
Kedatangan Yesus Kristus ke dalam duniapun tidak terhindar dari “exile”. Bayi Yesus berpindah kota dari Betlehem, Mesir, Nazaret karena desakan ulah antagonis kaisar agustus dan raja herodes terhadap bayi Yesus. Pertanyaannya, kenapa kaisar agustus dan raja herodes begitu antagonis terhadap bayi Yesus? Mereka tahu Yesus adalah raja orang Yahudi yang menggenapi nubuat leluhur. Yesus bukan sosok figur sembarangan karena Yesus adalah Kebenaran yang diwahyukan oleh Allah dan ditunggu-tunggu oleh manusia sepanjang zaman. Kebenaran Kristus bukanlah kebenaran situasional. Kebenaran Kristus adalah kebenaran yang absolut dan sakral. Dunia membencinya sehingga kebenaran direlatifkan dan disituasionalkan di dalam kepalsuan di dalam “label” yang religius.
Postmodern gencar mempengaruhi dunia dengan “spirit of nihilism” yang menekankan makna adalah ciptaan historis dan kultural sehingga makna tidak akan pernah hanya memiliki satu definisi. Jika demikian, kebenaran situasionalpun menjadi tidak akan pernah memiliki satu kebenaran. Pertanyaannya, bagaimana tokoh-tokoh postmodern menanggapi peristiwa Holocaust? Bukankah sebagian dari tokoh-tokoh postmodern adalah korban dari peristiwa Holocaust? Bagaimana mereka menanggapi kebenaran Hitler? Bagaimana mereka menanggapi kebenaran orang-orang Yahudi saat itu? Jika kebenaran adalah situasional, mana kebenaran yang salah? Mana kebenaran yang benar? Inilah problem dari nihilism yang liar sehingga kebenaran bukannya memberikan “kepastian” malah memberikan ruang ambiguitas yang lebih liar lagi. Oleh karena itu, dimanakah kebenaran absolut?
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, kebenaran manusia adalah relatif karena dasar pijakan dan fondasi pemikiran manusia telah “terinfeksi” dosa sehingga tiada seorangpun dapat memberikan konsep kebenaran yang paling akurat benar, kecuali Allah dan karya Allah di dalam Yesus Kristus, satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup. Inilah tantangan hidup kita dalam era postmodern. Kita hidup di dalam “pembuangan”. Masihkah kita “hidup benar” di dalam kebenaran Kristus?
Dalam kasih Kristus
Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, ROC
No comments:
Post a Comment