
Spirit of Ren yang memotori perubahan China 15 tahun terakhir ini menjadi kesadaran China di dalam pentingnya moralitas dalam sebuah bangsa. Jika sebuah bangsa tidak memiliki moralitas yang baik maka sebesar apapun bangsa itu akan hancur. Sayangnya, China mengantungkan standar moralitas mereka bukan kepada Allah, tetapi kepada konsep humanisme yang ateis. Bagaimana kita melihat standar Allah?
Matius 6:33 mengajarkan kepada kita untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran Allah. Mengapa kerajaan Allah dan kebenaran Allah menjadi penting? Karena hanya di dalam kerajaan Allah dan kebenaran Allah ada Kasih yang menyelamatkan mereka kembali kepada Allah.
Dunia semakin hidup di dalam globalisasi sehingga
1. Prinsip value of life manusia hanya didasarkan pada batas fisikal dan fenomenal “sekarang”.
2. Target of life yang manusia jalani hanya untuk memperkaya “gaya hidup” manusia.
3. Aplikasi hidup mereka hanyalah dipandang dari function yang pragmatis saja.
Justru Firman Tuhan mengajarkan setiap manusia untuk meletakkan:
1. Prinsip value of life manusia didasarkan pada “hidup kekal” yang diberikan Allah kepada manusia di dalam spiritualitas.
2. Target of life manusia harus memperkaya hidup manusia dengan makna hidup yang diberikan Allah.
3. Aplikasi hidup manusia harus dilihat dari vocation yang diberikan Allah kepada setiap manusia.
Inilah tugas gereja. Gereja harus berani menggelisahkan jemaat untuk mencari apa yang Tuhan kehendaki, bukan apa yang manusia kehendaki. Justru gereja harus berani menerima tugas yang berat ini dan melakukan perjuangan sengit menantang zaman karena inilah misi penginjilan yang kembali kepada apa yang Tuhan kerjakan melalui Yesus Kristus. Maukah kita berjuang mati-matian menegakkan standar Allah di dalam kerajaan Allah dan kebenaran-Nya bagi dunia ini?
Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Guangzhou, China
No comments:
Post a Comment