristus? Jawabannya adalah You cannot! Why, karena kita harus kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya sumber yang otoritatif memberikan kebenaran yang pasti mengenai siapakah Yesus, karena Alkitab adalah Firman Tuhan yang “dinafaskan” dari Allah. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Bapa (Yohanes 14:6 – ucapan Yesus dan Kisah Para Rasul 4:12 – ucapan Rasul Petrus) maka Tuhan memberikan panggilan kepada setiap anak-anak Tuhan untuk memberitakan Injil dan mengalami penyertaan Tuhan (Matius 28:19-20) sebagai pemberita Injil/ kristen. Istilah “kristen” pertama kali muncul dalam Kisah Para Rasul 11:26, 26:28 dan I Petrus 4:16) dan mereka terpanggil untuk menjalankan kewajiban untuk mengimani Injil dan memberitakan Injil bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan manusia dapat kembali kepada Bapa. Seorang teolog Amerika, Josh Mcdowell, dalam bukunya “More Than Carpenter’ menulis sebuah pertanyaan: Why Jesus is so Different? Mcdowell menjawab: Because No ones claim to be God, but Jesus did. Inilah keunikan kekristenan. Jika keunikan tidak ada dalam kekristenan, maka kekristenan sama saja dengan agama-agama kepercayaan lainnya. Kristus, satu-satunya jalan, kebenaran dan keselamatan hidup yang bukan karena perbuatan baik tetapi karena anugerah Tuhan (Titus 3:4-8). Problemnya, banyak gereja dan orang kristen sendiri berani lancang melakukan reinterpretasi terhadap Firman Tuhan yang absolut dan tidak dapat diganggu gugat demi “market-oriented philosophy”. Mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong, Inilah kebobrokan yang paling bobrok dalam abad 20 yaitu: membuang Firman Tuhan.

GERAKAN REFORMASI

Martin Luther (1483-1546), seorang biarawan dari ordo Agustinian dan professor theology di Catholic University of Wittenberg yang dianggap sebagai “the turning point of reformation”. Akan tetapi benarkah Luther pencetus reformasi sejati? Padahal, Teologi Martin Luther bukanlah teologi yang baru. Sudah ada “the morning star of reformation” mendahului Luther. William Ockham (1288-1348), Ia mendeklarasikan bahwa “God is known by faith in his revelation, not by reason examining his creation”. Hanya kembali wahyu Allah maka kita dapat mengenal Allah yaitu kembali kepada Alkitab. John Wycliffe (1324-1384), Ia memperjuangkan semangat reformasi di England untuk membawa semangat “back to the Bible” bukan hanya dinikmati oleh kaum elit rohani dan kaum bangsawan, tetapi bagi semua orang termasuk rakyat jelata. Inilah perjuangan reformasi. Dilematisnya, hari ini setiap orang kristen memiliki Alkitab tetapi mereka kurang sungguh-sungguh bercermin di hadapan Tuhan melalui saat teduh mereka setiap hari. Dalam hal ini orang kristen yang malas baca Alkitab juga harus bertobat!

Martin Luther, Ia membaca Alkitab, menemukan konsep sentralitas teologinya dalam konsep iman dan janji Tuhan yang bersumber dari Yesus Kristus yaitu:
a. Sola Scriptura – Hanya Alkitab satu-satunya kacamata tanpa dosa yang akurat.
b. Sola Gratia – 100% anugerah Allah diberikan baik kepada orang kristen maupun non kristen.
c. Sola Fide – Saat kita menerima Firman, itu anugerah Allah. Kita belajar mengimani Firman karena semua adalah pemberian Allah.
d. Solus Christus – Allah yang mana? Hanya melalui Yesus Kristus satu-satunya Allah yang menyatakan jalan, kebenaran dan hidup.
e. Solideo Gloria – takut akan Tuhan adalah awal dari segala pengetahuan dan
segala kemuliaan hanya bagi Allah dan biarlah setiap kita dapat menikmati Dia.

Luther pernah mengunjungi Roma, kota para martir, lalu Luther membeli surat indulgensia untuk menyelamatkan kakeknya. Melalui memanjatkan doa bapa kami dan menjalankan ritual asketis di tangga gereja. Setelah melakukan semuanya itu, ia merenungkan kembali atas apa yang telah ia lakukan di Roma. Akhirnya Luther bercermin kembali di hadapan Firman Tuhan dan ia menemukan kesalahan-kesalahan fatal di dalam gereja baik dalam konsep keselamatan dan konsep positioning gereja. Kenapa Luther berani melakukan hal ini? Luther tidak berjuang untuk kesenangan sendiri. Ia melihat ajaran Firman Tuhan yang telah diselewengkan oleh gereja “established” sehingga ia berani menempelkan 95 tesis di gerbang gereja Schloakirche di Wittenberg untuk melawan konsep purgatory, penjualan surat penebusan dosa orang yang sudah meninggal dunia (surat indulgensia) dan sebagainya. Luther menerima serangan baik dari dalam gereja maupun luar gereja. Kondisi gereja Katolik pada abad ke 16 menjadi semakin bergeser, gereja mengajarkan bahwa untuk mendapatkan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa yang telah dilakukan seseorang, seseorang harus melakukan work of penance menjadi perantara antara pendosa dan Tuhan, Bahkan gereja pada puncak kegelapannya “menjual” anugerah pengampunan dan pembenaran oleh Tuhan demi memperoleh dana untuk gereja St. Peter Basilica di Vatikan. Itulah kesalahan fatal yang dilakukan oleh Paus Leo X yang memiliki ambisi untuk merenovasi Catheral of St. Peter Basilica. Butuh biaya besar maka memperalat teologi keselamatan. Pertanyaan reflektif bagi kita semua adalah Teologi mempengaruhi situasi atau Situasi mempengaruhi teologi? Bahkan Paus Leo Xmengundang biarawan kondang bernama Johann Tetzel untuk memimpin KKR-KKR keliling Eropa demi menjual surat indulgensia dan mengumpulkan dana untuk renovasi St. Peter Basilica. Akhirnya, Johann Tetzel ditentang oleh Martin Luther. Meskipun Pihak Vatican mendukung Tetzel, dia didakwa telah menggelapkan dan mencuri uang oleh Karl Von Miltitz hingga Tetzel down dan akhirnya dia menjauhi publik sampai Tetzel meninggal dunia. Jadi, Luther meneriakkan “Sola Scriptura” untuk membawa gereja, hamba Tuhan, jemaat Tuhan, pemerintah, rakyat jelata kembali kepada otoritas Allah melalui Firman-Nya, bukan gereja.

Saya baru membaca sebuah artikel dari Fr. John Whiteford yang berjudul “Sola Scriptura: in the vanity of their minds” yang memberikan kritik terhadap “Sola Scriptura”, bahwa denominasi Protestan telah lari terlalu jauh dari tradisi gereja (katolik). Whiteford menganggap “Sola Scriptura” telah menyebabkan perpecahan gereja yang melahirkan beragam denominasi-denominasi yang kelihatannya sama-sama membaca Alkitab, tetapi berbeda di dalam aplikasi pribadi dan komunitas denominasi masing-masing. Whiteford mengatakan bahwa gereja semestinya melawan ajaran-ajaran bidat, tetapi justru gereja memproduksi denominasi-denominasi bidat. Konklusi dari whiteford adalah gereja kacau karena “Sola Scriptura”. bagaimana opini saudara mengenai hal ini?

“Sola Scriptura” dicetuskan oleh Martin Luther, bukan melawan Allah diatas gereja. Luther justru melawan gereja yang telah salah menafsirkan otoritas gereja atas kebenaran Allah. Luther mempercayai Firman Allah cukup memberikan “defense” melalui Diri-Nya sendiri. John Piper mengatakan bahwa Firman Allah bukanlah perkataan yang mati atau tidak efektif. Justru, didalamnya ada kehidupan dan perkataan itu membuahkan hasil. Apa yang dilakukan oleh Firman yang hidup dan efektif ini? menyingkapkan siapa diri kita sesungguhnya maka kita perlu bercermin di hadapa Firman-Nya dan pekerjaan Roh Kudus memimpin kita untuk mengenal kebenaran-Nya dengan “back to the bible”.

Bagi Gereja Roma Katolik, Sola Scriptura bukan solusi, tetapi justru problem karena Alkitab bukanlah self-interpreting sehingga hasilnya chaos. Bagi Gereja Roma Katolik, kita perlu mendasarkan prinsip teologis di dalam II Tesalonika 2:15 bahwa gereja memiliki otoritas atas Firman Tuhan yang diturunkan baik secara oral maupun tertulis oleh para rasul. Dalam hal ini, gereja mengangkat pentingnya magisterium dalam kebenaran. Itulah sebab gereja roma Katolik menganggap “Sola Scriptura” adalah bidat. bagaimana menurut saudara? Reformed tidak menolak gereja punya otoritas untuk mengajarkan Firman Tuhan, justru Reformed harus tekun menjalankan aktivitas rohani tersebut. Di dalam I Timotius 3:15 menyatakan gereja adalah pilar dan fondasi dari kebenaran. apa itu kebenaran? kebenaran adalah Yesus Kristus. bagaimana kita dapat mengenal Yesus Kristus? Alkitab. Gereja harus memberitakan kebenaran dan membawa jiwa-jiwa tersesat percaya kepada Yesus Kristus, satu-satunya juruselamat dunia. Tetapi gereja tidak mendapatkan wahyu maupun otoritas untuk memerintah ajaran Alkitab. Hanya Kristus, sebagai kepala gereja satu-satunya yang berhak memerintah dan “menafaskan” Kebenaran kepada gereja dan orang benar. problemnya, gereja terlalu berani mengotori kesucian prinsip Firman Tuhan dengan “human interpretation” sehingga posisi otoritas gereja menjadi “false”. James White memberikan contoh di dalam Matius 22, ketika Yesus berdebat dengan kaum Saduki (menolak konsep kebangkitan), Yesus berani memberikan kritikan pedas kepada mereka karena mereka tidak kembali kepada kebenaran yang “dinafaskan” Allah, melainkan meragukan Firman serta membuang keutuhan Firman ke dalam recycle bin sampai empty. Yesus berkata, "You are in error because you do not know the Scriptures, nor the power of God, for in the resurrection, they neither marry nor are given in marriage but are as the angels in Heaven. But concerning the resurrection of the dead have you not read what God spoke to you, saying 'I am the God of Abraham, the God of Isaac and the God of Jacob.'" James White memberikan explanation bahwa perspektif Yesus adalah perspektif yang “biblical” dan “senafas” dengan Firman Allah. Scripture is God speaking to man. It is theopneustos. God-breathed. inilah keunikan “Sola Scriptura”. Mazmur 119:89 "Your word, Oh, Lord, is eternal. It stands firm in the heavens." Jadi, siapa yang sesungguhnya bikin kacau?

Dalam Anugerah Allah, Luther mendapatkan pengertian yang benar melalui Roma 1:17 bahwa manusia hanya hidup oleh iman saja (Justification by faith alone) dan mengandung dua aspek penting yaitu pengampunan dosa dan pendeklarasian status sebagai orang benar di hadapan Allah. Manusia telah jatuh ke dalam dosa maka imej manusia telah terdistorsi oleh dosa. Siapapun manusia, mereka tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dosa, apalagi menyelamatkan sesamanya manusia dari belenggu dosa. It doesn’t work!

SEMANGAT REFORMASI
Hanya melalui penebusan dosa di dalam Kristus maka ada keselamatan hidup kekal dan kita hidup dengan “new status” yaitu menjadi orang benar. Automaticly? Di dalam dunia, “new status” tersebut kita jalani dalam “ progressive sanctification” hidup menyerupai Kristus sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya, baru kita diubahkan (1 Korintus 15:49). Dasar pembenaran Allah adalah ketaatan sempurna Kristus dalam menjalankan perintah Allah yang secara anugerah diberikan Allah kepada orang berdosa seperti anda (Roma 5:19). Everthing harus kembali kepada God-centered. Itulah semangat reformasi yang membangunkan setiap anak-anak Tuhan yang tertidur untuk berjuang melayani jaman ini sesuai kehendak Tuhan.

FAKTA

Dalam Gereja, banyak ajaran yang kacau balau karena kelancangan mereka melakukan reinterpretasi yang jauh dari kebenaran Tuhan sehingga tidak sedikit gereja, hamba tuhan dan jemaat Tuhan yang menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mereka melayani tapi bukan menurut kehendak Tuhan, tetapi menuruti kehendaknya sendiri. Kenapa Anton Lavey dapat berubah dari penganut kristen akhirnya menjadi pendiri gereja setan? Karena kemunafikan pelayan Tuhan yang kelihatan religius tapi akhirnya ketahuan kalo dibalik kereligiusan mereka, ada penipuan. Tidak heran, Anton Lavey lebih memilih “jujur” dalam hidup bersama setan daripada orang kristen yang “menipu” dengan kedok kristen padahal pecandu dosa.

Luar Gereja, banyak orang sudah tidak peduli lagi akan Allah dan menjadi free thinkers. Mereka menganggap lebih baik jalani hidup baik-baik, itu cukup! Banyak orang menganggap agama telah membuat mereka confusing dan tidak sedikit dari mereka telah dikecewakan oleh ulah orang beragama dan mempermainkan kekristenan seperti Bobby Henderson. Seorang pemuda yang menjadikan agama kekristenan menjadi parodi melalui “pastafarianism movement” dari The Flying of Spaghetti Monster.

Ini sebagian dari keadaan manusia jaman ini. So, bagaimana kita meresponinya? Alkitab berkata “Mintalah, maka semua akan diberikan pada-Mu”. Marilah kita memohon kebangunan rohani hadir bagi jaman ini. Marilah kita bertekuk lutut berdoa bagi setiap orang kristen agar mereka bukan jadi batu sandungan tapi batu karang yang teguh, beriman dan aktif memberitakan Kristus ke seluruh dunia dan mengalami penyertaan-Nya. Mari kita berdoa bagi orang non kristen agar Tuhan berbelas kasihan memberikan kesempatan bagi mereka untuk mendengar Injil, bertobat, mengakui dosa dan menerima Kristus sebagai juruselamat pribadinya.Biarlah kita berseru kepada Tuhan untuk memohon kebangunan rohani terjadi di jaman ini.

KEBANGUNAN ROHANI
Pdt. Dr. Stephen Tong memaparkan tanda-tanda kebangunan rohani:
1. Ada Visi Sejati – kebangunan sejati hanya datang dari visi yang benar dari Tuhan karena visi adalah suatu sharing Tuhan Allah yang membukakan rahasia rencana kekal-Nya dan apa yang Ia mau kerjakan di bumi bagi umat-Nya. Visi berarti kita melihat rencana kekal Allah. Tanpa Visi, kita binasa. Ada Visi, Ada Pengharapan, Ada kehidupan.
2. Ada Firman Sejati – Kebangunan sejati terjadi ketika kita kembali mendengar suara dari Firman Tuhan untuk mengarahkan apa yang dilihat.
3. Ada Iman Sejati – Kebangunan membentuk iman kepercayaan yang sejati yaitu dalam doktrin/ pengajaran yang benar yang akan membentuk iman kepercayaan.
4. Ada Pemikiran Sejati – Kepercayaan sejati akan disusul dengan pemikiran-pemikiran yang benar. Dr. Tong mendefinisikan iman adalah kembalinya rasio untuk setia kepada kebenaran, berhenti berbuat dosa dan hidup suci sesuai kehendak Tuhan.
Adakah visi sejati, Firman sejati, iman sejati, pemikiran sejati pada zaman ini? Hanya dalam KRISTUS, Satu-satunya Juruselamat Sejati, Satu-satunya Reformator Sejati dan Satu-satunya Pembangun Kerohanian Sejati. Mari kita datang kepada-Nya dengan haus akan air hidup-Nya. Selamat memperingati hari Reformasi.

By His Love
Daniel Santoso
Xiamen, China

Wednesday, November 03, 2010

The Only Focus

Bagaimana kita menghidupi perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan di dalam dunia yang terus berubah ini? Tidak sedikit dari kita yang telah bergereja, mendengar kotbah serta menerima pendidikan teologi sekalipun, tetapi kita merasa “kurang iman” dalam menjalani hidup kita dalam dunia untuk Tuhan. Why? Seringkali kita melihat adanya ”gap” kehidupan anak-anak Tuhan di jaman sekarang dengan kehidupan para rasul dan nabi yang hidup ribuan tahun yang lalu. Kita dapat melihat bagaimana Allah memakai Musa mengeluarkan bangsa Israel keluar dari Mesir, bahkan penyertaan Tuhan begitu nyata dengan adanya tiang awan dan tiang api-Nya yang senantiasa memimpin perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian Allah. Kita dapat melihat bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego diikat oleh serdadu raja Nebukadnezar karena mereka tidak mau tunduk di hadapan Baal dan Nebukadnezar, tetapi ada penyertaan Tuhan yang membebaskan mereka dan mereka tidak mati dalam luapan dapur api tersebut, malah mereka hidup ditemani oleh utusan Allah. Pengalaman rohani mereka begitu “real” sehingga mereka jelas melihat penyertaan Tuhan atas hidup mereka. Namun, bagaimana dengan kita hari ini? Bukankah kita menemukan adanya “gap”, mengapa mereka bisa menikmati Tuhan dengan “real”, sedangkan saya kok tidak? Pertanyaan ini muncul di dalam sebuah student fellowship yang saya hadiri beberapa hari yang lalu di Cheng Chi University, Taipei, Taiwan. Mereka membahas buku “Knowing God” yang ditulis oleh J.I Packer, bagi saya, “Knowing God” adalah high recommended utk semua orang kristen untuk membacanya.

Memang kita sering melakukan perbandingan/komparasi antara kehidupan rasul dan nabi dengan kehidupan kita di dalam dunia ini sehingga kita cenderung melihat “gap” dalam mengerti karya-karya Allah dalam kehidupan anak-anak Tuhan sehingga tercipta banyak diskusi panel penuh pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan inkonsistensi Tuhan dalam berkarya di dalam kehidupan orang percaya. Akan tetapi, hasil diskusi panel manusia hanyalah berputar-putar di area yang “blur” baik dalam membandingkan “event”, “people”, “context”, “special cases”, apalagi soal “messages behind the scenes”. Tidak ada jawaban yang memuaskan hati. Akibat tidak puas, banyak manusia yang menjadi “free thinkers”, sibuk berinovasi dalam memberikan “statements” yang kelihatan logis dan kelihatan bertanggungjawab sesuai kepuasan pikiran manusia tapi jauh dari kebenaran Tuhan. Seringkali kita lupa atau lebih tepat “sengaja melupakan” sebuah realita yang tercatat di dalam Kejadian 3 yaitu Kejatuhan manusia ke dalam dosa (hamartia – meleset dari sasaran). Kejatuhan manusia ke dalam dosa menyebabkan rusak totalnya hubungan Allah-manusia, termasuk standar seluruh aksi manusia. Jika kita mengabsolutkan standar seluruh aksi kita yang berdosa ini, maka kita sedang melukai dan mengkhianati Allah. Tuhan tidak berkenan atas tindakan manusia yang tidak setia kepada kebenaran Tuhan. Tuhan berkenan atas tindakan manusia yang setia kepada kebenaran Tuhan yaitu Back to The Bible. Jadi, apa yang seharusnya kita imani? One for sure ... Firman Tuhan mengajak saudara untuk setia memfokuskan diri kepada Allah, bukan sibuk mencari “persamaan” dalam situasi, kondisi, latar belakang, konteks, hidup orang percaya dalam zaman Alkitab dengan zaman sekarang. Zaman memang berubah tetapi Allah tidak pernah berubah.

Allah tidak berubah (Maleakhi 3:6). Namun, banyak kecurigaan yang muncul dalam mengerti Allah tidak berubah ketika Alkitab mencatat “Allah yang berubah” (Kejadian 6:6-7, Keluaran 3:14, Yunus 3:10). Sungguhkah ada kontradiksi dalam diri Allah? Ketika Allah mengatakan bahwa Ia tidak pernah berubah, Ia sedang membicarakan masalah natur dan karakter-Nya. Tetapi tidak berarti bahwa Ia tidak bisa merubah cara kerja-Nya dengan manusia sepanjang sejarah.

Ketika kita melihat Allah merubah pikiran-Nya (menyesal), kita melihatnya dari sudut pandang seorang manusia. John Calvin mengatakan bahasa yang dipakai adalah bahasa bayi "baby talk". Karena Allah tahu segala sesuatu dari kekekalan, Ia selalu tahu rencana-rencana tertinggi yang akan Ia kerjakan; termasuk juga rencana untuk "menyesal dan berubah pikiran". Ia telah melihat hasil pekerjaan Yunus di Niniwe. Penduduk Niniwe bertobat dan Allah merubah pikirannya dari penghancuran yang seharusnya datang kepada penduduk Niniwe. Tentu saja, Allah tahu hal ini (penyesalan orang Niniweh) akan terjadi dan menetapkan bahwa peringatan harus diberikan dalam rangka membawa mereka ke dalam penyesalan.

Inilah fokus kita seharusnya yaitu kembali kepada “message” yang dinyatakan oleh Allah yaitu keselamatan hanya di dalam pekerjaan-Nya yang digenapi dalam pribadi Yesus Kristus sebagai penebus fokus orang percaya untuk kembali kepada Allah yang sejati.Sudahkah fokus saudara menengadah kepada-Nya? Biarlah Roh Tuhan bekerja membawa setiap kita kembali kepada fokus utama yang sejati. Tuhan memberkati.

Dalam Kristus
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Friday, October 29, 2010

Menemukan Kembali Nilai Reformasi

Martin Luther (1483-1546), Seorang biarawan dari ordo Agustinian yang sebagian besar hidupnya menjadi Professor Teologi di Wittenberg. Ia belajar teologi, bukan untuk mengejar gelar maupun kedudukan akademik. Ia belajar teologi karena Allah memanggil Luther dan Luther ditangkap oleh Allah untuk mengugah motivasi Luther untuk mencari Kerajaan Allah dan Kebenaran Allah.

Luther memiliki cara pandang yang tajam melihat akar kerusakan gereja adalah doktrin yang tidak sesuai dengan Alkitab, doktrin yang tidak memiliki otoritas sejati. Luther menyadari kerusakan gereja hanya dapat diperbaiki jikalau doktrin dikembalikan kepada Alkitab. Oleh karena itu, Gerakan Reformasi memiliki visi yang agung dan mulia yaitu mengembalikan kekristenan kepada otoritas Alkitab, dengan iman kepercayaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Wahyu Allah dan mempertahankan kebenaran serta pelaksanaan kebenaran, bukan dasar otoritas gereja (magisterium). Luther menyadari bahwa otoritas hanya terdapat pada Alkitab. Problemnya, diakui oleh seorang pendeta kondang dari Amerika Serikat, Jim Bakker. Ia mengakuinya sendiri, boro2 baca Alkitab, membaca konteksnya saja tidak mau dia lakukan.Menjadi hamba Tuhan hanya dipahami sebagai sebuah “profesi” seperti layaknya “sales” dan mengutip serta membangkitkan semangat. Hal yang lebih penting adalah hati yang tulus mengasihi Tuhan lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dari Alkitab kita beroleh pengharapan. Pengharapan berdasarkan Alkitab kita beroleh pengharapan iman. Jikalau bukan Allah yang mewahyukan Alkitab maka tidak ada Firman Tuhan di dalam dunia. Jikalau tidak ada Firman Tuhan maka kita akan kehilangan otoritas yang sejati. Itulah sebabnya kita harus kembali kepada otoritas Alkitab. Hanya dengan tolak ukur pengajaran Alkitab, kita dapat menilai segala sesuatu. Dalam hal ini semangat “Back to the Bible” (Sola Scriptura) yang seharusnya mendidik gereja untuk menaklukan diri di hadapan Firman Tuhan, bukan gereja (magisterium) yang menguasai Alkitab.

Tercantum dalam Pengakuan Iman Augsburg (Art. IV, 1530), Manusia tidak dapat dibenarkan dalam pandangan Allah melalui kekuatan, jasa-jasa atau perbuatan-perbuatan mereka sendiri, sebaliknya secara cuma-cuma mereka dibenarkan karena Kristus (Solus Christus) hanya melalui iman (Sola Fide), pada waktu mereka percaya bahwa mereka diterima dalam anugerah saja (Sola Gracia) dan dosa-dosa mereka diampuni karena Kristus yang melalui kematian-Nya sendiri menyelesaikan dosa-dosa kita(Solus Christus). Iman ini diperhitungkan Allah sebagai kebenaran bagi kemuliaan-Nya (Solideo Gloria), (Roma 3 dan 4). Jadi, Iman bukanlah hasil kontribusi manusia, melainkan bagian dari anugerah keselamatan yang Allah berikan (Sola Gracia), bukan pemberian manusia berdosa kepada Allah (Efesus 2:8-9).
Konklusi bahwa segala sesuatu harus ditinjau kembali dalam terang Firman Tuhan Allah yang terdapat di dalam Alkitab. Memang, ada dilematis bagaimana manusia dapat menjalani perjalanan hidup antara hidup sementara dengan hidup kekal. Seakan tidak ada titik yang dapat menyeimbangkan kedua kondisi hidup tersebut, satu-satunya titik temu hanya dapat digenapkan melalui inkarnasi Kristus, yaitu Firman yang sudah menjadi daging. Jadi kesulitan hidup akan tetap ada maka justru kita harus konsisten menjalani sebuah kehidupan yang selaras dengan apa yang Tuhan mau. Itulah konsistensi dari semangat Reformasi yaitu berani jalani tantangan hidup dengan prinsip kekekalan yang Tuhan kehendaki, bukan manusia. Luther menjalani tantangan hidup dengan prinsip “back to the Bible”, mengadakan pembaharuan dan protes menentang indulgensia dan penyalahgunaan lainnya yang tercantum dalam 95 tesis yang dipakukan di pintu gereja Wittenberg.

Seharusnya kita menemukan kembali semangat reformasi, nilai-nilai reformasi dan berani melakukan sebuah “action” dalam menjalankan Mandat Injil (memberitakan Injil yang memancarkan kemuliaan Allah, kesucian Allah, keadilan Allah) , Mandat Budaya (mengelola, mengatur dan membudidayakan seluruh alam ciptaan Allah), Mandat Keselamatan (menerima, mengalami, menikmati serta memberitakan anugerah dan kebenaran Allah) dan Mandat Pelayanan (menjalankan kehendak Tuhan). Sayang sekali, apabila orang kristen sendiri semakin lemah dan takabur sehingga jati diri kekristenan menjadi tidak jelas, alias tiada parameter yang jelas untuk membedakan antara yang benar dan salah, jujur dan bohong, pejuang dan pecundang dan seterusnya. . Yg merusak dan menjegal adalah oknum-oknum yang punya keinginan untuk membajak Kerajaan Allah dan Kebenaran untuk diri sendiri dengan perilaku rohaniawan, jubah agama, sakramen, religiusitas yang palsu.

Sekali lagi, seharusnya, Nilai-nilai Reformasi menjadi parameter orang kristen untuk mengerjakan mandat-mandat yang dipercayakan Allah. Dalam hal ini, sangat diperlukan kesatuan visi dengan kesiapan hati untuk berkorban dan bekerja keras dalam penyertaan Roh Kudus untuk mewujudkan dengan komitmen dan konsistensi sebuah “christian living” sebagai Anak-anak Tuhan yang setia melayani Tuhan Allah di dalam dunia sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Renungkan kembali nilai-nilai Reformasi dalam benak kita semua dan berdoalah memohon Roh Kudus membakar hati kita untuk belajar memberikan yang terbaik dalam menjalankan mandat surgawi yang Tuhan telah anugerahkan bagi anak-anak-Nya. Selamat memperingati Hari Reformasi!

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Beijing, China

On Halloween

Hallowen, sebuah event kultural yang berasal dari "ancient celtic" di Irlandia, Inggris dan Perancis. Biasanya mereka merayakan hallowen pada tanggal 1 November sebagai "the end of summer and the harvest of season". Tgl 31 Oktober mereka merayakan "samhain". Kebudayaan "trick and treating", sebuah kebiasaan dari abad 9 untuk melakukan "souling" pada tgl 2 November. Biasanya kebiasaan ini dipergunakan untuk membantu orang miskin, tetapi justru now secara sekuler, "trick and treating" dianggap sebagai "just for fun" saja.

Bagaimana orang kristen menanggapi Hallowen? Father Gabriele Amorth, pastor Vatican yang berkecimpung dalam pengusiran setan (exorcism) di Roma mengatakan bahwa " Kalo anak-anak Inggris dan American menyukai pakaian iblis dan penyihir hanya dalam sehari dalam setahun, itu bukanlah masalah. toh itu hanyalah sebuah permainan, tidak ada maksud yang lain. Saya tidak setuju. Secara directly, Hallowen adalah paganisme yang mempromosikan satanisme, penyembahan berhala, mistik hitam, okultisme (Ulangan 18:9-13) dan orang kristen dipanggil bukan untuk dipengaruhi oleh hallowen tapi orang kristen harus memberikan pengertian yang mendidik generasi muda utk tidak dipermainkan oleh setan, tetapi kembali ke jalan Tuhan (Efesus 5:11. Jadi tidak ada common ground dalam Hallowen. Injil harus lebih diberitakan oleh jemaat dan hamba Tuhan dengan hati yang takut akan Tuhan, mengasihi kebenaran dan memperjuangkan kebenaran Tuhan di dalam terang Injil Tuhan, bukan kegelapan.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC

Tuesday, May 25, 2010

Chen Hsu Chu

Siapakah Seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia ini versi Majalah Time 2010? Siapa lagi kalo bukan tokoh-tokoh dunia seperti Obama, Bill Clinton, Sarah Palin, etc. Akan tetapi, ada sebuah nama yang tidak pernah kita dengar sebelumnya, namanya Chen Shu, dari Taiwan. Mungkin kita lebih mengenal penulis artikel Chen Shu Chu di majalah Time yaitu Ang Lee, sutradara Brokeback Mountain, Lust, Caution, etc. Ang Lee menulis sebagaimana fakta-fakta kebaikan humanis Chen Shu Chu, seorang pedagang sayur di TaiTung berumur 59 tahun, telah memakai uang penghasilannya untuk membangun perpustakaan umum agar banyak generasi muda suka membaca buku. Kurang lebih USD 320.000 atau NT 10 juta telah disumbangkan oleh Chen Shu Chu, memberikan support kepada anak-anak miskin yang kurang mampu membiayai sekolah, beli buku maupun memiliki perpustakaan umum. Ia mengatakan “"Money serves its purpose only when it is used for those who need it". Rencana dia akan mengumpulkan dana untuk orang yang miskin dalam mengambil pendidikan, makanan dan kesehatan, rencananya dimulai dari integritas hidupnya rela berkorban dana demi menolong orang miskin. Ini luar biasa! Terkadang kita lebih banyak bikin planning soal destinasi, waktu maupun profit tanpa kita melihat apa yang Tuhan planningkan kepada kita melalui prinsip-prinsip Firman Tuhan. Alkitab mencatat besok aja kita tidak tahu, bagaimana kita harus mengurusi urusan planning, justru hal tersebut memberikan sebuah pengertian bahwa manusia adalah fragile dan mereka membutuhkan Tuhan karena bermegah di dalam Kristus, satu-satunya. Barulah ada kemenangan karena Firman Tuhan membawa setiap kita menikmati kepekaan terhadap perbuatan dosa (Yohanes 4:13-17). Kita harus belajar maintain keuangan kita untuk kemuliaan Tuhan dan biarlah Tuhan memberikan "disiplin rohani" bagi kita masing-masing untuk mau berupaya memberikan yang terbaik bagi Allah.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Delay Flight

Delay Flight. Siapa yang tidak pernah terjebak di dalam delay flight? Sampai hari ini, saya telah mengalami ratusan delay flight dalam frekuensi jadwal terbang saya selama 7 tahun melayani di China. Hari ini saya terjebak dalam penerbangan Shanghai- Guangzhou yang melelahkan seluruh tubuh dan pikiran saya. Betapa tidak, Pagi saya udah ditelpon dari elong (tempat saya beli tiket pesawat) bahwa ada change flight. Seharusnya saya flight jam 13.30, akhirnya jadwal saya dirubah menjadi 14.30. Setelah sampai di Hongqiao Airport. Jam 15.30 saya baru flight dalam perjalanan ke Guangzhou. Tiba-tiba di tengah perjalanan, muncul informasi dari kapten bahwa kita mendarat darurat di Xiamen Airport karena pesawat tidak dapat memasuki wilayah Guangzhou disebabkan weather problem yang diduga adalah badai angin topan. Akhirnya kami menunggu di Xiamen, dari jam 18.00-23.00 ( waktu sekarang saat saya menulis jurnal ini.). Memang melelahkan, from the morning delay flight, on the spot, delay 1 jam, on the planes tunggu 3 jam, on the xiamen airport tunggu 3 jam juga. Kondisi saya hanya menerima 1 coke and 1 instant noodles. Well, can u imagine that?

Hari ini just wanna share about one topic. Pembelajaran saya dalam delayed flight hari ini adalah belajar mengucap syukur kepada Allah di setiap keadaan. Meskipun saya delayed, saya diuji oleh Tuhan, apakah mulut saya tetap digunakan untuk mengucap syukur? Atau saya merusaknya dengan sungut-sungut? Terus terang, ketika saya hanya menerima 1 instant noodles n 1 coke, terlintas dalam hati “kok instant noodles doang sih?”. Langsung saya teringat sebuah kritik dari seorang rekan saya kepada saya ketika saya berada di Jakarta dalam seminar Faith and Culture-nya Pdt. Dr. Stephen Tong. Saya menerima roti, lalu saya ngomel “kok roti doang”. Rekan saya mengatakan, “Ko Dan, Doang itu Roti Lho”. Langsung tersentak dalam hati saya bahwa seringkali kita kurang bersyukur di dalam segala hal. Kedua, Akibat delayed flight, semua passengers masuk ke dalam “kebingungan” sehingga mereka mulai sibuk mengatur ulang jadwal mereka. Baik penumpang dari Economy Class sampai First Class, semua sama bahwa mereka harus mengalami hal yang sama yaitu mengatur ulang jadwal mereka. Manusia mulai belajar apa itu dinamis disaat planning kaku mereka terhalang maupun tidak dapat terealisasi. Kenapa kita perlu hidup dinamis? Karena manusia tidak dapat hidup di dalam kemutlakan rencananya sehingga manusia harus belajar waspada terhadap setiap kesulitan-kesulitan yang mereka bakal hadapi dan berani mengambil keputusan untuk belajar mengutamakan Tuhan lebih daripada keputusan kita.Kenapa saya juga harus menunggu? Ya seharusnya saya belajar meyakini pimpinan Tuhan bahwa pasti ada yang Tuhan mau ajarkan kepada saya mengenal kejadian ini. Ini bukan pertama sekali saya mengalaminya. Tahun 2009, Saya teringat ketika saya menunggu jadwal keberangkatan kereta api dari Beijing ke Guangzhou (harga 253 RMB, duduk di kursi bersama orang-orang Chang Sha selama 23 jam), saya tertegun dengan sebuah scene bagaimana seorang ayah harus memberi makan istri dan dua anak perempuannya. Apa yang dia lakukan? Dia membeli sebuah “Mie Instant Noodle” dan satu porsi nasi putih. Istri dan 2 anak-nya makan mie instant dan nasi. Terakhir, sang ayah makan nasi dan kuah mie instant saja. Yang Ajaib, mereka menikmati seluruhnya dengan muka yang berseri2 dan tidak sedikit senyuman ditebarkan kepada setiap orang yang melewati mereka. Kenapa mereka bisa bersukacita? Karena mereka masih bisa makan, itu anugerah Tuhan. Oh man, it was touching my heart! By The Way, Sekarang jam 1 pagi, ada panggilan untuk boarding now! Thank’s God for everthing and see you around, guys, Ciao!

In Love
Daniel Santoso
Xiamen Airport, China

Sunday, May 02, 2010

The Confession of (Reformed) Shopaholic

Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis wanita yang shopaholic, alias tidak bisa menahan diri ketika dirinya mencari hawa segarnya di fashion boutiques kelas dunia di Manhattan, New York City. Bagaimana suka dukanya seorang shopaholic yang harus “berperang” terlebih dahulu melawan keinginan dirinya untuk memiliki sebuah syal hijau yang “anggun” dan kalah dalam menahan diri untuk tidak membelinya. Bahkan ia rela membayarnya dengan perhitungan kartu kredit yang memusingkan dirinya dalam cara membayar semuanya, baik kepada bank maupun kepada “debt collectors”. Apalagi, ia rela berkelahi dengan sesama shopaholic lainnya demi sebuah sepatu boot? Dalam hal ini, seharusnya wanita menyadari bahwa shopping menyediakan dua tastes yaitu: taste of heaven dan taste of hell. Seringkali kita merasakan shopping menjadi taste of heaven pada saat barang yang menyenangkan mata dan hati itu telah menjadi milik kita. Seringkali hati bersuara “ You Got to have it” dan terkadang kita menyetujui semuanya itu dengan excuse “kapan lagi sale 50%?”. Seringkali kita mengasihi diri kita sendiri (narcisst) sehingga kita bisa memberikan treat yang paling the best kepada diri kita meskipun kita harus bokek karenanya. Enggak heran, semuanya ini dapat disimpulkan dalam format Rene Descartes yaitu I SHOP, THEREFORE I AM. Tentu saja, kita boleh shopping asal wisely! Justru kita seharusnya belajar self control karena kita cenderung jatuh ke dalam control disorder sehingga kartu kredit dan uang cash kita keluar hanya untuk membeli barang-barang yang kurang perlu menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan kita. Justru kita harus menggunakan uang kita untuk beli apa yang kita butuhkan dalam kehidupan ini. Hal ini bukan hanya berlaku pada wanita saja, termasuk pria. Tidak sedikit, pria banyak menghabiskan limit kartu kredit mereka hanya untuk memuaskan keinginan mereka membeli barang-barang yang mereka mau. Ada orang berkata, Pria jatuh dalam “collectors” sedangkan wanita lebih jatuh ke dalam “shopaholic”. Memang tidak salah, buktinya, Wanita lebih banyak berada di fashion boutiques di Mall dan Pria lebih banyak berada klub motor besar Harley Davidson, tempat kolektor jam antik, toko elektronik, etc.

Menurut seorang komentator, kita seharusnya menyadari bahwa kita kurang sehat dalam mengatur keuangan maupun kurang berhikmat dalam membelanjakan semua uang kita, sehingga kita membutuhkan hikmat Tuhan, maka berdoalah minta Tuhan memberikan kepekaan kepada setiap kita, bagaimana kita dapat menyimpan uang dengan berhikmat maupun memakai uang dengan berhikmat?, serta menyadari dan mengerti dengan berhikmat bahwa kita tidak dapat mengharapkan semua yang kita sukai harus terealisasi dengan menabung uang maupun membelanjakan uang. Well, memang kita sangat membutuhkan hikmat. Darimanakah kita dapat memperoleh hikmat tersebut?

Berbicara tentang hikmat, Joshua Harris memberikan 5 point dalam kitab Amsal pasal 1
1. Anugerah Allah memberikan confidience kepada orang berdosa untuk mencari hikmat Allah.
2. Kita harus mencari hikmat tersebut.
3. Hikmat itu datangnya dari Allah. Salomo meminta hikmat itu kepada Allah, maka Allah memberikan kepada Salomo.
4. Hikmat adalah untuk kehidupan manusia. Inilah knowledge in Action.
5. Jalani kehidupan kita dengan decission yang sesuai dengan hikmat-Nya.
Belum sanggup? Terus memohon kepada Tuhan hikmat bijaksana-Nya dalam hidup kita (Yakobus 1:5).

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Back to God's Design

Sebuah cerita yang sama, pengantin yang berbeda muncul dalam film Bride Wars, kisah Emma (Anne Hattaway) dan Liv (Kate Hudson) yang saling bersaing merebut waktu pernikahan yang mereka idam-idamkan sejak mereka kecil di Plaza Hotel Manhattan, the legendary hotel dengan attack one anothers. Film ini tidak memberikan pendidikan yang benar mengenai konsep pernikahan, meskipun kalo menurut standar Hollywood, film ini masih tergolong netral dan normal, tetapi sebenarnya banyak batas-batas moralitas yang tetap telah mereka tabrak dengan “halus”.

Dari “social drinking” hingga mabuk sebelum hari pernikahan, tinggal bersama pacarnya sebelum menikah (bahkan udah 10 tahun?), kata-kata jorok seperti *SS, $$$CHES, DA$$$, MOTHER F jelas tidak mendidik generasi muda untuk hidup bermoralitas baik (apalagi benar, jelas enggak mungkin). Sebagai orang kristen, bagaimana kita seharusnya membaca persiapan pernikahan yang seperti ini? Masihkah kita dapat mengatakan bahwa film tersebut mengajarkan kebaikan (apalagi sebuah kebenaran?)? Bagaimana kekristenan menanggapi hal tersebut?

Allah menciptakan segala sesuatu di dalam purpose dan design Allah yang “GOOD” (Kejadian 1:31), bagaimana seks diberikan kepada manusia di dalam design dan purpose Allah yang “GOOD” tersebut yaitu beranak cucu dan penuhi bumi ( be fruitful and multiply – Kejadian 1:28). Seks itu sakral, didalam seks, ada hubungan relasional yang memberikan keintimanan yang tidak dapat diwakili oleh apapun dalam dunia ini, apalagi dipermainkan. (Keluaran 20:14, I Korintus 6:18). Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, purpose dan design Allah telah didistorsi, diacuhkan dan membuang purpose dan design Allah dan mengganti purpose dan design menurut kebebalan hatinya. Ketika saya berusaha mempersiapkan pernikahan, sejujurnya apa yang saya pikirkan? Seringkali kita lebih sibuk mempersiapkan cincin pernikahan seperti Tiffany & Co ataupun Cartier Gold Wedding Rings daripada melihat simbolisme Allah dengan umat-Nya (Yesaya 54:5, Yeremia 3:1-14, Hosea 2:9, 20), simbolisme Yesus Kristus dengan gereja-Nya (Yohanes 3:29, Wahyu 21:9, 22:17). Kita telah kehilangan kesakralan sebuah pernikahan di atas nama Tuhan, kita hanya membaca pernikahan di dalam “event”, bukan di dalam “holy matrimony” yang sakral. Seringkali kita mempersiapkan pernikahan hanya bersibuk ria dengan memilih design gaun pengantin Vera Wang yang indah atau designer lainnya tetapi kita tidak melakukan maintain terhadap purity of marriage itu sendiri. Banyak orang pakai baju pengantin yang begitu mengagumkan tetapi mereka kehilangan keanggunan dalam menjalani kehidupan marriage mereka, sebagai contoh: mereka telah tinggal serumah, sekamar dan tidak tabu mengakui sex before marriage atau sex outside the marriage. Allah tidak memberikan purpose dan design kepada seks untuk jatuh ke dalam perbuatan yang tidak sakral, Justru segala sesuatu yang jauh daripada purpose dan design Allah, bersifat menghancurkan diri sendiri. Seks di luar nikah maupun Perselingkuhan jelas memberikan dampak kehancuran yang besar dalam konsekuensi fisikal (AIDS, Penyakit Kelamin) dan konsekuensi relasi (merusak hubungan-hubungan yang selama ini telah terbangun). Akhirnya, seks yang sakral dibaca oleh manusia bukan di dalam keindahan purpose dan design Allah. Manusia membacanya di dalam kehancuran definisi seks yang sakral menjadi jorok, merusak dan nakal. Oleh karena itu, kenapa kekristenan mengajarkan monigami (Matius 19:5, I Korintus 6:16). Dalam Film Bride Wars, mereka saling menyerang satu sama lainnya hanya untuk menikah di Plaza Hotel Manhattan, untuk merealisasikan mimpi yang telah mereka idam-idamkan tetapi setiap tindakan mereka yang saling menyerang tersebut jelas bukankah tindakan yang harus diteladani karena hanya orang childish yang melakukan semuanya itu. Justru sebagai orang kristen, kita seharusnya mengikuti apa yang Tuhan mau, bukan apa yang kita mau (Galatia 5:16-18, 22-26). Justru kita seharusnya bukannya saling menyerang, tetapi mengambil waktu sejenak untuk mengintrospeksi kesalahan kita, bukan mengembangkan niat dan siasat ambisi kita. Itu jelas tidak mendidik. So, let’s back to God’s Purpose and His Design. No more Bride Wars!

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Peran Gereja dalam Dunia  Yoh 8:21-29, 30-32 Bagaimanakah seharusnya gereja berperan di dalam dunia ini? Khususnya Hamba Tuhan, jemaat, dan ...