Thursday, June 09, 2016

After 5 Years .... I am Back!

Tidak terasa 5 tahun telah berlalu dan saya belum menuliskan artikel lagi di blog ini. Namun percayalah! Meski saya telah lama tidak menulis artikel ini blog ini, saya tetap menuliskan banyak artikel di buku catatan saya. Banyak rekan-rekan yang memberikan respon kepada saya untuk kembali posting di blog dan saya percaya semua karena Anugerah Tuhan kalo saya bisa sharing lagi soal apapun melalui blog ini.saya yakin saya tidak bisa posting terus secara intens karena keterbatasan saya di China untuk membuka blog saya sendiri alias diblocked. Saya baru dapat update kalo saya berada di luar China. Namun saya tetap bersyukur kepada Tuhan kalo Tuhan masih memimpin hidup saya bersama istri saya, Claudia melayani Tuhan di China. Solideo Gloria.




Hidup hanya satu kali! Pertanyaan saya adalah bagaimana kita menanggapi hidup kita yang hanya satu kali ini? Setelah 5 tahun berlalu, saya melihat hidup manusia semakin modern, canggih bahkan kita bisa menghasilkan atau mempunyai lebih banyak secara online. Hidup yang kualitatif. Pertanyaannya adalah apakah ini hidup yang dikehendaki Tuhan? Saya percaya hidup yang berkualitas adalah hidup yang dikehendaki Tuhan.

Hidup yang berkualitas: Yesaya 65:17-25

1. bukan urusan umur panjang tapi esensi hidup kita. berapa banyak orang yang mati di dalam kekonyolan akibat dosanya sendiri misalnya gaya hidup yang salah seperti obat bius, free sex, stress, bunuh diri, dll. gaya hidup seperti ini bisa dicegah dan korban gaya hidup seperti ini ada di sekeliling kita. Pertanyaannya, apakah kita peduli kepada mereka? Jangan-jangan kita orang kristen yang kehilangan kepedulian kepada mereka yang terhilang sehingga kita menganggap hidup kita kita berkualitas karena hidup kita baik-baik saja, harta kita diberkati, tidak kekurangan apapun bahkan melayani di rumah Tuhan di dalam kehangatan comfort zone bersama saudara seiman yang jangan-jangan sama kondisinya dengan kita alias munafik. Ini ironis kalo kondisi kekristenan kita demikian. Hidup kita ini Anugerah. Mari kita meresponi Anugerah-Nya dengan mengusahakan hidup yang bertanggungjawab dengan mengejar kualitas hidup yang benar yaitu mengenal Allah satu-satunya yang benar dan Yesus Kristus, Firman yang menjadi daging, teladan hidup kita mengikuti esensi hidup yang sejati.(20)

2. semua bekerja dan menikmati hasil pekerjaan itu. Hidup bukan buat senang-senang belaka. Hidup itu kerja! Banyak orang hari ini maunya kerja yang dapat gaji besar yang kalo bisa ga usah kerja keras alias fun. Maunya dapat keuntungan banyak tapi ndak mau kerja. Ini bertentangan dengan Alkitab. Burung di udara aja cari makan sendiri karena Tuhan memberikan providensia kepada binatang dan tumbuhan, apalagi manusia! Berapa banyak orang kristen yang tidak mau mengenal Allah dengan serius, sungguh-sungguh mengejar kebenaran yang satu-satunya? Berapa banyak orang kristen yang mengasihi Firman-Nya dengan membaca Kitab Suci dan melakukan prinsip-Nya di dalam penerapan hidup mereka sehari-hari? Berapa banyak orang kristen yang mau bekerja bagi Tuhan agar kita dapat pergi memberitakan Injil kemanapun Tuhan mau kita pergi? Kejatuhan kita adalah kita tidak menganggap hidup itu bekerja! kita anggap hidup di dalam Kristus itu seperti kita dapat hadiah jackpot! Tidak ada tindakan yang berarti di dalam kerohanian kita selain menghamburkan-hamburkan anugerah-Nya dan berkata "God is good" tanpa makna esensial yang benar! Ayo kita jangan buang waktu kita di dalam kesia-siaan! Kita mohon Tuhan ampuni kita dan maju melakukan pekerjaan-Nya dan mohon sukacita-Nya hadir dalam kenikmatan kita melakukan pekerjaanNya.(21-23)

3. semua hidup damai, rukun dan harmonis. Setiap kita adalah manusia berdosa yang masih memiliki potensi benci, dengki, iri, curiga di dalam pelayanan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam gerejapun kita masih melihat problematika ini merajalela dan merusak kesaksian dan kemurnian kekristenan di dalam sejarah. Namun disinilah kita sedang bersama-sama menguji kemurnian esensi hidup kita bersama. Kita sedang saling belajar memahami dan mengenal arti kualitas hidup sebenarnya yang harus menjadi bagian dalam hidup kita semua sebagai gereja-Nya. Yang kuat tidak boleh tindas yang lemah. Yang kaya tidak boleh tindas yang miskin. Yang pandai tidak boleh tindas yang bodoh. Semua harus bersama-sama! seperti serigala dan anak domba bersama makan rumput. Secara prinsip, sederhana dan simple namun tidak mudah dijalani. Meski demikian, semua dapat terealisasi kalo semuanya punya ketaatan total kepada Firman Allah dan Kristus. Hanya di dalam-Nya kita baru dapat mengalami damai, rukun dan harmonis yang sejati.(25)

4. tidak ada ketakutan. hidup seperti saat singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Dua binatang yang dianggap paling berbahaya dan ditakuti sudah bukan lagi ancaman. Bukankah ini indah? Namun semua ini tidaklah indah disaat hidup kita justru membahayakan dan menakuti orang lain sehingga kita mengancam orang lain dan menjadi trouble maker bagi orang lain maka kita pasti dihukum oleh Tuhan dan Tuhan tidak akan memberkati kita maupun pelayanan kita! Kiranya Tuhan memimpin hidup kita bersama di dalam pertolongan-Nya agar hidup kita dapat menjadi hidup yang berkualitas, berintegritas yang kembali pada keagungan otoritas-Nya yang memberikan kemerdekaan dignitas yang benar dan kesaksian realitas hidup yang benar di dalam Allah Trinitas satu-satunya yang benar!

Dalam Kasih-Nya.
Vik. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan

Wednesday, April 27, 2011

VERITAS DEI

Harvard University, sebuah universitas terkemuka di Amerika Serikat yang menjadi dambaan setiap mahasiswa-mahasiswi seluruh dunia yang merindukan masa depan cerah dalam karier mereka (hopefully). Logo “VERITAS” terpampang di setiap sudut kampus bergengsi tersebut, Mark D. Roberts mengungkapkan nuansa “VERITAS” berada dimana-mana seperti “the eye of God”. Apa sih “VERITAS” itu? Tidak lain, “VERITAS” adalah kosa kata bahasa Latin untuk “Kebenaran”.

Manusia tidak dapat lepas dari sebuah kenyataan bahwa manusia adalah sosok ciptaan dari Sang Pencipta. Hubungan creator – creatures adalah kebenaran yang tidak dapat ditolak karena itulah natur setiap manusia. Manusia tidak dapat lepas dari “searching for THE TRUTH” karena setiap manusia memiliki “sense of divinity” dalam dirinya. Namun problem terbesar manusia adalah manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Sang Pencipta. Manusia telah “Fall into sin” namun manusia tetap bersikeras hendak berkuasa dan melampiaskan nafsu mereka dalam menentukan kebenaran.

Mengapa manusia membutuhkan Kebenaran? Frederich Nietzche, seorang filsuf modern yang mempopulerkan dirinya dengan “Death of God Theology”, ia mengatakan bahwa kebenaran ada di dalam diri setiap manusia yang berhasil menjadi “Ubermench” alias “Super Man”. Konsep “Ubermench” Nietzche tercipta dari hasil “blenderan” dua semangat mitologi Yunani yaitu Apollonian (dewa kuasa, dewa ambisius) dan Dionysian (dewa mabuk, dewa nafsu). Gabungan tesis-anti tesis diatas diharapkan oleh Nietzche dapat menciptakan sebuah formula bagi kehidupan manusia yaitu sukses. Bagi dunia, sukses adalah segala-galanya. Jika kita tidak berada di puncak gunung maka kita bukanlah siapa-siapa! Rupanya, Harvard University di masa kini sedang menghidupi semangat kesuksesan ini. Banyak orang-orang pintar dicetak oleh kampus bergengsi ini tapi dimanakah orang-orang benar? Ingat, Matius 16:26 ada tertulis ‘What profit is it to a man if he gains the whole world, and loses his own soul”. Harvard bukan lagi menghasilkan orang-orang benar, mereka hanya memproduksi orang-orang pintar bagi dirinya sendiri. Kebenaran Allah telah diusir dari area publik, bahkan area privat. Makna “VERITAS” telah hilang dari Harvard University. Bagaimana kita dapat menemukannya kembali?

Back to the Scripture. Injil Yohanes 8:31-32 – Jikalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan. Kebenaran adalah Allah sendiri. Teladan Kebenaran hanya terletak di dalam Inkarnasi Yesus Kristus yang menjalani hidup-Nya sesuai dengan Kitab Suci. Hanya di dalam Yesus Kristus, kita dapat mengenal Kebenaran Allah dan hidup di dalam Kehendak Allah yaitu hidup kudus dan merdeka dari dosa. Bagaimana merdeka dari dosa? Bukan hanya mengenal secara “episteme” maupun “theoria”, namun kita harus bertindak tuk “terlibat” di dalam Allah dan Kebenaran-Nya yaitu “ginosko/ epiginosko”. Tanpa “keterlibatan”, tiada seorangpun orang yang sudah punya “label” kristen mengenal Allah dan Kebenaran sejati. Sekali lagi, hari ini terlalu banyak orang yang memiliki label kristen tapi mereka hanyalah kristen tipe “episteme” dan “theoria” tetapi mereka belum “ginosko”. Bagaimana mau “ginosko”? Lakukan dulu Kebenaran, sesuai Kitab suci. Kuncinya adalah “Jadilah Murid Kristus”. Namun menjadi “Murid Kristus” bukan hanya bicara tentang hubungan pribadi dengan Dia, melainkan harus terkait dengan hubungan terhadap sesama. Mereka harus punya tanggungjawab untuk tidak boleh menyesatkan orang lain, justru mereka harus membawa Kebenaran Allah untuk diajarkan kepada orang lain. Itulah tanggung jawab “Murid Kristus”

Originalitas “VERITAS” Harvard University mula-mula adalah tertulis “VERITAS CHRISTO ET ECCLESIAE – TRUTH FOR CHRIST AND CHURCH”. Dimana Kebenaran yang memerdekakan pasti berelasi dengan Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Yesus Kristus menjadi “the only foundation of all sound knowledge and learning.” Gereja menjadi representatif Allah di dalam dunia untuk memberitakan Kebenaran Allah baik dalam mandat Injil maupun mandat budaya. Namun, Harvard University telah menukarnya dengan “TOLERANCE” dan membuang keberadaan Allah, Kebenaran Kristus dan Peranan Gereja dalam Pendidikan. Harvard University, bukan lagi “Bible Proclaiming School”. Mereka hanya peduli terhadap program humanisme untuk memproduksi “ man of success”, bukan “man of significance, man of honor, man of integrity”.

Tahun 1970 an, Di Vietnam, Ada seorang anak muda bernama Hien Pham, dia seorang penganut agama Budha, namun ia meninggalkan agama Budha karena ia merasa kosong seperti orang yang tidak beragama. Akhirnya ia mendatangi sebuah gereja dan ia berbicara dengan pendeta setempat untuk menemukan kebenaran. Akhirnya, ia menyerahkan dirinya menjadi seorang kristen. Ia sangat fasih di dalam bahasa Inggris. Akhirnya dia menjadi seorang translator bagi tentara Amerika maupun tamu-tamu internasional. Singkat cerita, Vietnam jatuh ke tangan komunis. Hien ditangkap oleh komunis dan dijebloskan ke dalam penjara karena dituduh telah membantu tentara Amerika. Hien tidak diperbolehkan berbicara di dalam bahasa Inggris dan Hien didoktrinasi dengan propaganda komunis baik dari Engels, Marx, Lenin dan Ho Chi Minh. Rupanya, “Communist Manifesto” membawa Hien untuk membaca ulang iman kepercayaannya terhadap Kristus. Akhirnya, ia berencana hendak meninggalkan iman kristennya. Tibalah di sebuah pagi hari, ketika Hien ditugaskan untuk membersihkan toilet “kotor”, dirinya melihat “toilet paper” bekas yang kotor dan bau. Rupanya, “toilet paper” yang bekas dipakai adalah sobekan Alkitab dalam bahasa Inggris. Ia bersihkan dan akhirnya ia menemukan iman kristennya kembali melalui “toilet paper” - (Roma 8:28, 38,39). Bagaimana mungkin? Semua hanya karena Kebenaran Allah yang memerdekakan Hien dan Hien menemukan hidupnya kembali menjadi “MURID KRISTUS”. “Life is not about getting the destination, but life is about walking with God and His Truth on the journey to the destination.”

Tercatat di dalam Injil Lukas 23, Ketika Yesus berseru dengan nyaring “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, Ia memuliakan Allah, katanya “Sungguh orang ini adalah orang benar!”. Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun disitu untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Dari bagian ini kita dapat mengetahui sebuah kebenaran bahwa kematian Yesus bukan karena Diri-Nya dibunuh, tetapi Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah. Justru, Yesus bukan kalah, justru Ia telah menang karena Ia telah melakukan kehendak Allah, sesuai Kitab Suci. Setelah melihat semuanya itu, kepala pasukan “kafir” memuliakan Tuhan? Penonton-penonton memukul-mukul diri? Bagaimana mungkin? Mereka pelaku “order” sistem pemerintahan maupun sistem religius yang rusak, mereka penonton yang telah membayar karcis “The Passion of the Christ” dengan “darah mereka”. Namun, Yesus telah mengampuni mereka dan Ia mati untuk menebus dosa setiap orang percaya. Ia bangkit atas kematian untuk mengenapi rencana Allah untuk memberikan pengharapan kepada setiap orang percaya untuk menemukan kepastian hidup kekal. Itulah Kebenaran yang memberikan keselamatan. Keselamatan hanya diperoleh melalui apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan. Tidak ada kata terlambat untuk berbalik dan percaya kepada Allah. Bagaimana dengan kamu hari ini? Sudahkah “VERITAS DEI” memerdekakan hidupmu? Maukah engkau menerimanya hari ini?

In Christ
Daniel Santoso
Tianjin, China

Wednesday, April 06, 2011

A Warning to rich peoples

Sebuah pertanyaan reflektif mengenai keberadaan Allah dilayangkan kepada orang-orang terkaya di Amerika Serikat. Bill Gates, CEO Microsoft mengambil sikap agnostik dan menganggap urusan “pergi ke gereja” adalah tindakan yang tidak efisien karena menurutnya, ia dapat melakukan banyak pekerjaan dalam “satu jam” saja. Warren Buffet, CEO Berkshire Hattaway dikenal sebagai seorang yang too mathematical, too logical dan dirinya tidak banyak peduli terhadap kehidupan spiritual. George Soros, Chairman dari Soros Fund Management dan Open Society Institues lebih tegas menyatakan dirinya atheist. Contoh, George Soros, seorang spekulan pasar uang yang telah meraup untung 1,2 milyar dollar menjatuhkan poundsterling sehingga Inggris mengalami inflasi besar-besaran di tahun 1982 karena ulahnya. Belum lagi, Tahun 1997-1998, Soros termasuk salah satu orang yang turut “bermain” dalam pasar uang sehingga Asia Tenggara mengalami krisis moneter, termasuk Indonesia yang akibat inflasi, hutang Indonesia sebesar Rp. 1500 triliun. Cacian muncul dari mulut Mahathir Mohamad, Mantan Perdana Menteri Malaysia yang mengatakan bahwa “mendagangkan uang adalah tindakan yang tidak bermoral”. Tidak sedikit, Soros dianggap “vampir” yang serakah dan haus kekuasaan karena tindakan Soros telah merugikan banyak negara dan sebagian masyarakat dunia. Muncul di benak saya, keinginan untuk mempelajari sedikit soal filsafat Soros. Rupanya beliau banyak menerapkan gagasan serta metode epistemologi dari Karl Popper.

Karl Popper, seorang filsuf postmodernisme yang percaya bahwa satu ilmu tidak mungkin dapat memadai tanpa ilmu-ilmu yang lain. Popper percaya bahwa pengetahuan yang kritis bukan diperoleh melalui verifikasi, namun falsifikasi. Jadi, bagi Popper, kebenaran adalah problem of setting, lalu gimana kita dapat melakukan problem of solving, maka logika falsifikasi dipakai untuk menemukan sebuah konklusi bahwa tidak ada kebenaran yang sempurna, yang ada hanyalah “verisimilitude” atau menyerupai kebenaran. Kebenaran dapat dikatakan ilmiah, apabila tiada kebenaran tandingan yang “corraborated”. Kalau ada, maka kebenaran yang kurang ilmiah harus dikatakan sebagai kesalahan. Semangat positif dari pemikiran Popper adalah bahwa kegagalan merupakan awal dari keberhasilan, namun setiap kegagalan pasti lebih benar? Atau masih ada ruang dapat salah? Dalam hal ini, teori falsifikasi tetap lemah dalam penentuan posisi sebagai kebenaran karena kebenaran dapat dikatakan sebagai kebenaran, masih di dalam sebuah “kesepakatan” akademis yang relatif.
George Soros banyak mengadopsi pemikiran Popper dalam penerapan epistemologis bahwa sifat manusia bisa salah (falliable). Knowledge manusia bertumbuh bukan karna “verifikasi” (pembenaran) tetapi dari “falsifikasi” (penyangkalan). Soros menolak pasar sebagai titik sempurna. Justru pasar tidak sempurna dan tidak pasti maka itulah tempat bermainnya. Side Effectnya, Tidak ada ruang kosong, tidak ada netralitas dan efek dari permainan globalisasi adalah penderitaan banyak orang. Sebab, Soros hanya konsentrasi kepada epistemologi tetapi mengabaikan etika.

Matius 19:23-24 berbunyi demikian “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Sebuah ayat dari Perjanjian Baru yang memberikan sebuah pengertian bahwa tidak mudah bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, malah hiperbola dipakai “seekor unta” lebih mudah masuk melalui lubang jarum. Bagaimana kita membaca ayat ini? Apakah Alkitab melakukan “demonize” terhadap orang kaya? Jika kita kembali kepada Alkitab, kita akan menemukan kebenaran bahwa Allah tidak menentang setiap orang kaya, tetapi problem yang ditentang oleh Allah adalah problem sebagian orang kaya yang lebih mencintai uang daripada Allah (Lukas 12:13-21, 1 Timotius 6:6-10). Mereka mencintai uang dan harta kekayaan di dalam kerusakan total dirinya sebagai manusia berdosa yang telah kehilangan kemuliaan Allah dan mereka menjadikan uang dan harta kekayaan sebagai idola mereka, padahal Sepuluh Perintah Allah mencatat bahwa jangan ada padamu allah-allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3). Dalam hal ini, mereka harus bertobat, kembali kepada Allah dan bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka dengan “takut akan Tuhan” dan melakukan penyelarasan sesuai dengan originalitas Allah, otoritas Allah dan selera Allah dalam Firman Tuhan. Itulah Kebenaran Allah yang tidak perlu ditentukan oleh “kesepakatan” kita dalam menentukan metode verifikasi maupun falsifikasi, melainkan inisiatif Allah menyatakan kebenaran satu-satunya yang memimpin manusia untuk mengikuti kebenaran Allah bersamaan dengan mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang selama ini kita adopsi sebagai filsafat hidup kita secara continue di dalam pekerjaan Roh Kudus untuk menyadarkan orang kaya untuk hidup dan mati untuk Yesus Kristus.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China

Tuesday, March 29, 2011

Reason for the season 2

Kedua, Yesus Kristus adalah Allah yang rela turun ke dalam dunia yang berdosa, mengambil rupa seorang manusia untuk menggenapi rencana kekal Allah di dalam keselamatan. Manusia tidak dapat memiliki kehidupan yang sempurna karena semua telah jatuh ke dalam dosa. Akibatnya, banyak perintah Tuhan dan ketetapan Allah dilanggar karena mereka mengexcuse diri mereka tidak mampu menjalani perintah dan ketetapan Allah. Yesus Kristus menjadi satu-satunya manusia yang dapat menjadi teladan bagi manusia untuk mentransformasi manusia untuk bagaimana mereka belajar menghidupi hidup yang diperkenan oleh Allah. Dalam hal ini, Yesus Kristus menjadi satu-satunya teladan manusia hidup menurut kehendak Allah. Namun, banyak orang meneladani Yesus di dalam cara yang salah. Mereka bukan mau hidup seturut kehendak Tuhan, melainkan mau menjadi Tuhan menurut kehendak sendiri. Semangat “equality like God” masih panas membara di dalam kosa kata hidup manusia berdosa yang berjubah “religius”. Dalam Alkitab, kita dapat menemukan bahwa Lucifer, pemimpin malaikat Kerubim, pemimpin pujian Surga dan pemimpin malaikat tidak puas dengan semua kepemimpinan yang diberikan Allah kepadanya. Dalam kitab Yesaya 14, kita melihat seruan Lucifer “ I will be like most high. I will be the most high”. Apa yang Lucifer mau? Equality like God. Ini permohonan yang telah keluar jalur “positioning” yang benar! Tuhan menghukum Lucifer dengan membuangnya ke neraka. Siapakah Kristus? Ia adalah Allah yang rela mengosongkan dirinya menjadi manusia, mengambil rupa seorang budak “doulos” dengan “total submission” untuk melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki (Thy will be done).

Ketiga, Yesus Kristus rela mengambil posisi sebagai “the suffering servant” untuk rela mati diatas kayu salib, meneteskan darah-Nya untuk menebus dosa manusia yang berdosa dan memberikan pengharapan baru di dalam hidup kekal melalui apa yang Yesus kerjakan di dalam dunia. Yesus melakukan semuanya untuk menebus dosamu dan dosaku. Ia rela menderita demi menanggung dosa-dosa kita yang sebenarnya tidak Ia lakukan. Ia mengasihi kita dan Ia menyelamatkan kita agar setiap kita dapat kembali kepada Allah Maha Pengasih.

Keempat, Yesus Kristus mati diatas kayu salib, dikubur di kuburan pinjaman. Namun kubur itu kosong dan Yesus menampakkan diri di hadapan murid-murid-Nya. Disini menyatakan bahwa Yesus bangkit dari kematian dan setiap kita dapat melihat pengharapan di dalam Kristus bahwa ada kehidupan baru setelah kita mati. Dalam hal ini, satu-satunya pendiri agama yang bangkit dari kematian hanya di dalam Yesus Kristus. Jadi, inilah keunikan iman kristen di dalam Kristus dan biarlah semua lidah mengakui bahwa Yesus bukan manusia biasa, Yesus adalah Tuhan dan Hanya di dalam nama Yesus Kristus kita dapat beroleh hidup kekal.
Inilah the real reason for the season. Natal bukan foya-foya! Natal bukan liburan! Natal adalah Pengharapan keselamatan Ilahi, hanya di dalam Yesus Kristus. Sudahkah engkau mengenal-Nya?

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Tianjin

Friday, December 10, 2010

Reason for the season 1

Desember 2010 telah tiba, dekorasi natal telah menghiasi kota-kota besar di seluruh penjuru dunia. Banyak Mall udah mempersiapkan sale besar-besaran bagi pengunjung konsumerisme yang “gila shopping” terhadap barang-barang bermerk. H&M penuh sesak oleh pengunjung muda-mudi dalam memburu koleksi Lanvin dan H&M dalam rangka Natal. Belum lagi, pohon natal besar berwarna warni dengan nyala kelap kelip lampu natal memberikan nuansa “celebration” di Central, Hongkong. Tidak sedikit, penduduk Hongkong dan sebagian foreigner memenuhi area Central untuk menikmati “happy holidays” mereka. Sebenarnya, bagaimana kita seharusnya merayakan Natal? Sebagai orang kristen, kita seharusnya memakai waktu kita untuk stop dan reflect just why we really celebrate this season?

Dewasa ini, kebangkitan gerakan ateisme cukup berani menyuarakan “freedom of speech” mereka baik secara lisan, tertulis maupun secara organisasi. Buku “The God of Delusion” dari Richard Dawkins dan “God is not great: How religion poisons everything” dari Christopher Hitchens menjadi aksi serangan kaum ateis kepada orang-orang teistik. Dawkins menyerang Katolik Roma sebagai “the greatest force for evil in the world” . Dawkins anggap Katolik Roma sebagai “disgusting institution” dan “cannibal feast”. Dawkins menganggap agama sebagai mitologi yang kelihatan indah tapi salah dan berbahaya. Hitchens juga mengajak setiap pembaca bukunya untuk melihat kepada fakta/evidence bahwa keberadaan agama menyebabkan dunia tidak semakin baik, malah semakin complicated and so confusing. Tidak heran, Dawkins dan Hitchens menilai Allah dan keberadaan agama sebagai hal yang “non-sense” karena tidak sesuai dengan fakta/ evidence dalam sejarah. Mereka menganggap “From Faith to Faith” tidak relevan. Lebih baik “From Evidence to Faith”. Sungguhkah? Alkitab justru memberikan sebuah proklamasi bahwa “God loved therefore i am”. Jadi, kepercayaan soal Allah dan agama tidak dapat hanya dinilai dari “reason” manusia yang bersumber pada “cogito ergo sum” ala Rene Descartes, tetapi harus setia kepada “God centered” sehingga definisi iman dimengerti di dalam kembalinya reason, emotion, will kepada Kebenaran Allah yang absolut.

Sebagai orang kristen, kita harus kembali berbalik kepada fokus yang asli yaitu kembali kepada Yesus Kristus. No Jesus, No Christmas! Inilah our duty untuk menyatakan sebuah proklamasi Injil Kristus di dalam kepenuhan dan kelimpahan anugerah-Nya, bukan melakukan “editing” terhadap Injil Kristus. Ironisnya, Kontradiksi demi kontradiksi silih berganti menodai keakuratan Natal dalam aksi manusia memperingatinya.

Contoh, ketika bayi Yesus berada di Bethlehem, orang majus datang dari tempat jauh untuk bertemu dengan bayi Yesus dan mereka memberikan persembahan mas, kemenyan dan mur sebagai persembahan terbaik mereka. Bukankah Natal membuat saudara dan saya belajar memberikan yang terbaik kepada Tuhan? Natal seringkali membuat setiap kita hanya terjebak dalam ornamen-ornamen plastik pohon natal yang “menarik” secara fenomenal tapi kehilangan makna dari Natal tersebut. Jadi, Seharusnya saudara sibuk merayakan Natal untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan, ataukah karena saya hanya mau terlibat dalam “keramaian” Natal?

Sekali lagi, kita harus “straight-forward” untuk membawa fokus utama Natal ada dalam Yesus Kristus. Bagaimana kita belajar memahami pentingnya Yesus Kristus dalam kita merayakan Natal? Saya mengajak saudara merenungkan satu perikop yaitu Surat Filipi 2:5-11. Paulus mengajarkan setiap kita untuk menjadikan:

Pertama, Yesus Kristus menjadi standar pikiran dan perasaan kita. (ayat 5). “Having this mind among yourselves, which you have in Christ Jesus”. Dalam tradisi Yahudi, kita dapat belajar bahwa pikiran dan perasaan tidak dapat lepas dari hati. Semuanya connecting dan tidak dapat dilepaskan. Jadi, dalam hal ini, hati kita seharusnya terpaut dalam Yesus Kristus sebagai satu-satunya fondasi iman yang dianugerahkan Allah kepada kita (Yohanes 8:24, Yohanes 14:6). Dalam hal ini, kita harus menjadi saksi Kristus yang berani mendasarkan setiap aksi hidup kita dalam pengertian Kristus yang benar yaitu Yesus 100% Allah dan Yesus 100% Manusia, inilah kualitas Allah yang “qualitative difference” nan “radical” yang kembali bersumber pada anti-tesis antara kaum percaya dan kaum non-percaya. Presuposisi kita adalah kembali dalam Kovenan Allah yang absolut, bukan “new thesis” dari tesis dan anti tesis versi Hegelian.

Bersambung

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Shanghai, China

Friday, December 03, 2010

Natal di dalam Kristus

Natal 2010 telah tiba. Dikotomi Natal “marak” bergelombang baik dari kalangan orang kristen yang merayakan kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat Dunia yang berinkarnasi turun ke dalam dunia tuk menebus dosa kaum pilihan-Nya dan kalangan kaum ateis dan kaum sekular yang menekankan pembebasan Natal dari Kristus, “freedom of religion” dan “freedom from religion” mendefinisikan Natal hanya dalam”event” libur panjang musim dingin dan imajinasi budaya “Santa Claus” paganisme. Banyak hal-hal yang paradoks dalam Natal Kristen dengan Paganisme. Paganisme menyediakan Santa Claus, Pohon Natal dengan aksesoris plastik, kelap kelip lampu hiasan natal serta Christmas Sale di shopping mall seluruh dunia. Inti Natal Paganisme hanya terletak pada konsumerisme. Seperti apa yang diucapkan oleh Jeff Locke dari truthxchange.com, Christmas is a Pagan Holiday. Paganisme telah mereduksi makna sakral Natal mula-mula, saat orang majus datang memberikan persembahan yang terbaik kepada bayi Yesus, Paganisme hanya membeli ornamen-ornamen plastik pohon natal sebagai “accessoris” mereka merayakan Natal. Saat orang majus memberikan persembahan kepada Yesus dengan “humility gift”, justru Paganisme memberikan “indulgence of selfishness gift” tanpa melupakan keuntungan profit. Saat Bethlehem menjadi kota yang sepi nan sunyi, Paganisme merubah kesunyian menjadi keramaian Natal yang “blink-blink”. Saat inkarnasi Yesus turun ke dalam dunia secara nyata dan serius, justru Paganisme mengajak dunia bermain di dalam party-party yang memalukan. Sebagai orang kristen, kita harus “straightforward” kepada esensi Natal yang sejati yaitu Yesus Kristus, bukan bermain-main di dalam area supplemen yang tidak jelas di luar Yesus Kristus. Seringkali kita terlalu berani menggunakan alasan “ah hanya main-main doang”, padahal “doang” itu termasuk jawaban aksi dari permainan dunia. Sekali lagi, Kita harus “straightforward” kepada fokus Natal yang sejati. Natal tidak dapat dilepaskan dari Yesus Kristus, satu-satunya “Allah yang rela turun menjadi manusia” yang menjadi juruselamat manusia satu-satunya tuk membawa manusia berdosa kembali kepada Allah. Tantangan postmodernisme dan sekularisme banyak memberikan ruang negatif bagi dunia melihat kekolotan para fundamentalisme kekristenan dalam memproklamasikan Kebenaran Fundamental dalam Firman Tuhan, baik Firman yang menjadi daging yaitu Yesus Kristus dan Firman yang ditulis oleh para rasul dan para nabi dalam Kitab Suci yaitu Alkitab. Namun, orang kristen bukanlah orang yang sedang berada di dalam bahaya, justru “prostitusi kristen” itulah yang berada dalam bahaya. Mereka kelihatannya kristen, padahal mereka tidak berjiwa “kristen”. Meski demikian, kita harus “straightforward” tanpa henti-henti memberitakan Injil Kristus kepada dunia karena seperti kata Rasul Paulus, celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil (1Korintus 9:16-19).Dari atas mimbar, Pdt Dr. Stephen Tong mengingatkan bahwa Injil tidak cukup hanya kita terima dan percayai, tetapi juga harus dikabarkan. Masih adakah Injil diberitakan oleh orang kristen di hari Natal? Selamat memberitakan Injil di hari Natal! Tuhan memberkati kita semua.

Selamat Natal
Daniel Santoso
Beijing, China

Monday, November 29, 2010

Understanding Your Sloth/ Laziness

Berita-berita Indonesia memberikan rapor merah terhadap anggota-anggota DPR yang sering bolos dalam mengikuti rapat paripurna, tidak cekatan dalam pelaporan kekayaan mereka maupun pengurusan NPWP anggota-anggota DPR, tidak ada inisiatif untuk mengerjakan tugas ideal wakil rakyat untuk membawa aspirasi rakyat untuk digodok dalam rapat wakil rakyat. Mereka cenderung malas, tidak segan2 bolos tanpa sebab dan banyak mereka sudah kehilangan kepekaan untuk bagaimana memperjuangkan aspirasi rakyat demi Indonesia yang lebih adil dan makmur. Kursi-kursi anggota DPR tetap kosong melompong dan kalopun ada orang yang duduk di kursi mereka, kebanyakan dari mereka sudah tidak memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan amanat tugas kenegaraan mereka alias mereka santai dan lebih memilih tertidur dalam ruang rapat. Di berbagai media komunikasi, banyak foto-foto dan tayangan media televisi yang mempertontonkan kekonyolan anggota-anggota DPR yang suka “bolos” maupun yang suka “tidur” di ruang rapat. Meski keadaan anggora DPR begitu memprihatinkan, namun mereka berani menuntut fasilitas-fasilitas wakil rakyat yang serba mewah itu baik dengan menikmati kunjungan-kunjungan luar negeri yang kagak jelas visi misinya apa, menuntut renovasi rumah dinas mewah mereka maupun kenaikan gaji. Sebenarnya virus kemalasan ini bukan hanya melanda pemerintahan saja, namun gereja mengalami hal yang sama. Immanuel Kant dalam bukunya “What is Enlightement?” memaparkan salah satu kegagalan gereja modern adalah gereja jatuh ke dalam “laziness”. Kemalasan untuk berpikir sesuai dengan pikiran Tuhan. Secara teologis, Alkitab banyak berbicara tentang kemalasan yang merusak, mematikan dan terkutuk itu, terutama dari Kitab Amsal (Amsal 6:6, 6:9, 10:26, 13:4, 15:19, 19:15, 19:24, 20:4, 21:25, 22:13, 24:30, 26: 13-16).

Mengutip dari buku “Bebas dari 7 Dosa Maut”, Billy Graham memaparkan bahwa Dosa kemalasan menyebabkan cara hidup negatif yaitu hidup yang terhenti dan tidak efektif yang kesemuanya membuat orang itu tidak layak menjadi pengikut Kristus. Bagi Billy Graham, kemalasan rohani bukan saja dosa terhadap Allah tapi juga dosa terhadap diri sendiri. Kemalasan adalah pembinasa kesempatan dan pembunuh jiwa. Ini statement besar. Seorang yang tekun adalah seorang yang terus menggunakan setiap kesempatan sebanyak mungkin. Dalam hal ini ketekunan hanya dapat dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki jiwa mau berkorban dan rela capek dalam mewujudkan kesempatan demi kesempatan karena ketekunan mereka adalah perjuangan untuk memberikan apa yang paling “the best” untuk dapat menikmati kualitas yang “qualitative difference”. Jika demikian, bagaimana kita memahami vocabulary “kemalasan” dalam spiritualitas kita? Dalam Yakobus 4:17, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”. Jadi, kemalasan adalah dosa?

Seringkali kita membiarkan semua hal menghalangi kita melakukan kehendak Tuhan dengan tekun. Kemalasan adalah dosa! disaat kamu malas baca alkitab, kamu berdosa! disaat kamu malas memberitakan injil, kamu berdosa! disaat kamu malas melayani Tuhanm kamu berdosa! Kemalasan selalu mengendorkan kamu, itulah kehebatan dosa! Roma 12:11 menasihati setiap kita agar “janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”. Iblis sangat menyukai pengikut-pengikut Kristus berdosa di dalam kemalasan mereka dan membangkang pengikutan mereka kepada Kristus dengan kemalasan rohani mereka untuk memberitakan Injil. Jangan malas, saudara! Bangkitlah bagi Kristus! Mari kita tekun melayani Tuhan karena kemuliaan Tuhan adalah worth it bagi kita semuanya untuk kerjakan yaitu melakukan apa yang Tuhan tuntut dalam hidup kita, kita berikan sebaik mungkin sampai ajal kita tiba, sampai kita kembali kepada Tuhan menikmati hidup kekal-Nya.

Dalam Kasih-Nya
Daniel Santoso
Beijing, China